Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Sistem Ekresi

Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh, seperti CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat.
Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan ekskresi :
- defekasi : yaitu proses pengeluaran sisa pencernaan makana yang disebut feses. Zat yang dikeluarkan belum pernah mengalami metabolisme di dalam jaringan. Zat yang dikeluarkan meliputi zat yang tidakl diserap usus sel epitel, usus yang rusak dan mikroba usus.

- ekskresi : yaitu pengeluaran zat sampah sisa metabolisme yang tidak berguna lagi bagi tubuh.

- sekresi : yaitu pengeluaran getah oleh kelenjar pencernaan ke dalam saluran pencernaan. Getah yang dikeluarkan masih berguna bagi tubuh dan umumnya mengandun genzim.

- eliminasi : yaitu proses pengeluaran zat dari rongga tubuh, baik dari rongga yang kecil (saluran air mata) maupun dari rongga yang besar (usus).

Organ atau alat-alat ekskresi pada terdiri dari:
1. Paru-paru,
2. Hati,
3. Kulit, dan
4. Ginjal.

materi selengkapnya mengenai sistem ekresi dapat di download disini

Pencernaan Pada Ternak Ruminansia

Ternak ruminansia berbeda dengan ternak mamalia lainnya karena mempunyai lambung sejati, yaitu abomasum, dan lambung muka yang membesar, yang mempunyai tiga ruangan yaitu rumen, retikulum dan omasum (Tillman dkk., 1989). Berdasarkan perubahan yang terjadi dalam alat pencernaan, proses pencernaan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pencernaan mekanik yang terjadi di dalam mulut, pencernaan hidrolitik dan pencernaan fermentatif di dalam rumen (Sutardi, 1980).

Pencernaan fermentatif merupakan perubahan senyawa-senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali berbeda dengan molekul zat makanan asalnya. Dengan kata lain, pencernaan fermentatif ini adalah pencernaan lebih lanjut dimana zat-zat monomer-monomer dari hasil pencernaan hidrolitik segera dikatabolisasikan lebih lanjut, misalnya protein difermentasi menjadi amonia, karbohidrat menjadi asam lemak terbang atau Volatile Fatty Acid (VFA) (Church, 1979).

Sutardi (1980) menyatakan bahwa keuntungan ruminansia mempunyai organ pencernaan fermentatif sebelum usus halus adalah dapat mencerna bahan makanan berkadar serat tinggi sehingga bahan makanannya sebagian besar tidak bersaing dengan manusia, mampu mengubah jenis nitrogen (N) termasuk Non Protein Nitrogen (NPN) seperti urea menjadi protein bermutu tinggi, kebutuhannya akan asam amino untuk nutrisi proteinnya tidak bergantung pada kualitas protein makanannya, produk fermentatif dalam rumen dapat disajikan kepada usus halus dalam bentuk yang mudah dicerna dan kapasitas rumen yang sangat besar, mampu menampung banyak makanan.

Hasil pencernaan karbohidrat pada ternak ruminansia di dalam retikulo rumen adalah asam lemak mudah terbang (VFA = volatile fatty acid), terutama asam asetat, propionat, dan butirat yang akan diserap sebelum mencapai usus. Volatile fatty acid kemudian akan diabsorbsi masuk peredaran darah menuju hati, dan di dalam hati VFA akan diubah menjadi glukosa, maupun hasil-hasil lain yang dibutuhkan oleh tubuh (Tillman dkk, 1991).

Karbohidrat dalam material hijauan, seperti selulosa dari serat kasar, pati dari biji-bijian atau gula dari molasses, semuanya difermentasi menjadi VFA dalam rumen, menjadi komponen yang larut seperti protein. Energi yang dilepaskan dalam proses fermentasi digunakan oleh mikroba untuk kepentingan tubuhnya. VFA adalah zat-zat gizi utama produk fermentasi sebagai sumber energi utama untuk kebutuhan induk semang (Rahardja, 2008).

Proses pencernaan karbohidrat pada ruminansia yang terjadi di dalam retikulo rumen oleh mikrooraganisme selanjutnya disebut fermentasi karbohidrat. Di dalam retikulo rumen tersebut, baik fraksi yang mudah tersedia (pati, dextrin, dan pektin) maupun fraksi serat (selulosa, hemiselosa) akan mengalami perombakan menjadi produk yang dapat diabsorbsi dan dicerna di dalam usus halus (Rahardja, 2008).

Protein pakan di dalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino, beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi amonia. Amonia diproduksi bersama dengan peptida dan asam amino yang akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba (McDonald dkk., 2002).

