Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Keadaan Umum Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser sebagai Tropical Rainforest Heritage of Sumatra pada tahun 2004 sekaligus sebagai cagar biosfer pada tahun 1981. kawasan ini sangat penting bukan hanya karena keanekaragaman hayatinya yang tinggi tetapi juga karena fungsinya sebagai sumber kehidupan masyarakat sekitarnya (Balai TNGL, 2006).


TNGL adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia seluas 1.094.692 ha yang secara administrasi pemerintahan terletak di dua Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Provinsi NAD yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya,Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tamiang, sedangkan Provinsi Sumatera Utara yang terdeliniasi TNGL meliputi Kabupaten Dairi, Karo dan Langkat. Taman nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser yang menjulang tinggi dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut di Nanggroe Aceh Darussalam.

Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan tinggi yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu taman nasinal yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi yang terletak di wilayah sumatera bagian utara.

 Selain itu TNGL merupakan hulu dari sepuluh daerah aliran sungai yang mensuplai air untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara. Namun keadaan terkini TNGL mengalami degradasi dan deforestrasi akibat perambahan hutan dan alih guna lahan di beberapa lokasi (Waruwu, 1984). Dalam Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, Kawasan Taman Nasional dikatagorikan sebagai kawasan lindung merupakan satu komponen yang menyusun suatu pola keruangan berdasarkan fungsi utama kawasan. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan denagn fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumber daya buatan (Lubis, 2009).


Sumber Artikel (Klik Disini)

Camera Trap untuk Pengamatan Satwa Liar

Camera trap bukan alat baru dalam satwa liar ilmu pengetahuan. Ini ditemukan di akhir 1890-an, sebelum yang pertama kali digunakan di lapangan pada 1913 (Sanderson dan Trolle, 2005). Dalam dekade belakangan ini, telah banyak digunakan di dunia, dengan kenaikan tahunan sebesar 50%. Hasil ini penelitian telah dipublikasikan di internasional diakui jurnal (Rowcliffe dan Carbone, 2008). Camera trap berfungsi untuk mendapatkan gambar satwa liar di alam yang sulit untuk ditemui dengan pertemuan langsung.

Camera trapping adalah tehnik yang semakin banyak digunakan untuk memonitor satwa yang sulit ditemui, karena kamera dapat ditinggalkan di lapangan dan akan memicu pengambilan foto saat dilewati oleh satwa. Hasil foto dapat digunakan sebagai perhitungan kasar dari kelimpahan relatif, perkiraan dari jumlah populasi minimum suatu spesies berdasarkan pada pengenalan secara individual atau perkiraan dari kelimpahan berdasarkan cara menangkap tandai dan tangkap kembali (capture mark recapture) (Maddox dkk., 2004).

Foto-foto yang dihasilkan camera trap juga menunjukkan adanya tumpang tindih di wilayah hidup untuk kedua jenis kelamin. Compelx polygon yang mempresentasikan wilayah hidup harimau, ditentukan di sekitar lokasi kamera dimana tercatat kemunculan beberapa individu harimau tertentu (Franklin dkk., 1999). Camera trap dipasang secara berpasangan pada setiap lokasi dan titik koordinat serta ketinggian lokasi direkam dengan GPS (Global Positioning System). Jarak antar lokasi camera trap ditentukan dari luas daerah jelajah minimum Harimau Sumatera.

Berdasarkan hasil penelitian Franklin dkk. (1999) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, luas jelajah minimum Harimau Sumatera betina adalah 49 km2 , sehingga diperoleh jarak maksimal antar stasiun camera trap tidak melebihi 3,95 km (Hutajulu, 2007). Menurut Franklin dkk. (1994) Penghitungan luas daerah jelajah harimau dengan menggunakan data camera trap kurang akurat untuk menggambarkan wilayah jelajah sebenarnya. Ukuran sampel kecil sangat sensitif untuk menggambarkan home range suatu individu jenis (Pete, 2005).

Pada kebanyakan studi dengan menggunakan camera trap, jumlah kamera merupakan faktor pembatas, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan desain sampel yang baik. Apabila jumlah kamera yang digunakan sedikit maka solusinya adalah dengan membagi lokasi studi menjadi beberapa petak area dengan luas yang lebih kecil, kemudian pemasangan kamera dilakukan per bagian area yang lebih kecil tersebut satu demi satu . Lokasi dan lama waktu pemasangan camera trap merupakan dua faktor yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan data yang mencukupi dan mewakili untuk suatu area penelitian (Karanth dan Nicholas, 2002).

Seperti manusia, kebanyakan satwa liar menggunakan jalur-jalur yang ada di hutan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain sehingga jalur-jalur yang ada di dalam hutan dapat digunakan sebagai lokasi pemasangan camera trap (Asriana, 2007).


Satwa Mangsa Harimau Sumatera

Sebagai predator, harimau memangsa berbagai jenis hewan, termasuk burung, reptilia, amfibia, ikan dan bahkan hewan invertebrata, namun kelas mamalia khususnya hewan ungulata merupakan pakan utamanya. Keberadaan hewan mangsa merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan Harimau Sumatera (Dinata dan Sugardjito, 2008). Pakan utama Harimau Sumatera adalah Rusa dan Babi Hutan. Dalam keadaan tertentu Harimau Sumatera juga memangsa berbagai jenis mangsa alternatif lain, seperti Kijang, Kancil, Beruk, Landak, Trenggiling, Beruang Madu dan Kuau Raja. Keberadaan harimau sangat dipengaruhi oleh keberadaan satwa mangsanya (Departemen Kehutanan, 2007).

Pada siang hari, kemungkinan harimau memangsa jenis-jenis yang melakukan aktivitas seperti Babi Hutan, Beruk dan Kijang, dan pada malam hari melakukan pemangsaan terhadap Rusa dan Kancil (Hutajulu, 2007). Babi sebagian besar aktif pada malam hari, tetapi juga secara periodik pada siang hari, terutama ketika cuaca sejuk. Beruk dan kijang adalah hewan yang aktif pada siang hari. Kancil aktif pada malam dan siang hari. Rusa aktif terutama pada malam hari, juga pada pagi hari dan menjelang petang (Payne dkk.,2000).

Keanekaragaman dan kepadatan hewan mangsa di hutan dengan ketinggian 100-600 mdpl lebih banyak dibandingkan di hutan dengan ketinggian 600- 1.700 mdpl. Semakin tinggi letak geografis habitat hutan semakin kecil variasi vegetasinya yang mempengaruhi pula kepadatan satwanya (Griffith, 1994). Pada habitat pegunungan dengan mangsa yang tersedia sangat terbatas dan hutan cukup rapat, luasan area 100 km2 hanya akan mampu menampung seekor harimau. Di habitat aslinya, sebagai akibat dari maraknya pembukaan hutan, secara langsung akan menurunkan ketersediaan sumber pakan bagi harimau, khususnya dari kelompok rusa dan babi (Semiadi dan Taufiq, 2006)


Aktivitas Harimau Sumatera

Pola aktivitas Harimau Sumatera dapat dikatakan mengikuti pola aktivitas satwa mangsa, yaitu krepuskular dan diurnal (seperti kijang, beruk, babi hutan dan pelanduk) dan nokturnal (seperti rusa sambar). Kemungkinan hal tersebut berhubungan dengan pemangsaan. Perubahan pola aktivitas harian harimau sumatera juga kemungkinan disebabkan oleh tekanan dari manusia yang banyak beraktivitas di dalam kawasan dan di pinggir kawasan sehingga menyebabkan perubahan kualitas habitat dan menurunnya kelimpahan satwa mangsa utama (Hutajulu, 2007).

Hewan nokturnal adalah binatang yang melakukan aktifitas di malam hari. Sedangkan siang hari bagi binatang nokturnal adalah waktu untuk beristirahat (tidur). Lawan dari hewan nokturnal adalah diurnal. Binatang diurnal melakukan aktifitas pada siang hari dan malam harinya digunakan untuk istirahat. Selain nokturnal dan diurnal juga masih terdapat binatang-binatang yang mempunyai waktu beraktifas tertentu seperti hewan matutinal (fajar menjelang pagi), hewan krepuskular (senja menjelang malam), dan hewan metaturnal (aktif di sebagian malam juga sebagian siang) (Alamendah, 2010).




