Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Alternative Pakan Ternak – Rumen Sapi

imageIsi rumen merupakan salah satu limbah rumah potong hewan yang belum dimanfaatkan secara optimal  bahkan ada yang dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah ini sebenarnya sangat potensial bila dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena isi rumen disamping merupakan bahan pakan yang belum tercerna juga terdapat organisme rumen yang merupakan sumber vitamin B.

Kandungan zat makanan yang terdapat pada isi rumen sapi meliputi: air (8,8%), protein kasar (9,63%), lemak (1,81%), serat kasar (24,60%), BETN (38,40%), Abu (16,76%), kalsium (1,22%) dan posfor (0,29%) dan pada domba meliputi: air (8,28%), protein kasar (14,41%), lemak (3,59%), serat kasar (24,38%), Abu (16,37%), kalsium (0,68%) dan posfor (1,08%) (Suhermiyati, 1984). Widodo (2002) menyatakan zat makanan yang terkandung dalam rumen meliputi protein sebesar 8,86%, lemak 2,60%, serat kasar 28,78%, fosfor 0,55%, abu 18,54% dan air 10,92%. Berdasarkan komposisi zat yang terkandung didalamnya maka isi rumen dalam batas tertentu tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bila dijadikan bahan pencampur ransum berbagai ternak.

Di dalam rumen ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba) terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Cairan rumen mengandung bakteri dan protozoa. Konsentrasi bakteri sekitar 10 pangkat 9 setiap cc isi rumen, sedangkan protozoa bervariasi sekitar 10 pangkat 5 - 10 pangkat 6 setiap cc isi rumen (Tillman, 1991). Beberapa jenis bakteri/mikroba yang terdapat dalam isi rumen adalah (a) bakteri/mikroba lipolitik, (b) bakteri/mikroba pembentuk asam, (c) bakteri/mikroba amilolitik, (d) bakteri/mikroba selulolitik, (e) bakteri/mikroba proteolitik Sutrisno dkk, 1994)

Jumlah mikroba di dalam isi rumen sapi bervariasi meliputi: mikroba proteolitik 2,5 x 10 pangkat 9 sel/gram isi rumen, mikroba selulolitik 8,1 x 10 pangkat 4 sel/gram isi rumen, amilolitik 4,9 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba pembentuk asam 5,6 x 10 pangkat 9 sel/gram isi, mikroba lipolitik 2,1 x 10 pangkat 10 sel/gram isi dan fungi lipolitik 1,7 x 10 pangkat 3 sel/gram isi (Sutrisno dkk, 1994). Mikroorganisme tersebut mencerna pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan proein untuk membentuk mikrobial dan vitamin B.

Berdasarkan hasil penelitian Sanjaya (1995), penggunaan isi rumen sapi sampai 12% mampu meningkatkan pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan ayam pedaging dan mampu menekan konversi pakan ayam pedaging.

Penyakit Anthrax

Anthrax merupakan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakter Bacillus Antracis bersifat ganas dan menyerang ternak sapi, kerbau, domba, kambing, kuda, babi,burung unta serta hewan lainnya seperti tikus, marmut, mencit dll.

Anthrax sangat ditakuti karena :

  1. Bersifat zoonosa artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia.
  2. Terjadi angka kematian yang tinggi pada hewan/ternak penderita anthrax dan juga menyebabkan kematian pada manusia.
  3. Bakteri anthrax dapat membentuk spora yang tahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah sehngga sulit diberantas.

Sumber penularan Anthrax adalah :

  1. Hewan/ternak penderita anthrax.
  2. Bahan makanan pada hewan yang tercemar spora atau kuman anthrax.
  3. Tanah, tanaman dan air serta media lainnya yang tercemar spora atau kuman anthrax.

Cara Penularan Anthrax pada hewan

  1. Hewan memakan rumput yang mengandung tanah yang tercemar spora Anthrax. Tanah mengandung spora karena tercemar darah dan kotoran penderita anthrax.
  2. Kontak langsung dengan hewan penderita anthrax tidak biasa terjadi.
    Penularan Anthrax pada manusia
  3. Kontak langsung dengan kuman penyakit yang ada ditanah/rumput, hewan yang sakit maupun bahan-bahan yang berasal dari hewan sakit seperti kulit, daging/tulang dan darah.
  4. Bibit penyakit terhirup orang yang mengerjakan bulu hewan (domba dll.) pada waktu menyortir. Penyakit dapat ditularkan melalui pernafasan bila seseorang menghirup spora anthrax tersebut.
  5. Memakan daging hewan yang sakit atau produk bahan hewan seperti sate, dendeng, abon.
  6. Gigitan vektor atau pembawa kuman Anthrax, misalnya lalat piteuk (Tabanus sp.)

