Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Sifat Kualitatif dan Kuantitatif

Performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki oleh ternak. Selama kehidupan suatu organisme sifat turunannya akan berinteraksi dengan lingkungan dan interaksi ini akan menentukan rupa atau bentuk individu tersebut pada waktu tertentu dan perkembangannya pada waktu mendatang.

Sifat kuantitatif adalah ciri dari makhluk yang dapat diukur, dihitung atau diskors. Karakter ini ditentukan oleh banyak pasang gen (poligenik) dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan (Wiley, 1981), sedangkan sifat kualitatif seperti warna, pola warna, sifat bertanduk atau tidak bertanduk dapat dibedakan tanpa harus mengukurnya. Sifat kualitatif biasanya hanya dikontrol oleh sepasang gen (Noor, 2008).

Penggunaan ukuran tubuh selain untuk menaksir bobot badan dan karkas, dapat juga untuk memberikan gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu (Diwyanto, 1982).

Sumber Artikel (Klik DisinI)

Pengamatan Sifat Kualitatif Domba

Pengamatan sifat kualitatif dengan melihat morfologi dari tubuh ternak (bulu, tanduk, telinga, ekor, profil muka dan warna tanduk) meliputi:

a) Bulu: dilihat warna dan motif bulunya, dikelompokkan ke dalam 11 macam
pola warna, yaitu :
i)       Belang Sapi, merupakan kombinasi hitam putih seperti belang batu namun dengan belang yang lebih besar, biasanya terdapat warna hitam yang besar - besar di atas warna putih (mirip sapi FH).
ii)      Hitam
iii)    Jogja, merupakan warna bulu domba coklat muda pada seluruh tubuhnya
iv)    Belang Batu, merupakan kombinasi warna bulu domba hitam putih dengan dominansi salah satu dari keduanya da bercaknya mirip batubatuan
v)      Coklat Tua
vi)    Baracak, merupakan kombinasi warna bulu domba dengan dominasi hitam atau abu-abu dan bercak-bercak kecil putih yang tidak teratur pada sekujur tubuh atau pada sebagian tubuh.
vii)   Putih
viii)  Kondang, merupakan warna bulu domba putih kekuningan/warna gading pada seluruh tubuhnya.
ix)    Laken, merupakan istilah untuk bulu domba dengan warna abu-abu atau hitam mirip topi laken atau sutera yang keputih-putihan.
x)      Riben, merupakan warna bulu domba dengan ciri terdapat lingkaran
xi)    warna bulu hitam di sekitar mata.
xii)   Sela, merupakan kombinasi warna bulu putih hitam atau putih coklat
dengan warna putih pada tubuh sedangkan pada bagian kaki dan leher berwarna hitam atau coklat.


 b) Tanduk: memperhatikan sifat penampakannya yaitu ada tidaknya tanduk atau hanya berupa tonjolan kecil serta bentuk tanduk, berdasarkan bentuknya diklasifikasikan menjadi empat model bentuk tanduk, antara lain:
i)     Leang-leang, merupakan bentuk tanduk domba dengan sedikit lengkungan mulai dari bagian bawah telinga mengarah ke samping dan tidak melebihi lebar muka.
ii)    Sogong, merupakan bentuk tanduk domba yang melengkung ke arah depan dan jatuh lurus ke arah bawah sampai melebihi lebar muka, ujung tanduk lurus tidak ada lengkungan ke arah samping (mirip gayor).
iii)   Bendo, merupakan bentuk tanduk yang melingkar ke arah belakang satu putaran dan ujungnya tidak melebihi batas mulut.
iv)   Gayor, merupakan bentuk tanduk domba yang mengarah ke bawah sampai melebihi lebar muka dan bagian akhir tanduk sedikit melengkung ke luar (nanggeuy pipi, seperti posisi tangan orang yang sedang berdo’a, di daerah Bogor terkenal dengan tanduk hamin lebe).
v)    Golong Tambang, merupakan bentuk tanduk domba yang melingkar satu putaran (ngagolong), termasuk bentuk tanduk yang tergolong gayor, japlang, atau leang-leang namun bila ada satu putaran maka dimasukkan pada golong tambang.

