Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB)

Urea Molasses Multinutrinet Block (UMMB) merupakan modifikasi Urea Molasses Block, yaitu suplemen pakan yang terdiri dari molasses, onggok, dedak, tepung daun singkong kering, tepung kedelai, tepung tulang, kapur urea, mineral, dan garam dapur yang disesuaikan dengan formula yang diinginkan (BATAN, 2005). Penambahan urea pada ransum ruminansia merupakan strategi untuk meningkatkan konsumsi pakan oleh ternak pada kondisi pemeliharaan tradisional dengan pemberian suplemen yang terdiri dari kombinasi bahan pakan sumber protein dengan tingkat jumlah tertentu yang secara efesien dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan dan kegiatan mikroba secara efesien di dalam rumen. Selanjutnya produktivitas hewan dapat ditingkatkan dengan memberikan sumber N protein dan atau non protein sert mineral tertentu.


Suplementasi secara keseluruhan diharapkan dapat memberikan pengearuh yang baik melalui peningkatan protein mikrobial, peningkatan daya cerna dan peningkatan konsumsi pakan hingga diperoleh keseimbangan yang lebih baik antara amino dan energi di dalam zat-zat makanan yang terserap (Basya S.1981).

Sari (1989) menyatakan bahwa penambahan molasses pada ransum mengakibatkan mikroorganisme rumen mampu merombak serat kasar pada dinding sel, sehingga serat kasar menjadi lebih cepat dicerna. Kemudian disebutkan juga dengan meningkatnya penambahan molasses akan meningkatkan daya cerna, karena molasses merupakan sumber karbohidrat mudah larut dan banyak energi yang tersedia yang mampu mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dengan cepat dan asam keto yang terbentuk semakin banyak, bila sumber N juga tersedia.

Molasses juga mengandung vitamin B kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak, seperti sulfur, cobalt, boron, iodium, tembaga, mangan dan seng (Ranjhan, 1977). Scoot (1976) mengemukakan bahwa UMMB dapat meningkatkan daya cerna dan konsumsi zat-zat makanan dari bahan pakan yang berserat tinggi yang diberikan pada ternak. Leng (1995) juga menyatakan bahwa suplementasi UMMB pada ternak akan meningkatkan pertambahan berat badan, produksi susu, reproduksi, kelangsungan hidup, daya hidup anak dan kapasitas kerja.

Daftar Pustaka

Basya S. 1981. Penggunaan dan Pemberian Urea Sebagai Bahan Makanan Ternak. Lembar LPP XI (2-4).
BATAN. 2005. Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB). Batan. http://www.infonuklir. com/Tips/atomos_ummb.htm. [30 Mei 2005] di akses padabtanggal 20 Desember 2013.
Leng, R. A. 1995. A Short Course on The Rational Use of Molasses Urea Multinutrient Block for Supplementation of Ruminant Fed Crop Residues, Poor Quality Forages and Agro-industrial by Products Low iin Protein. Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Ranjhan, S. K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi. p : 16 – 89.
Sari, R. 1989. Pengaruh berbagai level urea molasses block terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada kerbau (Bubalus bubalis). Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Scoot, 1976. Nutrition Of The Chiken. It hala.m.c Scoot And Assoili Ated Publishers.

Glukosa Darah Pada Ruminansia

Metabolisme merupakan rangkaian proses reaksi biokimia yang terjadi di dalam makhluk hidup. Proses yang lengkap dan sangat terkoordinatif melibatkan banyak enzim di dalamnya, sehingga terjadi pertukaran bahan dan energi sedangkan, Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam  makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka (Fever, 2007).

Menurut Frandson (1992), hasil pencernaan karbohidrat pada ternak ruminansia di dalam retikulo rumen adalah asam lemak mudah terbang (VFA volatile fatty acid), terutama asam asetat, propionat, dan butirat yang akan diserap sebelum mencapai usus. Volatile fatty acid kemudian akan diabsorbsi masuk peredaran darah menuju hati, dan di dalam hati VFA akan diubah menjadi glukosa, maupun hasil-hasil lain yang dibutuhkan oleh tubuh (Tillman dkk., 1991). Glukosa pada ruminansia selain sebagai sumber energi setelah VFA juga penting dalam pemeliharaan sel-sel tubuh terutama darah dan otot (Parakkasi, 1999).

Dalam usus halus, proses pencernaan sisa-sisa mikroba yang mati merupakan sumber dari sebagian protein yang dibutuhkan induk semang. Hal yang lebih kompleks yaitu berkaitan dengan protein dalam pakan. Sebagai contoh, jika protein dalam pakan memiliki kelarutan yang tinggi, maka melalui proses yang sama dengan fermentasi karbohidrat, protein tersebut akan mengalami fermentasi dalam rumen dan menghasilkan VFA dan amonia. Di lain pihak, jika protein dalam pakan memiliki tingkat kelarutan rendah, maka protein tersebut relatif tidak mengalami perubahan ketika melalui rumen dan memasuki bagian saluran pencernaan selanjutnya, sampai kemudian memasuki usus halus dimana proses penguraian enzimatis oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh ternak sendiri. Protein yang yang bergerak sampai di bagian usus halus dan terhindar dari fermentasi rumen dikenal sebagai “by pass protein”, dan ketika dihidrolisa dalam usus halus menjadi asam-asam amino yang tersedia bagi ternak.

Selanjutnya, melalui proses absorbsi (sistem transport aktif), asam-asam amino tersebut menjadi tersedia untuk sintesa protein tubuh. Pakan bagi ternak ruminansia hendaknya mempertimbangkan kehadiran 2 sistem yang membutuhkan zat-zat gizi dan harus diberikan pada saat yang sama. Kedua sistem tersebut yaitu sistem mikroba yang tinggal dalam rumen-retikulum dan yang mencerna zat-zat gizi dalam material pakan pencernaan fermentasi dan sistem ternaknya sendiri, yang menggantungkan sebagian besar kebutuhan hidupnya pada produk pencernaan fermentasi dan zat-zat gizi yang “by pass” dari proses fermentasi (Rahardja, 2008).