Tanda-tanda Anthrax pada hewan :

  1. Demam, gelisah, lemah, paha gemetar, nafsu makan hilang dan rubuh.
  2. Keluar darah dari dubur, mulut dan lubang hidung. Darah berwarna merah tua seperti kecap atau ter, agak berbau amis dan busukserta sulit membeku.
  3. Pembengkakan di daerah leher, dada dan sisi lambung, pinggang dan alat kelamin luar.
  4. Kematian dalam waktu singkat tanpa disertai tanda-tanda sebelumnya.

Jika terlihat tanda-tanda di atas maka :

  1. Laporkan secepatnya ke Petugas Peternakan setempat.
  2. Dilaksanakan pengujian secara laboratorik untuk kepastian diagnosa penyakit.
  3. Hewan/ternak penderita Anthrax dilarang keras disembelih dan harus diisolasi di di kandang sehingga tidak kontak dengan ternak lainnya.
  4. Hewan/ternak yang mati akibat Anthrax harus cepat di musnahkan dengan cara dibakar dan dikubur di dalam lubang sedalam 2,5 meter,diberi kapur dan ditimbun kembali dengan tanah.
  5. Kandang, peralatan dan bahan lainnya yang tercemar spora atau kuman Anthrax harus didesinfeksi dan dibakar.
  6. Vaksinasi Anthrax terhadap hewan rentan di sekitar lokasi tertular Anthrax.
  7. Penertiban pemotongan liar di Rumah Pemotongan Hewan(RPH).
  8. Pengawasan lalu lintas ternak dan bahan asal hewan.
  9. Penutupan daerah oleh Bupati atau Walikota selama 14 hari sampai dengan 3 bulan.

Sumber Artikel :

disnak.jabarprov.go.id

Pedoman Daging Ayam Asuh

imageDaging ayam merupakan daging yang relatif lebih murah dibandingkan dengan daging yang lain seperti daging sapi, kerbau dan kambing/domba, sehingga lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat konsumen dari berbagai tingkat ekonomi. Daging ayam yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) adalah daging yang diharapkan oleh semua konsumen, karena terjamin jika dikonsumsi oleh manusia. Pengertian ASUH yaitu:

