Bobot Tetas, Daya Tetas (Hatchability) dan Kematian Embrio Telur Itik

Posted by

Rataan daya tetas dihitung dari persentase jumlah telur yang menetas terhadap jumlah telur fertil secara keseluruhan (Setioko et al., 2004a). Brahmantiyo dan Prasetyo (2001) melaporkan daya tetas telur itik Alabio adalah sebesar 48,98%. Hasil ini hampir sama dengan yang didapat oleh Lasmini et al. (1992) yang melaporkan bahwa daya tetas telur itik Alabio adalah sebesar 50,5%.


Kemampuan embrio untuk tetap bertahan sampai menetas juga dipengaruhi faktor genetik, yaitu karena kontribusi gen yang diwariskan. Selain itu, kondisi lingkungan dalam mesin penetasan juga mempengaruhi daya tetas telur (Matitaputty, 2012). Menurut Brahmantiyo dan Prasetyo (2001), daya tetas juga dipengaruhi status nutrisi induk. Embrio dapat mati jika kekurangan, kelebihan atau ketidakseimbangan nutrisi. Penyakit, infeksi parasit, keracunan, bisa atau obat-obatan dapat menyebabkan masalah nutrisi yang mempengaruhi daya tetas. Lasmini dan Heriyati 1992) menjelaskan bahwa jenis itik yang berbeda, sangat nyata berpengaruh terhadap daya tetas.

Kebanyakan embrio yang ditetaskan ditemukan mati antara hari ke-22 sampai ke-27 selama inkubasi. Hal ini biasa disebut ”dead-in-shell” dan terbagi menjadi tiga kategori. Kategori pertama, embrio tumbuh dan berkembang secara normal, tetapi tidak memiliki upaya untuk menerobos kerabang. Kategori seperti ini biasanya mati pada hari ke-28. Kategori kedua mati pada hari yang sama, tetapi menunjukkan karakteristik paruh yang pipih dan lentur dengan oedema serta pendarahan pada otot penetasan bagian belakang kepala. Kejadian tersebut merupakan dampak berkelanjutan dari usaha embriomemecah kerabang namun gagal. Kategori ketiga mati antara hari ke-22 sampai hari ke-28. Kematian pada kategori ini disebabkan karena kesalahan posisi selama berkembang sehingga menghambat embrio tersebut untuk keluar dari kerabang (Cherry dan Morris, 2008).

Brahmantiyo dan Prasetyo (2001) melaporkan rataan persentase kematian embrio pada telur itik Alabio adalah 42,36%. Lasmini et al. (1992) melaporkan persentase kematian embrio pada telur itik Alabio adalah 49,5%. Jenis itik berpengaruh terhadap kematian embrio yang dihasilkan (Matitaputty, 2012). 

Bobot DOD yang ditetaskan tidak dipengaruhi bangsa itik. Rataan bobot DOD itik Alabio adalah 39,85 g/ekor. Bobot DOD itik dipengaruhi bobot telur tetas (Brahmantiyo dan Prasetyo, 2001). Lasmini dan Heriyati (1992) melaporkan bahwa bobot telur itik Alabio kelompok large menghasilkan bobot tetas DOD tertinggi yakni 46,97 g/ekor, kemudian menurun pada kelompok medium (43,47 g/ekor) dan terendah pada kelompok small (36,90 g/ekor). Setioko et al. (2004b) melaporkan bahwa bobot tetas itik Alabio adalah 35,7 g/ekor.

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 09:32

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...