Parasit dan Penyakit Ikan Patin

Posted by

Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan ganguancbaik fisik maupun fisiologis pada ikan. Gangguan ini dapat disebabkan oleh organisme lain, kondisi lingkungan atau campur tangan manusia. Sakit adalah suatu kondisi dimana terjadi gangguan atau ketidaknormalan fungsi pada ikan baik secara fisik ataupun fisiologis. Sakit dan penyakit ini dapat disebabkan oleh ketidakserasian yang terjadi di dalam lingkungan atau ekosistem dimana ikan tersebut berada. Dengan kata lain penyakit merupakan interaksi yang tidak serasi antara ikan dengan faktor biotik (organisme) dan faktor abiotik (lingkungan). Interaksi yang tidak serasi ini akan menimbulkan stress pada ikan sehingga menyebabkan daya pertahanan tubuh menurun dan akibatnya mudah timbul berbagai penyakit.

Menurut Usman (2007) faktor biotik yang dimaksud yang merugikan ikan di dalam ekosistem dapat dibagi atas tiga kelompok besar yakni:
1) Parasit, yaitu organisme yang hidup dan memperoleh makanan dari host (inang) yang ditumpanginya. Kedalam golongan ini termasuk bakteri, protozoa, virus, crustacea (udang renik), cacing dan jamur.
2) Hama, yaitu organisme yang mengganggu atau merusak ikan secara fisik contohnya Tryonix sp (bulus), Egretta sp (burung kuntul), ular air (Cerberus rhyncops) dan lain-lain.
3) Predator, yakni hewan karnifora pemangsa misalnya Varanus salvador (biawak)
4) Kompetitor, yakni organisme yang merupakan pesaing dalam memperoleh oksigen, ruang dan makanan seperti ikan-ikan liar, belut dan lain-lain.

Menurut Usman (2007) faktor non biotik yang sering juga disebut sebagai faktor non parasiter, terdiri beberapa faktor, antara lain;
1) Faktor lingkungan; Diantara faktor lingkungan yang dapat merugikan kesehatan ikan ialah pH air yang terlalu tinggi atau rendah, kandungan oksigen yang rendah, temperatur yang berubah secara tiba-tiba, adanya gas beracun serta kandungan racun yang berada di dalam air yang berasal dari pestisida, pupuk, limbah pabrik , limbah rumah tangga dan lain-lain.
2) Pakan. Penyakit dapat timbul karena kualitas pakan yang diberikan tidak baik. Gizi rendah, kurang vitamin, busuk atau telalu lama disimpan serta pemberian pakan yang tidak tepat.
3) Turunan. Penyakit turunan atau genetis dapat berupa bentuk tubuh yang tidak normal dan pertumbuhan yang lambat.

Sesuai dengan sifatnya, maka penyakit dapat digolongkan menjadi dua yakni penyakit infektif dan penyakit non-infektif. Penyakit infektif adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh organisme pathogen yang berasal dari virus, bakteri, jamur ataupun parasit. Adapun penyakit non infektif adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan non pathogen seperti nutrisi (makanan), kualitas air, bahan toxic, dan genetik (Susanto, 2009).

Pemicu terjadinya serangan penyakit antara lain adanya ketidakseimbangan antara daya dukung lingkungan dengan kuantitas produksi dalam satu areal budidaya (infeksi tidak seimbang antara ikan, pathogen, dan lingkungannya). Ditambahkan oleh Anshary (2008) bahwa salah satu bentuk hubungan simbiosis adalah parasitisma, dimana ciri khas hubungan simbiosis ini adalah salah satu jenis organisme yang disebut “parasit” hidup dan mendapat keuntungan dari organisme lainnya yang disebut “inang”.

Secara umum, parasit dapat didefinisikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain, yang disebut inang, dan mendapat keuntungan dari inang yang ditempatinya hidup, sedangkan inang menderita kerugian. Parasit memiliki habitat tertentu dalam tubuh inangnya. Berdasarkan lingkungannya, parasit dibedakan menjadi ektoparasit, yaitu parasit yang hidup pada permukaan tubuh inang dan yang memperoleh makanan dengan mengirimkan haustorium masuk ke dalam sel-sel tumbuh inang itu (Anshary, 2008).

Beberapa golongan parasit yang bersifat ektoparasit antara lain adalah ciliata, beberapa flagellata, monogenea, copepod, isopod, branchiuran dan lintah, sedangkan endoparasit adalah parasit yang ditemukan pada organ bagian dalam inang. Golongan parasit yang masuk kelompok endoparasit antara lain adalah digenea, cestoda, nematoda, acantocephala, coccidia, microsporidia, dan amoeba. Selanjutnya Kabata dalam Anshary (2008) menambahkan istilah yang disebut Mesoparasit untuk memberikan istilah pada parasit yang menginfeksi ikan dimana sebagian dari tubuh parasit menembus sampai organ dalam tubuh inang sedangkan bagian tubuh lainnya berada diluar tubuh inang. Contoh mesoparasit adalah parasit Lernaeocera sp yang hidup pada rongga insang ikan gadid dan dapat menembus jantung ikan untuk mengisap darah (Anshary, 2008).

Adaptasi morpologi parasitisme nampak pada bentuk tubuh parasit, dimana bentuk parasit tergantung pada lokasinya dalam inang. Ektoparasit yang hidup pada bagian luar tubuh ikan umumnya berbentuk datar dorsoventral, agak concav pada salah satu sisi dan convex pada sisi lainnya, bagian sisi concave melekat pada inang dan berperan seperti disc pengisap. Parasit jenis ini sulit terlepas oleh arus ketika ikan berenang. Contoh parasit ini adalah ciliata (Chilodonella sp., Trichodina sp.), branchiuran (Argulus sp.), Copepoda (Lepeopthirius sp., Caligus sp.), dan banyak spesies monogenea (Entobdella sp., Benedenia sp.) (Anshary, 2008).


Untuk mengetahui tingkat infeksi/serangan parasit dalam populasi inang dikenal istilah prevalensi, intensitas dan kelimpahan parasit. Prevalensi menggambarkan persentase ikan yang terinfeksi oleh parasit tertentu dalam populasi ikan, intensitas menggambarkan jumlah parasit tertentu yang ditemukan pada ikan yang diperiksa dan terinfeksi, sedangkan kelimpahan rata-rata adalah jumlah rata-rata parasit tertentu yang ditemukan dalam populasi pada ikan baik yang terinfeksi maupun tidak (Fernando et al, 1972 dalam Jahja, 2009).

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 23:45

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...