Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Penangkaran Rusa Timor

Definisi penangkaran menurut PP No 8 tahun 1999, adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwaliar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran satwaliar merupakan salah satu program pelestarian dan pemanfaatan untuk tujuan konservasi dan ekonomi (Takandjandji 2009). Pemanfaatan rusa sebagai satwa yang dilndungi telah dilakukan berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 1999. Bentuk pemanfaatannya dapat berupa pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran, dan pemeliharaan untuk tujuan kesenangan. Rusa timor yang dapat diperdagangkan adalah rusa timor pada keturunan kedua (F2) dan berikutnya. Namun apabila F2 dikawinkan dengan tetuanya yakni F0 maupun F1 maka keturunan rusa tersebut dikategorikan sebagai F1 kembali (Semiadi & Nugraha 2004).

Penangkaran rusa pada umumnya terbagi menjadi tiga sistem, yaitu sistem penangkaran intensif, semi-intensif dan ekstensif. Ketiga sistem ini sangat tergantung pada persediaan biaya dan lahan. Sistem intensif atau terkurung merupakan sistem penangkaran yang dilakukan dalam kandang terbatas dan seluruh kebutuhan rusa diatur oleh manusia. Pada penangkaran dengan sistem semi-intensif dilakukan dengan cara membebaskan rusa pada areal yang luas yang dikelilingi oleh pagar dan dibiarkan merumput sendiri, namun terkadang diberi asupan pakan dari luar untuk memenuhi kebutuhan makan rusa. Sedangkan penangkaran dengan sistem ekstensif, rusa dibiarkan bebas dalam suatu areal luas yang dikelilingi pagar dan dibiarkan merumput sendiri. Adapun campur tangan manusia hanya untuk mengontrol dan mengatur daya dukung.


Menurut Setio (2008), pola pemeliharaan pada ketiga sistem penangkaran ini menyebabkan perbedaan perilaku pada rusa. Perilaku rusa dengan sistem ekstensif masih menunjukan sifat liar dibandingkan dengan sistem intensif. Pada sistem intensif, perilaku rusa cenderung lebih jinak jika dibandingkan dengan sistem ekstensif dan semi-intensif. Oleh karenanya, domestikasi baik dilakukan pada penangkaran dengan sistem semi-intensif dan intensif. Namun dalam pembuatan habitat dengan sistem semi intensif dan intensif tetap harus memenuhi kebutuhan hidup rusa seperti di habitat alaminya, seperti sumber air dan tempat berlindung.

Perilaku rusa di penangkaran

Perilaku rusa di penangkaran dengan sistem semi-intensif terdiri dari perilaku makan, minum, berkelompok, bercumbu, istirahat, berkelahi dan berkubang (Mannes 1999). Sedangkan pada penelitian Wirdateti et al. (1997), perilaku harian rusa timor di penangkaran Taman Safari terdiri dari makan, memamah biak, istirahat, berdiri diam dan berjalan. Perilaku lain yang dilakukan rusa timor yaitu perilaku sosial. Perilaku sosial ini dapat dilihat dari cara hidup rusa timor yang berkelompok. Adapun perilaku sosial yang dilakukan antara lain, perilaku induk yang merawat anaknya terutama pada saat baru lahir dan persaingan jantan untuk mendapatkan betina.


Perilaku makan
Rusa timor merupakan satwa ungulata atau berkaki genap (artiodactyla). Seperti satwa ungulata pada umumnya, rusa timor adalah satwa memamah biak atau ruminansia. Sebagai satwa memamah biak, rusa memiliki perilaku merumput atau grazing. Berdasarkan penelitian Widarteti et al. (2005), perilaku merumput pada rusa timor di penangkaran dengan sistem pengelolaan ekstensif memiliki intensitas yang paling tinggi jika dibandingkan dengan jenis perilaku lainnya.
Perilaku makan pada rusa timor merupakan rangkaian dari gerakan mancari pakan, memilih, mengambil dan memasukkan ke dalam mulut, mengunyah, menelan serta ruminansia (pengunyahan dan penelanan kembali) (Takandjandji 2009). Menurut Manshur (2011), pada rusa timor yang memulai makan adalah rusa jantan tua yang kemudian diikuti oleh rusa-rusa lainnya. Bila pakan datang maka rusa betina dewasa akan berteriak sebagai tanda pemberitahuan dan rusa jantan dewasa memulai makan yang diikuti oleh rusa lainnya. Biasanya, anak rusa dan rusa muda akan memakan sisa jatuhan hijaunan induknya. Sedangkan rusa jantan dewasa lebih suka membongkar dan mengeluarkan hujauan dari dalam tempat pakan, sehingga rusa-rusa lain tinggal memakannya.

Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam penangkaran. Menurut Alikodra (2002), semua organisme memerlukan sember energi yakni pakan untuk bertahan hidup. Makanan yang beranekaragam akan memudahkan suatu spesies untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan atau daya dukung lingkungan tempat tinggal satwa tersebut. Sebagai satwa ruminansia, rusa timor lebih dominan mengkonsumsi rumput-rumputan. Meski rusa timor lebih dominan mengkonsumsi rumput-rumputan, rusa timor hampir menyukai segala jenis pakan tambahan, seperti biji-bijian, pelet, jagung, kentang dan buah-buahan. Oleh karena itu rusa timor dikenal sebagai rusa timor yang mudah dalam penyediaan pakannya, serta mampu beradaptasi dengan mudah apabila ada perubahan pakan (Semiadi & Nugraha 2004).

Dalam penangkaran persediaan pakan rusa banyak terdapat di padang rumput yang dikelola oleh pengelola. Padang rumput ini ditanami oleh jenis rumput yang disukai oleh rusa timor. Selain itu, jenis rumput yang dipilih merupakan jenis rumput yang memiliki sifat cepat tumbuh dan tahan terhadap kekeringan. Menurut Semiadi dan Nugraha (2004), terdapat beberapa jenis rumput unggul yang bersifat rumput potongan dan jenis rumput untuk hewan digembalakan yang biasa digunakan sebagai pakan rusa. Jenis rumput yang termasuk dalam kategori rumput potongan antara lain, rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (persilangan antara Pennisetum purpureum dengan Pennisetum thypoides), rumput benggala (Panicum maximum), rumput padi (Setaria sphacelata) atau rumput mexico (Euchiaena mexiocana). Sedangkan jenis rumput untuk hewan gembala terdiri dari rumput Brachiaria brizantha, rumput australia (Paspalum dilatatum), rumput kolonjono (Brachiaria mutica) atau rumput pangola (Digitaria decumbens). Kemudian terdapat jenis leguminosa yang dapat digunakan sebagai pakan rusa antara lain stylo (Stylosanthes guyanensis), Arachis hypogea serta pohon lamtoro (Leucaena leucocephala). Selain beberapa jenis rumput unggulan tersebut, rusa timor dapat diberikan pakan tambahan berupa konsentrat, sayur-sayuran, umbi-umbian atau limbah pertanian dan limbah industri.


Daftar Pustaka

Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwaliar. Jilid 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor.
Mannes J. 1999. Pemanenan Ranggah Muda (Velvet) Sebagai Tambahan Nilai Usaha Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis de Blainville) Perum Perhutani di Jonggol Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Manshur A. 2011. Studi Pakan dan Perilaku Makan Rusa Sambar (Cervus unicolor Kerr,1972) di Teluk Resort Teluk Pulai, Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah [Skripsi]. Bogor : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Semiadi G, Nugraha RTP. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Bogor : Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Setio P. 2008. Penangkaran Rusa. Prosiding Ekspose dan Gelar Teknologi Hasil-hasil Penelitian. Mendukung Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Kalimantan Barat. Pontianak, 11-13 Desember 2007.
Takandjandji M. 2009. Desain Penangkaran Rusa Timor Berdasarkan Analisis Komponen Bio-Ekologi dan Fisik di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wirdateti, Farida WR, Zein MSA. 1997. Perilaku Harian Rusa Jawa (Cervus timorensis) di Penangkaran Taman Safari Indonesia. Biota II (2) : 78-81.
Wirdateti, Mansur M, Kundarmasno A. 2005. Pengamatan Tingkah Laku Rusa Timor (Cervus timorensis) di PT Kuala Tembaga, Desa Aertembaga, Bitung-Sulawesi Utara (Behavioural Study of Timor Deer [Cervus timorensis] in PT Kuala Tembaga, Aertembaga Village, Bitung-North Sulawesi). Animal Production 7 (2) : 121 – 126.


