Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila

Posted by

Kebutuhan nutrisi ikan pada budidaya intensif akan terpenuhi dengan pemberian pakan buatan. Komponen pakan yang berkontribusi terhadap penyediaan materi dan energi tumbuh adalah protein, karbohidrat dan lemak. Protein adalah nutrien yang sangat dibutuhkan untuk perbaikan jaringan tubuh yang rusak, pemeliharaan protein tubuh, penambahan protein tubuh untuk pertumbuhan, materi untuk pembentukan enzim dan beberapa jenis hormon serta sebagai sumber energi (National Research Council 1993). Kebutuhan protein ikan berbeda-beda menurut spesiesnya, pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 30-40% dalam pakannya (Jobling 1994). Ikan air tawar dapat tumbuh baik dengan pemberian pakan yang mengandung kadar protein 25-35% dengan rasio energi berbanding protein sekitar 8 kkal/gram protein. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni spesies ikan, ukuran ikan, umur ikan, temperatur air, kandungan energi pakan, kecernaan terhadap nutrien dan kualitas atau komposisi dari nutrien (NRC 1983).

Penyediaan sumber protein pakan baik tepung ikan dan tepung bungkil kedelai masih tergantung pada impor. Oleh karenanya, penggunaan bahan pakan lokal yang berkualitas, harga layak, persediannya terjamin dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia perlu dicoba. Tumbuhan leguminosa, sereal dan produksinya telah dicoba digunakan sebagai substitusi dari tepung bungkil kedelai di dalam pakan ikan nila (Meulen et al. 1979). Hal ini sangat memungkinkan digunakan untuk budidaya ikan nila karena merupakan ikan omnivora yang cenderung herbivora sehingga lebih mudah beradaptasi dengan jenis pakan yang dicampur dengan sumber bahan nabati seperti tepung bungkil kedelai, tepung jagung, tepung biji kapuk, tepung eceng gondok, tepung alfalfa, serta tepung daun dari berbagai jenis tanaman legumes seperti daun lamtorogung (El-Sayed dan Fatah 1999).

Pada ikan air tawar yang bersifat herbivora dan cenderung omnivora seperti ikan nila (Popma 1982; Wilson dan Poe 1985) dapat mencerna lebih dari 70% dari energi kotor bahan non-strach, sedangkan pada ikan yang bersifat karnivora seperti ikan trout hanya mencerna kurang dari 50%-nya. Tinggi rendahnya kandungan protein optimum dalam pakan dipengaruhi oleh kandungan energi non protein yaitu yang berasal dari karbohidrat dan lemak. Menurut Stickney (1979) dalam Pelawi (2003), energi yang terkandung dalam pakan yang berasal dari non-protein dapat mempengaruhi jumlah protein yang digunakan untuk pertumbuhan. Jika pakan kekurangan energi yang berasal dari non-protein maka sebagian besar protein yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan, akan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sebaliknya jika energi dalam pakan terlalu besar maka keadaan ini akan membatasi jumlah pakan yang dimakan oleh ikan yang selanjutnya akan membatasi jumlah protein yang dimakan sehingga pertumbuhan menjadi rendah. Karbohidrat merupakan sumber energi yang penting meskipun kandungan karbohidrat dalam pakan berada dalam jumlah yang relatif rendah. Karbohidrat dalam pakan dapat berupa serat kasar serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (NRC 1993). BETN mengandung banyak gula dan pati yang bersifat mudah dicerna sedangkan serat kasar kaya akan lignin dan selulosa yang sukar untuk dicerna. Pieper dan Pfeffer (1980) menyatakan bahwa energi dari karbohidrat sama efektifnya dengan energi dari lemak. Sedangkan Lovell (1989) mengemukakan bahwa pemberian tingkat energi optimum dalam pakan sangat penting karena kelebihan dan kekurangan energi dapat menurunkan pertumbuhan ikan.

Pemanfaatan karbohidrat oleh ikan berbeda-beda bergantung pada kompleksitas karbohidrat. Ikan-ikan karnivora tidak mampu memanfaatkan karbohidrat kompleks seperti glukosa, sukrosa dan laktosa sebagai energi utama dalam pakannya pada level yang tinggi. Sedangkan ikan-ikan omnivora dan herbivora dapat mencerna karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Yamada 1983). Ikan-ikan karnivora dapat memanfaatkan karbohidrat optimum pada tingkat 10-20% dalam pakannya sedangkan ikan-ikan omnivora mampu memanfaatkan karbohidrat optimum sebesar 30-40% dalam pakan (Furuichi 1988). Lemak pakan merupakan sumber asam lemak esensial (essential fatty acid /EFA) yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan metabolisme tubuh (NRC 1993). Lemak dalam bentuk triacyl-glycerol dapat dihidrolisis oleh enzim pencernaan menjadi asam lemak bebas dan 2-monoglycerides. Senyawa tersebut kemudian diserap dan juga digunakan untuk sintesis berbagai komponen sel atau diubah menjadi energi. Lemak sebagai salah satu makronutrien bagi ikan karena selain sebagai sumber energi nonprotein dan asam lemak essensial, juga berfungsi memelihara bentuk dan fungsi fosfolipid, membantu dalam absorbsi vitamin yang larut dalam lemak dan mempertahankan daya apung tubuh (NRC 1993). Ikan air tawar secara aktif memiliki kemampuan untuk mengkonversi C18 PUFA menjadi C20 dan C22 HUFA, di mana sebagian besar komponen utama PUFA banyak terdapat pada daun tanaman darat maupun air. Sementara itu, ikan-ikan air laut lebih banyak membutuhkan asam lemak esensial dalam bentuk n-3 HUFA yang secara alami banyak terdapat pada alga dan fitoplankton laut. Pada umumnya, lemak 10-20% dari berat kering pakan cukup untuk mendukung protein sehingga dapat termanfaatkan secara efektif tanpa menyimpan kelebihan lemak di jaringan tubuh ikan (Sargent et al. 2002).

Komponen lain yang dibutuhkan dalam pakan ikan yaitu vitamin dan mineral. Jumlah yang dibutuhkan dari vitamin dan mineral dalam pembuatan pakan sangatlah kecil namun kehadirannya dalam pakan sangat penting karena dibutuhkan tubuh ikan untuk tumbuh dan menjalani beberapa fungsi tubuh. NRC (1993) menjelaskan bahwa mineral merupakan senyawa yang digunakan untuk proses respirasi, osmoregulasi dan pembentukan kerangka tulang. Sedangkan vitamin merupakan senyawa organik kompleks yang diperlukan untuk tumbuh secara normal, reproduksi, kesehatan dan metabolisme secara umum.


loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:53

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...