Reproduksi Kerbau dan Pengaruh Lingkungan

Posted by


Kerbau adalah ternak polyestrus dengan tanda-tanda birahi terlihat kurang jelas atau silent heat. Menurut laporan Yurleni (2000) birahi pada ternak kerbau sekitar 12-36 jam, lebih lama jika dibandingkan ternak sapi yang sekitar 12-18 jam. Kerbau jantan dan betina dewasa kelamin sekitar umur 2,5-3 tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Triwulanningsih et al, (2004) di Provinsi Banten menunjukkan beberapa faktor penyebab rendahnya angka kelahiran kerbau, antara lain kondisi induk kurang prima disebabkan kualitas pakan yang rendah, serangan parasit yang tinggi serta estrus lebih banyak terjadi pada malam hari saat pejantan tidak berada di kandang yang sama.

Penelitian yang dilakukan oleh Bhikane dan Khawitkar (2004) di Vietnam menyatakan bahwa sirkulasi reproduksi kerbau sebagai berikut; umur pubertas berkisar antara 36-42 bulan, siklus berahi 21 hari, lama berahi berkisar antara 12-24 jam, waktu ovulasi 10-14 jam setelah akhir berahi, lama kebuntingan 310 hari, selang beranak 12-14 bulan dan musim kawin bulan September-Februari (sesuai dengan musim tanam).

Lingkungan optimum diperlukan ternak untuk hidup dan berproduksi, apabila suhu lingkungan terlalu tinggi diluar batas toleransi, maka ternak akan mengalami stress, sehingga menurunkan produktivitas. Suhu optimum untuk kerbau berkisar antara 15-25 0C dengan kelembaban 60%-70% (Yurleni, 2000). Penelitian Joseph (1996) menunjukkan hasil yang serupa bahwa zona nyaman untuk kerbau berkisar 15,5-21 0C dengan curah hujan 500-2000 mm/tahun. Ketinggian tempat dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ternak.

Pengaruh tidak langsung terjadi melalui ketersediaan hijauan pakan ternak dari segi kualitas maupun kuantitas. Kondisi suhu yang rendah pada daerah dataran tinggi memberikan situasi lingkungan lebih kondusif bagi pertumbuhan ternak kerbau. Menurut Basuki (1998), faktor suhu dan radiasi sinar matahari sangat berpengaruh terhadap thermoregulasi kerbau yang memiliki sedikit kelenjar keringat pada kulit. Joseph (1996) menyatakan bahwa untuk mempertahankan kelangsungan hidup karena lingkungan panas, ternak kerbau melakukan adaptasi fisiologis melalui perubahan tingkah laku seperti Panting, berkubang atau berbaring di tempat yang dingin.

Daftar Pustaka

Basuki, P. 1998. Dasar Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Bhinake, A. U. & S. B. Kawitkar. 2004. Handbook for Veterinary Clinicans,178. Buffalo Buletin. 23: 4-9.

Joseph, G. 1996. Status asam basa dan metabolisme mineral pada ternak kerbau lumpur yang diberi pakan jerami Padi dan konsentrat dengan penambahan natrium. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Triwulanningsih, E. Subandriyo, P. Situmorang, T. Sugiarti, R. G. Sianturi, D. A., Kusumuaningrum, I Gede Putu, P. Sitepu, T. Panggabean, P. Mahyudin, Zulbardi, S. B. Siregar, U. Kusnadi, C. T. & A. R. Siregar. 2004. Data base kerbau di Indonesia. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Ternak, Ciawi. Bogor.

Yurleni. 2000. Produktivitas dan peluang pengembangan ternak kerbau di provinsi Jambi. Tesis. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.




loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 22:15

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...