Nilai Ekonomi Rusa

Rusa merupakan salah satu satwa liar yang sangat potensial untuk dikembangkan karena banyak memiliki keunggulan. Rusa mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan ruminansia lainnya seperti kambing dan domba. Adapun kelebihan rusa antara lain, sebagai hewan asli Indonesia yang mampu secara cepat beradaptasi dengan lingkungan pemeliharaan, baik pada iklim kering maupun iklim lembab, efisien dalam penggunaan pakan, tahan terhadap penyakit, tingkat reproduksi yang tinggi, kandungan lemak dan kolesterol yang rendah pada daging sehingga cocok untuk menu dietetik, mempunyai nilai estetika (Kayat et al. 2010). Seperti halnya yang diungkapkan oleh Garsetiasih dan Takandjandji (2007), rusa timor merupakan satwa yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai satwa penghasil daging, kulit dan ranggah.


Rusa Timor diabadikan di pecahan uang kertas Rp. 500,- tahun 1988
Rusa dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani karena rusa memiliki komposisi daging yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis daging lainnya. Daging rusa memiliki serat halus berwarna merah dan kandungan lemak serta kolesterol yang rendah. Menurut Kompas (2010), harga daging rusa di pasar tradisional Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah dapat mencapai Rp. 85.000- Rp. 90.000 per kg pada hari raya, sedangkan pada hari biasa harga daging rusa berkisar Rp. 80.000 per kg. Jika rusa dijual dalam keadaan hidup dapat mencapai harga jutaan. Menurut Kayat et al. (2010), secara umum estimasi harga jual rusa dapat dibedakan dalam 3 kelompok, yakni :
a. Kelompok anak rusa dengan harga Rp. 1 juta / ekor.
b. Kelompok induk/betina dewasa dengan harga Rp. 2 juta/ ekor.
c. Kelompok jantan dewasa dengan harga Rp. 2,5 juta / ekor.

Harga ini terkadang jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga yang ditawarkan oleh orang yang berminat pembeli rusa di Kabupaten Ende, Sumba Barat dan Alor. Menurut Kwatrina (2009), di Indonesia sendiri untuk harga daging rusa bervariasi pada kisaran Rp. 250.000 per kg. Sedangkan untuk rusa yang masih hidup memiliki nilai jual berkisar antara Rp. 3.500.000 sampai Rp. 15.000.000 per ekor. Namun di Indonesia, secara umun tidak ada penjualan rusa dengan tujuan komersil melainkan masih terbatas pada kepentingan konservasi dan nilai estetika. Adapun penjualan yang terjadi merupakan penjualan ilegal karena rusa termasuk satwa yang dilindungi.

Selain dijadikan sebagai sumber protein hewani, produk yang dihasilkan rusa juga dapat dijadikan sebagai obat, yaitu velvet antler atau ranggah muda. Menurut Semiadi et al. (2008), ranggah muda telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Asia Timur bahkan telah merambah ke konsumen barat. Ranggah muda ini digunakan untuk pencegahan, pengobatan dan penanggulangan berbagai penyakit dan luka-luka, seperti mengurangi peradangan, pengaruhnya terhadap metabolisme tubuh, menunjang fungsi imun tubuh, menjaga dari kerusakan jaringan-jaringan dan mempengaruhi fungsi-fungsi dari darah, hati, dan ginjal. Manfaat tersebut membuat harga rangga muda yang sudah dikeringkan dapat mencapai US $ 120 per kg (Garsetiasih & Takandjandji 2007). Sedangkan harga ranggah tua yang telah dijadikan hiasan pada beberapa kota seperti di Bogor berkisar antara Rp. 250.000 sampai Rp. 750.000. Selain itu rusa bermanfaat sebagai nilai estetika, rusa sering dijadikan sebagai satwa peliharaan dengan tujuan kesenangan dan memperindah taman.


