Biologi Reproduksi Ikan Lele Sangkuriang

Posted by

Ikan lele Sangkuriang, Clarias sp. merupakan strain hasil perbaikan genetika dari ikan lele dumbo Clarias gariepinus, melalui silang-balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Ikan tersebut memiliki pertumbuhan bobot dan panjang tubuh benih dua kali lebih cepat bila dibandingkan dengan benih lele dumbo, selain itu produktivitasnya pun lebih tinggi (Sunarma 2004).

Organ reproduksi ikan terdiri dari ovarium dan testis. Ikan lele memiliki sepasang testis bergerigi yang bergantung pada bagian atas rongga tubuh dengan perantara mesorchium. Testis bagian kiri ikan lele lebih panjang daripada bagian kanan. Testis ini tersusun dari folikel-folikel tempat spermatozoa berkembang. Ukuran dan perkembangannya pada rongga tubuh bervariasi sesuai dengan tingkat kematangannya. Pada keadaan matang, bobot testis bisa mencapai 12% atau lebih dari bobot tubuh induk. Ovarium ikan lele berpasangan, memanjang dan tergantung pada bagian atas rongga tubuh dengan perantaraan mesovaria.



Ovarium terdiri dari oogonia dan jaringan penunjang atau stroma. Pada keadaan matang, ovarium bisa mencapai 70% dari bobot tubuh induk (Burhanuddin 2014). Berdasarkan perkembangan oositnya terdapat tiga tipe ovari pada ikan, yakni tipe sinkronisasi total yaitu oosit berkembang pada stadia yang sama; tipe sinkronisasi kelompok yaitu terdapat oosit besar yang matang dan oosit yang sangat kecil tanpa kuning telur; serta tipe asinkronisasi yaitu ovarium terdiri dari berbagai tingkat stadia oosit (Kapoor dan Khanna 2004). Ikan lele termasuk kedalam tipe sinkronisasi kelompok. Ikan lele Sangkuriang mulai matang gonad pada umur 8 – 9 bulan dengan fekunditas 40.000 – 60.000 butir/kg induk. Induk betina (Gambar 1a) yang siap memijah dicirikan dengan perut yang relatif lebih besar dan terasa lembek serta lubang genitalnya berbentuk bulat dan berwarna merah, sedangkan induk jantan (Gambar 1b) dicirikan dengan alat kelamin (papilla) meruncing melebihi pangkal sirip anus dan ujung papilla tersebut berwarna kemerahan (Sunarma 2004). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi suhu, sinar matahari, kedalaman air, jenis substrat, dan salinitas. Faktor internal meliputi kondisi tubuh ikan dan adanya hormon reproduksi seperti hormon steroid dan gonadotropin (David 1993).
loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:43

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...