Berkaitan dengan kebutuhan glukosa pada ternak ruminansia. Hasil-hasil penelitian para ahli menunjukkan bukti bahwa ternak ruminansia memerlukan glukosa dalam seluruh pase kehidupannya dan kebutuhannya itu menunjukkan trend yang sama dengan kebutuhan protein (Preston, 1995). Sebagai konsekuensi sistem pencernaan, ternak ruminansia tidak mengabsorbsi glukosa dan harus mensintesanya dalam jaringan tubuh (terutama hati) untuk kebutuhan yang mutlak dipenuhi (Rahardja, 2008).

Pada masa kebuntingan tua kebutuhan akan glukosa meningkat karena glukosa pada masa itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan fetus dan persiapan kelahiran, sedangkan pada masa awal laktasi glukosa dibutuhkan sekali untuk pembentukan laktosa (gula susu) dan lemak, sehingga jika asupan karbohidrat dari pakan kurang maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mencukupinya dengan cara glukoneogenesis yang biasanya dengan membongkar asamlemak dalam hati. Efek samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa akan meningkatkan juga hasil samping yang disebut benda2 keton (acetone, acetoacetate, β-hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah (Anonim. 2009).

Kadar gula darah normal pada ternak ruminansia bervariasi antara 46 – 60 mg/dL (Rahardja, 2008). dan Chalimi dkk., (2008) yang mendapatkan kadar glukosa darah sapi PO yang diberi pakan roti sisa pasar sebagai pengganti dedak padi berkisar antara 58,90 – 60,00 mg/dL.

Hasil Penelitian Syarifuddin dan Wahdi, (2011) mendapatkan rata-rata kadar glukosa darah pada kondisi awal kelompok sapi induk yang diberi pakan suplemen multinutrient block plus medicated (MBPM) lebih rendah dari pada sapi induk kelompok kontrol yaitu 38,8 mg/dL Vs 42,9 mg/dL, namun kadar glukosa darah tersebut masih dalam batas normal, sehingga sapi-sapi induk tersebut mempunyai status energi yang normal keadaan ini menunjukkan bahwa, sapi-sapi induk yang digunakan tidak kekurangan energi.

Kadar glukosa dalam darah merefleksikan sumber energi dalam tubuh dan sapi akan menjadi lemah bila energi tidak mencukupi dalam darah atau hipoglikemia yang dapat terjadi pada sapi yang kurang pakan kadar glukosa dalam darah adalah yang merefleksikan sumber energi dalam tubuh. Sapi akan menjadi lemah bila energi tidak mencukupi dalam darah (Anonim. 2005). Pada ruminansia yang baru lahir, konsentrasi glukosa menyerupai hewan monogastrik dan secara gradual menurun dengan meningkatnya umur. Glukosa bukan komponen yang esensial, karena dapat disintesa dalam tubuh. Akan tetapi, glukosa adalah esensial karena mutlak diperlukan untuk metabolisme seluler dan juga karena kecukupan prekursor dan kehadiran mekanisme kontrol mutlak diperlukan untuk sintesisnya. Kebutuhan energi tidak dapat dipenuhi semata-mata hanya oleh asam lemak.

Glukosa diperlukan paling tidak untuk 5 jaringan tubuh, 1) jaringan syaraf, 2) otot, 3) sintesis lemak, 4) fetus dan 5) kelenjar ambing dan dalam jumlah yang lebih sedikit diperlukan untuk metabolisme dalam testis, ovarium, sel telur, sintesis steroid dan eritrosit (Rahardja, 2008). Glukosa dibutuhkan dalam jumlah yang banyak oleh ternak ruminansia untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan tubuh dan pertumbuhan fetus, pertumbuhan jaringan (plasenta, ambing) dan produksi susu. Kebutuhan minimum glukosa yaitu untuk hidup pokok dan jika kandungan prekursor glukosa dalam pakan rendah dibandingkan kandungan zat-zat gizi lain (seperti jerami padi), maka ternak akanmenggunakan keseluruhan zat-zat gizi secara tidak efesien baik untuk kepentingan produksi maupun hidup pokok. Sebagai konsekuensi, ternak akan tetap mempertahankan konsumsi pakannya dan membakar kelebihan intake energi atau mengurangi intake pakan seperti yang terjadi di musim kemarau. Pembakaran kelebihan intake energi bermanfaat ketika ternak menghadapi cekaman suhu rendah atau musim dingin di daerah subtropis (Rahardja, 2008).


Daftar Pustaka

Anonim, 2005. Veterinary Hematology 101; 2005 Abstract. http://www.science. dovada.net.au/ 13800.php. di akses pada tanggal 23 Desember 2013.
Anonim. 2009. Ketosis (Acetonemia) pada Sapi Perah Coretan si Budax.htm. di akses pada tanggal 23 Desember 2013
Chalimi, K. 2008. Kadar Hematokrit, Glukosa dan Urea Darah Sapi Peranakan Ongole (PO) yang bDiberi Roti Sisa Pasar Sebagai Pengganti Dedak Padi. Skripsi Sarjana Peternakan. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta. Diterjemahkan oleh: Srigandono, B. dan K. Praseno. Gomez, K.A. dan A.A. Gomez. 1995. Prosed.
Joyce le Fever. 2007 Pedoman pemeriksaan laboratorium & diagnostic, Joyce le Fever Kee : alih bahasa, Sari Kurnianingsih ( et al ); editor edisi Bahasa Indonesia, Ramona P. Kapoh – Ed.6 –Jakarta: EGC.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan MakananTernak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Preston, T.R. 1995. Tropical Animal Feeding, A manual for research worker. FAO, United Nation, paper 126. Rome.
Rahardja, D.P., 2008. Strategi Pemberian Pakan Berkualitas Rendah (Jerami Padi) Untuk Produksi Ternak Ruminansia. Dinas Peternakan Makassar.
Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo.1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Pencernaan Pada Ternak Ruminansia

Ternak ruminansia berbeda dengan ternak mamalia lainnya karena mempunyai lambung sejati, yaitu abomasum, dan lambung muka yang membesar, yang mempunyai tiga ruangan yaitu rumen, retikulum dan omasum (Tillman dkk., 1989). Berdasarkan perubahan yang terjadi dalam alat pencernaan, proses pencernaan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu pencernaan mekanik yang terjadi di dalam mulut, pencernaan hidrolitik dan pencernaan fermentatif di dalam rumen (Sutardi, 1980).