c) Telinga: melihat tipe telinganya dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
i)     Rumpung, yaitu bentuk daun telinga menguncup (seperti bunga ros) atau menggulung, berukuran pendek, kecil, daun telinga tidak tampak jelas dan tampak hampir seperti tidak berdaun telinga (Salamena, 2006).
ii)    Rubak, yaitu bentuk daun telinga lebar dan panjang, ujung telinga tidak runcing (bulat) dan lubang telinga tampak jelas (Salamena, 2006).

d) Ekor: diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
i)     Gabus, pangkal ekor hingga ujungnya memiliki ketebalan yang hampir sama.
ii)    Bagong, bagian pangkal ekor lebih tebal dan semakin ke ujung ketebalan ekornya semakin berkurang.
iii)   Beurit, bagian tengah ekornya lebih tipis dibandingkan bagian pangkal dan ujung.

e) Profil muka: dikelompokkan menjadi dua, yaitu;
i)     Cembung, yaitu jika dilihat dari samping terdapat penonjolan tulang hidung yang melebihi tulang dahi.
ii)    Datar, yaitu jika dilihat dari samping penonjolan tulang hidung sama rata dengan tulang dahi.

f) Warna tanduk: digolongkan kedalam tiga jenis warna, yaitu:
i)     Cinta, warna untuk tanduk domba kombinasi hitam dengan kuning keputihan/warna gading.
ii)    Wulung, warna untuk tanduk domba berwarna hitam.
iii)   Berumbun, warna untuk tanduk domba berwarna kuning keputihan/warna gading.


Sifat - Sifat Domba

Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis dan spesies Ovis aries (Damron, 2006). Subfamili Cuprinae berasal dari dataran tinggi di daerah pegunungan dan berkembang menjadi spesies, subspesies, varietas serta ras-ras lokal tertentu. Ternak domba dari Asia tersebar kesebelah barat antara lain Mediterania, termasuk Eropa dan Afrika serta kesebelah timur tersebar ke daerah subkontinen India dan Asia Tenggara (Devendra dan Mc Leroy, 1992). Menurut Salamena (2003) domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa sampai ke Afrika. Di Indonesia, domba terbagi menjadi (1) domba ekor tipis (Javanese thin tailed), (2) domba ekor gemuk (Javanese fat tailed), dan (3) domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut.

Berdasarkan data statistik populasi ternak domba di Indonesia mencapai 10.392.849 ekor, populasi ini terus meningkat dari tahun ke tahun rata-rata sebesar 7,6%. Jawa Barat adalah provinsi yang memiliki populasi domba tertinggi yaitu 4.926.803 ekor atau 47,4% dari populasi domba nasional. Produksi daging domba di Jawa Barat sebesar 37.043 ton/tahun merupakan yang tertinggi di seluruh Indonesia, sedangkan tingkat pemotongan ternak domba dalam waktu setahun mencapai 355.413 ekor (Direktorat Jendral Peternakan, 2008).

Sekitar 50 % dari populasi domba di Indonesia terdapat di Jawa Barat dan terdiri dari domba asli Indonesia yang dikenal dengan nama domba ekor tipis (Subandriyo dan Iniguez, 1992). Domba ekor tipis merupakan domba asli Indonesia yang dikenal sebagai domba lokal, domba kampung, atau domba kacang, disebut demikian karena tubuhnya yang kecil (Sumoprastowo, 1987). Domba ini tidak jelas asal - usulnya dan dijumpai di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah (Devendra dan Mc Leroy, 1992). Domba ekor tipis memiliki keunggulan dalam beradaptasi pada kondisi iklim tropis serta dapat kawin sepanjang tahun. Konsentrasi domba ekor tipis terdapat di propinsi Jawa Barat (Iniquez dan Gunawan, 1990). Domba Ekor Tipis merupakan domba prolifik dan secara umum mampu menghasilkan dua sampai tiga anak dalam satu kelahiran. Sifat-sifat domba prolifik menurut Tiesnamurti (1992) tercantum pada Tabel.

