Sekilas Peternakan

Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Produksi Bahan Segar dan Kering


Produksi Bahan Segar
Produksi hijauan pakan merupakan produksi kumulatif panen selama satu tahun seluas lahan penanaman. Produksi segar diperoleh dari produk total hijauan saat tanaman dipanen. Bagian tanaman yang dipanen adalah semua bagian areal tanaman yang dipotong pada ketinggian ±10 cm dari tanah kemudian langsung ditimbang. Komponen produksi segar yang paling utama adalah biomassa daun dan batang (Susetyo et al., 2001).

Produksi Bahan Kering
Bahan kering adalah bahan pakan yang tidak mengandung air. Di dalam bahan kering ini sendiri terdapat mineral dan bahan organik (Kartadisastra, 1997). Bahan kering merupakan salah satu hasil dari pembagian fraksi yang berasal dari bahan pakan setelah dikurangi kadar air. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis) (Immawatitari, 2014).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar bahan kering antara lain : jenis tanaman, fase pertumbuhan, waktu pemotongan, air tanah serta kesuburan tanah. Kandungan bahan kering tanaman pada musim penghujan relatif rendah karena pertumbuhan tanaman lebih cepat, air tercukupi dan kondisi lingkungan lembab sehingga transpirasi berkurang (Reksohadiprodjo, 2005).

Proses respirasi masih dapat terjadi pada hijauan segar yang telah dipotong, respiprasi akan mengambil O2 dari lingkungan serta menggunakan cadangan makanan berupa karbohidrat dan bahan lain untuk menghasilkan energi, uap air serta panas. Respirasi adalah salah satu faktor utama kehilangan bahan kering pada proses pengeringan karena proses respiasi menggunakan substrat berupa gula dan asam-asam lainnya. Suhu diidentifikasi sebagai faktor lingkungan utama yang menyebabkan proses respirasi pada produk segar. Reaksi biologisnya meningkat terus dengan bertambahnya suhu lingkungan (naik setiap penambahan suhu 100C) (Ludlow et al., 1980).


Pertumbuhan Tanaman


Pertumbuhan merupakan rangkaian proses fisiologis dalam tanaman berupa perubahan bentuk dan ukuran akibat pembelahan, pembesaran dan perbanyakan sel (Anderson et al., 2001). Pertumbuhan adalah proses dalam kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan ukuran tanaman menjadi semakin besar dan menentukan hasil tanaman. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik akan mempengaruhi proses fisiologi tanaman, sedangkan faktor lingkungan dipengaruhi oleh temperatur, kadar air tanah dan unsur hara (Sitompul dan Guritno, 1995).

Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus menerus seumur hidup. Pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama yaitu faktor eksternal/faktor lingkungan yang terdiri dari iklim (cahaya, suhu, air, panjang hari, angin, gas) edapik atau tanah (tekstur, struktur, bahan organik, kapasitas pertukaran kation, pH, kejenuhan basa dan ketersediaan nutrien tanah). Faktor internal/dari dalam tanaman seperti ketahanan terhadap iklim dan tanah (Gardner et al., 2008).

Semua organisme mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan merupakan proses pertambahan volume dan jumlah sel yang mengakibatkan bertambah besarnya organisme. Pertumbuhan bersifat ireversibel, artinya organisme yang tumbuh tidak akan kembali keukuran semula (Anderson et al., 2001).

Pengukuran hasil proses pertumbuhan dapat diukur melalui pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun, produksi segar, produksi bahan kering, dan diameter tanaman. Parameter berat basah atau berat segar kurang dapat digunakan sebagai ukuran pertumbuhan tanaman, hal ini dikarenakan sering terjadi fluktuasi berat yang bergantung pada kelembapan tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995).

Tinggi Tanaman

Pertumbuhan tanaman didefenisikan sebagai pertambahan ukuran yang dapat diketahui dengan adanya pertambahan panjang, diameter, dan luas bagian tanaman. Tinggi tanaman rnerupakan salah satu kornponen tumbuh pada tanaman, tinggi tanaman juga merupakan indikator yang sering dilihat dalam pertumbuhan tanaman maupun parameter yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan tanaman. Pengukuran dilakukan secara vertikal pada bagian tanaman yang paling tinggi dari permukaan tanah (Harjadi, 1993).