Pencernaan fermentatif merupakan perubahan senyawa-senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali berbeda dengan molekul zat makanan asalnya. Dengan kata lain, pencernaan fermentatif ini adalah pencernaan lebih lanjut dimana zat-zat monomer-monomer dari hasil pencernaan hidrolitik segera dikatabolisasikan lebih lanjut, misalnya protein difermentasi menjadi amonia, karbohidrat menjadi asam lemak terbang atau Volatile Fatty Acid (VFA) (Church, 1979).

Sutardi (1980) menyatakan bahwa keuntungan ruminansia mempunyai organ pencernaan fermentatif sebelum usus halus adalah dapat mencerna bahan makanan berkadar serat tinggi sehingga bahan makanannya sebagian besar tidak bersaing dengan manusia, mampu mengubah jenis nitrogen (N) termasuk Non Protein Nitrogen (NPN) seperti urea menjadi protein bermutu tinggi, kebutuhannya akan asam amino untuk nutrisi proteinnya tidak bergantung pada kualitas protein makanannya, produk fermentatif dalam rumen dapat disajikan kepada usus halus dalam bentuk yang mudah dicerna dan kapasitas rumen yang sangat besar, mampu menampung banyak makanan.

Hasil pencernaan karbohidrat pada ternak ruminansia di dalam retikulo rumen adalah asam lemak mudah terbang (VFA = volatile fatty acid), terutama asam asetat, propionat, dan butirat yang akan diserap sebelum mencapai usus. Volatile fatty acid kemudian akan diabsorbsi masuk peredaran darah menuju hati, dan di dalam hati VFA akan diubah menjadi glukosa, maupun hasil-hasil lain yang dibutuhkan oleh tubuh (Tillman dkk, 1991).

Karbohidrat dalam material hijauan, seperti selulosa dari serat kasar, pati dari biji-bijian atau gula dari molasses, semuanya difermentasi menjadi VFA dalam rumen, menjadi komponen yang larut seperti protein. Energi yang dilepaskan dalam proses fermentasi digunakan oleh mikroba untuk kepentingan tubuhnya. VFA adalah zat-zat gizi utama produk fermentasi sebagai sumber energi utama untuk kebutuhan induk semang (Rahardja, 2008).

Proses pencernaan karbohidrat pada ruminansia yang terjadi di dalam retikulo rumen oleh mikrooraganisme selanjutnya disebut fermentasi karbohidrat. Di dalam retikulo rumen tersebut, baik fraksi yang mudah tersedia (pati, dextrin, dan pektin) maupun fraksi serat (selulosa, hemiselosa) akan mengalami perombakan menjadi produk yang dapat diabsorbsi dan dicerna di dalam usus halus (Rahardja, 2008).

Protein pakan di dalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino, beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi amonia. Amonia diproduksi bersama dengan peptida dan asam amino yang akan digunakan oleh mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba (McDonald dkk., 2002).

Ranjhan (1977) menyatakan bahwa peningkatan jumlah karbohidrat yang mudah difermentasi akan mengurangi produksi amonia, karena terjadi kenaikan penggunaan amonia untuk pertumbuhan protein mikroba. Kondisi yang ideal adalah sumber energi tersebut dapat difermentasi sama cepatnya dengan pembentukan NH3, sehingga pada saat terbentuk terdapat produksi fermentasi asal karbohidrat yang akan digunakan sebagai sumber dan kerangka karbon dari asam amino protein mikroba telah tersedia (Sutardi, 1977).

Karbohidrat pakan di dalam rumen mengalami tiga tahap pencernaan oleh enzim-enzim yang dihasilkan mikroba rumen. Pada tahap pertama, karbohidrat mengalami hidrolisis menjadi monosakarida, seperti glukosa, fruktosa dan pentose (Baldwin dan Allison, 1983). Pemecahan karbohidrat dalam rumen terjadi melalui dua tahap, yaitu : pemecahan karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana, dan memecah gula sederhana menjadi asam asetat, asam propionat, asam butirat, CO2 dan CH4 (McDonald dkk., 2002).

Selanjutnya glukosa akan difermentasi menjadi VFA, terutama asetat, propionate dan butirat, iso-butirat, iso-valerat, valerat dan gas CH4 serta CO2 (Sutardi, 1977). Glukosa diubah menjadi asam piruvat kemudian difermentasi menjadi VFA, gas CO2 dan metan (CH4) (Ranjhan, 1977). VFA yang terserap selain dipakai sebagai sumber energi, juga dipakai sebagai bahan pembentuk glikogen di hati, lemak, karbohidrat dan hasil-hasil yang dibutuhkan ternak. Sebagian kecil asam asetat, asam propionat dan sebagian besar asam butirat termetabolisme melalui dinding rumen. VFA yang melalui usus halus juga diserap (Anggorodi, 1994).

Glukosa merupakan hasil akhir dan utama dari pencernaan karbohidrat yang beredar bersama darah (Anggorodi, 1995). Glukosa pada ruminansia selain sebagai sumber energi juga penting dalam pemeliharaan sel-sel tubuh terutama darah dan otot (Parakkasi, 1999).