Daftar Pustaka

Garsetiasih R dan Takandjandji M. 2007. Model Penangkaran Rusa. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian. Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan
Kayat, Siswandi, Hidayatullah M. 2010. Penangkaran Rusa Timor sebagai Sumber Protein Hewani dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat di NTT. Laporan Kemajuan. Kupang : Kementerian Riset dan Teknologi Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Kayat, Siswandi, Hidayatullah M. 2010. Penangkaran Rusa Timor sebagai Sumber Protein Hewani dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat di NTT. Laporan Kemajuan. Kupang : Kementerian Riset dan Teknologi Kupang, Nusa Tenggara Timur
Kompas. 2010. Daging Rusa Rp. 80.000 per Kg. http//:www.kompas.com. [12 November 2012].
Kwatrina RT. 2009. Penentuan Kuota Panenan dan Ukuran Populasi Awal Rusa Timot di Penangkaran Hutan Penelitian Dramaga [Tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Semiadi G, Wirdateti, Jamal Y, Brahmantiyo B. 2008. Pemanfaatan Rusa Sebagai Hewan Ternak. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008. Bogor. Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Takandjandji M. 2009. Desain Penangkaran Rusa Timor Berdasarkan Analisis Komponen Bio-Ekologi dan Fisik di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.


Habitat dan Prilaku Rusa Timor

Habitat merupakan tempat yang berfungsi untuk dapat memenuhi segala kebutuhan satwa. Kebutuhan tersebut diantaranya sebagai tempat makan, minum, berlindung dan berkembangbiak (Alikodra 1990). Habitat yang disukai rusa timor adalah hutan terbuka, padang rumput, savana, semak dan bahkan rusa dapat dijumpai pada aliran sungai (sumber air) serta daerah yang berawa Garsetiasih (1996). Namun menurut Hoogerwerf (1970), rusa dapat pula hidup dengan baik pada daerah yang kering, bahkan rusa timor yang hidup pada daerah kering lebih baik pertumbuhannya jika dibandingkan dengan rusa yang hidup pada daerah hujan. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan rusa akan air relatif sangat sedikit atau minimum. Berdasarkan habitatnya inilah, terkadang rusa memiliki perilaku makan yang terlihat berbeda, yakni apabila rusa berada di padang rumput atau savana, rusa termasuk grasser. Sedangkan jika berada di daerah hutan dan semak, rusa cenderung browser, situasi ini disesuaikan dengan habitat tempat rusa tersebut tumbuh.

Cover merupakan komponen habitat yang berfungsi untuk memberikan perlindungan dari cuaca, predator atau kondisi yang lebih baik dan menguntungkan. Menurut Takandjandji (2009), vegetasi adalah cover penting dalam kehidupan satwa, karena bukan hanya pakan saja yang termasuk didalamnya tetapi perlindungan terhadap cuaca serta predator merupakan bagian dari fungsi vegetasi. Selain vegetasi, air merupakan salah satu komponen habitat yang dibutuhkan oleh satwa untuk proses metabolisme dalam tubuh. Kebutuhan satwa akan air tergantung kondisi habitat. Sedangkan ruang digunakan satwa untuk dapat melakukan aktivitas alaminya, seperti makan, minum, berlindung dan bahkan berkembangbiak. Luas ruang dalam habitat tergantung pada besarnya jenis satwa. Semakin besar ukuran satwa maka semakin besar pula ruang yang dibutuhkan oleh satwa tersebut.

