Alasan Pemotongan Sapi Betina Produktif

Posted by

Sampai saat ini, berbagai upaya kebijakan telah ditempuh pemerintah (pusat dan daerah) untuk penyelamatan sapi betina produktif, baik secara makro (kebijakan pelarangan pemotongan dan pembatasan pengeluaran sapi betina produktif) maupun secara mikro (kebijakan pemberian dana insentif pada peternak), namun pemotongan sapi betina produktif di RPH dan perdagangan sapi betina produktif antar pulau dan pasar hewan di wilayah sentra produksi masih terus berlangsung dan bahkan sulit untuk dikendalikan (Sonjaya, 2012).

Pemotongan sapi betina produktif sering dilakukan salah satunya dikarenakan jumlah pasokan daging sapi betina lebih besar dibandingkan dengan jumlah populasi sapi jantan.Populasi sapi betina untuk di Sulawesi Selatan mencapai 705.119 ekor dibandingkan sapi jantan hanya mencapai 278.917 ekor (Data Sensus Pertanian, 2013).

Hafid dan Syam (2001) dan Soejosopoetro (2011) menemukan bahwa penyebab utama penurunan populasi sapi potong adalah seringnya terjadi kasus pemotongan sapi betina yang masih produktif di RPH, dan jumlah pemotongan sapi betina produktif tersebut sudah melampaui ambang batas keamanan dalam kelestarian dan pengembangan populasinya. Selanjutnya, ditemukan bahwa penyebab dari pemotongan sapi betina produktif adalah karena banyak RPH hanya berorientasi keuntungan, dan alasan utama jagal memotong sapi betina produktif adalah sulit mencari sapi kecil untuk dipotong, sapi jantan sudah diantar pulaukan, tidak paham kalau memmotong sapi produktif melanggar undang-undang, harga sapi betina lebih murah dibanding sapi jantan tetapi harga dagingnya sama.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Bambang Soejosopoetra (2011) di RPH Malang juga menyebutkan bahwa pemotongan sapi betina produktif disebabkan oleh rendahnya tingkta kelahiran sapi yang tidak mampu mengimbangi pemotongan sapi yang dilakukan. Kemungkinan lain terjadinya pemotongan sapi betina produktif adalah faktor-faktor 1. atas dasar permintaan pemotongan sapi betina yang lebih muda, 2. Penjualan sapi betina produktif oleh peternak di pedesaan karena untuk mencukupi kebutuhan pokoksehari-hari keluarganya karena tidak mempunyai uang cash (Atmadilaga,1983).


Agung, Djojowidagdo, Arito dan Sunardi. (1981) bahwa imbangan jumlah pemotongan dengan populasi tidak melampau batas toleransi yaitu sebesar 12%. Apabila persentase pemotongan melebih batas toleransi, maka akan mengganggu suplai sapi potong dan upaya peningkatan populasi sapi potong.
loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 08:41

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...