Kebijakan Pengembangan Peternakan Sapi Perah

Posted by

Hasil kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian dan Fakultas Peternakan IPB tahun 1990 menetapkan bahwa area pengembangan peternakan sapi perah dibagi atas tiga area. Area pertama adalah area yang berada di atas ketinggian 700 mdpl dijadikan sebagai pusat produksi susu dan di tempat ini dikembangkan sapi perah FH murni sebagai bibit utama (grand parent stock/GPS atau parent stock/PS). Area kedua dengan ketinggian antara 300- <700 300="" area="" atau="" baik="" bawah="" berada="" berasal="" budidaya="" dari="" dengan="" di="" dikembangkan="" ditujukan="" final="" hasil="" lokal.="" mdpl="" p="" pada="" parent="" pengembangan="" perah="" persilangan="" sapi="" sedangkan="" stock="" untuk="" yang="">


Kebijakan penyediaan bibit sapi perah terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia melalui pemberian Kredit Pengembangan Usaha Sapi Perah (KPUSP), Kredit Pola Model KUD, Program Kredit Sapi Perah Swadaya, Kredit Kotrak Sumba dan PIR Persusuan. Kebijakan penyerapan susu sapi perah rakyat oleh industri pengolah susu dari tahun 1985 hingga tahun 1998 dan pengembangan program jangka panjang oleh Departemen Pertanian yang meliputi: (1) penyediaan bibit yang bermutu; (2) perbaikan mutu pakan; (3) peningkatan pelayanan kesehatan ternak; (4) perbaikan pemeliharaan; (5) penanganan reproduksi; (6) pembinaan pasca panen dan (7) pembinaan pemasaran (Pambudy, 2003).

Strategi pengembangan industri pedesaan berbasis susu sapi menurut Deptan (2009) adalah: (1) fokus pada pemberdayaan usaha sapi perah skala kecil dan menengah; (2) pengembangan industri pengolahan susu dan pemasaran; (3) penguatan pada akses permodalan, infrastruktur, teknologi dan peningkatan mutu bersamaan dengan pemberdayaan kelembagaan peternak sapi perah; (4) peningkatan konsumsi susu sapi segar; (5) pengembangan kondisi kondusif bagi industri susu. Kondisi yang diinginkan pada saat ini adalah (1) kerjasama inti plasma antara kelompok peternak dengan swasta; (2) pemasaran susu segar yang diolah oleh inti langsung ke konsumen; (3) jumlah minimum ternak sapi perah 10 ekor/plasma dan 500 ekor/klaster; (4) breeding oleh inti; (5) good farming practice (GFP) dan good manufacturing practice oleh plasma; dan (6) integrasi yang baik dengan industri pakan dan manajemen limbah terpadu.

Pengembangan peternakan sapi perah ke depan harus didasarkan pada prioritas perbaikan kelembagaan pasar yang lebih adil (Talib et al, 2007). Hal ini untuk menjawab sistem pemasaran susu di Indonesia yang dalam penentuan harganya masih didominasi oleh IPS, demikian pula dengan jaringan pemasarannya yang juga dikuasai IPS (Bappenas, 2007). Daryanto (2009) merekomendasikan lima arah kebijakan dalam merevitalisasi industri persusuan nasional yaitu (1) pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil ternak (susu) kepada para peternak; (2) perlu dibentuk wadah kemitraan yang jujur dan memperhatikan kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan industri pengolahan susu; (3) koperasi susu perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhana susu segar antara lain pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yoghurt, keju dan lain-lain; (4) pemerintah pusat dan daerah seyogyanya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu memperkuat posisi tawar peternak sapi perah khususnya dan pengembangan agribisnis berbasis peternakan pada umumnya; dan (5) pemerintah pusat dan daerah seyogyanya membiayai pelaksanaan program minum susu untuk anak-anak sekolah.

Berdasarkan Blue Print Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk dengan Pemberian Insentif bagi Tumbuhnya Industri Pedesaan (Kementan 2010), orientasi pengembangan komoditas susu nasional diarahkan pada peningkatan produksi dan mutu susu untuk pengurangan impor melalui peningkatan produktivitas, peningkatan kemampuan koperasi dan menumbuhkembangkan industri pedesaan pengolah susu pasteurisasi dengan menerapkan Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan.


loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 17:42

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...