Perilaku satwa adalah ekspresi satwa yang disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik faktor dari dalam satwa itu sendiri yakni faktor fisiologis seperti sekresi hormon dan motivasi maupun dari luar seperti suara, pandangan, tenaga mekanis dan rangsangan kimia (Suratmo, 1979). Faktor yang mempengaruhi perilaku satwa umunya disebut sebagai rangsangan. Sedangkan aktivitas yang disebabkan oleh rangsangan tersebut merupakan respon. Aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan satwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti makan, minum, reproduksi dan istirahat.

Rusa timor merupakan satwa berkelompok. Rusa ini menyukai daerah terbuka untuk dapat merumput pada siang hari, dimana daerah terbuka tersebut merupakan tempat yang mereka anggap aman. Hal ini yang menyebabkan rusa termasuk satwa diurnal yaitu satwa yang aktif di siang hari. Namun pada kondisi tertentu, rusa timor dapat aktif di malam hari (Hoogerwerf 1970). Kondisi seperti ini merupakan salah satu perilaku adaptasi rusa. Rusa timor merupakan satwa yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi dengan lingkungannya. Hal inilah yang menyebabkan rusa mudah untuk bereproduksi sehingga mudah diintroduksi ke luar habitat alaminya.

Rusa merupakan satwa yang memiliki perilaku sosial, terlihat dari cara hidup rusa yaitu berkelompok. Rusa timor hidup secara berkelompok dengan setiap kelompoknya terdiri dari 5-6 ekor rusa timor (Samsudewa & Susanti 2008). Menurut Basuni (2004), struktur sosial pada rusa sangat menentukan umur awal berbiak. Dalam kelompok-kelompok (herds) yang besar, rusa-rusa betina muda (umur 1-2 tahun) harus dipisahkan dari betina-betina yang lebih tua jika saat musim kawin tiba karena kondisi fisik rusa-rusa betina pada saat umur awal berbiak dapat diperburuk oleh adanya kompetisi dengan rusa-rusa betina yang lebih tua.

Perilaku harian rusa timor dihabitat alaminya terdiri dari aktivitas ingesti atau makan-minum, beristirahat, bergerak, investigative dan grooming (Masy’ud et al. 2007). Aktivitas ingesti atau makan-minum merupakan aktivitas utama yang paling banyak dilakukan rusa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan aktivitas istirahat pada umumnya dilakukan rusa untuk menyelingi aktivitas makan. Aktivitas beristirahat dilakukan rusa dengan berbaring di bawah pohon, semak atau hutan dengan memamahbiak. Aktivitas ini juga dilakukan rusa untuk berlindung dari teriknya panas matahari pada siang hari dan untuk menjaga kestabilan suhu tubuh. Sedangkan aktivitas bergerak biasa dilakukan rusa untuk berpindah dari satu tempat ke tenpat lain guna mencari makan dan berlindung di tempat yang lebih aman.


Daftar Pustaka

Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwaliar. Jilid 1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor.

Basuni S. 2004. Manajemen Perkembangbiakan dalam Usaha Penangkaran Rusa (Cervus spp) Ditinjuan dari Aspek Perilakunya. Media Konservasi 1 (4) : 11-16.

Garsetiasih R. 1996. Studi habitat dan pemanfaatannya bagi rusa (Cervus timorensis) di Taman Wisata Alam Pulau Menipo Nusa Tenggara Timur [Tesis]. Yogyakarta : Program Pasca Sarjana. Universitas Gajah Mada.

Hoogerwerf A. 1970. Ujung Kulon The Land of The Lost Rhinoceros. Leiden. Holand.

Masy’ud B, Wijaya R, Santoso IB. 2007. Pola Distribusi, Populasi Dan Aktivitas Harian Rusa Timor (Cervus Timorensis, De Blainville 1822) Di Taman Nasional Bali Barat (Distribution, Population and Daily Activities of Timor Deer - Cervus timorensis, de Blainville 1822 in Bali Barat National Park). Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Samsudewa D, Susanti S. 2008. Studi Tingkah Laku Reproduksi Rusa Timor (Cervus timorensis) di Kepulauan Karimun Jawa. Agromedia 26 (2).