  • AMAN            :  Tidak mengandung bibit penyakit dan residu bahan kimia ataupun obat-obatan yang dapat mengganggu kesehatan .
  • SEHAT           :  Memiliki zat-zat yang bergizi dan berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan.
  • UTUH            :  Tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan lain.
  • HALAL           :  Dipotong dan ditangani sesuai dengan syariat Agama Islam.
Pelaku bisnis yang terlibat dalam proses pemotongan ayam hingga perdagangan daging ayam sangat banyak dan beragam dalam tingkat pendidikannya, sehingga sering terjadi banyak penyimpangan dalam penanganan dan perdagangan daging ayam di pasar atau di Tempat Pemotongan Ayam (TPA). Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain:
  • Penjualan bangkai ayam sebagai ayam potong, sering disebut ayam TIREN (mati kemaren)
  • Pemakaian formalin sebagai bahan pengawet karkas
  • Penyuntikan karkas ayam dengan air atau udara agar terlihat gemuk
  • Pemberian warna kuning pada karkas atau daging ayam
Untuk mengetahui karkas atau daging ayam yang akan dibeli sehat dan tidak mengalami penyimpangan adalah dengan cara mengenali ciri-ciri karkas/daging ayam yang sehat sebagai berikut:
  • Kulit berwarna putih bersih, mengkilat dan tidak dijumpai adanya memar
  • Bau spesifik/khas daging ayam
  • Pembuluh darah di seluruh tubuh tidak terlihat
  • Serabut otot agak pucat, bekas pemotongan regangannya besar dan tidak merata
  • Konformasi sempurna, tidak ada cacat
  • Dijual pada tempat yang memiliki pendingin dan penutup
  • Bersih dari kotoran
  • Tidak dijumpai bulu jarum pada karkas/daging ayam
Daging ayam bangkai atau disebut TIREN, ayam mati yang dipotong selain tidak halal juga berbahaya bagi konsumen karena dapat mengandung penyakit yang dapat menular kepada manusia. Darah merupakan media yang baik untuk berkembangbiaknya kuman/bibit penyakit. Pada ayam yang disembelih darah dikeluarkan sebanyak mungkin, sehingga karkas tidak mudah busuk. Sementara pada daging ayam TIREN darah tidak dikeluarkan sehingga menjadi media yang baik untuk pertumbuhan kuman, dan daging akan cepat busuk. Ciri-ciri karkas ayam bangkai adalah:
  • Kulit bercak-bercak merah, pada bagian kepala dan leher berdarah
  • Bagian dalam karkas berwarna merah
  • Baunya anyir, tidak seperti karkas ayam normal
  • Otot pada dada agak lembek
  • Serabut otot berwarna kemerahan
  • Pembuluh darah di leher penuh dengan darah
  • Bekas pemotongan di leher regangannya kecil dan rata
  • Bercak kemerahan lama-kelamaan menjadi biru lebam
Formalin atau formaldehid adalah bahan kimia berbentuk cair yang digunakan untuk mengawetkan mayat atau spesimen biologi untuk penelitian, disinfektan anti fungal (jamur) dan juga bahan kimia industri. Formalin berbau tajam khas, menyebabkan iritasi pada kulit, selaput lendir hidung dan mata dan bersifat karsinogenik (pemicu tumbuhnya kanker pada jaringan hidup). Karena itu formalin tidak layak dan memang tidak diperuntukkan sebagai bahan pengawet makanan. Sering ditemukan kasus pemakaian formalin untuk daging ayam. Ciri-ciri daging ayam yang diawetkan dengan formalin yaitu:
  • Kulit ayam terasa agak peret
  • Lalat tidak mau hinggap pada karkas/daging
  • Bau formalin yang khas kadang dapat tercium
  • Daging/karkas dijual tanpa didinginkan
  • Daging terlihal pucat
Karkas/daging ayam yang disuntik merupakan daging yag tidak sehat karena air yang disuntikkan mengandung kuman, selain itu dipastikan suntikan yang dipakai pun tidak bebas dari kuman. Dan kuman akan berkembangbiak didalam daging. Praktek ini merupakan tindak penipuan terhadap konsumen. Ciri-ciri daging ayam yang disuntik adala sebagai berikut:
  • Daging/karkas terlihat kekar/gemuk secara tidak lazim
  • Konsistensi seperti balon berisi air/angin
  • Jika dipotong akan kempes dan keluar angin/air
  • Jika digoreng seperti menggoreng air
Karkas/daging ayam yang sehat adalah yang tidak diberi pewarna. Praktek pemberian warna kuning pada karkas ayam sering dilakukan agar daging ayam yang dijual tampak seperti daging ayam kampung. Pewarnaan pada daging ayam juga dapat digunakan untuk menyamarkan ciri-ciri daging ayam bangkai. Hal ini jelas merupakan suatu tindak penipuan terhadap konsumen, lebih-lebih jika pewarna yang digunakan bukan pewarna pangan melainkan pewarna untuk tekstil yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika termakan. Walaupun razia sering dilakukan, masih sering terjadi kasus penipuan terhadap konsumen dan pemalsuan daging ayam. Untuk itu konsumen diminta waspada dalam membeli karkas/daging ayam.
Dewasa ini marak terjadi penularan flu burung/Avian Influenza(AI) dari unggas ke manusia. Masyarakat khawatir mengenai penularan AI melalui daging atau telur ayam/unggas. AI bukanlah Foodborne Disease (penyakit yang menular melalui makanan). Masyarakat tidak perlu khawatir mengonsumsi daging/telur ayam selama daging/telur tersebut dimasak hingga matang dan melaksanakan perilaku hidup sehat. Virus Avian Influenza jika terdapat pada daging ayam akan mati dalam suhu 80oC selama 1 menit, sedangkan pada telur ayam  virus tersebut akan mati pada suhu 64oC selama 4,5 menit.
sumber : Disnak dan Keswan Prov. Jateng

Penyakit Brucellosis Pada Ternak

Penyakit Keluron Menular (Brucellosis) adalah infeksi kronis (menahun), terutama pada sapi dan kerbau yang menyerang organ reproduksi dan menyebabkan keguguran.