Daerah Jelajah dan Kepadatan Harimau Sumatera

Kajian yang dilakukan oleh Franklin dkk. (1999) menunjukkan bahwa daerah jelajah Harimau Sumatera betina dewasa berkisar antara 40 – 70 km2 , sedangkan Griffith (1994) dalam Tilson dkk. (1994) memperkirakan bahwa daerah jelajah Harimau Sumatera jantan dewasa sangat bervariasi, yaitu antara 180 km2 pada kisaran ketinggian antara 100 – 600 meter di atas permukaan laut (mdpl.), 274 km2 pada kisaran ketinggian antara 600 – 1.700 mdpl., dan 380 km2 pada ketinggian di atas 1.700 mdpl. Daerah jelajah satu harimau jantan dewasa dapat mencakup daerah jelajah dua betina dewasa (Franklin dkk., 1999). Australian Zoo Organization (2004) menyatakan bahwa Harimau Sumatera jantan mempunyai daerah jelajah sekitar 380 km2 dan untuk betina hanya setengahnya. Seekor harimau betina penetap dapat melakukan pergerakan lebih dari 10 km per hari dan harimau jantan pengembara mencapai ratusan km per minggu (Karanth dan Chundawat, 2002: Sunquist, 1981).

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi luas jelajah Harimau Sumatera adalah ketersediaan satwa mangsa. Sebagai contoh, Santiapillai dan Ramono (1985) memperkirakan kepadatan rata-rata Harimau Sumatera dewasa berkisar antara 1 individu/100km2 pada hutan dataran tinggi dan meningkat hingga 1 – 3 individu/100 km2 pada hutan dataran rendah. Kajian lain memperkirakan kepadatan Harimau Sumatera adalah 1,1 individu/100 km2 pada hutan dataran tinggi dan meningkat tajam hingga 2,3 – 3 individu/100 km2 pada hutan dataran rendah (Borner 1978). Griffith (1994) memperkirakan bahwa kecenderungan tersebut dipengaruhi oleh semakin berkurangnya ketersediaan satwa mangsa dengan semakin meningkatnya ketinggian (Departemen Kehutanan, 2007).

Deforestasi yang terjadi akibat penebangan pohon menyebabkan menurunnya biomassa vegetasi yang berarti juga menurunnya kualitas habitat. Penurunan kualitas habitat ini sangat mempengaruhi populasi hewan-hewan mangsa karena berkurangnya sumber pakan dan naungan vegetasi sebagai tempat berlindung (Dinata dan Sugardjito, 2008).


Hutan Primer dan Hutan Sekunder

Hutan Primer mengacu pada tidak disentuh, hutan murni yang ada dalam kondisi asli nya. Hutan ini belum dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Hutan hujan primer sering ditandai dengan langit-langit penuh kanopi dan biasanya terdiri dari beberapa lapis. Lantai hutan umumnya dari vegetasi berat karena kanopi yang penuh memungkinkan cahaya masuk yang sangat kecil. Hutan primer adalah jenis yang paling beragam secara hayati hutan (Butler, 1994).

Hutan sekunder adalah hutan yang telah terganggu dalam beberapa cara, alami maupun buatan. Hutan sekunder dapat dibuat dalam beberapa cara, dari hutan terdegradasi pulih dari tebang pilih, ke daerah dibersihkan dengan garis miring dan bakar pertanian yang telah direklamasi oleh hutan. Umumnya, hutan sekunder ditandai (tergantung tingkat degradasi) oleh struktur kanopi kurang berkembang, pohon-pohon yang lebih kecil, dan keanekaragaman kurang (Butler, 1994).


Habitat Asli Harimau Sumatera

Harimau Sumatera hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau Sumatera mengalami ancaman akan kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dimana seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia (Dinata dan Sugardjito, 2008). Adanya aktivitas manusia pada suatu kawasan menyebabkan hidupan liar cenderung menghindar (Griffiths dan Schaick, 1994). Harimau cenderung menghindari suara gergaji mesin (chainsaw) para pembalak dan menghindari area di mana dilakukannya aktivitas perburuan oleh pemburu liar (Hutajulu, 2007).

Harimau Sumatera dijumpai di hutan-hutan dataran rendah sampai dengan pegunungan. Wilayah penyebarannya pada ketinggian 0- 2.000 mdpl, tetapi kadang-kadang juga sampai ketinggian lebih dari 2.400 mdpl. Hutan dataran rendah merupakan habitat utama harimau sumatera dengan kepadatan 1-3 ekor per 100 km2 , sedangkan daerah pegunungan 1 ekor per 100 km2 . Namun, tingginya kerusakan hutan dataran rendah di Sumatera (65-80%) menyebabkan harimau bergerak ke atas menuju hutan perbukitan dan pegunungan (Dinata dan Sugardjito, 2008).

Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3.000 meter dari permukaan laut, seperti :
1. Hutan hujan tropik, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan.
2. Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar
3. Padang rumput terutama padang alang-alang
4. Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis
5. Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian
6. Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hutan gambut. (Sinaga, 2005).

Sebagai hewan pemangsa utama (top predator), harimau memerlukan wilayah habitat yang luas supaya dapat hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, kepadatan hewan mangsa sebagai sumber pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan populasi harimau. Ketersediaan hewan mangsa ini juga memainkan peran penting dalam menentukan daerah jelajah individu harimau (Dinata dan Sugardjito, 2008).

Pada prinsipnya untuk mempertahankan hidup, Harimau Sumatera memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup, sumber air, dan tutupan vegetasi yang rapat untuk tempat menyergap mangsa (Lynam dkk.,2000). Sunquist (1981) berpendapat bahwa harimau menyukai habitat pinggir sungai (riverine habitat). Sungai merupakan tempat berkumpul satwa dan keberadaan harimau dekat dengan sungai kemungkinan berhubungan dengan pemangsaan. Dinata dan Sugardjito (2008) juga menyebutkan bahwa harimau lebih memilih kawasan yang dekat dengan sungai agar lebih mudah melakukan penyergapan terhadap hewan mangsa. Tempat-tempat di sekitar alur sungai mempunyai tutupan vegetasi yang rapat, sehingga sangat menguntungkan harimau yang memburu mangsanya dengan cara serangan mendadak atau penyergapan. Menurut Karanth (2001), harimau merupakan jenis yang suka air dan perenang yang handal. Suhu harian yang mencapai 330 C tergolong tinggi memungkinkan bagi harimau untuk menurunkan suhu tubuh dengan berendam di sungai.


Sumber Artikel (Klik Disini)

Biologi Harimau Sumatera

Harimau Sumatera melahirkan sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi oleh letak geografi (Semiadi dan Taufiq, 2006). Pendapat yang sama disampaikan oleh Taman Nasional Bukit Tigapuluh (2009), yang menyatakan bahwa musim kawin harimau sepanjang tahun, tetapi sebagian besar terjadi di akhir bulan November sampai awal April. Harimau mengalami estrus selama rata-rata tujuh hari, dengan siklus 15-20 hari.

Satu kelompok harimau rata-rata berjumlah 2,98 ekor. Satu ekor betina biasanya diikuti oleh 2-3 ekor anaknya, sampai anak tersebut berumur 18- 24 bulan, baik jantan maupun betina. Interval antar kelahiran 20 - 24 bulan, tetapi dalam kasus di mana anak hilang pada dua minggu pertama, interval antar kelahiran hanya 8 bulan. Sedangkan terakhir bereproduksi pada umur 14 tahun. Harimau dapat hidup sampai berumur 26 tahun. Kematian anak Harimau dapat disebabkan oleh kehilangan kelompok, kebakaran, banjir atau pembunuh anak.


Harimau Sumatera jantan beratnya berkisar 100 - 140 kg, panjang diukur dari kaki belakang dan depan 2,20 - 2,55 m, panjang tengkorak 295 - 335 mm., sedangkan betina beratnya 75 - 100 kg, panjangnya 2,15 - 2,30 m, dan panjang tengkorak 263 - 294 mm (Taman Nasional Bukit Tigapuluh, 2009). Harimau Sumatera jantan beratnya 100 – 140 kg dan betina beratnya 75 – 110 kg Guggisberg (1975), 140 kg untuk yang jantan dan 90 kg pada hewan betina (Semiadi dan Taufiq, 2006). Anak harimau mempunyai berat 780 untuk 1600 gram saat lahir, membuka mata mereka setelah 6 sampai 14 hari, dirawat selama 3 sampai 6 bulan, dan memulai perjalanan dengan induknya ketika berusia 5 atau 6 bulan. Mereka diajarkan bagaimana cara berburu mangsa, dan mereka mampu berburu ketika berumur 11 bulan.

