Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Sifat Kualitatif dan Kuantitatif

Performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki oleh ternak. Selama kehidupan suatu organisme sifat turunannya akan berinteraksi dengan lingkungan dan interaksi ini akan menentukan rupa atau bentuk individu tersebut pada waktu tertentu dan perkembangannya pada waktu mendatang.

Sifat kuantitatif adalah ciri dari makhluk yang dapat diukur, dihitung atau diskors. Karakter ini ditentukan oleh banyak pasang gen (poligenik) dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan (Wiley, 1981), sedangkan sifat kualitatif seperti warna, pola warna, sifat bertanduk atau tidak bertanduk dapat dibedakan tanpa harus mengukurnya. Sifat kualitatif biasanya hanya dikontrol oleh sepasang gen (Noor, 2008).

Penggunaan ukuran tubuh selain untuk menaksir bobot badan dan karkas, dapat juga untuk memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu (Diwyanto, 1982).

Sumber Artikel (Klik DisinI)

Sifat Kuantitatif Domba

Sifat Kuantitatif Domba
Dalam menentukan domba yang mempunyai produktifitas tinggi, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif maka peubah-peubah yang penting harus diketahui. Sifat yang perlu diketahui untuk kepentingan produksi dan reproduksi dan bisa menjadi ukuran dasar karakteristik suatu ternak adalah ukuran tubuh.

Menurut Doho (1994), ukuran-ukuran tubuh hewan mempunyai banyak kegunaan, dapat digunakan untuk menaksir bobot badan dan untuk memberi gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa.

Djagra (1994) menjelaskan bahwa pengetahuan mengenai ukuran-ukuran tubuh perlu dipelajari untuk menentukan bentuk fisik seekor ternak. Ukuran tubuh yang dimaksud adalah tinggi pundak, tinggi panggul, panjang badan, lingkar dada, dalam dada, lebar dada, lebar panggul, tinggi kanon dan sebagainya. Ukuran tubuh memiliki korelasi yang erat dengan bobot badan.

Doho (1994) menyatakan bahwa korelasi yang erat antara bobot badan dan setiap ukuran tubuh merupakan perwujudan dari adanya proses pertumbuhan yang terjadi pada hewan tersebut, karena untuk menjaga keseimbangan biologis maka setiap pertumbuhan komponen-komponen tubuh akan diikuti dengan meningkatnya ukuran-ukuran tubuh. Panjang badan, tinggi pundak dan lingkar dada adalah ukuran tubuh yang paling erat korelasinya dengan bobot badan ternak. Hal tersebut berarti ternak yang mempunyai tubuh besar akan mempunyai tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada yang lebih besar, sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran-ukuran tubuh dan berat badan merupakan ukuran penting dalam menilai sifat kuantitatif ternak yang akan digunakan untuk program seleksi.

Daftar Pustaka

Djagra, I. B. 1994. Pertumbuhan sapi Bali; Sebuah Analisis Berdasarkan Dimensi Tubuh. Majalah Ilmiah UNUD, 21 (39): 173-182.


Doho, S. R. 1994. Parameter fenotipik beberapa sifat kualitatif dan kuantitatif pada domba ekor gemuk. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Karakteristik Kuantitatif Ayam Kampung

Pada bidang peternakan unggas, karakteristik kuantitatif yang penting adalah yang ada hubungannya dengan produksi, misalnya bobot badan, bobot tetas, produksi telur dan umur bertelur pertama. Karakteristik kuantitatif selain dipengaruhi oleh genotipnya juga dipengaruhi oleh lingkungan, serta interaksi antara genotipe dan lingkungan. Beberapa karakteristik kuantitatif yang bernilai ekonomis adalah bobot badan, panjang paha (femur), panjang betis (tibia), panjang cakar (shank, tarsometatarsus) dan lingkar cakar. Karakteristik tersebut dapat dijadikan parameter-parameter pertumbuhan (Mansjoer, 1985). Menurut Warwick et al. (1995), karakteristik kuantitatif penting artinya dalam bidang peternakan dan sangat dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan.

Beberapa karakteristik kuantitatif yang berhubungan dengan produktivitas unggas menurut Mansjoer (1981) diantaranya:

a) Panjang shank dan panjang tibia, dapat dijadikan penduga untuk mengukur pertumbuhan, sebab bentuk tulang yang besar menunjukkan pertumbuhan yang besar.

b) Panjang femur dan panjang dada merupakan tempat perletakan daging yang banyak, demikian juga panjang tibia merupakan tempat perletakan daging, sehingga perkembangan dari tulang paha, tulang dada dan tulang betis ini akan menunjukkan produksi daging.
c) Lingkar tarsometatarsus merupakan keliling dari shank, dapat dijadikan patokan untuk mengetahui bentuk kerampingan dari shank. Bentuk dari kaki menunjukkan kemampuan dari kaki untuk dapat menunjang bobot badan, sedangkan kemampuan ayam untuk memproduksi daging ditunjukkan oleh bobot badan. Berdasarkan hal ini lingkar tarsometatarsus dapat dijadikan suatu petunjuk untuk mengetahui kemampuan memproduksi daging dari bobot badan, dengan semakin besarnya bobot badan, maka produksi daging akan semakin bertambah, sehingga ini bisa dijadikan suatu kriteria pengukuran dari produksi daging yang dihasilkan.

Menurut Mansjoer (1985), karakteristik kuantitatif ayam kampung antara lain: (1) rataan bobot badan ayam jantan umur lima bulan 1,122 kg dan betina 0,916 kg, (2) rataan produksi telur 11,29 butir per periode bertelur, dengan jarak antar periode bertelur sekitar tiga bulan, (3) bertelur pertama pada umur 6,37 bulan dengan rataan bobot telur seberat 41,6 per butir, (4) daya tetas telur sebesar 84,6% dan jumlah telur yang ditetaskan sebanyak 58,6%. Mansjoer dan Martojo (1977) melaporkan, bahwa dalam pemeliharaan terkurung dan pemberian makan yang baik pada umur 10 minggu ayam kampung mencapai bobot sebesar 552,34 ± 41,44 g.

Daftar Pustaka
Mansjoer, S. S. 1981. Studi sifat-sifat ekonomis yang menurun pada ayam Kampung. Laporan Penelitian No. 15/Penelitian/PUT/IPB/1979-1980. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mansjoer, S. S. 1985. Pengkajian sifat-sifat produksi ayam Kampung beserta persilangannya dengan Rhode Island Red. Disertasi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Warwick, E. J., J. M. Astuti, W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.



Back To Top