Penerapan Biosekuriti Dipeternak

Posted by

Menurut Rusny (2013) terdapat 8 tahap penerapan biosekuriti yaitu:
1. Biosekuriti pada sumber ayam
2. Biosekuriti terhadap ternak penggangu
3. Biosekuriti tamu dan pekerja peternakanS
4. Biosekuriti ayam sakit/mati
5. Biosekuriti pakan
6. Biosekuriti kandang
7. Biosekuriti limbah
8. Higiene peternak ayam

1. Biosekuriti Pada Sumber Ayam
Menurut Rusny (2013). Ayam hidup yang akan masuk ke dalam peternakan berpotensi membawa agen penyakit. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap sumber ayam yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan, yaitu:
1. Ayam yang datang berasal dari peternakan atau peternakan bibit yang bebas penyakit. Ayam yang boleh masuk ke area kandang adalah yang telah diperiksa oleh dokter hewan dan hasilnya harus negatif dari keberadaan agen-agen patogen dalam unggas tersebut.
2. Ayam yang datang harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Ternak (SKKH) yang dikeluarkan oleh Dinas yang membawahi Kesehatan Ternak dan ditandatangani oleh dokter hewan yang terkait.

Ditambahkan oleh Shulaw dan Bowman, (2001). Ayam yang akan masuk ke area peternakan diisolasi terlebih dahulu dalam ruang tertutup sempurna agar tidak ada agen-agen penyakit yang dapat keluar atau masuk ke area isolasi.

2. Biosekuriti terhadap Ternak Penggangu
Menurut Rusny (2013). Biosekuriti terhadap hewan pengganggu seperti burung-burung liar, predator (kumbang), rodensia (tikus), lalat, caplak, tungau dan serangga lain. Burung liar merupakan reservoar bagi penyakit ND, IB, Psitakosis, influensa unggas dan Pasteurella spp. Kumbang merupakan reservoar sejumlah besar infeksi termasuk penyakit Marek, Gumboro, salmonellosis, pasteurellosis dan koksidiosis. Rodensia dapat menyebarkan berbagai ragam penyakit termasuk pasteurellosis dan salmonellosis. Lalat dapat menularkan berbagai bakteri penyebab penyakit pencernaan ayam dan virus cacar ayam (fowl pox). Caplak Argas dapat menjadi vektor pembawa spirokhetosis.

Beberapa ternak yang potensial sebagai ternak penganggu adalah unggas/burung liar, tikus, dan insekta. Hal yang harus diperhatikan oleh pemilik ataupun pekerja peternakan, yaitu:
1. Tidak diperbolehkan mempunyai/merawat unggas lain, babi, dan segala ternak yang bisa menimbulkan risiko penyakit atau bahaya terhadap ayam (tikus dan unggas liar merupakan vektor yang potensial),
2. Melakukan pencegahan khusus setelah kontak dengan ternak lain sebelum masuk atau kontak dengan unggas.

Ditambahakan oloeh Grimes, (2001), Pada penerapan sistem hazard analysis critical kontrol point (HACCP) di peternakan ayam, salah satu titik kendali kritis (critical kontrol point/CCP) adalah adanya pemantauan harian terhadap burung liar dan rodensia di sekitar area kandang ayam. Dalam program dan prosedur biosekuriti dilakukan pemisahan unggas terhadap jenis unggas lain, spesies bukan unggas, termasuk burung liar, rodensia, dan ternak-ternak lainnya.(Darminto, 2006) menambahkan dalam upaya pencegahan penularan penyakit sebisa mungkin meminimalisasi paparan mikroorganisme berbahaya terhadap ayam.

3. Biosekuriti Tamu dan Pekerja Peternakan
Penerapan biosekuriti dalam pengawasan lalu lintas manusia meliputi ( Rusny 2013).
a. Karyawan atau orang yang terlibat di bisnis peternakan pembibitan ayam tidak diperbolehkan memelihara burung atau ayam di rumahnya. Begitu pula untuk peternakan komersial.
b. Orang yang akan masuk ke dalam peternakan, sebelumnya tidak mengunjungi peternakan pada tingkat di bawahnya (peternakan komersial, processing dan lain-lain) yang status higienenya tidak diketahui, minimum dua hari setelah kunjungan tersebut.
c. Tamu sebaiknya tidak mengunjungi peternakan bibit tetua (grand parent), kecuali profesional (ahli)

4. Biosekuriti Ayam Sakit/Mati
Menurut Rusny (2013). Ayam yang sakit/mati dapat menjadi sumber penyakit berbahaya bagi ayam sehat yang berdekatan. Oleh karena itu, ayam yang sakit/mati harus segera dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin dari kandang ayam sehat sehingga tidak menulari ayam yang sehat. Ayam yang sakit/mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium oleh dokter ternak peternakan untuk segera diketahui penyakitnya. Setelah itu, ayam tersebut harus segera dibakar di crematorium.

