Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Tinjauan Pustaka Ayam Bangkok

Ayam Bangkok sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia, biasanya digunakan sebagai pejantan karena memiliki berbagai keistimewaan yaitu bentuk tubuh yang ramping , memiliki daya tahan berlaga yang tinggi dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi (Badaruddin, Syamsuddin, Astuty dan Pagala, 2017).


Sumber Foto 

Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada daya adaptasi tinggi karena mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan perubahan iklim, memiliki bentuk badan yang besar, kompak dan susunan otot yang baik serta daging ayam Bangkok banyak digemari oleh masyarakat (Alfian, Dasrul, Azhar, 2017).

Ayam Bangkok mempunyai ciri diantaranya, postur tubuh tegap besar, tinggi mencapai 50-60 cm, jengger tidak bergerigi dan terbagi menjadi tiga baris, paha gepeng tapi kokoh dan kulit berwarna kemerah-merahan serta bulu bewarna hitam dengan kerlip bulu kuning keemasan (Sitanggang, Hasnudi dan Hamdan, 2016).


 

Sumber :

Alfian, Dasrul dan Azhar. 2017. Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin dan Nilai Hematrokrit pada Ayam Bangkok, Ayam Kampung dan Ayam Peranakan. JIMVET 1(3): 533-539.

Badaruddin, R., Syamsuddin., F. Astuty dan M.A. Pagala. 2017. Performa Penetasan Telur Hasil Persilangan Ayam Bangkok dengan Ayam Ras Petelur. JITRO 4 (2): 1-9.

Sitanggang, E.N., Hasnudi dan Hamdan. 2016. Keragaman Sifat Kualitatif dan Morfometrik antara Ayam Kampung, Ayam Bangkok, , Ayam Katal, Ayam Birma, Ayam Bangon dan Mangon di Medan.Jurnal Peternakan Integratif 3(2): 167-189.

 

Tinjauan Pustaka Ayam Jawa Super

Ayam Jawa Super merupakan hasil persilangan antara pejantan ayam Bangkok dengan betina ayam ras petelur (Kholik, Sujana, dan Setiawan, 2016). Ayam Jawa Super memiliki ciri yang berbeda dengan ayam kampung, salah satunya memiliki waktu pemeliharaan yang relatif singkat (Suarjaya dan Nuriyana, 2010). Kelebihan ayam Jawa Super jika dibandingkan dengan ayam kampung adalah bobot badan lebih besar, nilai konversi pakan lebih rendah serta nilai mortalitas yang lebih rendah (Gunawan dan Sartika, 2001).

Populasi dan permintaan ayam Jawa Super semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Badan Statistik bahwa produksi daging ayam kampung di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 296,19 ton atau naik 3,93% dari tahun 2016 . Dengan masa pemeliharaan hanya 60 hari menjadikan ayam Jawa Super jenis ayam penghasil daging yang memiliki tekstur seperti daging ayam kampung dengan proses produksi yang terbilang cepat (Suarjaya dan Nuriyana, 2010).

Ayam Jawa Super termasuk dalam golongan ayam bukan ras atau ayam buras. Karakteristik dari ayam Jawa Super adalah dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan bobot seragam, laju pertumbuhan lebih cepat daripada ayam kampung, memiliki tingkat kematian yang rendah, mudah beradaptasi dengan lingkungan serta memiliki citarasa seperti ayam kampung (Yunus, 2003). Umur panen ayam Jawa Super yaitu kurang lebih dua bulan. Ayam Jawa Super pada umur 8 minggu pertumbuhannya hampir sama dengan umur 5-6 bulan ayam kampung pada umumnya. Optimalitas performans ayam Jawa Super hanya dapat terealisasi apabila diberi ransum bermutu (Abun, Denny, dan Deny, 2007).


Sumber :

Abun., R. Denny dan S. Deny., 2007. Efek Pengolahan Limbah Sayuran Secara Mekanis Terhadap Nilai Kecernaan Pada Ayam Kampung Super JJ-101. Jurnal Ilmu Ternak. 7 (2) : 81 – 86.