Menurut Preston dan Leng (1987), bakteri penting yang termasuk pencerna serat kasar adalah Ruminococcus flavefaciens, Ruminococcus albus dan Butyrivibrio fibrisolvens. Bakteri tersebut mempunyai enzim yang mampu menghancurkan karbohidrat kompleks menjadi selobiosa, glukosa dan VFA. Sedangkan yang termasuk bakteri pencerna pati antara lain Streptococcus bovis, Bacteroides amylophilus, Prevotella ruminicola dan Lactobacillus. Bakteri tersebut aktif jika ransum banyak mengandung konsentrat. Arora (1989) menyebutkan bahwa bakteri proteolitik yang dapat diidentifikasikan di dalam rumen adalah Bacteroides amylophilus, Provotella ruminicola, Butyrivibrio spp, dan Selenomonas ruminantium. Keberadaan enzim proteolitik asal mikroba rumen menyebabkan terjadinya aktivitas hidrolisis protein pakan, dimana kecepatannya sangat ditentukan oleh tingkat kelarutan protein (Satter dan Roffler,1977).


Daftar Pustaka


Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia. Jakarta.
Anggorodi, R. 1995. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan VI. PT Gramedia, Jakarta.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Church, D. C. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant. Second printing. Metropolitan Printing Co. Oregon.
McDonald, P. R. A. Edwards, and J. F. D. Greenhalge dan C. A. Morgan. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Longman Sci. and Technical. New York.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan MakananTernak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Preston, T. R. and R. A. Leng. 1987. Matching Ruminant Production System with Available Resource in the Tropic. Penambul Books. Armidale.
Rahardja, D.P., 2008. Strategi Pemberian Pakan Berkualitas Rendah (Jerami Padi) Untuk Produksi Ternak Ruminansia. Dinas Peternakan Makassar.
Ranjhan, S. K. 1977. Animal Nutrition and Feeding Practice in India. Vikas Publishing House PVT Ltd., New Delhi. p : 16 – 89.
Satter, L. D. and R. E. Roffler. 1977. Protein Requirement and Non Protein NitrogenUtilization. Tropical Animal Production. 2 : 238 – 269.
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid 1. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo.1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Potensi Sapi Bali untuk Mendukung Swasembada Daging

Swasembada daging sapi sebagai program pemerintah merupakan kemampuan pemerintah sebagai regulator menyediakan 90 persen dari total kebutuhan sapi lokal didalam negeri sedangkan 10 persen sisanya berasal dari pasokan dari luar negeri berupa impor sapi bakalan dan impor daging. Program pencapaian Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014 adalah upaya khusus pengembangan peternakan sapi lokal maupun sapi persilangan antara sapi lokal dan sapi exotic dengan memperhatikan berbagai aspek. Program PSDS 2014 ada lima kegiatan pokok (1) Penyediaan bakalan/daging sapi lokal (2) peningkatan produktivitas dan reproduktivitas ternak sapi lokal, (3) pencegahan pemotongan sapi betina produktif (4) penyediaan bibit sapi lokal dan (5) pengaturan stock daging sapi dalam negeri. Dari ke 5 kegiatan tersebut diupayakan menjadi solusi dari setiap permasalahan yang ada seperti terbatasnya jumlah sapi bakalan lokal yang dapat dimamfaatkan oleh penggemukan, produktivitas dan reproduksivitas Sapi lokal yang masih rendah, pemotongan betina produktif yang menyebabkan keterbatasan populasi sapi bibit, dan pasokan daging impor yang semakin meningkat (Anonim, 2013).

Sapi potong asli Indonesia salah satunya adalah sapi Bali. Sapi Bali merupakan hasil domestikasi dari banteng (bibos banteng) dimana habitat aslinya adalah di Pulau Bali. Populasinya saat ini ditaksir sekitar 526.031 ekor. Sapi Bali (Bos sondaicus) telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau Bali dan Lombok. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sampai saat ini masih dijumpai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di Pulau Jawa, seperti di Ujung Kulon serta Pulau Bali yang menjadi pusat gen sapi Bali (Wawang, 2010).

Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese cow yang kadang-kadang disebut juga dengan nama Bibos javanicus, meskipun sapi Bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus. Berdasarkan hubungan silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali diklasifikasikan ke dalam subgenus Bibovine tetapi masih termasuk genus bos (Wawang, 2010).

Dari Pulau Bali yang dipandang sebagai pusat perkembangan sekaligus pusat bibit, sapi Bali menyebar dan berkembang hampir ke seluruh pelosok nusantara. Penyebaran sapi Bali di luar Pulau Bali yaitu ke Sulawesi Selatan pada tahun 1920 dan 1927, ke Lombok pada abad ke-19, ke Pulau Timor pada tahun 1912 dan 1920. Selanjutnya sapi Bali berkembang sampai ke Malaysia, Philipina dan Ausatralia bagian Utara (Wawang, 2010)

Keunggulan sapi Bali adalah subur mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan, persentase Karkas yang tinggi, kandungan lemak karkas rendah (Wawang, 2010).


Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Cuplikan Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014. http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/SUPLEMEN_9-4.pdf. di akses. pada tanggal 20 Desember 2013.
Wawang, A. 2010. Mengenal Sapi Bali. http://andiwawan-tonra. blogspot. com/2010/02 /mengenal-sapi-bali.html. diakses pada tanggal 20-08-2013


Pencahayaan Pada Broiler (Ayam Potong)

Cahaya merupakan radiasi elektromagnetik yang tampak. Cahaya juga dapat diartikan sebagai kombinasi dari radiasi dan respon terhadapnya (Lewis, 2006). Cahaya merupakan energi yang dapat membantu proses penglihatan, bergerak lurus ke semua arah, tidak dapat membelok dan dapat dipantulkan. Dalam kandang tipe opened house, sumber cahaya umumnya berasal dari cahaya matahari secara langsung pada siang hari, dan lampu pijar pada malam hari. Dalam kandang closed house, sumber cahaya umumnya berasal dari lampu pijar. Unggas adalah ternak yang peka terhadap cahaya. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang mengontrol proses biologi tingkah laku unggas. Pengaruh pencahayaan pada unggas antara lain terhadap terhadap konsumsi pakan, pertumbuhan, efisiensi konversi pakan menjadi energi, dan perkembangannya (Lewis, 2006).



