Limbah Tanaman Jagung Sebagai Pakan Alternatif

Posted by

Tanaman jagung (Zea mays) termasuk dalam famili rumput-rumputan (Gramineae). Tanaman ini di Indonesia sudah dikenal sejak 400 tahun yang lalu, yang pertama kali dibawa oleh bangsa Portugis dan Spanyol. Jagung merupakan tanaman penting kedua setelah padi yang sebagian besar ditanam di Pulau Jawa, terutama di Jawa Timur. Jagung banyak digunakan pada bidang peternakan sebagai pakan unggas dan limbahnya sebagai pakan ruminansia. Penanaman jagung dilakukan pada lahan kering yang mengandalkan dukungan curah hujan, sehingga biasanya saat musim tanam dilakukan serempak pada saat musim hujan (Pasaribu, 1993).

Menurut Hasdai dan Ghedalia (1982) limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Potensi limbah tanaman jagung yaitu 50% batang, 20% daun, 20% tongkol, dan 10% kulit buah jagung (klobot) dihasilkan pertahun, akan tetapi pemanfaatan limbah tanaman jagung belum maksimal karena bersifat bulky (voluminous), musiman, dan cepat rusak setelah dipanen (Umiyasih dan Wina, 2008). Penggunaan limbah sebagai pakan umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki lahan dan mengusahakan (menanam) komoditi tanaman pangan (Febrina dan Liana, 2008).
Kandungan nilai gizi limbah tanaman jagung seringkali sulit untuk dianalisis, karena variasi komposisi bagian-bagian tanaman dan juga proporsi bagian yang diberikan pada ternak berbeda. Limbah tanaman jagung biasa digunakan sebagai hijauan pengganti pada pakan ternak sapi dan domba. Kandungan protein kasar limbah tanaman jagung lebih tinggi daripada kandungan protein kasar limbah tanaman padi yang bervariasi antara 3 – 5 %, sehingga limbah tanaman jagung memiliki nilai gizi yang cukup baik untuk pakan ternak ruminansia (Martawidjaja, 2003).

Daun Jagung
Daun jagung muncul dari buku-buku batang, sedangkan pelepah daun menyelubungi ruas batang untuk memperkuat batang. Daunnya berbentuk pita, muncul pada setiap buku. Panjang daun bervariasi antara 30-150 cm dan lebar 4-15 cm dengan ibu tulang daun yang sangat keras. Tepi helaian daun halus dan kadang-kadang berombak. Terdapat juga lidah daun (ligula) yang transparan dan tidak mempunyai telinga daun (auricale). Bagian bawah daun tidak berbulu (glabrous) dan umumnya mengandung stomata yang lebih banyak dibanding dengan di permukaan atas (Muhadjir, 1988). Sudjana et al. (1991) menyatakan bahwa jumlah daun pada umumnya berkisar antara 10-18 helai, tergantung varietasnya.

Proporsi daun jagung sebesar 22,57 – 27,38% dari limbah tanaman jagung. Nilai palatabilitas yng diukur secara kualitatif menunjukkan bahwa daun jagung lebih disukai ternak dibandingkan batang dan tongkol jagung. Daun jagung memiliki palatabilitas yang baik sebagai pakan ternak sehingga sering digunakan sebagai hijauan pakan untuk ternak ruminansia. Daun jagung memiliki nilai kecernaan bahan kering in vitro sebesar 58% dengan kandungan protein kasar sekitar 10 %. (Umiyasih dan Wina, 2008).

Kulit Buah Jagung (Klobot)
Salah satu limbah tanaman jagung adalah kulit buah jagung/klobot jagung yang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia. Klobot jagung dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia setelah buah jagung dipanen (Umiyasih dan Wina, 2008). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa setelah panen klobot dapat digunakan sebagai makanan ternak ruminansia. Klobot jagung selain berfungsi sebagai makanan ternak juga berfungsi sebagai pelindung biji jagung dan tongkol, untuk mempertahankan kesegaran sehingga tidak akan terlampau keras untuk dikunyah oleh ternak. Klobot bersifat sebagai hijauan, oleh karena itu buah jagung lengkap lebih disukai dibanding dengan biji jagung.
Nilai palatabilitas yang diukur secara kualitatif menunjukkan bahwa klobot jagung lebih disukai oleh ternak dibandingkan dengan batang ataupun tongkol jagung (Umiyasih dan Wina, 2008). Klobot jagung memiliki nilai kecernaan bahan kering in vitro yang tinggi bila dibandingkan dengan daun jagung, tongkol jagung, dan batang jagung, yaitu sebesar 68%. Nilai kecernaan klobot jagung hampir sama dengan nilai kecernaan rumput gajah (60%), sehingga klobot jagung dapat digunakan sebagai hijauan pakan pengganti rumput gajah pada pakan ternak ruminansia. Komposisi zat makanan klobot jagung berdasarkan bahan kering dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Zat Makanan Klobot Jagung Berdasarkan Bahan Kering
Zat Makanan
Kadar (%)
Abu
3,23
Protein Kasar
7,84
Lemak Kasar
0.65
Serat Kasar
32,25
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen
56,03
Total Digestible Nutrient
54,29
Kalsium
0,21
Phosfor
0,44
Sumber : Furqaanida (2004)

Sumber :

Hasdai, A. & D. Ben-Ghedalia.1982. Digestibility of edible domestic waste by sheep. J Dairy Sci 65:65-71.
Martawidjaja, M. 2003. Pemanfaatan jerami padi sebagai pengganti rumput untuk ternak ruminansia kecil. Wartazoa 13(3): 119-127.
Muhadjir, F. 1988. Karakteristik Tanaman Jagung. Bidang Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Bogor: 33-48.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Pasaribu, T. D. 1993. Silase kulit jagung manis dan pemanfaatannya sebagai bahan pakan domba ekor tipis. Skripsi. Universitas Pakuan.
Sudjana, A., A. Rifin & M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik No. 3 Balitbang Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Pangan. 41 hal.
Umiyasih, U. & E. Wina. 2008. Pengolahan dan nilai nutrisi limbah tanaman jagung sebagai pakan ternak ruminansia. Wartazoa 18(3): 127-136.


loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 17:51

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...