Ovulasi dan Pemijahan Ikan Lele

Posted by

Ovulasi adalah proses keluarnya sel telur (oosit) yang telah matang dari folikel dan masuk ke dalam rongga ovarium atau rongga perut. Pelepasan sel tersebut terjadi akibat membesarnya sel telur, adanya kontraksi aktif dari folikel (bertindak sebagai otot halus) yang menekan sel telur keluar, serta adanya daerah tertentu pada folikel yang melemah membentuk benjolan hingga pecah dan terbentuk lubang pelepasan hingga telur keluar. Ovulasi merupakan kelanjutan dari proses perkembangan oosit (vitelogenesis) dan pematangan oosit (maturasi) (Gusrina 2014).

Proses perkembangan oosit dipengaruhi oleh kerja FSH yang diawali dengan pembentukan oogonia pada sel germinal yang terdapat dalam lamela. Oogonia yang tersebar dalam ovarium mengalami pembelahan mitosis menjadi oosit primer. Oosit primer kemudian mengalami dua masa pertumbuhan yakni fase previtelogenesis yaitu ketika terjadi penambahan ukuran oosit akibat penambahan volume sitoplasma dan fase vitelogenesis yaitu ketika terjadi akumulasi material kuning telur yang disintesis oleh hati ke dalam oosit.


Secara hormonal, proses vitelogenesis berpucak pada pembentukan hormon 17α-hydroxyprogesteron pada sel teka (Gusrina 2014). Setelah fase vitelogenesis, sebelum adanya rangsangan yang sesuai maka oosit masuk ke fase dorman (istirahat), yakni fase di mana oosit tidak mengalami perubahan bentuk selama beberapa saat. Jika tidak ada rangsangan dan kondisi lingkungan tidak sesuai maka oosit akan mengalami degenerasi lalu diserap kembali oleh lapisan folikel melalui atresia (Gusrina 2014). Jika terdapat rangsangan LH yang cukup, maka akan menyebabkan terjadinya proses pematangan oosit yang ditandai dengan adanya pergeseran posisi inti telur.

Menurut Yaron dan Sivan (2011) terdapat empat kriteria posisi inti telur sebelum telur tersebut dapat diovulasikan yaitu central germinal vesicle (cGV) atau tahap inti ditengah, migrating germinal vesicle (mGV) atau tahap inti yang bermigrasi dari tengah menuju tepi, peripheral germinal vesicle (pGV) atau tahap inti di tepi dan germinal vesicle breakdown (GVBD) atau tahap inti yang telah melebur. Setelah inti telur melebur maka terjadilah proses ovulasi (pecahnya folikel) dan oviposisi. Pada habitat aslinya, proses pemijahan ikan lele dipengaruhi oleh perubahan sinyal lingkungan, seperti curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan, dan adanya ikan jantan. Sama seperti ikan lele umumnya, musim pemijahan ikan lele Sangkuriang terjadi pada musim penghujan.


Proses pemijahan ikan lele biasanya berlangsung pada malam hari di daerah perairan dangkal. Ikan lele Sangkuriang berkembang biak secara ovivar, yakni pembuahan telur di luar tubuh. Dalam hal ini, induk jantan dan betina akan saling mendekat, lalu induk jantan melilit betina membentuk seperti huruf u. Induk betina kemudian mengeluarkan telur dan induk jantan mengeluarkan sperma, lalu telur dan sperma tersebut bercampur di dalam air (Burhanuddin 2014). Selain pemijahan secara alami, ikan lele dapat dipijahkan secara semi alami dan buatan. Pemijahan secara semi alami atau buatan dilakukan pada wadah terkontrol dengan bantuan rangsangan berupa sinyal lingkungan ataupun hormon. Pada pemijahan buatan juga dilakukan koleksi telur dengan mengurut bagian perut induk ikan lele betina dan koleksi sperma dengan membedah induk ikan lele jantan. Selain itu, dilakukan juga pembuahan buatan dengan mencampurkan telur dan sperma yang telah diencerkan dengan NaCl.
loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:55

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...