Biasanya terpisah dari induk ketika berusia 2 tahun, tetapi dapat menunggu tahun lain. Kematangan seksual dicapai pada harimau betina pada umur 3 sampai 4 tahun dan pada harimau jantan pada umur 4 sampai 5 tahun. Sekitar setengah dari seluruh anak harimau tidak bertahan hidup lebih dari 2 tahun (Schaller, 1967).


Perilaku Harimau Sumatera

Biasanya harimau hidup soliter, kecuali pada betina dan anak, mereka tidak anti sosial. Jantan bergabung dengan betina untuk kawin dan pernah teramati jantan dengan betina dan anak saat makan atau istirahat. Tidak seperti kebanyakan jenis kucing lain, harimau dengan mudah memasuki air. Selama musim panas mereka akan berendam di danau atau kolam sepanjang hari yang panas. Umumnya harimau berburu antara sore dan pagi hari, tetapi dalam beberapa kondisi harimau berburu siang hari.


Hewan mangsa harimau adalah seluruh satwa yang ada di habitat mereka, yang terdiri dari berbagai jenis rusa, babi, kerbau dan banteng. Harimau juga memangsa anak gajah dan badak, serta jenis lainnya yang lebih kecil, termasuk monyet, burung, reptil dan ikan. Harimau sewaktu-waktu membunuh leopard dan jenis mereka sendiri, serta karnivora lainnya, termasuk beruang yang beratnya mencapai 170 kg. Sifat khas harimau adalah mencengkeram leher mangsanya setelah berhasil dirubuhkannya. Harimau mencengkeram leher mangsanya ini untuk melindungi diri dari tanduk dan kaki mangsanya serta mencegah hewan mangsa tersebut tegak kembali.

Harimau lebih suka menggigit bagian belakang leher dan membunuh mangsanya dengan cara mematahkan tulang belakang, kemudian akan menyeret mangsanya tersebut ke daerah yang ternaungi oleh vegetasi pohon. Harimau dapat memakan 18 - 40 kg daging mangsanya dalam sekali makan. Jika masih bersisa, biasanya ia kembali ke tempat tersebut untuk makan sisa-sisa perburuan. Mangsa yang besar ditangkap satu kali seminggu. Walaupun mempunyai keahlian berburu yang tinggi, harimau sering tidak berhasil memperoleh mangsa. Berburu mangsa biasanya dilakukan secara individu tetapi sesekali harimau juga berburu secara berkelompok.

Harimau pada dasarnya tidak memangsa manusia kecuali habitatnya terganggu. Terdapat beberapa korban dari reaksi harimau dalam mempertahankan diri dan melihat manusia sebagai makanan sehingga manusia menjadi target karena dianggap hewan mangsa yang mudah ditangkap. Harimau yang memangsa manusia mungkin mengajarkan kepada anaknya bahwa manusia adalah mangsa. Tetapi kematian atau luka disebabkan oleh harimau ataupun harimau yang melindungi anaknya, tidak selamanya menjadi petunjuk bahwa harimau pemakan manusia (Taman Nasional Bukit Tigapuluh, 2009)


Kelebihan dan Kekurangan Konsumsi Lemak

1. Kelebihan Konsumsi
Lemak Jika pada didalam tubuh terdapat lemak yang berlebihan akan mengakibatkan obesitas. Diabetes melitus, penyakit kuning, dan hipotiroidismus mempunyai kaitan dengan ketidaknormalan lipid plasma (Montgomery, 1993)

Lemak dan gula merupakan zat gizi yang menjadi sumber energi. Apabila kandungan hidran arang dalam makanan sedikit sekali digunakan sebagai sumber energi dapat menyebabkan tingginya kandungan zat lemak dalam darah, yang merupakan awal dari timbulnya masalah kesehatan dengan terjadinya penyakit pengerasan pembuluh darah atau aterosklerosis yang kemudian berkembang menjadi penyakit jantung koroner (Moehyi,1992). Bahan pangan yang banyak mengandung kolestrol terutama berasal dari hewani. Kandungan kolesterol dalam darah yang normal 240ml/100ml. Modifikasi lemak dalam darah sesungguhnya ditunjukan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam jaringan, khususnya dalam dinding arteri. Biasanya dengan diet kadar lemak dalam darah mulai berubah dalam beberapa hari atau minggu. Untuk mengurangi kadar kolesterol dalam darah, pengurangan konsumsi lemak jenuh akan banyak pengaruhnya (Winarno, 1995).

2. Kekurangan Konsumsi Lemak

Telah dilakukan penelitian bahwa difisiensi asam lemak selain menyebabkan gangguan pertumbuhan juga dapat menyebabkan penyakit dermatis (penyakit kulit). Menurunkan efisiensi energi dan menyebabkan gangguan transportasi lipid dalam tubuh. Kemudian minuman bagi tubuh adalah kira – kira 2% dari kebutuhan kalori, jika kelebihan akan berbahaya (Poedjiadi, 1994).

Sifat-Sifat Fisik Lemak dan Minyak

Lemak dan minyak meskipun serupa dalam struktur kimianya, menunjukkan keragaman yang besar dalam sifat-sifat fisiknya :
1. Sifat fisik yang paling jelas adalah tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan oleh adanya asam lemak berantai karbon panjang dan tidak adanya gugusgugus polar.
2. Viskositas minyak dan lemak cair biasanya bertambah dengan bertambahnya panjang rantai karbon; berkurang dengan naiknya suhu.
3. Minyak dan lemak lebih padat dalam keadaan padat dari pada dalam keadaan cair.
4. Lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat dan terdiri dari suatu fase padat dan fase cair (Buckle, 1987).

Fungsi Lemak
Dalam tubuh manusia lipid berfungsi sebagai komponen struktural membran sel, sebagai penyimpanan energi, sebagai bahan bakar metabolik, dan agen pengemulsi (Montgomery, 1993) Lapisan lemak dibawah kulit merupakan isolator untuk menjaga stabilitas tubuh. Lemak membantu transpor atau absorbsi vitamin-vitamin yang ada dalam lemak.

Didalam lambung lemak menekan sekresi lambung. Dengan demikian ini akan memperlambat waktu pengosongan lambung-lambung yang akibatnya memperlambat rasa lapar seseorang (Poedjiadi, 1994) Dalam bidang biologi lemak dan minyak dikenal sebagai salah satu bahan penyusun dinding sel dan penyusun bahan biomolekul. Dalam bidang ini nilai gizi kalori yaitu 9 kilokalori setiap gramnya (Sudarmadji, 1989).

Dalam pengolahan makanan, lemak dan minyak berfungsi sebagai berikut:
1. Sebagai media penghantar panas sewaktu mengoreng makanan
2. Sebagai bahan makanan untuk memperbaiki tekstur cita rasa makanan.
3. Lemak yang ditambahkan pada pembuatan kue, misalnya akan memperbaiki tekstur kue itu disamping cita rasanya lebih lezat.

4. Sebagai penambah kandungan energi dalam makanan itu (Moehyi, 1992).

Susu Kental Manis

Susu kental manis merupakan produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dari campuran susu dan gula dengan menghilangkan sebagian airnya sehingga mencapai tingkat kekentalan tertentu, atau hasil rekonstitusi susu bubuk dengan penambahan gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan (Badan Standarisasi Nasional Indonesia, 2011).