Ranjhan (1977) menyatakan bahwa peningkatan jumlah karbohidrat yang mudah difermentasi akan mengurangi produksi amonia, karena terjadi kenaikan penggunaan amonia untuk pertumbuhan protein mikroba. Kondisi yang ideal adalah sumber energi tersebut dapat difermentasi sama cepatnya dengan pembentukan NH3, sehingga pada saat terbentuk terdapat produksi fermentasi asal karbohidrat yang akan digunakan sebagai sumber dan kerangka karbon dari asam amino protein mikroba telah tersedia (Sutardi, 1977).

Karbohidrat pakan di dalam rumen mengalami tiga tahap pencernaan oleh enzim-enzim yang dihasilkan mikroba rumen. Pada tahap pertama, karbohidrat mengalami hidrolisis menjadi monosakarida, seperti glukosa, fruktosa dan pentose (Baldwin dan Allison, 1983). Pemecahan karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap, yaitu : pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana, dan memecah gula sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4 (McDonald dkk., 2002).

Selanjutnya glukosa akan difermentasi menjadi VFA, terutama asetat, propionate dan butirat, iso-butirat, iso-valerat, valerat dan gas CH4 serta CO2 (Sutardi, 1977). Glukosa diubah menjadi asam piruvat kemudian difermentasi menjadi VFA, gas CO2 dan metan (CH4) (Ranjhan, 1977). VFA yang terserap selain dipakai sebagai sumber energi, juga dipakai sebagai bahan pembentuk glikogen di hati, lemak, karbohidrat dan hasil-hasil yang dibutuhkan ternak. Sebagian kecil asam asetat, asam propionat dan sebagian besar asam butirat termetabolisme melalui dinding rumen. VFA yang melalui usus halus juga diserap (Anggorodi, 1994).

Glukosa merupakan hasil akhir dan utama dari pencernaan karbohidrat yang beredar bersama darah (Anggorodi, 1995). Glukosa pada ruminansia selain sebagai sumber energi juga penting dalam pemeliharaan sel-sel tubuh terutama darah dan otot (Parakkasi, 1999).

Menurut Preston dan Leng (1987), bakteri penting yang termasuk pencerna serat kasar adalah Ruminococcus flavefaciens, Ruminococcus albus dan Butyrivibrio fibrisolvens. Bakteri tersebut mempunyai enzim yang mampu menghancurkan karbohidrat kompleks menjadi selobiosa, glukosa dan VFA. Sedangkan yang termasuk bakteri pencerna pati antara lain Streptococcus bovis, Bacteroides amylophilus, Prevotella ruminicola dan Lactobacillus. Bakteri tersebut aktif jika ransum banyak mengandung konsentrat. Arora (1989) menyebutkan bahwa bakteri proteolitik yang dapat diidentifikasikan di dalam rumen adalah Bacteroides amylophilus, Provotella ruminicola, Butyrivibrio spp, dan Selenomonas ruminantium. Keberadaan enzim proteolitik asal mikroba rumen menyebabkan terjadinya aktivitas hidrolisis protein pakan, dimana kecepatannya sangat ditentukan oleh tingkat kelarutan protein (Satter dan Roffler,1977).


Daftar Pustaka


Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia. Jakarta.
Anggorodi, R. 1995. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan VI. PT Gramedia, Jakarta.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Church, D. C. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant. Second printing. Metropolitan Printing Co. Oregon.
McDonald, P. R. A. Edwards, and J. F. D. Greenhalge dan C. A. Morgan. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Longman Sci. and Technical. New York.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan MakananTernak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Preston, T. R. and R. A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production System with Available Resource in the Tropic. Penambul Books. Armidale.
Rahardja, D.P., 2008. Strategi Pemberian Pakan Berkualitas Rendah (Jerami Padi) Untuk Produksi Ternak Ruminansia. Dinas Peternakan Makassar.
Ranjhan, S. K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi. p : 16 – 89.
Satter, L. D. and R. E. Roffler. 1977. Protein Requirement and Non Protein NitrogenUtilization. Tropical Animal Production. 2 : 238 – 269.
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo.1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Lemak Karkas Pada Ayam Potong (Broiler)

Menurut Mc Donald et al. (2002) menyatakan, lemak merupakan substansi yang dapat ditemukan pada jaringan tanaman atau hewan.  Lemak tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti benzene, eter dan chloroform.  Lemak mengandung karbon, hidrogen dan oksigen dengan rumus C12H12O11.  Lemak biasa disebut ester lemak murni dari gliserol yaitu trigliserida.