Cahaya memungkinkan unggas untuk mengatur ritme harian dan mensinkronisasikan beberapa fungsi penting di dalam tubuh seperti suhu tubuh dan bermacam tahapan metabolis yang terkait dengan pemberian pakan dan pencernaan. Selain itu, cahaya juga merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol pertumbuhan pendewasaan, dan reproduksi (Olanrewaju et al dalam Arfiansyah 2010).

Program pencahayaan pada tahap pertumbuhan awal, yaitu anak ayam yang berumur antara satu sampai tujuh hari digunakan intensitas minimum 20 lux yang diberikan secara terus menerus. Pada tahap pertumbuhan selanjutnya, dilakukan pembatasan intensitas cahaya dan lama pencahayaan antara dua dampai enam jam per hari (Olanrewaju et al dalam Arfiansyah 2010).

Cahaya berimplikasi pada perubahan struktur morfologi mata. Cahaya yang sangat rendah ( < 5 lux) dapat menyebabkan retina mata, bupthalmos, myopia, glaucoma, dan kerusakan lensa mata yang berakibat kebutaan.

Tabel 3. Rekomendasi Program Pencahayaan untuk Ayam Broiler
Umur (hari)
Intensitas cahaya (lux)
Periode pencahayaan per hari (jam)
0 – 7
20.0
23 T ; 1 G
8 – 14
5.0
16 T ; 8 G
15 – 21
5.0
16 T ; 3 G ; 2 T ; 3 G
22 – 28
5.0
16 T ; 2 G ; 4 T ; 2 G
29 – 35
5.0
16 T ; 1 G ; 6 T ; 1 G
36 – 49
5.0
23 T ; 1 G
Sumber: Randen et al (1996) Keterangan: T = Terang; G = Gelap

Pemberian cahaya pada ayam broiler yang umum dilakukan peternak adalah secara terus-menerus (continous lighting) selama 24 jam dengan intensitas yang semakin menurun pada fase akhir (Classen, 1989). Pencahayaan terus-menerus akan meningkatkan waktu untuk makan, meningkatkan pertambahan bobot badan, dan meningkatkan pembentukan bulu (Lavergne dalam Andisuro, 2011) tetapi menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal), kelainan kaki dan tulang (Sanotra et al., 2002) yang mengakibatkan kesulitan pergerakan ayam broiler untuk mendapatkan pakan dan air minum (Wong-Valle et al., 1993). Ayam broiler yang tetap berada pada posisi ritme harian, mampu mengatur pola tingkah laku seperti makan, tidur, bergerak dan istirahat secara normal (Olanrewaju et al., 2006). Pencahayaan secara bergantian (intermitten lighting) akan mengurangi stres pada ayam broiler dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus yang diukur berdasarkan konsentrasi plasma kortikosteron. Plasma kortikosteron akan meningkat pada ayam broiler yang mengalami stres (Puvadolpirod dan Thaxton, 2000). Pemberian lama pencahayaan selama 16 jam dapat menurunkan stres fisiologis, peningkatan respon kekebalan, peningkatan metabolisme tulang, peningkatan aktivitas total, dan peningkatan kesehatan kaki (Classen et al., 2004). Cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda mempunyai efek yang bervariasi pada retina mata dan dapat mengakibatkan perubahan pola tingkah laku yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ayam (Lewis dan Morris, 2000) Olanrewaju et al. dalam Arfiansyah (2010) berpendapat bahwa kemampuan ayam untuk memvisualisasikan warna sama dengan manusia, namun ayam tidak dapat melihat dengan baik ketika mendapat warna cahaya dengan panjang gelombang yang pendek (biru-hijau). Unggas akan sensitif pada panjang gelombang 415, 455, 508, dan 571 nanometer (Dartnall et al. dalam Arfiansyah, 2010).

Daftar Pustaka

Andisuro R.2011. Tingkah Laku Ayam Broiler di Kandang Tertutup dengan Suhu dan Warna Cahaya Berbeda[skripsi]. Bogor: Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Arfiansyah S. 2010. Efek Warna Cahaya Penerangan Berbeda pada Ayam Broiler Terhadap Bobot Hidup, Persentase Karkas dan Potongan Komersial Karkas [skripsi]. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Classen HL 1989. The role of photoperiod manipulation in broiler chicken management. University of Saskatchewan, Canada.
LewisPD, Morris TR. 2000. Poultry and Colored Lights. Northcot, Hampshire.
Puvadolpirod S, ThaxtonJP. 2000. Model of physiological stress in chickens 4. Digestion and Metabolism. Poult. Sci. 79 : 383-390.
Renden JA, MoranET Jr., KincaidSA, 1996. Lighting programs for broilers that reduce leg problems without loss of performance or yield. Poultry. Sci.75: 1345-1350.
Sanotra GS,Lund JD, Vestegergaard KS. 2002. Influence of lightdark schedules and stocking density on behaviour, risk of leg problems and occurrence of chronoic fear in broilers. Br. Poult. Sci. 43 : 34354.
Wong-Valle J, McDanielGR, KulersDL, Bartels JE. 1993. Effect of lighting program and broiler line on the incidence of tibial dyschondroplasia at four and seven weeks age. Poult. Sci., 72 : 1855-1860.