Pueraria javanica


Genus Pueraria berasal dari Asia bagian Timur dan Kepulauan Pasifik. Legum ini bersifat membelit, merambat, dan dapat membentuk semak yang rimbun dengan perakaran yang berbentuk tuber yang kuat dengan pokok akar yang disebut mahkota (crown). Nama lain Pueraria javanica adalah puero atau kacang ruji (Reksohadiprodjo, 2005).

Pueraria javanica digunakan sebagai makanan ternak, sangat palatabel untuk ruminansia (Allen, 1981). Kandungan nutrisi Pueraria javanica terdiri dari protein kasar 20,5 %, serat kasar 37, 9 %, dan lemak kasar 2,0 % (Gohl, 1981), produksi bahan kering dari hijauan Pueraria javanica berkisar antara 5-10 ton/ hektar (Rukmana, 2005).

Pueraria javanica memiliki kultur teknis dikembangbiakkan dengan biji. Puero termasuk tanaman jenis legum berumur panjang yang berasal dari daerah subtropis, tetapi bisa hidup didaerah tropik dengan kelembapan yang tinggi. Tanaman ini tumbuh menjalar (membelit), bisa membentuk hamparan dengan ketinggian 60-75 cm (Sutopo, 1985), tanaman ini mempunyai panjang sulur sekitar 1-3 m (Skerman, 1997). Puero berasal dari india Timur, siklus hidupnya perenial. Ciri-cirinya tumbuh merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan (Soegiri, 1982).
Puero mempunyai stolon yang dapat mengeluarkan akar dari tiap ruas batangnya yang bersinggungan dengan tanah. Perakarannya dalam dan bercabang-cabang, sehingga puero dapat berfungsi sebagai pencegah erosi, tahan musim kemarau yang tidak terlalu panjang. Puero tahan pula terhadap tanah masam dan tanah kekurangan kapur dan fospor, tahan permukaan air yang tinggi, dapat hidup ditanah liat maupun berpasir (Reksohadiprodjo, 2005). Jenis legum ini tergolong tanaman pioner dan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menekan pertumbuhan gulma (Maulidesta, 2005).


Stylosanthes guianensis

Legum Styloshanthes guianensis (Stylo) merupakan salah satu tanaman pakan yang sangat disukai ternak, kaya akan protein dan mineral. Kandungan nutrisi hasil uji lab BPMSP Bekasi Tahun 2015: kadar air 76,63%, abu 10,98%, protein kasar 19,87%, lemak kasar 1,51%, serat kasar 32,27%, Ca 1,82% dan P 0,19%. Stylo ini sangat disukai ternak ruminansia seperti kambing, domba maupun sapi dan kerbau, bahkan dapat digunakan pula sebagai feed suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Tanaman ini dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering yang diproses dalam bentuk tepung daun. Salah satu kelebihan dari legum ini adalah daun dan batang lembut walaupun umur tanaman sudah cukup tua karena panen/ pemotongan yang terlambat, sehingga pemberiannya kepada ternak masih baik dilakukan karena tidak berpengaruh terhadap palatabilitas ternak (Balai Inseminasi Buatan Lembang, 2016).

Sistematika Stylosanthes guianensis adalah Phylum :Spermatophytae, Sub phylum: Angiospermae, Classis: Dicotyledoneae, Ordo: Rosales, Sub Ordo: Rosinae, Famili: Leguminoseae, Sub Famili: Papilionaceae, Genus: Stylosanthes, Species: Stylosanthes guianensis (Reksohadiprodjo, 2005).

Legum stylo (Stylosanthes guianensis) termasuk tanaman berumur panjang (menahun) yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 100–150 cm menyerupai semak. Tanaman ini mempunyai batang yang kasar, berbulu serta rimbun menutupi tanah. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai dan berbentuk elips atau pedang yang ujungnya meruncing. Panjang daun 1-6 cm, agak berbulu dengan tangkai daun panjangnya 1-10 mm. Bunganya berbentuk kupu-kupu kecil tersusun dalam tandan dan berwarna kuning, karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga yang setiap karangan bunga mengandung 40 bunga. Stylo (Stylosanthes guianensis) berbuah polong, setiap polongnya mengandung satu biji yang berwarna coklat kekuningan. Panjang tiap polongnya 2-3 mm, lebarnya 1,5-2,5 mm. Sedangkan system perakarannya luas masuk jauh ke dalam tanah, sehingga tahan terhadap kekeringan (Hardjowigeno, 2003).