 Penyebab Brucellosis :

  1. Pada Sapi                    : Kuman Brucella Abortus
  2. Pada Domba/Kambing : Kuman Brucella Militensis
  3. Pada Babi                    : Kuman Brucella Suis

 Cara Penularan : Penularan pada hewan terjadi melalui :

  • - Saluran Pencernaan
  • - Saluran Kelamin
  • - Saluran Selaput Lendir
  • - Kulit yang Luka

Sumber Penularan

  • Kotoran dan air seni hewan yang terinfeksi
  • Reruntuhan cairan sisa-sisa abortus dari hewan terinfeksi

Gejala Klinis

Pada sapi tanda-tanda klinis utama ialah :

  • Keluron menular yang dapat diikuti dengan kemajiran temporer atau permanen, keluron terjadi   pada kebuntingan 5-8 bulan
  • Produksi air susu turun
  • Mengeluarkan cairan vaginal yang bersifat infeksius dan berwarna keruh
  • Pada kelenjar susu tidak menunjukkan gejala klinis meski di dalam air susu terdapat kuman Brucella. Hal ini dapat menyebabkan penularan pada manusia (menyebabkan demam undulan), meskipun tidak sampai menyebabkan keguguran pada ibu hamil.
  • Hewan jantan memperlihatkan gejala epididimis dan orchitis (infeksi pada epididimis dan testis)

Kelainan Pasca Mati :

Perubahan yang terlihat adalah :

1. Perubahan pada placenta dengan bercak-bercak pada lapisan permukaan chorion.

2. Cairan janin terlihat keruh berwarna kuning coklat dan kadang bercampur nanah

3. Pada hewan jantan ditemukan proses pernanahan pada testikelnya, diikuti dengan nekrose.

Diagnosa

Dugaan adanya Brucellosis timnbul apabila ditemukan apabila ditemukan keluron dalam kelompok ternak yang diikuti menghilangnya penyakit itu. Diagnosa pada hewan berdasarkan pada :usu

  • Gejala klinis dan uji serologis
  • Isolasi dan identifikasi kuman brucella

Diagnosa Banding

Pada sapi Keluron yang disebabkan oleh kuman dikelirukan dengan Campylobacter fetus atau Trichomonas Fetus.  Keluron Campylobacter fetus terjadi setiap waktu, Trichomonas Fetus terjadi pada kebuntingan dini sedangkan oleh Brucella terjadi pada lebih dari 6 bulan.

Pencegahan

Usaha-usaha pencegahan terutama ditujukan kepada tindakan sanitasi dan tata laksana :

  • Tindakan sanitasi, antara lain : sisa abortus dihapus hamakan, fetus dan placenta dibakar, hindarkan perkawinan antara pejantan dengan betina yang mengalami keluron, anak-anak hewan yang lahir dari induk menderita brucellosis sebaiknya diberi susu dari induk yang bebas brucellosis, hewan penderita pada sapi perah dilaksanakan pemotongan bersyarat, dan peralatannya harus dicuci dan dihapushamakan, ternak pengganti jangan segera di masukkan.
  • Ternak pengganti yang tidak punya sertifikat bebas brucellosis dapat dimasukkan bila setelah diuji serologis negatif. Sedangkan yang mempunyai sertifikat bebas brucellosis dilakukan uji serologis dalam selang waktu 60 sampai 120 hari setelah dimasukkan dalam kelompok ternak.
  • Pengawasan lalu lintas ternak dilakukan secara seksama.
  • Pelaksanaan perkawinan secara Inseminasi Buatan.

Pengendalian dan Pemberantasan

Pada kelompok sapi tertular ringan :

  • Dilakukan uji serologis untuk penentuan reaktor
  • Reaktos-reaktor harus dikeluarkan dan dipotong (Test and Slaughter)
  •  

Pengobatan

Belum ada obat efektif untuk Brucellosis

 selengkapnya dapat didownload disini

Sejarah Inseminasi Buatan di Indonesia

untitled Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 1950-an oleh Prof. B. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI) didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati), Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan Bali (Baturati). Juga FKH dan LPP Bogor, difungsikan sebagai stasiun IB untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya, Aktivitas dan pelayanan IB waktu itu bersifat hilang, timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.

Kekurang berhasilan program IB antara tahun 1960-1970, banyak disebabkan karena semen yang digunakan semen cair, dengan masa simpan terbatas dan perlu adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. Disamping itu kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan kurang dapat perhatian.

Dengan adanya program pemerintah yang berupa Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dimulai tahun 1969, maka bidang peternakan pun ikut dibangun. Tersedianya dana dan fasilitas pemerintah akan sangat menunjang peternakan di Indonesia, termasuk program IB. Pada awal tahun 1973 pemerintah measukan semen beku ke Indonesia. Dengan adanya semen beku inilah perkembangan IB mulai maju dengan pesat, sehingga hampir menjangkau seluruh provinsi di Indonesia.