Gunawan, B dan T. Sartika. 2001. Persilangan Ayam Pelung Jantan X Kampung Betina Hasil Seleksi Generasi Kedua (G2). Balai Penelitian Ternak. Bogor

Kholik, A., E. Sujana dan I. Setiawan. 2016. Peforma Ayam Hasil Persilangan Pejantan Bangkok dengan Betina Ras Petelur Strain Lohman. Students e-Journal. 5(2): 1-13.

Suarjaya dan M. Nuriyana. 2010. Pengaruh Ketinggian Tempat (altitude) dan Tingkat Energi Pakan Terhadap Penampilan Ayam Buras Super Umur 2-7 minggu. Fakultas Peternakan, Universitas Udayana. Denpasar, Bali.

Yunus, F. 2003 . Strategi Pengembangan Backyard Farm "Ayam Kampung Super" . Makalah Seminar Nutrisi Event - 2003 . Jatinangor, Sumedang . I IOktober 2003 . Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran.

Potensi Urea Molasses Blok (UMB) Untuk Pakan Sapi dan Kambing

Urea molases blok adalah pakan suplemen untuk ternak ruminansia,berbentuk padat yang kaya dengan zat-zat makanan, terbuat dari bahan utama molase (tetes tebu) sebagai sumber energi, pupuk urea sebagai sumber nitrogen (protein), bahan lain seperti garam dapur, ultra mineral, kapur sebagai pelengkap zat-zat makanan, serta bahan pengisi dan penyerap molase seperti dedak, konsentrat. Pakan suplemen ini dapat juga disebut sebagai “permen jilat” untuk ternak atau “permen kambing”(Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, 1990)

UMB merupakan pakan pemacu atau pakan tambahan/suplemen protein/non protein nitrogen, energi dan mineral yang banyak dibutuhkan ternak ruminansia, berbentuk padat yang kaya dengan zat-zat makanan (Hatmono dan Indriyadi, 1997). 

Hatmono dan Indriyadi (1997) menyatakan bahwa, sumber energi dan protein perlu tersedia dalam komposisi pakan yang bermutu untuk mendukung proses pencernaan yang efisien, Urea digunakan dalam UMB sebagai sumber nitrogen non protein (NPN) yang di perlukan dalam proses fermentasi dalam rumen sehingga sangat bermanfat bagi ternak ruminansia Penggunaan UMB sebagai pakan suplemen dengan kadar protein, energi dan mineral yang cukup dapat digunakan untuk ternak-ternak yang dikandangkan ataupun yang digembalakan. 

Beberapa manfaat UMB untuk ternak antara lain adalah meningkatkan konsumsi pakan, meningkatkan kecernaan zat-zat makanan, meningkatkan produksi ternak (Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, 1990). 

Hatmono dan Indriyadi (1997), dosis pemberian UMB 120 gr/ekor/hari untuk ternak kecil (kambing dan domba). Pakan tambahan ini dikonsumsi ternak dengan cara menjilat dan diberikan dengan cara meletakkan di tabung bambu atau kotak pakan. Pakan tambahan ini diberikan pada pagi hari dengan jumlahnya sesuai dengan tingkat konsumsi yang dianjurkan pada setiap jenis ternak, walaupun ukuran UMB melebihi kebutuhan maka biasanya ternak akan membatasi sendiri. 

Berikut ini merupakan batasan penggunaan bahan baku penyusunan UMB yang dapat dilihat pada Tabel.