Proses Pembuatan Susu Kental Manis
a. Susu yang diperoleh dari peternakan distandarisasi pada suatu perbandingan tetap dari lemak : benda padat bukan lemak yaitu 9 : 22 baik dengan ditambah krim maupun susu skim. Susu itu kemudian dihangatkan dahulu dengan suhu pemanasan 65°C sampai 95°C selama 10 – 15 menit. Pemanasan pendahuluan ini penting, sebab hal ini akan menolong menstabilkan susu terhadap pengentalan selama penyimpanan produk jadi dan juga akan menghancurkan organisme patogen dan enzim tidak akan diinaktifkan pada prosedur penguapan susu selanjutnya. Sesudah pemanasan pendahuluan, ditambahkan gula sehingga diperoleh konsentrasi gula 62,5% sebagai sukrosa dalam produk akhir. Gula yang ditambahkan harus bebas dari mikroba patogen pencemar dan harus bebas dari gula invert, karena hal ini akan membantu terjadinya pengentalan selama penyimpanan seperti disebutkan terdahulu. Fungsi gula terutama adalah sebagai pengawet, karena sebagian besar mikroba kecuali ragi – ragi osmofilik tak dapat hidup pada konsentrasi gula 62,5%.

b. Proses selanjutnya meliputi penguapan susu yang sudah mengandung gula dengan kondisi yang sangat ringan dengan menggunakan penguap hampa pada suhu 77°C. Pada suhu 49°C, fase cair dari produk yang dikentalkan menjadi jenuh dengan laktosa dan pada waktu susu kental itu didinginkan terjadi larutan jenuh dan kristalisasi. Jika tidak dilakukan dengan sangat hati – hati, akan terbentuk inti laktosa dalam jumlah sedikit dan ini akan tumbuh menjadi kristal berukuran makro yang cukup keras dan terasa kasar. Akibat kristalisasi laktosa ini adalah “rasa seperti pasir” yang dianggap dapat mengurangi mutu susu kental manis. Untuk menghindari hal ini harus diadakan pendinginan sedemikian rupa sehingga terjadi kristalisasi laktosa secara cepat dan dengan demikian terbentuk kristal –kristal kecil. Hal ini dijalankan dengan mendinginkan susu sampai suhu 30°C yang akan menghasilkan keadaan lewat jenuh dari laktosa dan kemudian dilakukan pembibitan dengan menambahkan laktosa yang berbentuk halus dengan jumlah 0,6 g/l susu kental. Kristalisasi akan selesai selama waktu 3 jam.


c. Bila proses kristalisasi telah selesai, susu kental didinginkan, dimasukkan dalam drum – drum penyimpanan dalam jumlah besar untuk diisikan ke dalam kaleng. Produk itu kemudian ditutup dan tidak memerlukan proses pemanasan lagi. Stabilitas mikrobiologis produk tersebut ditentukan oleh kandungan gula yang tinggi dan masalah kerusakkan biasanya terbatas pada pertumbuhan jenis ragi osmofilik (Buckle, 1987).

Lemak Susu

Lemak atau lipid terdapat di dalam susu dalam bentuk jutaan bola kecil yang bergaris tengah antara 1-20 mikron dengan garis tengah rata-rata 3 mikron. Biasanya terdapat kira-kira 1000 x 10⁶ butiran lemak dalam setiap mL susu. Butiran-butiran ini mempunyai daerah permukaan yang luas dan hal tersebut menyebabkan susu mudah dan cepat menyerap flavor asing (Buckle, 1987). Dalam lemak susu terdapat 60-75% lemak yang bersifat jenuh, 25-30% lemak yang bersifat tak jenuh, gambar dari lemak susu dapat dilihat pada gambar 2.2 keterangan dari gambar tersebut lemak susu adalah yang berbentuk bulat atau disebut fat globule dan disekitar nya itu adalah serum (http://animalscienceinfo.blogspot.co.id/2011/2013/struktur-dan-komposisisusu.html).

Kerusakan Lemak Susu
Kerusakan yang dapat terjadi pada lemak susu merupakan sebab dari berbagai Universitas Sumatera Utara 7 perkembangan flavor yang menyimpang dalam produk-produk susu, seperti:

1. Ketengikan, yang disebabkan karena hidrolisa dari gliserida dan pelepasan asam lemak seperti butirat dan kaproat, yang mempunyai bau yang keras, khas dan tidak menyenangkan.

2. Tallowiness yang disebabkan karena oksidasi asam lemak tak jenuh.


3. Flavor teroksidasi yang disebabkan karena fosfolipid. 

4. Amis atau bau seperti ikan yang disebabkan karena oksidasi dan reaksi hidrolisa (Buckle, 1987).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komposisi Susu

Komposisi susu dapat sangat beragam tergantung pada beberapa faktor :

1. Jenis ternak, jenis-jenis sapi yang berbeda akan menghasilkan susu dengan komposisi keseluruhan yang agak berbeda, perbedaan yang terbesar dijumpai pada kandungan lemaknya.

2. Waktu pemerahan, unsur laktosa dan protein dalam susu relatif konstan dan menunjukkan keragaman yang kecil bila pemerahan dilakukan pada siang hari. Tetapi kandungan lemak susu mungkin berbeda jika pemerahan dilakukan pada pagi dan kemudian pada sore hari.

3. Urutan pemerahan, pada saat-saat pertama dari pemerahan selalu di peroleh susu yang paling sedikit mengandung lemak, dan pada saat akhir pemerahan diperoleh sisa-sisa yang paling banyak mengandung lemak.

4. Keragaman akibat musim, di daerah iklim sedang kandungan lemak menurun pada waktu udara menjadi lebih panas dan meningkat lagi ketika udara menjadi lebih dingin.

5. Umur sapi, umur sapi hanya berpengaruh sedikit terhadap komposisi susu, umur sapi yang baik adalah 10 tahun.

6. Penyakit, penyakit pada sapi biasanya mengacaukan keseimbangan unsurunsur didalam sapi.

7. Makanan ternak, kurangnya pemberian makanan akan mengurangi volume hasil susu (Buckle, 1987).

Sumber Artikel 

Sifat Fisik dan Kimiawi Susu

Susu adalah suatu sekresi yang komposisinya sangat berbeda dari komposisi darah yang merupakan asal susu. Misalnya lemak susu, casein, laktosa yang disentesa oleh alveoli dalam ambing, tidak terdapat di tempat lain manapun dalam tubuh sapi. Sejumlah besar darah harus mengalir melalui alveoli dalam tubuh sapi. Sejumlah besar darah harus mengalir melalui alveoli dalam pembuatan susu yaitu sekitar 50 kg darah dibutuhkan untuk menghasilkan 30 liter susu (Buckle, 1987). Berikut sifat fisik dan kimiawi susu :

1. Kerapatan
Kerapatan susu bervariasi antara 1,0260 dan 1,0320 pada suhu 20°C, kerapatan susu berangsur-angsur meningkat dari saat pemerahan dan mencapai maksimum pada 12 jam sesudah pemerahan.

2. pH
pH susu segar berada diantara pH 6,6-6,7 dan bila terjadi cukup banyak pengasaman oleh aktivitas bakteri, angka-angka ini akan menurun secara nyata. Bila pH susu naik di atas pH 6,6-6,8 biasanya hal ini dianggap sebagai tanda adanya mastitis pada sapi, karena penyakit ini menyebabkan perubahan keseimbangan mineral di dalam susu.

3. Warna
Susu mempunyai warna putih kebiru-biruan sampai kuning kecoklat-coklatan. Warna putih pada susu, serta penampakannya adalah akibat penyebaran butiranbutiran koloid lemak, kalsium kaseinat dan kalsium fosfat, dan bahan utama yang memberi warna kekuning-kuningan adalah karoten. Jenis sapi dan jenis makanan sapi juga dapat mempengaruhi warna susu.

4. Cita Rasa

Cita rasa susu hampir tidak dapat diterangkan tetapi rasa manis ini berasal dari laktosa sedangkan rasa asin berasal dari klorida. 5. Penggumpalan Penggumpalan atau pengentalan merupakan salah satu sifat susu yang paling khas. Penggumpalan dapat disebabkan oleh kegiatan enzim atau penambahan asam (Buckle, 1987).

Produksi Susu Sapi Perah

Sapi perah dipelihara untuk menghasilkan produksi susu, ini berarti produktivitas sapi perah ditentukan oleh jumlah air susu yang dihasilkan. Susu adalah sumber makanan utama bagi semua hewan mamalia yang baru lahir dan dapat pula menjadi bagian penting dari bahan makanan manusia berapapun umurnya. Komposisinya yang mudah dicerna dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi menjadikan susu sebagai sumber bahan makanan yang essensial. Susu juga merupakan sumber makanan yang fleksibel yang dapat diukur kadar lemaknya, sehingga dapat memenuhi keinginan dan selera konsumen (Blakely dan Bade, 1991). Produksi susu di Indonesia masih sangat rendah, di Jawa Timur susu sapi perah yang dihasilkan hanya sebesar 6-10 liter per ekor sapi per hari, padahal idealnya menghasilkan 15-20 liter per ekor sapi per hari (Hartutik, 2006).