Legume stylo dapat tumbuh di tanah yang luas kisaran kondisinya dengan curah hujan sedang sampai tinggi di daerah tropik dan subtropik, sangat toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah (Reksohadiprodjo, 2005). Legume stylo (Stylosanthes guianensis) dapat tumbuh baik pada tanah-tanah kering maupun basah serta cocok ditanam pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan minimal 875 mm setahun dengan ketinggian 0 – 1000 mm di atas permukaan laut. Legume stylo merupakan jenis legume yang memberikan harapan baik untuk sebagian besar daerah di Indonesia (Manetje dan Jones, 2000).

Disamping itu tanaman stylo dapat berfungsi dengan baik terhadap penutupan tanah dengan perakaran yang dalam mampu mencegah terjadinya evaporasi yang berlebihan sehingga lebih memungkinkan tersedianya air dalam tanah yang merupakan faktor penting dalam mekanisme penyerapan hara dimana akar lebih banyak mengabsorbsi hara dalam suasana lembab dari pada bila akar tumbuh dalam suasana kering (Sabiham et al., 2007).

Umur tanaman berpengaruh pada kandungan nutrisi dan produksi legum stylo. Pemotongan lebih awal akan meningkatkan kandungan protein kasar pada daun dan batang, namun menurun pada produksi biomassa dan menurun pada kandungan dinding sel. Pada pemotongan yang lebih lama produksi tanaman meningkat, namun kualitasnya menurun berhubungan dengan kandungan dinding sel meningkat dan kandungan protein kasar menurun (Boschini, 2002).

Legum stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20-25 cm di atas permukaan tanah. Berbeda dengan jenis rumputan, umur panen lebih singkat. Panen pertama 3 bulan (90 hari setelah masa tanam) sedangkan penen berikutnya 30-40 hari pada musim penghujan dan 40-50 hari pada musim kemarau dengan tinggi pemotongan 5-10 cm dari permukaan tanah (Reksohadiprodjo, 2005).

Sumber Artikel (Klik Here)

Stylosanthes guianensis


Legum Styloshanthes guianensis (Stylo) merupakan salah satu tanaman pakan yang sangat disukai ternak, kaya akan protein dan mineral. Kandungan nutrisi hasil uji lab BPMSP Bekasi Tahun 2015: kadar air 76,63%, abu 10,98%, protein kasar 19,87%, lemak kasar 1,51%, serat kasar 32,27%, Ca 1,82% dan P 0,19%. Stylo ini sangat disukai ternak ruminansia seperti kambing, domba maupun sapi dan kerbau, bahkan dapat digunakan pula sebagai feed suplement untuk ternak ayam, babi dan ikan. Tanaman ini dapat diberikan dalam keadaan segar atau kering yang diproses dalam bentuk tepung daun. Salah satu kelebihan dari legum ini adalah daun dan batang lembut walaupun umur tanaman sudah cukup tua karena panen/ pemotongan yang terlambat, sehingga pemberiannya kepada ternak masih baik dilakukan karena tidak berpengaruh terhadap palatabilitas ternak (Balai Inseminasi Buatan Lembang, 2016).

Sistematika Stylosanthes guianensis adalah Phylum :Spermatophytae, Sub phylum: Angiospermae, Classis: Dicotyledoneae, Ordo: Rosales, Sub Ordo: Rosinae, Famili: Leguminoseae, Sub Famili: Papilionaceae, Genus: Stylosanthes, Species: Stylosanthes guianensis (Reksohadiprodjo, 2005).

Legum stylo (Stylosanthes guianensis) termasuk tanaman berumur panjang (menahun) yang tumbuh tegak dengan tinggi dapat mencapai 100–150 cm menyerupai semak. Tanaman ini mempunyai batang yang kasar, berbulu serta rimbun menutupi tanah. Tanaman ini setiap tangkai berdaun tiga helai dan berbentuk elips atau pedang yang ujungnya meruncing. Panjang daun 1-6 cm, agak berbulu dengan tangkai daun panjangnya 1-10 mm. Bunganya berbentuk kupu-kupu kecil tersusun dalam tandan dan berwarna kuning, karangan bunga terdiri dari beberapa kumpulan bunga yang setiap karangan bunga mengandung 40 bunga. Stylo (Stylosanthes guianensis) berbuah polong, setiap polongnya mengandung satu biji yang berwarna coklat kekuningan. Panjang tiap polongnya 2-3 mm, lebarnya 1,5-2,5 mm. Sedangkan system perakarannya luas masuk jauh ke dalam tanah, sehingga tahan terhadap kekeringan (Hardjowigeno, 2003).