5. Biosekuriti Pakan
Biosekuriti pakan meliputi penyimpanan pakan, memperhatikan lama penyimpanan bahan baku ataupun penyimpanan pakan jadi. Pakan terhindar dari ternak pengganggu ain seperti tikus, kutu dan kecoa (Rusny 2013).

6. Biosekuriti Kandang
Pencucian kandang dan desinfeksi secara menyeluruh dilakukan diantara setiap kelompok umur remaja sangat dianjurkan. Kandang dan peralatan harus dibersihkan secara menyeluruh dari atas sampai bawah dan didesinfeksi setelah setiap flok dipindahkan dari kandang semula dan sebelum flok baru dimulai. Pencucian kandang secara parsial hanya dilakukan pada kandang petelur dan peralatannya setelah flok dipindahkan dari tempat awalnya ke tempat yang baru (Rusny 2013). Menurut Hadi (2001) Pencucian kandang dan desinfeksi secara menyeluruh. Kandang dan peralatan harus dibersihkan secara menyeluruh dari atas sampai bawah dan didesinfeksi setelah setiap flok dipindahkan dari kandang semula dan sebelum flok baru dimulai.

Pencucian kandang secara parsial hanya dilakukan pada kandang dan peralatannya setelah flok dipindahkan dari tempat awalnya ke tempat yang baru cara-cara yang dianjurkan dalam pencucian kandang secara menyeluruhadalah sebagai berikut :
a. Litter diangkat keluar dari kandang sejauh mungkin, atau paling tidak menjauhi kandang. Usahakan litter tidak berceceran, tidak terkena air, tidak mencemari jalan atau pintu masuk kandang, dan tutuplah rapat-rapat.
b. Alat kandang dibersihkan, membersihkan sampai dasar kandang atau lantai, termasuk seluruh rangkaian kabel listrik, kipas angin, dan kisi-kisi jendela. Lampu-lampu dibersikan dan ganti yang sudah putus dengan yang baru.
c. Seluruh atap, korden, dinding, partisi, tempat makan dan minum, dan peralatan lainnya, setelah dibersihkan debunya, dibersihkan dengan air (air sabun), dibilas dengan air bersih, lalu didesinfeksi dengan menggunakan desinfektan yang kuat dan larut dalam air seperti senyawa fenol dengan konsentrasi sesuai aturan. Penyemprotan dilakukan pada tekanan minimum 200 psi (pounds per square inch) agar penetrasi bahan kimia berlangsung baik. Semprotan mengenai bagian dalam motor listrik, oleh karena itu harus diselubungi dahulu sebelum disemprot, setelah selesai dibuka kembali atau motor dilepas dahulu. Seluruh korden atau penutup pada kedua sisi harus disemprot dengan air sabun, dibilas dengan air bersih, dan didesinfeksi. Ketika kering, korden harus digulung dan dibiarkan udara mengalir dengan sempurna.
d. Bila terdapat kerusakan kandang maka perbaikan dilakukan secepatnya. Setelah selesai perbaikan, maka persiapan datangnya flok baru bisa dilakukan. Masa kosong kandang sekitar dua minggu (minimal 14 hari).
e. Bak dekontaminasi sepatu di depan pintu masuk kandang. Sediakan pula baskom dekontaminasi untuk mencuci kandang.

7. Biosekuriti Limbah
Dalam tatalaksana usaha peternakan ayam sisa-sisa produksi atau limbah sudah jelas akan banyak ditemukan. Limbah ini harus dijauhkan dan dimusnahkan sejauh mungkin sari areal produksi. Bila mungkin harus ada petugas khusus yang mengambil sisa produksi ini secara teratur untuk dibuang atau dimusnahkan di luar areal produksi. Apabila tidak mungkin dibuang atau dimusnahkan di luar, maka harus dipilih di lokasi di dalam wilayah peternakan yang memungkinkan sisa-sisa produksi ini tidak mengganggu kegiatan produksi lainnya serta mencegah pencemaran lingkungan.

8. Higiene Peternakan Ayam
Higiene adalah segala upaya yang berhubungan dengan masalah kesehatan serta berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Pengertian higiene pangan adalah semua kondisi dan tindakan untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan pada semua tahap dalam rantai makanan. Keamanan pangan (food safety) adalah jaminan agar bahan makanan tidak membahayakan konsumen pada saat disiapkan dan/atau dimakan menurut kebutuhan.


Sedangkan, menurut pemerintah, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia.Kelayakan Pangan (food suitability) adalah jaminan agar bahan makanan dapat diterima untuk konsumsi manusia menurut kebutuhannya. Dalam suatu peternakan, praktek higiene yang baik wajib diterapkan pada penanganan telur, karena telur termasuk pangan yang berpotensi membawa agenagen patogen (misalnya Salmonella Enteritidis) dan termasuk pangan yang mudah rusak.

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 14:10

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...