Respon Tingkah Laku Ternak

Menurut Prijono dan Handini (1998), tingkah laku dapat diartikan sebagai ekspresi seekor hewan yang dituangkan dalam bentuk gerakan-gerakan akibat pengaruh rangsangan. Rangsangan dapat dibagi menjadi dua, yaitu rangsangan luar dan rangsangan dalam. Rangsangan luar dapat berbentuk suara, pandangan, tenaga mekanis (cahaya, suhu, dan kelembaban) dan rangsangan kimiawi (hormon dan saraf). Rangsangan dalam antara lain adalah faktor fisiologis sekresi hormon dan faktor motivasi (Mukhtar, 1986). Tingkah laku dasar hewan merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir (innate behaviour), seperti gerakan menjauh atau mendekat akibat perubahan dari stimulus. Perubahan tingkah laku jantan dan betina saat estrus dan kondisi lingkungan dan mekanisme fisiologis (Stanley dan Andrykovitch, 1984).

Tingkah laku bersifat genetis, tetapi dapat berubah oleh lingkungan dan proses belajar hewan (Hafez, 1969). Tingkah laku merupakan aktivitas yang melibatkan fungsi fisiologis seperti rangsangan melalui pancaindra (mata). Rangsangan-rangsangan ini menjadi aktivitas neural, aksi integrasi susunan syaraf, dan akhirnya aktivitas berbagai organ motorik baik internal maupun eksternal. Kebanyakan tingkah laku untuk tujuan tertentu seperti makan, minum, tidur dan seksual terdiri atas tiga tahap yang jelas dan terjadi secara siklis. Tiga tahap tersebut adalah tingkah laku apetitif, konsumatoris, dan refraktoris. Tahap apetitif dapat dipelajari dengan sederhana atau kompleks, sering mencakup mencari dari tingkah laku dasar yang diubah dan yang banyak dipelajari. Tahap konsumatoris relatif cenderung konsisten dan memperlihatkan perbedaan kecil antara individu yang satu terhadap individu lain dan sebagian besar dapat instinktif. Tahap refraktoris mencakup hilangnya perhatian dan berhentinya aktivitas konsumatoris, meskipun kesempatan untuk memberi respon selalu ada (Tanudimadja dan Kusumamihardja, 1985).

Menurut Hafez et al (1969), pola tingkah laku dapat dikelompokkan ke dalam sembilan tipe tingkah laku, yaitu sebagai berikut:
1. Tingkah laku ingestif, yaitu tingkah laku makan dan minum.
2. Tingkah laku mencari perlindungan (shelter seeking), yaitu kecenderungan mencari kondisi lingkungan yang optimum dan menghindari bahaya.
3. Tingkah laku agonistic, yaitu tingkah laku persaingan antara dua hewan yang sejenis, umumnya terjadi selama musim kawin.
4. Tingkah laku sosial, yaitu tingkah laku peminangan (courtship), kopulasi dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan hewan jantan dan betina satu jenis.
5. Care giving atau epimelitic, yaitu pemeliharaan terhadap anak (maternal behaviour).
6. Care soliciting atau et-epimelitic, atau tingkah laku meminta dipelihara yaitu tingkah laku individu muda untuk dipelihara oleh yang dewasa.
7. Tingkah laku eliminative, yaitu tingkah laku membuang kotoran.
8. Tingkah laku allelomimetik, yaitu tingkah laku meniru salah satu anggota kelompok untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan beberapa tahap rangsangan dan koordinasi yang berbalas-balasan.
9. Tingkah laku investigative, yaitu tingkah laku memeriksa lingkungannya.

Tingkah laku yang ditunjukkan ayam broiler berkaitan erat dengan kebiasaan, habitat, dan lingkungan (suhu, kelembaban, atau cahaya yang masuk ke dalam kandang). Suhu lingkungan 8 yang berbeda mempengaruhi aktivitas tingkah laku ayam broiler seperti makan, minum, panting, lokomosi, dan istirahat (Jahja, 2000). Cahaya juga merangsang pola sekresi beberapa hormon yang mengontrol tingkah laku dan mengatur ritme harian (Olanrewaju et al., 2006). Perubahan pola tingkah laku dengan meningkatnya pelepasan panas melalui evaporasi dari saluran pernafasan (hyperventilation) disebut panting. Tingkah laku panting pada ayam broiler selama pemeliharaan dapat dikurangi dengan cara menurunkan suhu lingkungan kandang pada kandang tertutup atau membuka tirai yang digunakan sebagai penutup di malam hari pada kandang terbuka. Panting biasanya terjadi pada saat suhu lingkungan sekitar 29ºC atau suhu tubuh mencapai 42ºC (European Comission, 2000).

Suhu lingkungan yang tinggi dapat menurunkan tingkah laku makan pada ayam broiler. Hal ini dapat dilihat dari menurunnya konsumsi pakan pada ayam broiler yang dipelihara dalam kondisi suhu lingkungan yang tinggi (Austic, 1985;Ain Bazis et al., 1996; Bonnet et al., 1997). Menurunnya konsumsi ransum pada suhu lingkungan tinggi sebagai upaya untuk mengurangi penimbunan panas dalam tubuh dan ditandai dengan berkurangnya bobot badan (Kuczynski, 2002; May danLott, 2001) dan laju pertumbuhan (Bonnet et al., 1997). Intensitas cahaya yang lebih rendah dapat menurunkan aktivitas lokomosi dan berdiri pada ayam (Renden et al., 1996). Intensitas cahaya yang tinggi seperti cahaya matahari dapat mengurangi tingkah laku istirahat pada unggas. Ayam broiler termasuk hewan diurnal yang beraktivitas bila terdapat cahaya yang diterima oleh retina mata. Lokomosi yang dilakukan ayam broiler adalah bagian dari ekspresi tingkah laku lainnya seperti saat ayam broiler berada jauh dari tempat pakan maka ayam broiler tersebut akan melakukan tingkah laku lokomosi, yakni berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk mendapatkan makan ataupun minum. Tingkah laku lokomosi juga dapat dilihat saat ayam broiler bermain dengan ayam broiler lainnya (Pitchard, 1995).