Suratmo F G. 1979. Prinsip Dasar Tingkah Laku Satwa Liar. Kerjasama antara Training School for Animal Management (ATA 190) dan Fakultas Kehutanan. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

Takandjandji M. 2009. Desain Penangkaran Rusa Timor Berdasarkan Analisis Komponen Bio-Ekologi dan Fisik di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sistematika dan Morfologi Rusa Timor

Rusa timor, merupakan salah satu rusa asli Indonesia dengan nama latin Rusa timorensis yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999, dengan klasifikasi sebagai berikut (IUCN 2012) :

Kerajaan                     : Animalia
Filum                           : Vertebarata
Sub filum                    : Chordata
Kelas                           : Mamalia
Ordo                            : Artiodactyla
Family                         : Cervidae
Genus                          : Rusa
Spesies                        : Rusa timorensis
Nama Indonesia          : Rusa timor.

Penyebaran rusa timor ini sendiri meliputi Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Papua New Guini dan Australia. Pada setiap daerah memiliki nama sub spesies yang disesuaikan dengan nama daerah tersebut.

Rusa jenis ini memiliki ciri rambut berwarna coklat kemerah-merahan hingga abu-abu kecoklatan dengan bagian perut dan ekor berwarna putih. Rusa betina cenderung memiliki pola warna yang lebih terang dibanding jantan, khususnya di bagian kerongkongan, dagu, perut, dada dan kaki (Pattiselanno et al. 2008). Pada umumnya rusa timor dewasa memiliki panjang badan berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi badan mencapai 91-110 cm dan berat badan antara 103-115 kg. Berbeda dengan rusa betina, pada rusa jantan terdapat ranggah yang bercabang, yaitu salah satu tampilan karakter seksual sekunder yang khas pada rusa jantan setelah mencapai pubertas (Handarini 2006).

Ranggah tersebut akan tumbuh pertama kali pada anak jantan saat umur 8 bulan. Setelah dewasa, ranggah akan menjadi sempurna yang ditandai dengan terdapatnya 3 ujung runcing. Tidak sama seperti tanduk, ranggah tidak memiliki pusat core atau horny sheath. Ranggah tumbuh pada tonjolan tulang tengkorak yang disebut pesidel dan bagian dalam mampat, sedangkan tanduk pada bagian dalamnya kosong. Pada setiap periode waktu tertentu, ranggah akan tanggal dan tumbuh baru (Suyanto 2002).

Berdasarkan penelitian Pattiselanno et al. (2008), secara statistik rusa timor tidak memiliki perbedaan ukuran panjang kaki belakang, panjang telinga serta lebar telinga antara rusa timor jantan dan rusa timor betina. Sedangkan untuk berat badan, panjang badan, tinggi badan dan panjang ekor memiliki perbedaan yang sangat nyata. Karakter morfologi berupa ukuran dan bobot tubuh merupakan ukuran statistik vital yang biasanya digunakan sebagai indikator performance hewan ternak, yakni ukuran dan bobot tubuh akan lebih besar pada hewan ternak dewasa dibandingkan dengan hewan ternak muda. Oleh sebab itu, perbedaan umur antara rusa timor dapat mempengaruhi karakteristik morfologinya.


Daftar Pustaka

[IUCN] International Union for Conservation of the Nature and Natural Resources. 2012. The IUCN Red List of Threatened Species. www. www.iucnredlist.org. [30 Desember 2012].
Handarini Ristika. 2006. Pola dan Siklus Pertumbuhan Ranggah Rusa Timor Jantan (Cervus timorensis(The Pattern and Antler Development Cycle of Timor Stags [Cervus timorensis]). Jurnal Agribisnis Peternakan 2 (1).
Pattiselanno F, Tethool AN, Seseray DY. 2008. Karakteristik Morfologi dan Praktek Pemeliharaan Rusa Timor di Manokwari. Berkala Ilmiah Biologi 7 (2) : 61-67.
Suyanto A. 2002. Mamalia di TNGH Jawa Barat. Bogor : BPC-JICA.


Back To Top