Legume stylo dapat tumbuh di tanah yang luas kisaran kondisinya dengan curah hujan sedang sampai tinggi di daerah tropik dan subtropik, sangat toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah (Reksohadiprodjo, 2005). Legume stylo (Stylosanthes guianensis) dapat tumbuh baik pada tanah-tanah kering maupun basah serta cocok ditanam pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan minimal 875 mm setahun dengan ketinggian 0 – 1000 mm di atas permukaan laut. Legume stylo merupakan jenis legume yang memberikan harapan baik untuk sebagian besar daerah di Indonesia (Manetje dan Jones, 2000).

Disamping itu tanaman stylo dapat berfungsi dengan baik terhadap penutupan tanah dengan perakaran yang dalam mampu mencegah terjadinya evaporasi yang berlebihan sehingga lebih memungkinkan tersedianya air dalam tanah yang merupakan faktor penting dalam mekanisme penyerapan hara dimana akar lebih banyak mengabsorbsi hara dalam suasana lembab dari pada bila akar tumbuh dalam suasana kering (Sabiham et al., 2007).

Umur tanaman berpengaruh pada kandungan nutrisi dan produksi legum stylo. Pemotongan lebih awal akan meningkatkan kandungan protein kasar pada daun dan batang, namun menurun pada produksi biomassa dan menurun pada kandungan dinding sel. Pada pemotongan yang lebih lama produksi tanaman meningkat, namun kualitasnya menurun berhubungan dengan kandungan dinding sel meningkat dan kandungan protein kasar menurun (Boschini, 2002).

Legum stylo tidak tahan terhadap pemotongan yang pendek karena harus ada tunas batang untuk pertumbuhan kembali, sehingga pemotongan yang baik dilakukan 20-25 cm di atas permukaan tanah. Berbeda dengan jenis rumputan, umur panen lebih singkat. Panen pertama 3 bulan (90 hari setelah masa tanam) sedangkan penen berikutnya 30-40 hari pada musim penghujan dan 40-50 hari pada musim kemarau dengan tinggi pemotongan 5-10 cm dari permukaan tanah (Reksohadiprodjo, 2005).

Sumber Artikel (Klik Here)

Hijauan Makanan Ternak

Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia dan juga berfungsi sebagai suplai zat gizi seperti protein, energi, vitamin, dan mineral. Penyediaan pakan yag berkesinambungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat produksi seekor ternak (Murtidjo, 2001). Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun, termasuk kedalamnya rumput (gramineae), leguminose dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka. Untuk dapat dijadikan bahan makanan yang sempurna, hijauan harus memenuhi 3 syarat penting, yaitu; mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dicerna, diberikan dalam jumlah yang cukup (Sumaprastowo, 2000).

Leguminosa merupakan tanaman yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bahan organik tinggi dan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah. Mengikat nitrogen dari udara oleh leguminosa dapat membantu meningkatkan ketersediaan hara terutama nitrogen bagi tanaman disampingnya (Mansyur et al., 2005).

Leguminosa memiliki sifat yang berbeda dengan rumput-rumputan. Leguminosa adalah tanaman dikotiledon (bijinya terdiri dari dua kotiledon atau disebut juga berkeping dua. Leguminosa mempunyai sifat-sifat yang baik sebagai bahan pakan dan mempunyai kandungan nutrisi cukup tinggi (Susetyo et al., 2001).

Ditinjau dari bentuknya, tanaman leguminosa dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Leguminosa Pohon; merupakan jenis tanaman leguminosa yang berkayu dan mempunyai tinggi lebih dari 1,5 meter.
2. Leguminosa Semak; merupakan jenis tanaman leguminosa yang mempunyai tinggi kurang dari 1,5 meter. Sifat tumbuhnya memanjat (twinning) dan merambat (trilling) (Dodymisa, 2015).

Sumber Artikel (Klik Here)



Kapasitas Lapang

Kapasitas lapang adalah kondisi ketika komposisi air dan udara di dalam tanah berimbang, biasanya dicapai 2 atau 3 hari sejak terjadi pembasahan atau hujan, dan setelah proses drainase berhenti. Bila tanah dalam keadaan kering, pemberian air ditujukan untuk membasahi tanah sampai mencapai kapasitas lapangan, khususnya disekitar daerah perakaran tanaman. Kandungan air tanah pada kapasitas lapangan sangat tergantung pada berbagai macam faktor, diantaranya tekstur tanah, kandungan air tanah awal, dan kedalaman permukaan air tanah (Kurnia et al., 2014).