Daftar Pustaka

Hafez ES. 1969. The Behaviour of domestic animals. 2nd Edition. The Williamsand Withins Co, Baltimore.
Jahja. 2000. Ayam Sehat Ayam Produktif. Petunjuk-petunjuk Beternak Ayam. Edisi ke-18. Medion Press, Bandung.
Mukhtar AS 1986. Dasar-dasar Ilmu Tingkah Laku Satwa (Ethologi). DirektoratJenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Departemen Kehutanan,Bogor.
Prijono SN, HandiniS. 1998. Memelihara, Menangkar dan Melatih Nuri.Penebar Swadaya. Jakarta.
Stanley M, Andrykovich G. 1984. Living : In Introduction To Biology. AddisonWesley Publishing Company, Inc. All Rights Reserved. Canada.
Tanudimadja K, KusumamihardjaS. 1985. Perilaku Ternak. JurusanAnatomi Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.


Pengaruh Lingkungan Terhadap Produktivitas Ayam Broiler

Indonesia merupakan negara beriklim tropis. Hal tersebut menyebabkan perbedaan suhu udara antara siang dan malam hari yang cukup tinggi berkisar antara 3-5 °C dengan kisaran suhu udara 26-32 °C sedangkan suhu udara optimal untuk pemeliharaan broiler agar dapat berproduksi dengan baik adalah 21-22 °C (North dan Bell, 1990). Lingkungan memberikan pengaruh terbesar (70%) dalam menentukan performa ternak. North (2000) melaporkan bahwa kisaran suhu udara lingkungan yang nyaman bagi ayam untuk hidup berkisar antara 18-22 oC. Tingginya suhu udara lingkungan merupakan salah satu masalah dalam pencapaian performa broiler yang optimal. Broiler akan mengalami stress pada suhu udara yang tinggi, yang akan mempengaruhi penurunan konsumsi pakan sehingga terjadi penurunan bobot tubuh (Nova, 2008).

Pemeliharaan ayam broiler, selain memperhatikan faktor bibit (genetik) perlu juga diperhatikan faktor lingkungan. Ayam yang dipelihara pada suhu udara kandang 17 oC penampilannya lebih baik daripada ayam yang dipelihara pada suhu udara 25 oC dan 29 oC. Suhu udara optimum bagi pertumbuhan ayam broiler adalah 21 oC. Indonesia termasuk daerah beriklim tropika dengan rata-rata suhu udara harian 25,2-27,9 oC. Kisaran suhu udara itu melebihi rata-rata suhu udara optimum untuk pertumbuhan ayam pedaging sehingga perlu diupayakan mencari lokasi peternakan yang lebih tinggi agar suhu udara kandang tidak jauh berbeda dengan kebutuhan optimumnya (Hawlider dan Rose, 1992). Rao et al. (2002) menyatakan bahwa pada pemeliharaan unggas di negara-negara tropis, suhu udara lingkungan merupakan stressor utama dengan kisaran suhu udara yang khas untuk waktu yang lama. Menurut Griffin et al. (2005), suhu udara ideal pemeliharaan broiler 10-22 °C untuk pencapaian berat badan optimum, dan 15-27 oC untuk efisiensi pakan. Suhu udara merupakan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh pada industri broiler.


Ketinggian tempat dari permukaan laut selalu diikuti dengan penurunan suhu udara rata-rata harian. Daerah dataran rendah memiliki ketinggian tempat berkisar antara 0-250 meter dari permukaan laut (m dpl) dan daerah dataran sedang memiliki ketinggian 250-750 m dpl. Tempat yang semakin tinggi dari atas permukaan laut suhu udaranya semakin rendah sehingga ternak akan mengkonsumsi pakan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan akan energinya. Suhu udara yang lebih rendah daripada kebutuhan optimumnya menyebabkan ternak akan mengkonsumsi pakan lebih banyak karena sebagian energi pakan akan diubah menjadi panas untuk mengatasi suhu udara lingkungan yang lebih rendah. Pemeliharaan ayam broiler pada daerah dataran rendah memerlukan pakan dengan kandungan energi 2.800 kkal/kg (Suarjaya dan Nuriyarsa, 1995).

Debu di Lingkungan Peternakan Ayam

Debu adalah partikel-partikel zat padat, yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan, pengepakan alami yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari bahan-bahan, baik organik maupun anorganik (Suma’mur, 1995). Sifat-sifat debu diantaranya adalah mengendap karena pengaruh gaya gravitasi bumi, selalu basah karena dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis, mudah menggumpal, mempunyai listrik statis yang mampu menarik partikel lain yang berlawanan serta dapat memancarkan sinar (Achmadi, 1990). Jumlah debu berubah-ubah bergantung pada lokasi. Konsentrasi debu pada umumnya berkurang dengan bertambahnya ketinggian.

Debu dapat menyerap, memantulkan, dan menghamburkan radiasi yang datang. Debu atmosferik dapat tersapu turun ke permukaan bumi oleh curah hujan tetapi kemudian atmosfer dapat terisi partikel debu kembali (Tjasyono, 2004). Debu dari peternakan unggas pada umumnya meliputi partikel tanah, sisa pakan, rambut dan bulu, kotoran kering, bakteri, dan jamur. Kandungan debu di peternakan unggas umumnya berasal dari pakan sedangkan kandungan partikel tanah tersebut menentukan konsentrasi debu (Casey et al., 2006).

Baku mutu udara ambien untuk debu adalah 260 μg/m3 dengan waktu pengambilan 24 jam (KLH, 1988). Efek debu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan tergantung dari solubility, komposisi kimia debu, konsentrasi debu, dan ukuran partikel debu (Achmadi, 1990). Akibat yang dapat ditimbulkan oleh debu antara lain gangguan kenyamanan pada pernafasan, peradangan saluran pernafasan, alergi, meningkatkan sekresi cairan di hidung, nafas menjadi berat, serta penurunan kapasitas ventilasi paru (Kurniawan, 1996).