Pernyataan tersebut didukung oleh Yusdja (2005), bibit sapi perah yang unggul mampu berproduksi sebanyak 15-20 liter per ekor per hari. Menurut Bappenas (2008), standar normal produksi susu sapi perah yaitu 12 liter per ekor per hari. Produksi susu biasanya cukup tinggi segera setelah sampai enam minggu sampai tercapai tingkat produksi maksimum. Mulai saat ini lalu terjadi penurunan produksi susu secara bertahap sampai pada akhir atau ujung laktasi. Penurunan produksi setelah mencapai puncak laktasi kira-kira besarnya 6% tiap bulan (Blakely dan Bade, 1991).

Masa laktasi adalah masa sapi sedang menghasilkan susu, yakni selama 10 bulan antara saat beranak dan masa kering (Sudono et al., 2004). Lamanya masa laktasi yang normal adalah 305 hari dengan 60 hari masa kering (Blakely dan Bade, 1991). Masa kering yaitu periode atau lamanya sapi berhenti diperah hingga beranak dan masa kering mempengaruhi produksi susu pada laktasi kedua dan laktasi berikutnya (Sudono et al., 2004). Juga dikatakan oleh Sudono et al. (2004), produksi susu akan naik dengan bertambahnya masa kering 7-8 minggu. Catatan tentang tingkat produksi juga bervariasi tergantung umur sapi. Sapi yang beranak pada umur 2 tahun dapat diharapkan produksi susunya meningkat sebesar 25% untuk mencapai tingkat produksi maksimum. Kebanyakan sapi mencapai tingkat produksi maksimum pada umur 6 sampai 8 tahun atau pada laktasi yang keempat sampai keenam setelah itu produksi tiap tahunnya menurun (Blakely dan Bade, 1991).

Menurut Ensminger (1971), umur sapi yang semakin bertambah menyebabkan penurunan produksi secara perlahan. Produksi susu pada laktasi pertama adalah 70%, laktasi kedua 80%, laktasi ketiga 90%, laktasi keempat 95% dari produksi susu pada umur dewasa dengan selang beranak 12 bulan dan beranak pertama pada umur 2 tahun. Blakely dan Bade (1991), mengatakan bahwa induk yang mengalami penurunan produksi setelah puncak produksi berarti mempunyai persistensi yang rendah. Persistensi produksi adalah kemampuan sapi induk untuk mempertahankan produksi tinggi selama masa laktasi, persistensi ini dipengaruhi oleh umur sapi, kondisi sapi waktu beranak, lama masa kering sebelumnya dan banyaknya makanan yang diberikan pada sapi. Menurut Kurnianto dan Gorde (1992), sebaiknya catatan produksi susu harus dibuat dalam basis baku, basis baku yang biasa digunakan adalah catatan produksi susu 305 hari, dua kali pemerahan dan umur setara dewasa.


Sumber Artikel (Klik Disini)

Gangguan Reproduksi Sapi Perah

Gangguan reproduksi dapat terjadi pada semua bangsa ternak, baik jantan maupun betina. Diantara hewan ternak, sapi perah betina paling sering menderita gangguan reproduksi, karena sapi perah telah mengalami seleksi yang paling lanjut. Seleksi pada ternak dapat menyebabkan lemahnya fungsi faal berbagai alat tubuh, termasuk alat reproduksi yang mengakibatkan banyak terjadi gangguan reproduksi (Hardjopranjoto, 1995). Gangguan reproduksi pada ternak khususnya sapi perah akan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak berupa Conception Rate (CR) yang rendah, Service per Conception (S/C) yang tinggi dan Calving Interval (CI) yang panjang. Salah satu bentuk lain dari gangguan reproduksi adalah kawin berulang (repeat breeding) yaitu dimana seekor betina kembali minta kawin berulang-ulang setelah dikawinkan dengan pejantan fertil dengan menunjukkan tanda-tanda birahi yang normal tiap 18-24 hari tetapi membutuhkan lebih dari tiga kali perkawinan untuk menjadi bunting (Hafez, 2000).

Menurut Hardjopranjoto (1995), secara umum kawin berulang disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kegagalan pembuahan dan kematian embrio dini. Hafez (2000), menyatakan bahwa penyebab kawin berulang pada sapi perah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokan menjadi lima kelompok yaitu faktor lingkungan, fungsi ovari, perlakuan IB, faktor genetik dan insfeksi serta perubahan biokimia uterus.


Sapi Perah Friesian Holstein

Bangsa sapi Friesian Holstein adalah bangsa sapi perah yang paling menonjol di Amerika Serikat. Jumlahnya cukup banyak, meliputi antara 80 sampai 90% dari seluruh sapi perah yang ada. Asalnya adalah Negeri Belanda yaitu di propinsi North Holand dan West Friesland, kedua daerah yang memiliki padang rumput yang bagus (Blakely dan Bade, 1991). Sapi yang berwarna hitam dan putih (ada juga Holstein yang berwarna merah dan putih) sangat menonjol karena banyaknya jumlah produksi susu namun kadar lemaknya rendah. Ukuran badan, kecepatan pertumbuhan serta karkasnya yang bagus menyebabkan sapi ini sangat disukai pula untuk tujuan produksi daging serta pedet untuk dipotong (Blakely dan Bade, 1991).

Menurut Sodono et al. (2004), sapi FH adalah sapi perah yang produksi susunya tertinggi dibandingkan dengan sapi perah lainnya, disamping itu kadar lemak susunya rendah. Bobot badan ideal betina dewasa mencapai 682 kg dan jantan dewasa bisa mencapai 1000 kg. Produksi susu sapi perah FH di Amerika Serikat rata-rata 7.245 kg per laktasi dengan kadar lemak 3,65%. Sementara itu produksi rata-rata di Indonesia 10 liter/ekor per hari atau kurang lebih 3.050 kg per laktasi. Bangsa sapi perah FH baik diternakkan di daerah dengan ketinggian antara 750-1250 meter diatas permukaaan laut, dengan temperatur antara 15-260 C dan kelembaban diatas 55% (Prihatin, 2008).


Relationship of Milk Production Friesian Holstein Dairy Cows with Service Per Conception in KPSBU Lembang

Relationship of Milk Production Friesian Holstein Dairy Cows with Service Per Conception in KPSBU Lembang
Pujiastuti, E., A. Atabany and B. P. Purwanto

Dairy cattle have important role in the improvement of human’s nutritions. One at dairy farming in West Java is the KPSBU Lembang. KPSBU Lembang is a have location to develop dairy cattle because it has a supporting environment with 1.200- 1.275 m in a altitude and 15,6-16,8 0 C in temperature. The objectives of this reasearch won to determine dairy cattle’s reproduction efficiency at KPSBU base on first mating interval after giving birth, days open, calving interval and S/C value. Milk production and S/C should ansignificant (P> 0,05), but lactation of population and milk production should significant corelation (P<0 and="" cattle="" dairy="" efficiency="" fh="" keyword:="" milk="" production="" reproductive=""><0 font="">


Jenis Tembakau

Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) termasuk dalam genus Nicotiana serta famili Solanaceae. Ada sekitar 54 galur atau varietas yang 29 dibudidayakan di Indonesia. Tembakau merupakan tanaman yang membutuhkan tanah yang mempunyai aerasi baik untuk pertumbuhan dan perkembangan akarnya. Jumlah daun pada setiap batang tembakau berkisar antara 28-33 lembar. Bentuk ketebalan, dan ukuran daun pada masing-masing posisi daun pada batang berbeda-beda.

Posisi daun pada batang yang letaknya makin ke atas, kandungan nikotin dan ketebalan daunnya makin meningkat. Kandungan karbohidrat tertinggi dijumpai pada daun tengah, makin ke atas dan makin ke bawah kandungan karbohirat makin rendah. Kandungan klorofil makin keatas makin tinggi dan makin stabil.

Menurut musimnya, tanaman tembakau di Indonesia dapat dipisahkan menurut dua jenis, yaitu :
1. Tembakau VO (Voor-Oogst)
Tembakau ini biasanya dinamakan tembakau musim kemarau atau onberegend. Artinya, jenis tembakau yang ditanam pada waktu musim penghujan dan dipanen pada waktu musim kemarau.

2. Tembakau NO ( Na Oogst)
Tembakau Na-Oogst adalah jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau, kemudian dipanen atau dipetik pada musim penghujan. Dalam industri rokok, dikenal 3 jenis daun tembakau, yakni daun pembungkus, daun pembalut, dan daun pengisi. Ketiga jenis daun tembakau tersebut dihasilkan dari jenis tembakau yang tidak sama.