Batasan Penggunaan Bahan Baku dalam Penyusunan UMB 

Bahan Baku - Persentase (%) 

Molasses - 15-75% 

Urea - 3-15% 

Bahan pengisi - 20-60% 

Bahan pengeras (semen) - 1-10% 

Mineral campuran - 2-10% 

Sumber: Nista, dkk (2007)


Bahan yang digunakan untuk membuat UMB terdiri dari: 

a. Molases merupakan komponen utama dalam pembuatan UMB. Bahan ini digunakan karena mengandung karbohidrat sebagai sumber energi dan mineral. 

b. Urea sebagai sumber nitrogen yang diperlukan pada proses fermentasi dalam rumen.

c. Bahan pengisi, ditambahkan agar dapat meningkatkan kandungan zat- zat makanan dan untuk menjadikan UMB menjadi bentuk padat dan kompak. Bahan ini dapat berupa dedak padi, dedak gandum, bungkil kelapa, bungkil biji kapuk, bungkil kedelai, ampas tebu, ampas tahu atau bahan lain yang murah dan mudah didapat. 

d. Bahan pengeras, penambahan ini dimaksudkan untuk menghasilkan UMB yang keras, bahan-bahan ini juga mengandung mineral terutama Calsium (Ca) yang cukup tinggi, bahan pengeras antara lain tepung batu kapur dan semen (Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, 1990).


Sumber :

Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. 1990. Teknologi Penyuluhan Peternakan. Kabupaten Brebes

Hatmono, H dan H. Indriyadi, 1997. Urea Molases Blok Pakan Suplemen Ternak Ruminansia. Trubus Agiwidya. Unggaran.

Nista, D., H. Natalia, dan A. Taufik. 2007. Teknologi Pengolahan Pakan. Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa, Sumatra Selatan. Palembang.




Urea Sebagai Campuran Ransum Untuk Pakan Ruminansia

Urea banyak digunakan dalam ransum ternak ruminansia karena mudah diperoleh, harganya murah dan sedikit resiko keracunan yang diakibatkannya. Secara fisik urea berbentuk kristal berwarna putih (Sodiq dan Abidin, 2002). 

Urea merupakan salah satu sumber Non Protein Nitrogen (NPN) yang mengandung 41- 45 % N. Disamping itu penggunaan urea dapat meningkatkan nilai gizi makanan dari bahan yang berserat tinggi serta berkemampuan untuk merenggangkan ikatan kristal molekul selulosa sehingga memudahkan mikroba rumen memecahkannya (Basya, 1981). 

Parakkasi (1999) mengemukakan bahwa pada penambahan urea sebagai sumber NPN ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu pemberian urea tidak melebihi sepertiga bagian dari total N (protein equivalen), pemberian urea tidak lebih dari 1% ransum lengkap atau 3% campuran penguat sumber protein, urea hendaknya dicampur sehomogen mungkin dalam ransum dan perlu disertai dengan penambahan mineral.

Urea bila diberikan kepada ruminansia akan melengkapi sebagian dari protein hewan yang dibutuhkan, karena urea tersebut disintesa menjadi protein oleh mikroorganisme dalam rumen. Urea dapat digunakan untuk pakan ternak ruminansia dengan manfaat utamanya sebagai sumber non protein nitrogen (NPN). Urea dalam proporsi tertentu mempunyai banyak dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna (Kartadisastra, 1997). 

Penelitian Musofie dkk, (1987) menghasilkan suatu kenyataan bahwa pemberian urea yang tergabung di dalam UMB berakibat meningkatnya konsentrasi amonia di dalam cairan rumen.


Sumber :

Basya S. 1981. Penggunaan dan Pemberian Urea sebagai Bahan Makanan Ternak. Lembaran LPP XI (2-4).

Kartadisastra, H. R., 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta.

Musofie, A., Y.P.Achmanto, S. Tedjoweiono, dan H. Sutanto. 1987. Respon Sapi Madura terhadap Pemberian Pucuk Tebu dengan Suplementasi Urea Molases Blok dan Konsentrat. Prosiding. Bioconversion Project Second Workshop on Corp Redues for feed and Other Purpose. Grati

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Sodiq, A dan Z. Abidin. 2002. Penggemukan Domba. Agromedia Pustaka. Jakarta

Potensi Dedak Padi untuk Pakan Sapi dan Kambing

Dedak padi merupakan hasil ikutan penggilingan padi yang berasal dari lapisan luar beras pecah kulit dalam proses penyisihan beras. Proses pengolahan gabah menjadi beras akan menghasilkan dedak padi kira-kira sebanyak 10% pecahan-pecahan beras atau menir sebanyak 17%, tepung beras 3%, sekam 20% dan berasnya sendiri 50%. Persentase tersebut sangat bervariasi tergantung pada varietas dan umur padi, derajat penggilingan serta penyisihannya (Grist, 1972). 

