Standarisasi Karkas Ayam Broiler

Posted by

Berdasarkan SNI 01-3924-1995 karkas ayam pedaging adalah bagian dari ayam hidup, setelah dipotong, dihilangkan bulunya, dikeluarkan jeroan dan lemak abdominalnya, dipotong kepala dan leher serta kedua kakinya (ceker). Berdasarkan cara penanganannya, karkas ayam broiler dibedakan menjadi; 
(a) Karkas segar, yaitu karkas yang baru selesai diproses selama tidak lebih dari 6 jam dan tidak mengalami perlakuan lebih lanjut;
(b) karkas dingin segar, yaitu karkas segar yang segera didinginkan setelah selesai diproses sehingga suhu di dalam daging menjadi antara 4-5C;
(c) karkas beku, yaitu karkas yang telah mengalami proses pembekuan cepat atau lambat dengan suhu penyimpanan antara 120C sampai dengan 180C. Ukuran karkas ditentukan berdasarkan bobotnya.

Bobot karkas individual ditentukan oleh bobot karkas itu sendiri,  berdasarkan pembagiannya dibedakan menjadi;
(a) ukuran kecil 0,8-1 kg;
(b) ukuran sedang 1-1,3 kg;
(c) ukuran besar 1,2-1,5 kg (SNI 01-3924-1995).

Karkas utuh adalah karkas tanpa bulu, kepala, leher dan kaki (Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000). Mc Nitt (1983), persentase bobot karkas ayam broiler yang normal berkisar antara 65-75% dari bobot hidup. Menurut Rasyaf (2001), karkas ayam adalah ayam yang sudah dikuliti tanpa ceker dan kepala. Karkas ayam pedaging adalah bagian dari ayam pedaging hidup, setelah dipotong, dibului, dikeluarkan jeroannya dan lemak abdominalnya, dipotong kepala, leher serta kedua kakinya (Hendranoto, 1993).

Karkas ayam adalah bobot tubuh ayam setelah dipotong dikurangi kepala, kaki, darah, bulu, serta organ dalam. Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum pemotongan antara lain genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur dan pakan serta proses setelah pemotongan (Abubakar, 2003). Salah satu faktor yang mempengaruhi karkas adalah pakan (Morran dan Orr, 1970). Thamrin (1984) persentase karkas ayam broiler yang diberi ransum dengan kandungan protein sebesar 23% mempunyai persentase karkas yang lebih tinggi dibandingkan dengan persentase karkas ayam broiler yang mendapat ransum dengan kandungan protein yang lebih rendah.

Protein yang tinggi dalam ransum akan memproduksi jaringan-jaringan otot yang lebih baik. Produksi karkas berhubungan erat dengan bobot badan karena peningkatan bobot badan akan diikuti oleh peningkatan bobot karkas. Berat dan persentase karkas unggas mempunyai variasi yang luas. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh ukuran/besar unggas, tingkat kegemukan dan tingkat perdagingan yang melekat pada dada (Jull, 1979). Murphy dan Googwin (1978) berpendapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap karkas diantaranya adalah bangsa dan jenis kelamin. Dikatakan juga bahwa bobot hidup, bobot karkas, dan bagian karkas pada ayam broiler jantan nyata lebih besar dari pada betina. Menurut Abubakar (2003), faktor yang menentukan nilai karkas meliputi bobot karkas, jumlah daging yang dihasilkan, dan kualitas daging dari karkas yang bersangkutan.

Daftar Pustaka


Abubakar, 2003. Mutu karkas ayam hasil pemotongan tradisional dan penerapan sistem hazzard analysis critical control point. Jurnal Litbang Pertanian, 22 vol. (1). Hlm: 34-35 Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Hardjosworo, P. S. & Rukmiasih. 2000. Meningkatkan Produksi Daging Unggas. Penebar Swadaya. Depok.
Hendranoto, A. W. L. 1993. Teknologi dan Kesehatan Daging. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran, Bandung.
McNitt, J. I. 1983. Livestock Husbandry Techniques. Low Priced Ed. Granada Publishing Limited. London.
Morran, E. T. & H. R. Orr. 1970. Influence of strain on the yield of comercial part from the chiken broiler carcas. Poultry Sci. 49: 725-726.
Murphy, B. D. & T. L Googwin. 1978. The effect of breed and sex on broiler yield and abdominal fat. Poultry Sci. 57:1176.
Standar Nasional Indonesia, 1995.Karkas Ayam Pedaging. Dewan Standarisasi Nasional Indonesia. Indonesia


loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 12:10

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...