Berdasarkan jenis daun yang dihasilkan, tembakau dibagi menjadi lima jenis (Cahyono, 2000) yakni :

1. Tembakau Cerutu
Jenis tembakau cerutu antara lain Tembakau Deli, tembakau Vorsteinland, tembakau Besuki, tembakau Cuba, tembakau Maryland. Tembakau cerutu umumnya berfungsi sebagai pembalut atau pengisi. Tembakau yang digunakan untuk mengisi cerutu ini biasa disebut juga tembakau nasi.

2. Tembakau Pipa
Tembakau pipa adalah jenis tembakau yang khusus digunakan untuk pipa bukan untuk pembuatan rokok cerutu ataupun rokok sigaret kretek. Penggunaannya untuk kenikmatan merokok adalah langsung ditempatkan pada bagian ujung pipa lalu dinyalakan dengan api dan diisap dengan batang pipa, yang tergolong tembakau pipa adalah tembakau Lumajang.

3. Tembakau Sigaret
Dalam industri rokok, tembakau sigaret digunakan sebagai bahan baku pembuatan rokok sigaret, baik sigaret putih maupun sigaret kretek. Yang tergolong jenis tembakau ini adalah tembakau Virginia, tembakau Oriental, Tembakau Burley, Tembakau Kasturi, Madura dan Payakumbuh.

4. Tembakau Asli/Rajangan
Jenis tembakau ini kebanyakan diusahakan oleh rakyat. Hasil panen umumnya diolah dengan cara dirajang, lalu dikeringkan dengan penjemuran matahari (sun curing). Pembudidayaannya mulai dari pembuatan persemaian, penanaman, dan pengolahan hasil sampai siap dijual di pasaran dilakukan oleh petani sendiri. Hasil tembakau rajangan kurang begitu diminati industri rokok karena kurang kualitas cita rasa dan aromanya.

5. Tembakau Asapan
Tembakau ini merupakan jenis tembakau yang daunnya diolah secara pengasapan. Jenis tembakau ini dibedakan menjadi dua, yakni tembakau musim penghujan (Na Oogst) dan tembakau musim kemarau (Voor Oogst)


Sumber Artikel (Klik Disini)

Sentra Penanaman Tembakau

Tanaman tembakau bisa dibudidayakan pada lahan basah ataupun kering, asal tercukupi aerasi tanah yang baik. Walaupun begitu, tembakau yang ditanam pada lahan kering dapat menghasilkan kualitas tembakau yang baik, dengan tekstur dan aroma yang khas. Di setiap propinsi terdapat beberapa kota yang dapat menghasilkan komoditi ini tetapi tidak begitu besar presentasenya. Beberapa kota yang menjadi sentra penghasil tembakau yang hasilnya diperdagangkan di luar negeri adalah Aceh, Sumatera Utara (Karo dan Dairi), Sumatera Barat (Lima Puluh Kuto, Solok, Payakumbuh), Sumatera Selatan (OKU Selatan), Lampung (Tanggamus, Lampung Timur), Jawa Barat (Sumedang, Garut, Majalengka), Jawa Tengah (Temanggung, Kendal, Demak, Magelang, Wonosobo, Klaten), Yogyakarta, Jawa Timur (Jember, Probolinggo, Bojonegoro), dan NTB


Sejarah dan Perkembangan Tembakau

Tanaman tembakau merupakan salah satu tanaman tropis asli Amerika. Asal mula tembakau liar tidak diketahui dengan pasti karena tanaman ini sangat tua dan telah dibudidayakan berabad-abad lamanya. Penggunaan tembakau berasal dari bangsa Indian, berkaitan dengan upacara-upacara keagamaan mereka. Kata tembakau berasal dari kata Indian tobaco, merupakan nama pipa yang digunakan oleh orang indian untuk merokok daun tanaman ini. Tanaman tembakau telah menyebar ke seluruh Amerika Utara, sebelum masa kedatangan kulit putih. Tembakau dibudidayakan oleh orang Indian pada saat menemukan Amerika. Colombus yang pertama kali mengetahui penggunaan tembakau ini dari orang-orang Indian. Pertumbuhan tembakau sangat identik dengan perkembangan koloni-koloni pertama terutama di daerah Virginia dan Myraland.

Tanaman tembakau dibudidayakan sebagai tanaman komersial di 21 negara bagian yang berbeda. Negara bagian Kentucky dan Carolina Utara menghasilkan kira-kira 60% dari jumlah produksi keseluruhan. Melihat besarnya produksi dalam negeri, tembakau tersebut kemudian di ekspor sebagai bahan dasar rokok. Negara-negara lain yang menghasilkan tembakau dalam jumlah cukup besar adalah Cina dan India. Pada tahun 1556, tanaman tembakau diperkenalkan di Eropa, dan mulamula hanya dipergunakan untuk keperluan dekorasi dan kedokteran atau medis 28 saja. Setelah itu tembakau menjadi populer di Eropa dan digunakan untuk beberapa keperluan, misanya menghilangkan rasa lapar, mengurangi rasa kantuk atau pingsan dan mengobati beberapa penyakit. Tanaman tembakau di Indonesia diperkirakan dibawa oleh bangsa Portugis atau Spanyol pada abad XVI. Menurut Rhumpius, tanaman tembakau pernah dijumpai di Indonesia tumbuh di beberapa daerah yang belum dijelajahi oleh bangsa Portugis atau Spanyol (Matnawi, 1997).




Enzim Protease dan Selulase

Enzim merupakan senyawa kompleks yang tersusun dari protein dengan susunan rantai yang teratur dan tetap. Peran utama enzim adalah sebagai katalisator dalam suatu reaksi (Suhartono 1989). Sebagai katalisator, enzim bekerja secara terarah pada posisi molekul tertentu dengan laju reaksi yang dapat diperkirakan serta produk samping yang dihasilkan sangat sedikit bahkan tiddak ada (Piliang 2006). Enzim bekerja secara spesifik terhadap substrat tertentu dengan reaksi tertentu. Enzim memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungn seperti suhu, pH, pelarut organik, dan bahan atau kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan perubahan konformasi protein (Piliang 2006). Sumber enzim dapat berasal dari tanaman, hewan, dan mikroba (Suhartono 1989).

Enzim yang dihasilkan dari sintesis mikroba cenderung lebih banyak digunakan karena pertumbuhan mikroba yang relatif cepat sehingga produktivitasnya tinggi. Saat ini, enzim banyak dimanfatkan untuk keperluan industri. Salah satu enzim yang sudah banyak digunakan adalah protease dan selulase. Protease merupakan enzim yang bekerja menghidrolisis ikatan peptida pada protein. Protease yang digunakan dalam bidang industri adalah protease yang umumnya diproduksi oleh mikroorganisme yaitu mikroba. Keunggulan protease yang diproduksi oleh mikroba adalah produksinya yang relatif cepat dan mudah, dapat diproduksi secara berkesinambungan serta kualitas enzim yang dihasilkan lebih seragam (Thomas 1989).

Menurut Gomathi et al. (2011), untuk memperoleh enzim dalam jumlah yang banyak, mikroba penghasil protease harus diinkubasi pada suhu optimalnya yaitu 30oC sampai 40oC agar dapat tumbuh dengan baik. Protease dapat diproduksi dengan metode fermentasi. Fermentasi yang dapat dilakukan antara lain fermentasi semi padat atau fermentasi substrat padat (Himakiranbabu et al. 2012). Protease dapat diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, letak pemecahan ikatan peptida, letak pengeluarannya dan berdasarkan lingkungan kerjanya. Berdasarkan sumbernya, protease dibagi menjadi protease dari tanaman, hewan, dan mikroba, sedangkan berdasarkan pemecahan ikatan peptianya dibedakan menjadi endoprotease dan eksoprotease (Suhartono 1992). Eksoprotease menguraikan protein dari rantai paling luar sehingga menghasikan satu asam amino dan peptida pada tingkat penguraian pertama, kemudian pada tingkat berikutnya menghasilkan beberapa asam amino. Endoprotease menguraikan protein pada rantai bagian dalam dan menghasilkan peptida dan polipeptida (Suhartono 1992).

Berdasarkan lingkungan kerjanya, protease dibagi menjadi tiga yaitu protease asam, netral, dan alkalis. Protease berdasarkan letak pengeluarannya dibagi menjadi protease intraselular dan ekstraselular. Protease intraselular bertugas mendegradasi protein yang tidak diperlukan atau protein abnormal secara cepat sehingga tidak mengganggu metabolisme pada sel. Protease ekstraselular bertangggung jawab 5 menghidrolisis protein menjadi peptida kecil dan asam amino sehingga mudah diserap oleh sel (Zahiroh 2013). Selulase merupakan kumpulan beberapa enzim yang dapat menghidrolisis selulosa.