Lemak digolongkan menjadi lemak sederhana, lemak gabungan dan lemak derivate.  Lemak sederhana adalah ester dari asam-asam lemak dan alkohol dan termasuk macam-macam lemak (ester asam lemak dan gliserol) dan wax (ester asam lemak dan alkohol selain gliserol).  Lemak gabungan mengandung beberapa gugus selain alkohol dan asam lemak seperti pospor, nitrogen dan karbohidrat.  Lemak derivate merupakan senyawa yang dihasilkan oleh hidrolisa lemak sederhana ataupun lemak gabungan (Frandson, 1992).

Piliang dan Djojosoebagjo (2006) menyatakan, lemak dalam daging terdapat dalam bentuk trigliserida.  Trigliserida merupakan komponen utama asam lemak dalam makanan yang dibentuk dari fraksi katalisa gliserol dengan tiga molekul asam lemak.  Trigliserida merupakan bentuk lemak yang paling efisien untuk menyimpan kalori.

Ensminger (1992) menyatakan,  ayam broiler yang baru ditetaskan dengan berat badan 0,041 kg dagingnya mengandung lemak sebesar 2% sedangkan daging ayam broiler dipasaran dengan berat badan 1,6 kg mengandung 3,3 - 4,2% lemak.  Selanjutnya menurut Muchtadi dan Sugioyono (1992) bahwa daging paha ayam dipasaran mengandung lemak 4,7% sedangkan daging dada mengandung lemak 1,9%.


Daftar Pustaka
Mc Donald P, R.A Edwards, J.F.D. Greenhalg, and C.A Morga.  2002.  Animal Nutrition.  6th Ed.  England: Imprint Pearson Education Prontice Hill.

Frandson R.D.  1992.  Anatomi dan Fisiologi Ternak.  4th Ed.  Srigandono B, Praseno K, Penerjemah; Soedarsono, editor.  Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Ensminger, M.E.  1992.  Poultry Science.  3rd Ed.  USA. Intersate

Gambaran Umum Kolesterol di Broiler

Menurut Hembing (2006), kolesterol merupakan suatu senyawa lemak seperti lilin dan berwarna kekuningan. Sebagian besar kolesterol diperoleh dari hati, didalam tubuh kolesterol mempunyai fungsi penting yang diperlukan dalam beberapa proses metabolisme, seperti bahan untuk membentuk dinding sel, pembentuk hormon, pembungkus jaringan saraf, bahan pembentuk asam dan garam empedu yang berfungsi sebagai pengemulsi lemak. Dengan demikian kadar kolesterol normal mempunyai banyak manfaat, akan tetapi akan menjadi masalah jika kadarnya berlebih.

Kolesterol merupakan salah satu sterol hewani dan menyusun 17% bahan kering otak. Kolesterol dapat disintesa dari asetat dalam bahan asal dari asam kolat, penyusun asam empedu. Kolesterol berhubungan erat dengan keadaan aterosklerosis, dimana terdapat penimbunan bahan-bahan mengandung kolesterol pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyakit jantung. Namun demikian, penting untuk memperkenalkan bahwa kolesterol juga mempunyai peranan yang berguna (amat vital) untuk mempertahankan fungsi tubuh (Tillman, dkk., 1986). 


Fungsi kolesterol dalam tubuh diperlukan dalam berbagai proses metabolisme. Misalnya, selain sebagai bahan pembentuk dinding sel, kolesterol juga dibutuhkan untuk membuat vitamin D. Kolesterol yang dikeluarkan dari hati ke jaringan otot untuk disimpan sebagai cadangan energi. Demikian juga pembuatan asam empedu yang digunakan untuk mengemulsi lemak (Susanto, 2006).

Hasil penelitian Nyoman (1997), kadar kolesterol darah broiler berkisar antara 149-193 mg/dl. Lebih lanjut Mangisah (2003), bahwa kadar kolesterol darah ayam normal berkisar antara 125-200 mg/dl. 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah (Anonim, 2011b) yaitu:

1. Faktor genetik
Tubuh terlalu banyak memproduksi kolesterol. Seperti kita ketahui 80 % dari kolesterol di dalam darah diproduksi oleh tubuh sendiri. Ada sebagian orang yang memproduksi kolesterol lebih banyak dibandingkan yang lain. Ini disebabkan karena faktor keturunan. Pada orang ini meskipun hanya sedikit saja mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol atau lemak jenuh, tetapi tubuh tetap saja memproduksi kolesterol lebih banyak.

