Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Ikan Sapu-sapu (Lyposarcus pardalis)


Ikan sapu-sapu bukan merupakan jenis ikan asli indonesia, melainkan di introduksi dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Rendahnya persepsi masyarakat terhadap ikan sapu-sapu. Secara sepintas ikan sapu-sapu terlihat kurang menarik karena penampilannya yang menyeramkan. Dalam ukuran besar 30 cm ikan tersebut mempunyai kepala, kulit sisik yang sangat keras dan sulit untuk ditangani (Nurilmala dkk., 2007).

Sistem klasifikasi dari ikan sapu-sapu sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Siluriformes
Famili : Loricariidae
Genus : Liposarcus
Spesies : Liposarcus pardalis

Jenis ikan Plecostomus dapat ditemukan pada berbagai wilayah perairan, seperti aliran sungai yang sempit di pegunungan, muara sungai, bahkan pada perairan dengan tingkat pencemaran tinggi. Karakteristik utama dari golongan Loricariidae adalah mulut penghisap. Bentuk bibir dan mulut memungkinkan ikan untuk makan, bernafas dan menempel pada objek dengan cara menghisap. Ikan sapu-sapu dapat tumbuh mencapai 40 cm (Tjokronegoro, 2007).

Jenis ikan dan kandungan nutrisi dalam ikan menurut Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi (2010) sebagai berikut:
Nama ikan
Nama Latin
Kadar Air
Kadar Abu
Kadar Protein
Kadar Lemak
Jangilus
Istiophorus gladius
72
1
23
43,2
Sapu-sapu
Hyposarcas pardalis
77,5
1,01
19,71
1,73
Lele
Clarias batracus
77,99
1,63
19,91
1,96
Nila Hitam
Oreochromis niloticus
77,8
1,2
18,8
2,8
Manyung
Arius thalasinus
78,1
1,25
12,45
0,55

Download Sumber Artikel (Klik Here)

Ikan Patin (Pangasius sp.)


Ikan patin (Pangasius sp.) adalah salah satu ikan asli perairan Indonesia yang telah berhasil didomestikasi. Jenis–jenis ikan patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, pangasius polyuranodon, Pangasius niewenhuisii. Sedangkan Pangasius sutchi dan Pangasius hypophtalmus yang dikenal sebagai jambal siam atau lele bangkok merupakan ikan introduksi dari Thailand. Klasifikasi ikan patin menurut Saanin (1984) diacu oleh Hernowo (2001) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius sp.

Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm, suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestik. Kepala patin relatif kecil dengan mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung memiliki sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang bergerigi dan besar di sebelah
Universitas sumatera utara belakangnya. Jari-jari lunak sirip punggung terdapat enam atau tujuh buah. Pada punggungnya terdapat sirip lemak yang berukuran kecil sekali. Adapun sirip ekornya membentuk cagak dan bentuknya simetris. Ikan patin tidak memiliki sisik. Sirip duburnya panjang, terdiri dari 30 − 33 jari-jari lunak, sedangkan sirip perutnya memiliki enam jari-jari lunak. Sirip dada memiliki 12 − 13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras yang berubah menjadi senjata yang dikenal sebagai patil (Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, 2011).

Ikan patin hidup di alam bebas dan biasanya bersembunyi di dalam liang liang di tepi sungai atau kali. Ikan ini baru keluar dari liang persembunyiannya pada malam hari atau ketika hari mulai gelap. Hal ini sesuai dengan sifat hidupnya yang nocturnal (aktif pada malam hari). Dari segi rasa, daging ikan patin memiliki karakteristik yang khas. Dari semua jenis ikan keluarga lele-lelean, ikan patin merupakan jenis unggulan dan paling dicari. Dari segi kandungan gizi, nilai protein daging ikan patin cukup tinggi yaitu mengandung 68,6% kandungan lemak sekitar 5,85%, abu 3,5% dan air 59,3% (Zelvina, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan meliputi faktor eksternal dan internal. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan ikan itu sendiri seperti umur dan sifat genetik ikan yang meliputi keturunan, kemampuan untuk memanfaatkan makanan, dan ketahanan terhadap penyakit. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat hidup ikan yang meliputi sifat fisik dan kimia air yaitu suhu air, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, dan lain sebagainya. Ruang gerak dan ketersediaan makanan dari segi kualitas dan kuantitas juga termasuk dalam faktor eksternal (Nugrahaningsih, 2008).

Pemberian pakan yang bergizi tinggi sangat penting dalam usaha budidaya ikan. Menurut Suhenda dkk., (2003) diacu oleh Kordi (2012) pada benih ikan patin dengan 7,6 g/ekor menyatakan bahwa pakan yang mengandung protein 35%, karbohidrat 36% dan lemak 6% memberikan pertumbuhan paling baik bagi benih.

Kelangsungan hidup ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Karena air sebagai media tumbuh sehingga harus memenuhi syarat dan harus diperhatikan kualitas airnya, seperti: suhu, kandungan oksigen terlarut (DO) dan keasaman (pH). Air yang digunakan dapat membuat ikan melangsungkan hidupnya (Effendi, 2003).

Ikan patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air. Artinya ikan ini dapat bertahan hidup di kisaran pH air yang lebar, dari perairanm yang agak asam (pH rendah) sampai perairan basa (pH tinggi), dari 5 sampai 9. Kandungan oksigen (O2) terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan patin berkisar antara 3 − 6 ppm,sedangkan karbondioksida (CO2) yang bisa ditoleran berkisar antara 9 − 20 ppm. Alkalinitas antara 80 − 250. Suhu air media pemeliharaan yang optimum berada dalam kisaran 28 − 30 0C (Khairuman dan Dodi, 2000).

Download Sumber Artikel



Back To Top