Enzim selulase dihasilkan dari beberapa jenis kapang dan bakteri. Produksi enzim selulase oleh kapang atau bakteri merupakan respon yang diberikan oleh kapang atau bakteri tersebut terhadap adanya selulosa pada lingkungan hidupnya (Rohman 2013). Selulase yang dihasilkan oleh mikroba merupakan selulase ekstraselular yang menghidrolisis selulosa mulai dari bagian luar sel. Substrat selulosa dan turunannya yang dihidrolisis oleh enzim selulase adalah pada ikatan β-1,4. Selulase termasuk enzim kompleks yang bekerja secara sinergis antara satu dengan yang lainnya. Selulase terdiri dari tiga komponen enzim antara lain eksoglukanase (selobiohidrolase) yang secara spesifik memutus unit-unit selobiosa non pereduksi dan menghidrolisis selulosa pada daerah kristalin, endoglukanase bekerja memutus ikatan selulosa pada bagian dalam pada daerah amorf, kemudian endoglukanase bekerja sama dengan eksoglukanase membebaskan selobiosa dari selulosa, dan β-glukosidase berperan memutus unit glukosa (Miyamoto 1997). Seluruh komponen enzim selulase ini bekerja sama menghidrolisis seulosa menjadi glukosa (Bansal 2009).


Developing Dried Starter of Proteolytic Bacteria and Its Combination with Cellulolytic Bacteria for Coffee Fermentation.

HELMA YOGA UTAMI. Developing Dried Starter of Proteolytic Bacteria and Its Combination with Cellulolytic Bacteria for Coffee Fermentation.
Supervised by ERLIZA NOOR

Utilization of isolated bacteria from civet feces for coffee fermentation is currently being developed. However, the bacterial isolates still require special treatment before ready to ferment the coffee. Therefore, this research was conducted to produce dry starter of bacteria isolates that easy to be applied. This research involved proteolytic bacteria and cellulolytic bacteria to support the fermentation. The purpose of this study was to obtain the best concentration of dry starter for fermentation of coffee beans to produce coffee which have equivalent quality to civet coffee. The concentration of dried starter added in the process of fermentation was 5%, 10%, and 15% with coffee beans and shell of coffee (grinded and sifted) as filler material. Based on total sugars, protein, and weight loss of liquid fermented, the best treatment is the addition of 15% dried starter with coffee shell as filler and being fermented in 2 days. Fermented coffee has influenced the decreasing of caffeine and oxalic acid as well as increasing levels of lactic and butyric acid. These results relatively showed that fermented coffee using dried starter has equivalent quality with civet coffee.

Key words : cellulolytic, civet coffee, dry starter, fermentation, proteolytic.


Kopi Luwak

Luwak termasuk dalam kelompok hewan karnivora (Astwood et al. 2002) yang memiliki sistem pencernaan yang pendek dan sederhana. Dalam pencernaannya, luwak mampu menghasilkan HCl dengan pH yang sangat rendah yang digunakan untuk membantu pemecahan protein dan membunuh bakteri patogen (Hadipernata 2012). Luwak tidak dapat mencerna sayuran mentah, selulosa, dan tulang sehingga semua makanan tersebut keluar dalam keadaan utuh dan hanya melewati usus halus. Kopi luwak adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang dimakan dan telah melewati pencernaan luwak. Naluri alamiah luwak dengan indera penciuman yang tajam membuat luwak hanya memakan kopi yang matang saja.

Secara umum, kopi luwak dapat berasal dari biji kopi Arabika maupun biji kopi Robusta yang sudah mengalami fermentasi di dalam pencernaan luwak. Biji kopi selanjutnya mengalami proses fermentasi secara alami di dalam sistem pencernaan luwak (Balakrishnan et al. 2002). Proses fermentasi berlangsung selama 8-12 jam dengan suhu optimal di dalam pencernaan luwak, selanjutnya biji kopi keluar dalam keadaan utuh dari perut luwak karena terlindungi oleh kulit tanduk yang keras.

Hal tersebut karena luwak hanya mengonsumsi zat pemanis yang terdapat pada lendir (mucilage) yang melapisi kulit tanduk pada biji kopi, sedangkan kulit kopi dikeluarkan kembali melalui mulut bagian samping. Kandungan kafein dalam kopi luwak sangat rendah, yaitu berksar 0.5-1 persen yang disebabkan oleh proses fermentasi di dalam sistem pencernaan luwak yang mampu mendegradasi kafein dan membuat cita rasa dan aroma yang khas (Marcone 2004). Kafein memiliki peranan dalam memberikan rasa pahit pada kopi. Degradasi kafein yang terjadi dalam pencernaan luwak juga dapat menurunkn rasa pahit pada biji kopi yang dihasilkan. Selama proses fermentasi berlangsung, dalam pencernaan luwak terjadi sekresi enzim proteolitik yang memecah protein menjadi asam amino dan peptida (Marcone 2004). Kandungan asam amino dan peptida tersebut serta komponen lainnya dalam biji kopi menghasilkan cita rasa dan aroma yang khas ketika mengalami proses penyangraian (Fuferti et al. 2013).

Menurut Panggabean (2011), terjadi peningkatan kadar lemak pada biji kopi setelah fermentasi dalam pencernaan luwak. Hal tersebut membuat cita rasa kopi yang dihasilkan menjadi lebih gurih. Keistimewaan kopi luwak selain cita rasa dan aroma yang khas adalah manfaat kopi luwak yang berkhasiat bagi kesehatan, diantaranya tidak mengganggu jantung dan lambung, tingginya kandungan antioksidan pada kopi luwak dapat mencegah terjadinya kerusakan sel dalam tubuh, dan dapat mengurangi resiko penyakit kanker (Ikhwan 2013). Berdasarkan kehalalannya, MUI mengeluarkan fatwa bahwa mengonsumsi kopi luwak hukumnya adalah diperbolehkan jika memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan. Syaratnya adalah kopi harus dalam 4 keadaan utuh terbungkus kulit tanduknya saat keluar dari pencernaan luwak dan dapat tumbuh ketika bijinya ditanam kembali (Ikhwan 2013).


Bibit Ayam Kampung

Bibit ternak adalah semua ternak hasil proses penelitian dan pengkajian dan atau ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakan dan atau untuk produksi. Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi pembudidayaan ternak yang penting dan strategis untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil dalam menyediakan pangan asal ternak yang berdaya saing tinggi (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2001).

Persyaratan bibit ayam lokal menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2006b) menyebutkan bahwa bibit ayam lokal yang dipelihara harus bebas dari penyakit hewan menular yang dapat menimbulkan penyakit pada unggas lain atau yang diturunkan, bibit ayam lokal yang akan dipelihara diutamakan bibit ayam lokal asli yang berasal dari daerah lokasi usaha setempat, serta pengembangan dan penyediaan bibit ayam lokal hasil persilangan antar galur yang berbeda dapat dilakukan dibawah bimbingan dan pengawasan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat atau instansi teknis lain yang berwenang.

Persyaratan teknis minimal bibit ayam Kampung adalah
a) Ayam bibit harus sehat, tidak cacat, ukuran tubuh seragam, bulu boleh bermacam-macam dan berasal dari induk ayam yang sehat;
b) Bentuk fisik yaitu warna bulu (beraneka ragam, pada ayam yang jantan warnanya lebih indah, warna kaki (hitam campur putih), warna kulit (kuning pucat), bentuk tubuh (ayam jantan berbentuk lonjong, ayam betina berbentuk segi empat), bentuk kaki (ayam jantan tegap dan proporsional, ayam betina tegap), jengger (ayam jantan berwarna merah, berukuran sedang, bentuk tunggal, rose, bergerigi, dan kacang; ayam betina berwarna merah, berukuran kecil, bentuk tunggal, rose, bergerigi dan kacang), pial (ayam jantan berwarna merah dan berukuran sedang, ayam betina berwarna merah dan berukuran kecil); dan muka berwarna merah segar.

Apabila dipelihara secara intensif bobot badan dewasa ayam jantan adalah 2,4 kg dan betina 1,5 kg, umur pertama bertelur 148 hari, bobot telur 40 g, bobot DOC 26,2 g dan kapasitas produksi telur 112 butir/tahun (30,9%).


