Sejarah Perkembangan Sapi Impor Brahman (BX)

Posted by

Sapi Brahman Cross mulai diimpor Indonesia (Sulawesi) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, Calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 Kg (jantan) dan 138,3 Kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 Kg/ hari (Hardjosubroto, 1984). Pada tahun 1975, sapi Brahman cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman cross dari Australia untuk UPT perbibitan (BPTU Sembawa) dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Penyebaran di Indonesia dilakukan secara besar-besaran mulai tahun 2006 dalam rangka mendukung program percepatan pencapaian swasembada daging sapi 2010.

Pada umumnya pemeliharaan di rakyat memakai tali hidung, dikandangkan sendiri atau dalam kelompok kecil dalam tempat sempit, belum sepenuhnya adaptasi, ditambah lagi dengan pemberian pakan yang kurang memadai, terjadilah gangguan-gangguan reproduksi yang sering disebut sebagai slow breeder. Terjadilah proses adaptasi yang memakan waktu cukup lama, hingga berbulan-bulan. Dengan adanya perubahan lingkungan, pakan, ditambah adanya heat stress terjadilah keadaan yang disebut depresi reproduksi (reproductive depression), sapi tidak pernah menunjukkan gejala birahi pada sapi yang belum bunting maupun setelah beranak pertama (bunting bawaan).



Rendahnya fertilitas pada sapi Brahman disebabkan oleh pengamatan birahi yang kurang akurat dengan Lama masa estrus 6,7±0,8 jam, nutrisi dan lamanya induk menyusui yang dapat menyebabkan terjadinya anestrus post partum pada sapi Brahman, lamanya waktu yang diperlukan untk pengeluaran plasenta setelah beranak, dan adanya infeksi pada uterus yang dapat mempengaruhi jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi Brahman di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus post partus, hal ini disebabkan oleh makanan yang diberikan kurang berkualitas, temperatur lingkungan yang terlalu panas, infeksi parasit, penyakit reproduksi, kondisi tubuh yang kurus, dan stress akibat menyusui (Vandeplassshe, 1982).

loading...


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 07:55

0 komentar:

Post a Comment

Artikel Berkaitan

loading...