Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Arti Penting Ternak Sapi Aceh Bagi Masyarakat Indonesia


 Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya bagi kehidupan masyarakat.Seekor atau sekelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama bahan makanan berupa daging disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang kulit dan tulang.Sapi sebagai salah satu hewan pemakan rumput sangat besar berperan sebagai bahan bergizi rendah yang diubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Konsumsi protein hewani yang sangat rendah pada anak-anak dapat menyebabkan anak-anak yang berbakat normal menjadi subnormal (Sudarmono dan Bambang, 2008).

Tingkat konsumsi hasil ternak bagi masyarakat Indonesia dinilai masih jauh dibawah kecukupan gizi yang dianjurkan. Bedasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan protein asal ternak baru mencapai 5,1g/kap/hr yang setara dengan konsumsi susu 7,5kg/kap/th, daging 7,7 kg/kap/th (Tranggono, 2004).

Penyediaan hasil ternak dalam jangka panjang perlu optimalisasi seluruh segmen kegiatan industri peternakan, yaitu industri primer seperti pembibitan dan budidaya ternak, industri sekunder dalam kegiatan pasca panen dan industri tersier di bidang distribusi dan pemasaran (Chamdi, 2004).


Total Hasil Produksi Sapi Aceh

Pendapatan usaha adalah seluruh pendapatan yang diperoleh dalam suatu usaha.Pendapatan dapat berupa pendapatan utama, seperti hasil penjualan sapi dari kegiatan usaha penggemukan sapi dan pendapatan berupa hasil ikutan (by product), misalnya pupuk kandang (Aritonang, 1993).

Soekartawi et al.., (1986) menyatakan bahwa penerimaan merupakan total produk usaha tani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Selisih antara pendapatan kotor usaha tani dan pengeluaran total usaha tani disebut pendapatan bersih usaha tani. Pendapatan adalah selisih antara nilai barang yang dijual perusahaan dengan biaya untuk memproduksi barang tersebut.

Budiono (1990) menyatakan bahwa penerimaan adalah hasil penjualan output yang diterima produsen. Penerimaan dari suatu proses produksi dapat dihitung dengan mengalikan jumlah produksi yang dihasilkan dengan harga jual produksi tersebut.


Analisis Usaha Ternak Sapi Aceh

Usaha ternak sapi merupakan usaha yang lebih menarik sehingga mudah merangsang pertumbuhan usaha. Sebaliknya hewan ternak yang nilai manfaatnya dan nilai ekonomisnya rendah pasti akan terdesak mundur dengan sendirinya, hal ini bisa dibuktikan dari perkembangan ternak sapi di Indonesia. Memelihara ternak sapi sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging atau susu tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai potensi tenaga kerja. Sebagai penghasil daging, persentase karkas cukup tinggi yaitu 45-55% (Siregar, 1996).

Kondisi peternakan sapi potong saat ini masih mengalami kekurangan pasokan sapi bakalan lokal karena pertambahan produksi tidak seimbang dengan kebutuhan nasional, sehingga terjadi impor sapi potong bakalan dan daging. Kebutuhan daging sapi di Indonesia saat ini dipasok dari tiga sumber yaitu : peternakan rakyat (sapi lokal), industri peternakan (hasil penggemukkan sapi ex-import) dan import daging. Pembanguna peternakan ditujukan untuk meningkatkan produksi hasil ternak serta meningkatkan pendapatan peternak (Tohir, 1991).
Analisis usaha ternak merupakan kegiatan usaha penting bagi suatu usaha ternak yang mempunyai prospek cerah dapat dilihat dari analisis usahanya. Berdasarkan data tersebut dapat diukur keuntungan usaha dan tersedianya dana yang ril untuk periode selanjutnya. Melalui analisis ini dapat dicari langkah pemecahan berbagai kendala yang dihadapi. Analisis dapat juga memberikan informasi lengkap tentang modal yang diperlukan, penggunaan modal, besar biaya, untuk bibit (bakalan), ransum, kandang, lamanya modal kembali dan tingkat keuntungan uang yang diperoleh (Suharno dan Nazaruddin, 1994).

Analisis usaha peternakan bertujuan mencari titik tolak untuk memperbaiki hasil usaha ternak tersebut. Hasil anilisis ini dapat digunakan untuk merencanakan perluasanusaha, baik menambah cabang usaha atau memperbesar skala usaha (Hermanto, 1996).




Arti Penting Ternak Sapi Aceh Bagi Masyarakat Indonesia

Ternak sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan penting artinya bagi kehidupan masyarakat.Seekor atau sekelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama bahan makanan berupa daging disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang kulit dan tulang.Sapi sebagai salah satu hewan pemakan rumput sangat besar berperan sebagai bahan bergizi rendah yang diubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Konsumsi protein hewani yang sangat rendah pada anak-anak dapat menyebabkan anak-anak yang berbakat normal menjadi subnormal (Sudarmono dan Bambang, 2008).

Tingkat konsumsi hasil ternak bagi masyarakat Indonesia dinilai masih jauh dibawah kecukupan gizi yang dianjurkan. Bedasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan protein asal ternak baru mencapai 5,1g/kap/hr yang setara dengan konsumsi susu 7,5kg/kap/th, daging 7,7 kg/kap/th (Tranggono, 2004).

Penyediaan hasil ternak dalam jangka panjang perlu optimalisasi seluruh segmen kegiatan industri peternakan, yaitu industri primer seperti pembibitan dan budidaya ternak, industri sekunder dalam kegiatan pasca panen dan industri tersier di bidang distribusi dan pemasaran (Chamdi, 2004).


Sapi Peranakan Ongole ( PO)

Sapi PO (Peranakan Ongele) merupakan sapi yang berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India) yang telah berlangsung cukup lama yakni sejak tahun 1908. Persilangan tersebut merupakan suatu “Grading Up” yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Erlangga, 2009).

Ciri khas sapi tersebut yaitu berpunuk besar, bergelambir longgar dan berleher pendek. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau putih kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot yang tenang. Tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan dengan sapi jantan. Telinganya panjang dan menggantung (Sarwono dan Arianto, 2003).




Back To Top