Menurut Dewan Standarisasi Nasional (2001) mengandung energi metabolis sebesar 2980 kkal/kg, protein kasar 12,9%, lemak kasar 13%, serat kasar 11,4%, Ca 0,07%, P tersedia 0,22%, Mg 0,95% dan kadar air 9%. Dedak padi merupakan limbah dalam proses pengolahan gabah menjadi beras yang mengandung “bagian luar” beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur pula dengan bagian penutup beras itu. Hal inilah yang mempengaruhi tinggi atau rendahnya kandungan serat kasar dedak (Rasyaf, 2002). 

Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai ciri fisik seperti baunya khas, tidak tengik, teksturnya halus, lebih padat dan mudah digenggam karena mengandung kadar sekam yang rendah, dedak yang seperti ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi (Rasyaf, 2002). Anggorodi (1994) menyatakan bahwa, dedak padi yang berkualitas tinggi mempunyai kandungan sekam lebih rendah.


Sumber :

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Dewan Standarisasi Nasional (DSN). 2001. Dedak Padi/ Bahan Baku Pakan.

Grist, D.H., 1972. Rice. 4th Ed. Lowe and Brydine Ltd, London.

Rasyaf, M., 2002. Beternak Unggas Komersil. Kanisius. Jakarta.


Metode Pembuatan Urea Molasses Blok (UMB)

Ada beberapa macam cara pembuatan UMB terutama yang menyangkut teknis pemanasan dan jumlah molases yang digunakan yaitu: 

a. Cara dingin, pembuatan dengan cara ini dilakukan hanya dengan mencampur molases dan urea dengan bahan-bahan lain sebagai bahan pengisi, pengeras dan urea dengan bahan tambahan lainnya, sampai terjadi adonan yang rata, kemudian dipadat dengan cetakan. Cara ini dapat dilaksanakan apabila molases yang digunakan berjumlah sedikit. 

b. Cara hangat yaitu dengan memanaskan molases terlebih dahulu dengan suhu 40-50ºC, kemudian dicampur urea, bahan pengisi dan pengeras serta bahan lain. Setelah adonan ini rata, dicetak dan dipadatkan. 

c. Cara panas, pembuatan UMB dengan cara ini, adonan yang terdiri dari molases yang digunakan dalam jumlah banyak. Dengan cara ini, adonan yang terdiri dari molase dan bahan-bahan pengisi, dipanaskan dengan merebusnya pada suhu 100-120ºC selama 10 menit, setelah agak dingin (sekitar 70ºC) dicampur dengan urea dan bahan-bahan pengeras, kemudian dituangkan dalam cetakan dan dipadatkan (Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, 1990). 

Bentuk UMB yang padat dan keras, bertujuan agar ternak mau “menjilati” bahan ini sesuai dengan kebutuhan biologisnya, sehingga ternak akan mengkonsumsi zat-zat makanan yang berasal dari bahan suplemen ini meskipun secara sedikit demi sedikit namun berlangsung terus menerus (Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, 1990). Tentang jumlah dan besarnya UMB yang diberikanpada ternak, bergantung pada kehendak peternak yang disesuaikan dengan efisiensi kerja peternak.


Sumber :

Dinas Peternakan Kabupaten Brebes. 1990. Teknologi Penyuluhan Peternakan. Kabupaten Brebes

Apa itu Molases ?

Molases 


Molases adalah hasil ikutan dari limbah pengolahan tebu yang berwarna hitam kecoklatan dengan kandungan gizi yang cukup baik didalamnya sehingga baik digunakan sebagai bahan tambahan pakan ternak. Keuntungan penggunaan molases untuk pakan adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai gula), kadar mineral cukup dan disukai ternak (Yudith, 2010). 