Sifat Domba Prolifik
Sifat
Tunggal
Kembar Dua
Kembar > 3
Rata-rata bobot lahir (kg)
2.6
1.8
1.2
Rata-rata bobot sapih per ekor (kg)
15.2
10.3
8.1
Kematian prasapih (%)
10
17
30
Laju pertumbuhan prasapih (gr/ekor/hari)
130
95
75
Laju pertumbuhan lepas sapih (gr/ekor/hari)
119
124
135
Umur pubertas betina (hari)
359.1
359.2
312
Rata-rata bobot badan setahun (kg)
25
20
18
Sumber : Tiesnamurti (1992)

Karakteristik domba lokal diantaranya bertubuh kecil, lambat dewasa, berbulu kasar, tidak seragam, hasil daging relatif sedikit (Murtidjo, 1993) dan pola warna bulu sangat beragam dari bercak putih, coklat, hitam atau warna polos putih dan hitam umumnya (Tiesnamurti, 1992). Tiesnamurti (1992) menyatakan bahwa bobot dewasa dapat mencapai 30-40 kg pada jantan dan betina 20-25 kg dengan persentase karkas berkisar antara 44-49%. Ekor pada domba Lokal umumnya pendek (Devendra dan McLeroy, 1992) dengan ukuran panjang rata-rata 19,3 cm, lebar pangkal ekor 5,6 cm dan tebal 2,7 cm (Tiesnamurti, 1992).
Rataan jumlah anak per kelahiran (litter size) Domba Ekor Tipis (Jawa Barat) adalah 1.79 ± 0.81 ekor sedangkan Domba Ekor Tipis dari Sumatera adalah 1.54 ± 0.68 ekor (Iniquez dan Gunawan, 1990).

Daftar Pustaka

Damron, W. S. 2006. Introduction to Animal Science: Global, Biological, Social and Industry Perspectives 3rd Ed. Pearson Education, New Jersey.
Devendra, C. & G.B. McLeroy. 1992. Goat and Sheep Production in the Tropic. ELBS Longman Group Ltd. England.
Iniquez, L. & B. Gunawan. 1990. The productive potential of Indonesian sheep breed for the humid tropics: A review Proc 13th Annual Converence of Malaysia Society and Animal Production, Malacca. 270-274.
Murtidjo, B.A. 1993. Memelihara Domba. Kanisius, Yogyakarta.
Salamena, J. 2003. Strategi pemuliaan ternak domba pedaging di Indonesia. Makalah Seminar. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Subandriyo & L. C. Iniguez. 1992. Dasar-dasar program peningkatan mutu genetik domba ekor tipis. Wartazoa 2(3-4): 8-14.
Sumoprastowo, R.M. 1987. Beternak Domba Pedaging dan Wool. Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Tiesnamurti, B. 1992. Alternatif pemilihan jenis ternak ruminansia kecil untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Potensi ruminansia kecil Indonesia bagian Timur. Prosiding Lokakarya Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. BPT Bogor.


Karakteristik Kualitatif Jenis Ayam

Karakteristik kualitatif adalah suatu sifat pada individu yang diklasifikasikan ke dalam satu dari dua kelompok atau lebih dan pengelompokkan itu berbeda jelas satu sama lain. Hal ini karena sifat kualitatif memiliki perbedaan yang jelas, terpisah menjadi kelompok yang terputus, dipengaruhi oleh satu gen tunggal atau satu pasang gen, perbedaan-perbedaan yang terjadi pada sifat ini hampir sepenuhnya ditentukan oleh perbedaan genetika dan perbedaan lingkungan hanya memiliki pengaruh kecil atau tidak ada pengaruhnya terhadap ekspresi sifat tersebut (Warwick et al., 1995)

Karakteristik kualitatif dinyatakan sebagai sifat-sifat yang ada pada suatu jenis ayam yang menjadi penciri bagi ayam tersebut. Sifat ini sangat berguna bagi pengembangan bibit ayam karena menggambarkan secara jelas tingkat keragaman genetik pada suatu jenis ayam (Mansjoer, 2003).