Sistem Pemeliharaan Ternak Secara Umum

Sistem pemeliharaan ayam terdiri dari tiga jenis, yaitu ekstensif (pemeliharaan secara tradisional dimana ayam diumbar dan mencari pakan sendiri), semi intensif (ayam diumbar dan diberi pakan tambahan) dan intensif (ayam dikandangkan dan diberi pakan). Sistem pemeliharaan intensif harus mulai dipikirkan karena dengan sistem ini produktivitas ternak akan lebih efektif dan efisien.

Sistem pemeliharaan intensif diartikan sebagai sistem pemeliharaan terkurung, dimana ternak secara terus menerus berada dalam kandang. Sedang keperluan pakan, perkandangan dan penanggulangan penyakit diatur oleh manusia (Suprijatna et al., 2005).

Sistem pemeliharaan semi intensif memiliki keuntungan yaitu:
1) biaya lahan lebih rendah dibandingkan sistem ekstensif,
2) menghemat biaya pakan. Ayam mencari pakan tambahan, berupa hijauan, serangga, dan kerikil-kerikil kecil di sekitar padang umbaran sambil berjemur dan exercise. Pakan yang diberikan dapat dikurangi,
3) kesehatan ayam terjaga karena adanya halaman umbaran. Ayam dapat bergerak bebas melakukan exercise dan berjemur,
4) baik untuk pemeliharaan ayam dara (pullet), ayam petelur, serta ayam pembibit. Ayam dara tumbuh optimal, saat dewasa tidak terlalu gemuk sehingga dapat berproduksi optimal dan kualitas telur baik, terutama telur tetas (fertilitas dan daya tetas tinggi) (Suprijatna et al., 2005).


Ayam Walik

Pada umumnya ayam lokal Indonesia merupakan ayam yang sudah didomestikasi, tetapi belum diseleksi secara intensif dan dikembangkan lebih lanjut menjadi suatu rumpun yang khas untuk suatu tujuan produk tertentu. Ayam lokal mempunyai keanekaragaman sifat genetik yang dimunculkan secara nyata dalam penampilan fenotipenya, seperti warna bulu, kulit, paruh dan daging, bentuk tubuh, jengger, bulu penutup, penampilan produksi, pertumbuhan dan reproduksinya (Sidadolog dan Sasongko, 1990). Keragaman karakteristik ayam lokal ditujukan untuk memberikan informasi dalam membangun tatalaksana pemeliharaan secara umum dan secara khusus (Iskandar, 1998).

Ayam Walik atau Rintit merupakan ayam lokal yang mempunyai penampilan bulunya keriting (terbalik) ke arah depan dan belakang, sehingga permukaan kulit tubuhnya terlihat jelas. Hal demikian disampaikan pula oleh Sarwono (2003) bahwa ayam Walik memiliki bulu terbalik, sehingga tampak mengeriting. Ayam jenis ini banyak ditemui di daerah Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Bentuk dan perawakan tubuh hampir sama dengan ayam Kampung. Warna bulunya beraneka ragam, hitam, coklat, coklat kemerahan, coklat kekuningan, putih, blorok bintik-bintik merah dan hitam atau putih dan hitam, dan kombinasi warna lainnya. Kulit badan, sisik kaki dan paruh berwarna putih kuning atau kehitaman/kelabu tua. Jengger berbentuk tunggal atau pea, bergerigi berwarna merah (Sartika dan Sofjan, 2007).

Ukuran ayam Walik berbeda-beda, bobot badan dewasa berkisar 1-3 kg. Ayam Walik dewasa cukup tahan terhadap perubahan cuaca, tetapi ayam Walik anakan kurang tahan terhadap dingin dan udara lembab, sehingga membutuhkan perawatan yang cukup baik (Rukmana, 2003). Namun di sisi lain belum terkenalnya ayam Walik di masyarakat dan populasi yang terbatas hanya ada di daerah tertentu saja menjadikan ayam Walik salah satu jenis ayam lokal langka yang perlu dieksplorasi (Sartika dan Sofjan, 2007). Oleh karena itu eksplorasi tentang potensi ayam Walik dan ayam Kampung penting dilakukan untuk menyediakan data dasar dalam pengembangan ayam lokal Indonesia.


Ayam Kampung

Pada umumnya ayam lokal Indonesia merupakan ayam yang sudah didomestikasi, tetapi belum diseleksi secara intensif dan dikembangkan lebih lanjut menjadi suatu rumpun yang khas untuk suatu tujuan produk tertentu. Ayam lokal mempunyai keanekaragaman sifat genetik yang dimunculkan secara nyata dalam penampilan fenotipenya, seperti warna bulu, kulit, paruh dan daging, bentuk tubuh, jengger, bulu penutup, penampilan produksi, pertumbuhan dan reproduksinya (Sidadolog dan Sasongko, 1990). Keragaman karakteristik ayam lokal ditujukan untuk memberikan informasi dalam membangun tatalaksana pemeliharaan secara umum dan secara khusus (Iskandar, 1998).

Ayam Kampung merupakan keturunan ayam hutan (Gallus-gallus) yang berasal dari Asia Tenggara yang sebagian telah didomestikasi (Kingston, 1979). Menurut Mansjoer (1985) ayam Kampung mempunyai jarak genetik yang lebih dekat terhadap ayam Hutan Merah Jawa (Gallus-gallus bankiva) dibandingkan jarak kegenetikannya terhadap ayam Hutan Hijau (Gallus varius shaw). Hardjosubroto dan Astuti (1980) menyatakan bahwa ayam Kampung dianggap sebagai keturunan dari Red Jungle Fowl melalui domestikasi yang panjang. Ayam Kampung adalah salah satu spesies unggas lokal yang telah lolos seleksi alami, sehingga secara genetik mempunyai keunggulan beradaptasi dengan lingkungan Indonesia, terutama di pedesaan (Hardjosworo, 1995).

Menurut Martojo et al. (1995), sebagai ayam lokal Indonesia, ayam Kampung dikenal mempunyai potensi sebagai penghasil telur dan daging. Walaupun produktivitas ayam Kampung sebagai penghasil daging masih lebih rendah dibandingkan ayam Ras, namun dari harga daging dan telur ayam Kampung masih dapat bersaing. Peranan ayam Kampung khususnya bila ditinjau dari aspek ekonomi, sosial dan budaya cukup besar. Dari segi ekonomi ayam Kampung merupakan simpanan (tabungan) yang cukup berharga yang sewaktu-waktu diperlukan dapat disediakan dalam waktu singkat (Mansjoer, 1989).


Potency of Walik and Kampong Chicken in Sumedang District, West Java

Potency of Walik and Kampong Chicken in Sumedang District, West Java
N. M. Nurapriani, M. Ulfah, S. Mulatsih

Kampong and Walik chickens are important local chicken breeds found in Indonesia. However, the traditional management practices applied by farmers result low productivities of those chickens. The aim of this research was to investigate the potency of Kampong and Walik chicken in Sumedang District, West Java. There were 33 respondents interviewed in this research. The research results show that women were primarily responsible the care and management of the chicken under backyard system. The chickens farming system applied by the farmers were semi intensive with scavenging system (88%), and intensive (12%). Traditionally, most of the farmers (64%) selected the chicken breeds by their own traditional knowledge. Broken rice, rice hulls, and household by product were feedstuffs provided for the chickens. Farmers applied modern (73%) and indigenous (27%) health care and management to prevent and control diseases of the chickens. Egg production and hatchability of scavenging chickens were higher (11 eggs/clutch/hen; 92,71%) than intensive one (10 eggs/clutch/hen; 86,07%). A rural household with scavenging system earned 1.582.482,45 IDR in a year from a flock of 78 chickens with an average of 11 layers, and 14 eggs. Walik chicken had a higher body weight with Kampong chicken. However, the correlation rate (r) of Kampong chiken was higher (cock = 0,781 and hen = 0,801) compared to Walik chicken (cock = 0,529 and hen = 0,717). A rural household with intensive system earned 1.464.000,00 IDR in a year from a flock of 63 chickens with an average of 4 layers, and 12 eggs. The potency Walik chicken is higher to be developed than the Kampong chicken. However, the Walik chicken productivities have to be properly investigated to improve their potencies. Giving education for improved management system is also an alternative strategy to increase chicken productivities and household income.

Keyword: Kampong and Walik chicken, management practices, growth, and revenue analysis


Back To Top