Winarno (1981) menyatakan bahwa molases mengandung gula mencapai 50% dalam bentuk sukrosa, protein kasar 2,5-4,5% dengan asam amino yang terdiri dari asam amino aspartat, glutamat, pirimidin, karboksilat, asparagin dan alanin. Gula pereduksi tersebut mudah dicerna dan dapat diserap langsung oleh darah, digunakan untuk keperluan energi. 

Molases banyak dimanfaatkan dan digunakan secara langsung sebagai pupuk, pakan ternak dan bahan baku industri fermentasi. Terdapat beberapa cara penggunaan molases untuk makanan ternak antara lain, diberikan sebagai komponen secara terpisah dari komponen lain, diberikan dengan campura urea, diberikan bersama-sama dengan campuran komponen lainnya seperti biji-bijian, tongkol jagung dan lain sebagainya (Paturau, 1982).


Sumber :

Paturau, J. 1982. By Products of the Cane Sugar Industry, Second edition. Elsevier.

Winarno, F.G. 1981. “Food Additives” Amankah Bagi Kita? Kumpulan dan Gagasan Tertulis 1978-1981. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yudith, T. A., 2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase Pertumbuhan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan



Kualitas Fisik Urea Molasses Blok (UMB)

Salah satu pengujian kualitas UMB adalah dengan pengamatan secara fisik UMB. Uji kualitas fisik atau uji organoleptik adalah pengujian yang meliputi uji fisik dan penginderaan. Nurani dan Nawansih (2006) mengemukaan bahwa uji organoleptik merupakan pengujian yang bersifat multidisiplin yang menggunakan kepekaan panca indera manusia sebagai panelis dalam menetukan tingkat penerimaan suatu produk. 

Menurut Saleh (2004) bagian organ tubuh yang berperan dalam penginderaan adalah mata, telinga, indera pencicip, indera pembau dan indera perabaan atau sentuhan. Kemampuan alat indera memberikan kesan atau tanggapan dapat dianalisis atau dibedakan berdasarkan jenis kesan. Kemampuan memberikan kesan dapat dibedakan berdasarkan kemampuan alat indera memberikan reaksi atau rangsangan yang diterima. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan mendeteksi (detection), mengenali (recognition), membedakan (disecrimination), membandingkan (scaling) dan kemampuan menyatakan suka atau tidak suka (hedonik). 

Kualitas fisik dapat dilihat dari warna, bau, rasa dan tekstur. Oktavia (2013) menyatakan bahwa UMB memiliki kualitas fisik yang dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Kualitas Fisik UMB

UMB yang Berkualitas Baik ----- UMB yang Berkualitas Buruk 

Berwarna coklat ---- Belang berbintik putih 

Beraroma khas molases ---- Tengik 

Memiliki rasa manis atau sedikit asam ---- Memiliki rasa sangat asam 

Memiliki tekstur kesat, padat (tidak mudah pecah) dan tidak berlendir ---- Memiliki tekstur basah, mudah pecah dan berlendir 

Sumber: Oktavia (2013)



Sumber :

Nurani, F., dan O, Nawansih. 2006. Buku Ajar Uji Sensori. UniversitasLampung. Bandar Lampung.

Oktavia. 2013. Kualitas Fisik Urea Molases Blok. http://oktaviamutiariniblogspot. com/2013/01/umb-urea-molases-blok. html. diakses 04 Juli 2018.

Saleh. 2004. Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.





Lamtoro sebagai Pakan Ternak Ruminasia

Lamtoro atau yang sering disebut petai cina, atau petai selong adalah sejenis perdu dari famili Fabaceae (Leguminoseae, polong-polongan), yang kerap digunakan dalam penghijauan lahan atau pencegahan erosi. Lamtoro berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah, dimana tanaman ini tumbuh menyebar luas.Penjajah Spanyol membawa biji-bijinya dari Meksiko ke Filipina di akhir abad XVI dan dari tempat ini mulailah lamtoro menyebar luas ke berbagai bagian dunia dan ditanam sebagai peneduh tanaman kopi, penghasil kayu bakar, serta sumber pakan ternak. 