Karakteristik Warna Bulu
Pola warna bulu pada ayam merupakan salah satu faktor utama yang menentukan proses identifikasi, selain itu bentuk dan ukuran tubuh, bentuk jengger (comb) serta warna cakar (May, 1971). Warna bulu terkait dengan pigmen melanin yang terbagi menjadi dua tipe, yaitu eumelanin yang membentuk warna hitam dan biru pada bulu, dan pheomelanin yang membentuk warna merah-cokelat, salmon, dan kuning tua (Brumbaugh dan Moore, 1968).
Kerja pigmen ini diatur oleh gen I (inhibitor) sebagai gen penghambat produksi melanin dan gen i sebagai gen pemicu produksi melanin sehingga ada dua sifat utama pada sifat warna bulu ayam, yaitu sifat berwarna dan sifat tidak berwarna. Warna bulu putih pada ayam yang membawa gen I (inhibitor) kadang-kadang resesif terhadap warna bulu lain. Warna bulu ayam yang membawa gen i (gen pembawa sifat warna) tidak selalu hitam tergantung ukuran dan pengaturan granula pigmen (Hutt, 1949).

Karakteristik Pola Warna Bulu Primer
Distribusi melanin pada bulu primer akan menimbulkan pola bulu yang disebut pola warna bulu primer. Pola warna ini dipengaruhi oleh faktor pendistribusian dan penghambat distribusi eumelanin. Faktor pendistribusi eumelanin adalah lokus E (Hutt, 1949) terdiri dari tiga alel yaitu E (hitam polos), e+ (tipe liar), dan e (Colombian) yang telah diteliti kemudian terdiri dari delapan alel, yaitu E>ER>eWh>e+>eb>es>ebc>ey (Crawford, 1990). Menurut Smyth (1976) kerja alel dari lokus E ini biasanya juga dibatasi oleh beberapa alel yang bersifat menghambat distribusi eumelanin pada bulu primer, yaitu alel Db (dark brown), Co (colombian), dan Mh (mahogany). Kerja ketiga alel ini akan berpengaruh bila berinteraksi dengan lokus E pada bagian punggung, sayap, kaki, dan bulu ekor.

Karakteristik Pola Bulu Sekunder (Corak Bulu)
Distribusi melanin pada bulu sekunder akan menimbulkan pola bulu yang disebut pola bulu sekunder atau istilah lainnya adalah corak bulu. Corak bulu pada ayam ada dua jenis corak, yaitu lurik/burik (barred) dilambangkan oleh gen B dan tidak lurik (non barred) dilambangkan oleh gen b. Gen pembawa sifat corak bulu ini terpaut kelamin. Kerja gen B ini adalah menghambat deposisi melanin dan akan menimbulkan garis-garis pada warna dasar hitam sehingga bulu terlihat hitam bergaris-garis putih (Hutt, 1949).

Karakteristik Kerlip Bulu
Warna kilap pada lapisan bulu utama dinamakan kerlip bulu yang terdiri dari kerlip perak (silver dan dilambangkan dengan gen S) dan emas (dilambangkan dengan gen s). Kerlip bulu ditemukan pada ayam, baik yang berbulu hitam polos maupun yang berbulu putih, namun kurang terlihat pada ayam yang memiliki gen autosomal merah atau yang memiliki bulu dengan kombinasi warna yang keragamannya sangat kompleks. Gen pembawa sifat kerlip bulu ini terdapat pada kromosom kelamin (Hutt, 1949)