Partikel debu yang menyebabkan penyakit paru-paru akibat lingkungan kerja yang terpenting adalah partikel yang berukuran lebih kecil dari 0,1 μ dan sifat-sifat aerodinamik dari debu yang terdapat di udara. Gejala yang terjadi pada pekerja biasanya meliputi gangguan restriktif paru antara lain cepat lelah, sesak nafas pada waktu bekerja ringan, dan berkurangnya kapasitas kerja (Rab, 1996).


Daftar Pustaka

Achmadi, U. F. 1990. Kesehatan Lingkungan Kerja Lingkungan Fisik dalam Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Kementrian Lingkungan Hidup. 1988. Baku Mutu Udara Ambien. http://www.menlh.go.id. [18 April 2010].
Kurniawan, D. 1996. Bahaya Cemaran Udara bagi Kesehatan Paru Tenaga Kerja. J. Masalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja 4: 29-35.
Rab, H. T. 1996. Ilmu Penyakit Paru. Hipokrates, Jakarta.
Suma’mur, P. K. 1995. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung, Jakarta.

Tjasyono, B. 2004. Klimatologi. Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Pencemaran Udara di Lingkungan Peternakan

Pencemaran dalam arti luas adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan kurang atau tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya (KLH, 2007). Pencemaran udara diartikan sebagai keadaan atmosfer, dimana satu atau lebih bahan-bahan polusi yang jumlah dan konsentrasinya dapat membahayakan kesehatan mahluk hidup, merusak properti dan mengurangi kenyamanan di udara (Salim, 2002).

Menurut PP-RI Nomor 18 Tahun 1999 (RI, 1999), pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. Berdasarkan definisi ini maka segala bahan padat, gas, dan cair yang ada di udara dan dapat menimbulkan tidak nyaman yang disebut polutan udara.

Menurut Mukono (2000), yang dimaksud pencemaran udara adalah bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh manusia (atau yang dapat dihitung dan diukur) serta dapat memberikan efek pada manusia, binatang, vegetasi dan material karena ulah manusia (man made). Pencemaran udara dapat dibedakan menjadi dua yaitu pencemaran udara bebas dan pencemaran udara di dalam ruangan (indoor air pollution).

Bahan atau zat yang dapat mencemari udara dapat berbentuk gas dan partikel (Sunu, 2001). Menurut Soedomo (2001), berdasarkan ciri fisik, bahan pencemar dapat berupa partikel (debu, aerosol, timah hitam), gas (CO, NOx, SOx, H2S) dan energi (suhu udara dan kebisingan) sedangkan menurut kejadian atau terbentuknya ada pencemar primer (yang diemisikan langsung oleh sumber) dan pencemar sekunder (yang terbentuk karena reaksi di udara antara berbagai zat).


Daftar Pustaka

[KLH] Kementrian Negara Lingkungan Hidup 2007. Memprakirakan Dampak Lingkungan : Kualitas Udara. Kementrian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Republik Indonesia, Jakarta.
Mukono, H. J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Universitas Airlangga Press, Surabaya.
Salim, E. 2002. Green Company. PT. Astra Internasional Tbk., Jakarta
Soedomo, M. 2001. Pencemaran Udara (Kumpulan Karya Ilmiah). Penerbit Institut Teknologi Bandung Press, Bandung.

Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001. PT. Grasindo, Jakarta.

Kotoran Ayam dan Pencemaran Lingkungan Peternakan

Kotoran ayam secara umum terdiri dari sisa pakan yang tidak tercerna seperti selulosa (karbohidrat), lemak, protein dan unsur anorganik (Tabbu dan Hariono, 1993). Protein yang terkandung di dalam kotoran merupakan sumber utama nitrogen. Jumlah dan komposisi kotoran yang dihasilkan oleh ayam bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh umur, ras, dan jenis pakan. Diperkirakan seekor ayam broiler menghasilkan kotoran setiap harinya sebanyak 0,15 kg yang mengandung 1,7% nitrogen, 0,16% fosforus, dan 0,58% kalium (Kumar dan Biswar, 1982; Charles dan Hariono, 1991).

Fontenot et al. (1983) melaporkan bahwa rata-rata produksi buangan segar ternak ayam petelur adalah 0,06 kg/hari/ekor, dan kandungan bahan kering sebanyak 26% sedangkan dari pemeliharaan ayam pedaging kotoran yang dikeluarkan sebanyak 0,1 kg/hari/ekor dan kandungan bahan keringnya 25%. Komposisi rata-rata kotoran ayam pedaging berdasarkan bobot basah disajikan pada Tabel 2.


Sumber pencemaran dari usaha peternakan ayam berasal dari kotoran ayam yang berkaitan dengan unsur nitrogen dan sulfida yang terkandung dalam kotoran tersebut, yang pada saat penumpukan kotoran atau penyimpanan terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme membentuk gas amonia, nitrat, dan nitrit serta gas sulfida. Gas-gas tersebut yang menyebabkan bau (Svensson, 1990; Pauzenga, 1991).

Daftar Pustaka

Tabbu C. R. & B. Hariono. 1993. Pencemaran lingkungan oleh limbah peternakan dan cara mengatasinya. J. Ayam Sehat. 18: 7- 9.
Kumar S, & T. D. Biswar. 1982. Biomass production from different animal excreta. J. Indian Agr. Sci. 51: 513-520.
Charles, R. T. & B. Hariono. 1991. Pencemaran lingkungan oleh limbah peternakan dan pengelolaannya. Bull. FKG-UGM.X(2): 71-75.
Fontenot, J. P., W. Smith, & A. L. Sutton. 1983. Altenatif utilization of animal waste, J. Anim. Sci. 57: 221-223.

Svensson, L. 1990. Puffing the lid on the dung heaps. Acid. Enviroment. Magazine. 9: 13- 15.
Back To Top