Klasifikasi tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala) menurut Rukmana (1997) adalah: Kingdom: plantae, divisi: spermatophyte, sub- divisi : angiospermae, kelas: magnoliopsida, ordo: fabales, family: fabaceae, genus: leucaena dan species:cLeucaena leucocephala.

Lamtoro merupakan tanaman perdu pohon yang pertumbuhannya mampu mencapai tinggi 5-15 m, bercabang banyak dan kuat, dengan kulit batang abu-abu dan lentikel yang jelas. Daunnya kecil, tulang daun menyirip ganda dua (bipeianantus) dengan 4-9 pasangan sirip yang berjumlah sampai 408 pasang, tiap sirip tangkai daun mempunyai 11-22 helai anak daun. Bunganya merupakan bunga bangkol atau membulat (eappitullum). Batangnya berwarna putih kecoklatan atau cokelat kemerah-merahan. Buah tipis dan datar, berwarna kecoklatan ketika masak. Tumbuh secara liar maupun ditanam pada ketinggian 1200 m (Purwanto, 2007).

Lamtoro dalam istilah ilmiah bernama Leucaena leucocephala. Menurut penyelidikan, daun, bunga, dan buah lamtoro sangat baik bila digunakan sebagai bahan makanan ternak yang dapat membantu menggemukkan ternak. Bila penyebaran pohon lamtoro sudah tersebar luas dan merata, ia dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak yang mudah diperoleh dan murah harganya. Lamtoro dapat digunakan sebagai bahan baku makanan ternak, baik yang diberikan secara langsung yaitu sebagai pakan hijauan segar, maupun melalui proses penepungan, tablet atau pellet dan sebagainya (Suprayitno, 1981). 

Tanaman lamtoro diketahui banyak mengandung protein dan sangat baik digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman tersebut mempunyai palatabilitas yang tinggi, pertumbuhannya cepat dan mudah tumbuh serta merupakan tumbuhan yang hidup subur pada daerah tropis. Biasanya peternak menggunakan sistem cut and carry sebagai bahan pakan ternak ruminant (Widodo, 2005). Kandungan nutrien lamtoro adalah protein kasar (PK) 23,7%, serat kasar (SK) 18% dan lemak kasar (LK) 5,8% (Hartadi dkk., 2005). Daun dari legume pohon lamtoro mengandung protein yang relatif rendah tingkat pemecahannya di dalam rumen yang merupakan sumber protein yang bagus untuk ternak ruminansia.


Sumber :

Hartadi, H., S. Reksohadiprojo, dan A.D. Tillman. 2005. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Purwanto, I. 2007. Mengenal Lebih Dekat Leguminoseae Cetakan ke-1, Kanisius, Yogyakarta.

Suprayitno. 1981. Lamtoro Gung dan Manfaatnya. Bhratara. Jakarta.

Widodo, W. 2005. Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak. UMM Press. Malang

Mengenal Daun Mint (Mentha piperita L)

Daun mint merupakan salah satu rempah-rempah yang dapat dimanfaatkan dalam keadaan masih segar maupun dalam keadaan kering. Daun mint biasa digunakan dalam bahan pembuatan makanan/minuman agar makanan/minuman berbau khas dan segar. Daun mint juga terkenal sebagai daun yang dapat memberikan efek rasa dingin pada produk makanan/minuman. Pada daun mint terdapat senyawa mentol dalam jumlah besar sehingga selain menimbulkan efek rasa dingin pada makanan/minuman, daun mint juga menimbulkan rasa pedas apabila penggunaannya berlebihan. 