Karakteristik Warna Shank
Warna shank merupakan penampakan dari adanya beberapa pigmen tertentu pada epidermis dan dermis (Jull, 1951). Warna shank ada yang putih/kuning (Id), hitam (id) atau kehijauan (Mansjoer et al., 1989). Warna kuning pada shank, pada ayam bangsa Amerika dan bangsa-bangsa yang lain, adalah karena adanya lemak atau pigmen lipokrom (lypocrome) pada lapisan epidermis, sedangkan pigmen hitam atau melanin tidak terdapat pada epidermis dan dermis. Shank yang berwarna hitam disebabkan oleh adanya pigmen melanin pada epidermis. Shank warna putih, pada beberapa ayam bangsa Inggris muncul karena tidak adanya kedua pigmen tersebut pada epidermis maupun pada dermis. Shank biru (cerah dan gelap) pada bangsa ayam kulit putih didapatkan karena adanya pigmen melanin pada dermis, tetapi melanin dan lipokrom tidak terdapat pada epidermis. Adanya pigmen lipokrom pada epidermis dan pigmen melanin pada dermis menyebabkan shank warna hijau (Jull, 1951).
Perubahan warna shank kuning pada ayam betina dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat produksi telur yang akan dihasilkan. Pigmen lipokrom yang terdapat pada shank sama dengan pigmen kuning yang terdapat pada telur, sehingga warna shank dapat dijadikan indikasi tingkat produksi telur seekor ayam. Faktor tersebut (warna kuning pada shank) bisa digunakan dalam proses pengafkiran ayam petelur (Jull, 1951). Adanya gen B pada ayam akan dapat mengurangi jumlah pigmen melanin pada shank (Hutt, 1949).



Karakteristik Bentuk Jengger
Jengger merupakan bentuk modifikasi dari kulit yang terdapat pada bagian puncak kepala. Biasanya berwarna merah dan mempunyai bentuk yang beragam, yaitu bentuk jengger tunggal, ros, kapri, cushion, buttercup, bentuk arbei atau bentuk V (Ensminger, 1992). Menurut Jull (1951), jengger, pial (wattle), dan cuping (earlobe) merupakan perkembangan dari dermis yang tertutup oleh lapisan epidermis. Jengger juga merupakan bagian tubuh unggas yang membedakannya dengan bangsa burung yang lain. Jengger ros (R_) bersifat dominan terhadap jengger tunggal (rr) dan jengger kapri (P_) juga bersifat dominan terhadap jengger tunggal. Gen ros (R_) dan kapri (P_) bertemu maka akan terbentuk jengger walnut (R_P_) yang dominan terhadap jengger ros, kapri, dan tunggal.

Karakteristik Warna Cuping
Menurut Crawford (1990), sebagian besar breed ayam mempunyai cuping berwarna merah meskipun breed dari kelas Mediteranian yang meliputi Leghorn, Minorca, dan Spanish mempunyai warna cuping putih. Ayam hutan merah ditemukan campuran antara warna cuping merah dan putih dengan warna cuping merah lebih dominan.

Karakteristik Warna Mata
Menurut Crawford (1990), semua ayam kecuali golongan albino mempunyai warna mata gelap pada saat menetas. Warna mata sesungguhnya belum dapat dilihat sampai dewasa kelamin ketika pigmen melanin dan karoten diekspresikan secara penuh. Penelitian dilakukan dengan menyilangkan antara breed ayam bermata 9 cokelat bulu hitam dan mata bay pembatas warna bulu hitam yang secara tidak sadar didapatkan hubungan antara warna yang mengandung melanin dan warna mata gelap.


Daftar Pustaka
Brumbaugh, J. A. dan J. W. Moore. 1968. The effects of E alleles upon melanocytes differentitation. Dalam : Crawford, R. D. (Editor). Poultry Breeding and Genetics. Department of Animal and Poultry Science. University of Saskatchewan, Saskatoon.

Crawford, D. S. 1990. Poultry Breeding and Genetics. Elsevier. Amsterdam.

Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science. 3rd Ed. Interstate Publishers, Inc. USA.

Hutt, T. B. 1949. Genetics of The Fowl. Hill Book Company, Inc., New York.

Jull, M. A. 1951. Poultry Disease. 3rd Ed. Mc Graw-Hill Book Company, Inc., New York.

Mansjoer, S. S. 2003. Karakteristik ayam Buras. Semiloka Perunggasan Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Bogor.

May, C. G. 1971. British Poultry Standards. Third Ed. I Liffe Books, London.

Smyth, J. R. 1976. Genetics control of melanin pigmentation in the fowl. Dalam: Crawford, R. D. (Editor). Poultry Breeding and Genetics. Department of Animal and Poultry Science. University of Saskatchewan, Saskatoon.

Warwick, E. J., J. M. Astuti, W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Back To Top