Potensi Ampas Sagu sebagai Pakan Ternak

Posted by

Tanaman sagu merupakan tumbuhan monokotil yang termasuk ordo Sapindiciflorae, sub famili Calamoideae dan family Palmae. Sagu digolongkan dalam dua golongan yaitu yang hanya berbunga atau berbuah satu kali dan yang berbunga atau berbuah dua kali atau lebih. Golongan pertama sangat penting nilai ekonomi karena kandungan patinya yang tinggi. Golongan ini terdiri dari lima jenis yaitu M. rumphii (Gambar 1), M. sagus, M. silvester, M. longispinum, M. microcantum (Flach, 2005). Berdasarkan data Perhimpunan Pendayagunaan Sagu Indonesia (PPSI, 2004), produksi sagu nasional mencapai 200.000 ton per tahun. Sagu yang tumbuh di Papua dan sekitarnya termasuk jenis-jenis sagu yang berbunga sekali seumur hidupnya. Jenis tersebut mengandung pati yang lebih tinggi dibandingkan jenis Metroxilon yang berbunga dua kali. 

Tanaman sagu tumbuh di negara-negara Asia Tenggara, Oceama dan Kepulauan Pasifik serta pada semua hutan daerah khatulistiwa pada 10 oLS dan 10o LU, 90 oBT sampai 180 oBT dan altitude sampai 1000 m diatas permukaan laut (Flach, 2005). Umumnya sagu tumbuh di daerah dataran rendah yaitu di rawa, di sekitar daerah sumber air, di sekitar sungai dan di dataran rendah yang lembab. Tanaman sagu juga memiliki kemampuan tumbuh dengan sedikit atau tanpa pemeliharaan serta memiliki kemampuan tumbuh di daerah berair dengan derajat keasaman tanah (pH) antara 3,7 sampai 6,5. Sagu tumbuh baik pada suhu diatas 25 oC dengan kelembaban mencapai 90% dan radiasi matahari 900 J/cm/hari. Tanaman sagu yang tumbuh secara alami dapat dipanen pada umur 12 tahun. Awal pembentukan bunga merupakan saat yang paling baik untuk dipanen karena kandungan pati dalam pohon sagu tersebut sedang optimal. Ciri-ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang. Pati sagu diperoleh dari hasil ekstraksi empulur batang sagu. Kandungan pati pada empulur batang sagu berbeda-beda tergantung dari jenis, umur dan tempat tumbuh. Daerah penghasil sagu terbesar adalah Papua (Sentani, Merauke, Asmat, Bovendigul, Nabire, Paniai, Waropen) dan Maluku.

Seiring dengan banyaknya industri pembuatan tepung sagu maka limbahnya semakin meningkat. Ketersediaan limbah ini sebanding dengan banyaknya permintaan akan tepung sagu terutama di daerah penghasil utama sagu yaitu Papua dan Maluku. Kandungan pati yang terdapat dalam empelur sagu hanya 18,5% dan sisanya 81,5% adalah merupakan ampas sagu. Kandungan empelur tanaman sagu per pohon mencapai 1 ton (1000 kg), sehingga bisa didapatkan 815 kg ampas sagu.


Banyak penelitian telah dilakukan dalam melihat pemanfaatan ampas sagu (Metroxilon sp) sebagai komponen pakan ternak, baik dalam pakan ruminansia maupun monogastrik. Ampas sagu dapat mencemari lingkungan bila tidak dimanfaatkan. Salah satu upaya pemanfaatan limbah ampas sagu adalah sebagai pakan ternak, karena selain harganya yang relatif murah juga persediaannya pun terus meningkat. Pemanfaatan ampas sagu sebagai pakan sebaiknya melalui suatu penanganan dan pengolahan lebih lanjut karena kandungan zat makanan ampas sagu yang secara umum kurang baik. Hal ini ditunjukan oleh protein kasarnya yang hanya sekitar 2% dan serat kasarnya yang bisa mencapai 39 % (Flach, 2005).

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 13:31

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...