Alankar (2009) daun mint memiliki berbagai macam ester terutama menthyl asetat dan monoterpen yang menghasilkan flavor (minty) khas. Salah satu senyawa monoterpen yang ada pada tanaman mint adalah mentol. Senyawa ini terbentuk dari geranil pirofosfat (Vickery dan Vickery, 1981) yang merupakan prekusor dari terpen. Geranil pirofosfat akan menjadi senyawa monoterpen seperti terpinolen, piperitenon, pulegnon yang selanjutnya menjadi menton, isomenton dan mentol (Tyler et al., 1988). 

Menurut Adi (2007) daun mint mengandung minyak atsiri 1-2 %, mentol 80-90%, menton, d-pipirition, heksanolfenilasetat, etil amilkarbinol dan neomentol. Daun mint mengandung minyak essensial seperti mentol dan menton, senyawa flavonoid, penolic acid, triterpenes, vitamin C, provitamin A dan beberapa mineral seperti fosfor, besi, kalsium serta potassium (Sastrohamidjojo, 2004). 

Kandungan utama dari minyak daun mint (Mentha piperita L.) adalah mentol, menton dan metil asetat, dengan kandungan mentol tertinggi (73,7-85,8%) (Saputera, 1994). Selain itu, kandungan monoterpene, mentofuran, sesquiterpene, triterpene, flavonoid, karotenoid, tanin dan beberapa mineral lain juga ditemukan dari minyak daun mint (Mentha piperita L.) (Testiningsih, 2015). 

Kandungan polifenol pada daun mint dapat berkisar antara 19%, senyawa daun mint yang bertindak sebagai antioksidan memiliki beberapa senyawa limonene, cineole, menton, mentol serta pulegone (Alankar, 2009). Polifenol (19%), karoten dan tokoferol yang bertindak sebagai antioksidan (Gardiner, 2000). Daun mint (Mentha piperita L.) banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, rokok, pembuatan pasta gigi, minyak angin, balsam dan makanan seperti kembang gula (Hadipoentyanti, 2012). 

Berdasarkan penggunaannya sebagai bumbu, daun mint dapat digunakan untuk bumbu daging, ikan, saus, sup, masakan rebus, cuka, minuman teh, tembakau dan minuman anggur. Ujung daun yang segar dari seluruh jenis mint juga digunakan dalam minum-minuman, buah, saus apel, es krim, jeli, salad dan sayur. Sedangkan, dalam dunia kedokteran, kandungan ekstrak minyak daun mint yang mudah menguap yaitu mentol digunakan untuk sakit perut, pereda batuk, inhalasi, mouthwashes, pasta gigi. 

Daun mint (Mentha piperita L.) digunakan oleh para herbalis sebagai antiseptik, antipruritik dan obat karminatif (Hadipoentyanti, 2012). Sedangkan ekstrak tanamannya terutama daun memiliki kandungan radioprotektif, antioksidan, antikarsinogenik, antialergik, antispasmodik. Selain itu, aroma dari daun mint dapat digunakan sebagai inhalan untuk sesak napas, bahkan teh daun mint juga digunakan untuk pengobatan batuk, bronchitis dan inflamasi pada mukosa oral dan tenggorokan (Datta, 1971).

Sumber :

Adi, L. T. 2007. Terapi Herbal Berdasarkan Golongan Darah. Agro Media Pustaka. Jakarta

Alankar, S. 2009. A Review on Peppermint Oil. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research

Datta, P. K. 1971. Cultivation of Mentha Arvensis in India. The Flavour Industry: 233-245

Gardiner, P. 2000. Peppermint (Mentha piperita). The Center for Holistic Education and Research. Revised May 2:1-22

Saputera, D. 1994. Pengaruh Pemberiaan Sinar Lampu TL dan GA3 terhadap Pertumbuhan dan Produksi minyak Mentha piperita L. di Lembang Bandung. Skripsi

Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Vickery, M. L and Vickery, B. 1981. Secondary Plant Metabolisme. The Mac Millan Comp. New York

Tyler, V. E., Lynn R. B., Robber J. E. 1988. Pharmacognosy. Lea & Febiger. Philadelphia

Back To Top