2. Faktor makanan
Dari beberapa faktor makanan, asupan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Lemak merupakan bahan makanan yang sangat penting, bila kita tidak makan lemak yang cukup maka  tenaga kita akan berkurang, tetapi bila kita makan lemak yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pembuluh darah. Bila kadar kolesterol di pembuluh darah tinggi, hal ini akan membuat diameter pembuluh darah menjadi sempit, (analogikan dengan selang air yang dinding dalamnya tertutup oleh lumut, maka aliran air tidak akan lancar). Pada keadaan yang berat terjadi sumbatan total dari pembuluh darah maka akan terjadi kerusakan organ, misalkan bila pembuluh koroner yang tertutup, maka terjadi serangan jantung, atau bila pembuluh darah otak yang tertutup akan terjadi stroke. HDL akan membawa kolesterol bebas dari pembuluh darah ke hati sehingga diameter pembuluh akan melebar, sedangkan bila kadar VLDL dan LDL tinggi maka akan terjadi hal sebaliknya yang akan memperberat penyempitan pembuluh darah.



Daftar Pustaka

Anonimb. Kolesterol dan Trigliserida. http://www.deherba.com/apakah-itu-trigliserida.html?print=1&tmpl=component. (11 Desember 2011).

Hembing. 2006. Mengendalikan Kolesterol Tinggi Dengan Herba Dan Pola Hidup Sehat. http://portal.cbn.net.id (11 Desember 2011).

Mangisah, I. 2003. Pemanfaatan Kunyit dan Temulawak Sebagai Upaya Menurunkan Kadar Kolesterol Broiler. File//A//Curcuma/kunyit/htm. (!7 Maret 2012).

Nyoman, I. S. 1997. Penagaruh penambahan bawang Putih Pada Kadar Kolesterol Broiler. Program Pasca Sarjana. IPB. Bogor

Tillman, Hartadi, Reksohadiprodjo, Prawirakusumo, dan Lebdosoekodjo. 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Trigliserida Pada Ayam Broiler

Trigliserida merupakan sejenis lemak yang proporsinya terbesar pada lemak dalam makanan, merupakan cadangan energi yang disimpan di dalam jaringan adiposa dan otot. Jika tubuh membutuhkan energi, maka trigliserida dilepaskan untuk dimetabolisme menjadi energi. Sementara kolesterol juga merupakan senyawa semacam lemak, terdapat didalam makanan dan didalan darah. Kolesterol dan trigliserida tidak larut di dalam darah sehingga diperlukan kendaraan untuk mengangkutnya yaitu lipoprotein (Anonim, 2011b).

Amrullah (2002), menyatakan bahwa trigliserida adalah lemak utama yang disimpan dalam jaringan tubuh ayam. Sekitar 95% trigliserida datang dari ransum dan 5% nya disintesis dalam tubuh. Selanjutnya Susanto (2006), menyatakan bahwa trigliserida adalah lemak yang berbentuk sebagai hasil dari metabolisme makanan. Bukan saja yang berbentuk lemak tetapi juga makanan yang berbentuk  karbohidrat dan protein yang berlebihan juga tidak seluruhnya dibutuhkan sebagai sumber energi.

Menurut Murtidjo (2003), lemak yang terdapat dalam daging ayam umumnya terdiri dari trigliserida (lemak netral), fosfolipid (sebagian besar berupa lesitin) dan kolestrol. Trigliserida dan fosfolipida berfungsi dalam penyediaan energi yang diperlukan untuk aktifitas sehari-hari. Selanjutnya Achmad (2008), menambahkan bahwa sebagian besar lemak dan minyak di alam terdiri atas 98-99 % trigliserida. Trigliserida adalah suatu ester gliserol. Trigliserida terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol. Fungsi utama trigliserida adalah sebagai zat energi. Lemak disimpan dalam tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. Oleh sel-sel yang membutuhkan komponen-komponen tersebut kemudian dibakar dan menghasilkan energi, karbondioksida (CO2), dan air (H2O).

Tabel 2. Perbedaan kolesterol dan trigliserida (Anonim, 2011b) :

Kolesterol
Trigliserida
Kolesterol akan disimpan dalam jaringan hati atau dinding pembuluh darah
Trigliserida akan disimpan dalam sel lemak di bawah jaringan kulit.
Kolesterol berfungsi membangun sel-sel dan hormon-hormon tertentu dalam tubuh
Fungsi trigliserida adalah menghasilkan energi bagi tubuh.



Daftar Pustaka

Amrullah, I. K. 2002. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunungbudi. Bogor.

Anonimb. Kolesterol dan Trigliserida. http://www.deherba.com/apakah-itu-trigliserida.html?print=1&tmpl=component. (11 Desember 2011).

Murtidjo, B. A. 2003. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.

Susanto, H. 2006. Jaringan Kadar Kolestrol Tinggi. Harian Fajar, Makassar.
Back To Top