Semen beku yang digunakan selama ini merupakan pemberian gratis pemerintah Inggris dan Selandia Baru. Selanjutnya pada tahun 1976 pemerintah Selandia Baru membantu mendirikan Balai Inseminasi Buatan, dengan spesialisasi memproduksi semen beku yang terletak di daerah Lembang Jawa Barat. Setahun kemudian didirikan pula pabrik semen beku kedua yakni di Wonocolo Suranaya yang perkembangan berikutnya dipindahkan ke Singosari Malang Jawa Timur.

Hasil evaluasi pelaksanaan IB di Jawa, tahun 1972-1974 menunjukkan angka konsepsi yang dicapai selama dua tahun tersebut sangat rendah yaitu antara 21,3 – 38,92 persen. Dari survei ini disimpulkan juga bahwa titik lemah pelaksaan IB, tidak terletakpada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi IB, perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit, sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit, pada kualitas semen, tidak pula pada keterampilan inseminator, melainkan sebagian besar terletak pada ketidak suburan ternak-ternak betina itu sendiri. Ketidak suburan ini banyak disebabkan oleh kekurangan pakan, kelainan fisiologi anatomi dan kelainan patologik alat kelamin betina serta merajalelanya penyakit kelamin menular. Dengan adanya evaluasi terebut maka perlu pula adanya penyemopurnaan bidang organisasi IB, perbaikan sarana, intensifikasi dan perhatian aspek pakan, manajemen, pengendalian penyakit dengan dipergunakannya nitrogen cair sebagai bahan pembeku, yang menghasilkan daya simpan yang lebih lama dan lebih praktis, dengan suhu penyimpanan -169 0C.

Siklus Estrus pada Sapi

DSC00501(3) Pada sapi pubertas bervariasi menurut bangsa dan tingkat nutrisi. Sapi Holstein memperlihatkan birahi pertama pada umur rata-rata 37 minggu apabila tingkat nutrisi baik, dan 49 minggu bila nutrisinya sedang, serta 72 minggu bila tingkat nutrisi rendah. Panjang siklus estrus rata-rata 20 hari, dan 21 sampai 22 hari untuk sapi dewasa. Periode estrus pada sapi dapat dinyatakan saat dimana sapi betina siap sedia dinaiki baik oleh betina lain atau pejantan. Periode ini rata-ratanya adalah 18 jam untuk sapi perah ataupun sapi pedaging dan sedikit lebih pendek untuk sapi heifer sekitar 12-24 jam. Ovulasi normal terjadi kira-kira 10-15 jam setelah birahi.

 

Saat perkawinan. Konsepsi masih dapat terjadi pada sapi yang dikawinkan mulai dari 34 jam sebelum ovulasi sampai menjelang 14 jam menjelang ovulasi. Disarankan bahwa spermatozoa harus hadir sekurangnya 6 jam di dalam uteruys sebelum mampu membuahi sebuah ovum. Perdarahan dari vulva sering terjadi pada heifer dan dewasa, satu sampai tiga hari setelah berakhirnya estrus.

 

Sapi Bali betina rata-rata mencapai dewasa kelamin pada umur 18 bulan, dengan siklus estrus rata-rata 18 hari. Sedang pada usia muda berkisar antara 20-21 hari dan 16-23 hari pada sapi bali betina dewasa. Lama masa birahi sangat panjang, yaitu sekitar 16-23 jam dengan masa subur 18-27 jam (Pane, 1977 dalam Murtidjo, 1990). Lama keuntungan sapi bali berkisar 280 – 294 hari, sedang prosentase kebuntingan sebesar 86,56 persen. Tingkat kematian pada saat melahirkan tergolong kecil, yaitu berkisar 3,65 persen. Selain itu persentase kelahiran dari jumlah sapi Bali yang dikawinkan mencapai 83,4 persen.

Pada dasarnya tidak banyak jauh berbeda siklus estrus antara sapi eropa dengan sapi lokal indonesia,yang berbeda hanya proses pertumbuhannya yaitu pertambahan berat badan dengan Berat badan sapi janatan dewasa bisa mencapai 1–1,2 ton, dengan tingkat pertumbuhan yang sangat cepat, yaitu rata-rata pertambahan berat badan per hari dapat mencapai 1 -1,2 Kg/ekor/hari. panjang siklus estrus sekitar 21 hari

Sejarah Inseminasi Buatan

IB pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdiknya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisah awal tentang IB, dan setelah itu tidak lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan teknik tersebut.

Back To Top