Selama air di dalam tanah masih lebih tinggi daripada kapasitas lapang maka tanah akan tetap lembab, ini disebabkan air kapiler selalu dapat mengganti kehilangan air karena proses evaporasi. Bila kelembaban tanah turun sampai di bawah kapasitas lapang maka air menjadi tidak mobile. Akar-akar akan membentuk cabang-cabang lebih banyak, pemanjangan lebih cepat untuk mendapatkan air bagi konsumsinya (Kurnia et al., 2014).

Oleh karena itu akar-akar tanaman yang tumbuh pada tanah-tanah yang kandungan air di bawah kapasitas lapang akan selalu becabang-cabang dengan hebat sekali. Kapasitas lapang sangat penting pula artinya karena dapat menunjukkan kandungan maksimum dari tanah dan dapat menentukan jumlah air pengairan yang diperlukan untuk membasahi tanah sampai lapisan di bawahnya. Tergantung dari tekstur lapisan tanahnya maka untuk menaikkan kelembaban 1 feet tanah kering sampai kapasitas lapang diperlukan air pengairan sebesar 0,5 – 3 inci (Kurnia et al., 2014).

Air merupakan komponen penting dalam tanah yang dapat menguntungkan dan sering pula merugikan. Beberapa peranan yang menguntungkan dari air dalam tanah adalah sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari rhizosfer ke dalam akar tanaman, sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk, perkembangan tanah, sebagai pelarut dan pemicu reaksi kimia dalam penyediaan hara, sebagai penopang aktivitas mikroba dalam merombak unsur hara yang semula tidak tersedia menjadi tersedia bagi akar tanaman, sebagai pembawa oksigen terlarut ke dalam tanah, sebagai stabilisator temperatur tanah dan mempermudah dalam pengolahan tanah (Hanafiah, 2007).

Air di dalam tanah adalah salah satu faktor penting dalam produksi tanaman. Air harus tersedia dalam tanah untuk menggantikan air yang hilang karena evaporasi dari tanah dan transpirasi dari tanaman. Air dalam tanah selalu membawa nutrisi dalam larutannya untuk pertumbuhan tanaman (Thorne, 1979).

Selain beberapa peranan yang menguntungkan, air tanah juga menyebabkan beberapa hal yang merugikan, yaitu mempercepat proses pemiskinan hara dalam tanah akibat proses pencucian yang terjadi secara intensif, mempercepat proses perubahan horizon dalam tanah akibat terjadinya eluviasi dari lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah dan menghambat aliran udara ke dalam tanah apabila dalam kondisi jenuh air yang menjadikan ruang pori secara keseluruhan terisi air sehingga mengganggu respirasi dan serapan hara oleh akar tanaman, serta menyebabkan perubahan reaksi tanah dari reaksi aerob menjadi reaksi anaerob (Yulipriyanto, 2010).

Menurut Hardjowigeno (2003), bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi. Kapasitas lapang adalah jumlah air maksimum yang dapat disimpan oleh suatu tanah. Keadaan ini dapat dicapai jika kita memberi air pada tanah sampai terjadi kelebihan air, setelah itu kelebihan airnya dibuang. Jadi pada keadaan ini semua rongga pori terisi air (Sutanto, 2005).
Setelah semua pori terisi udara (terjadi kapasitas penyimpanan air maksimum) pemberian air dihentikan. Karena adanya gaya gravitasi, gerakan air tanah tetap berlangsung. Gerakan ini makin lama makin lambat dan setelah kurang lebih dua sampai tiga hari gerakan tersebut praktis terhenti, pada keadaan ini air dalam tanah dalam keadaan kapasitas lapang. Jika proses kehilangan air dibiarkan berlangsung terus, pada suatu saat akhirnya kandungan air tanah sedemikian rendahnya sehingga energi potensialnya sangat tinggi dan mengakibatkan tanaman tidak mampu menggunakan air tersebut. Hal ini ditandai dengan layunya tanaman terus menerus, oleh karena itu keadaan air tanah pada keadaan ini disebut titik layu permanen (Sutanto, 2005).

Air tanah yang berada diantara kapasitas lapang dan titik layu permanen merupakan air yang dapat digunakan oleh tanaman, oleh karena itu disebut air tersedia (available water). Perbedaan tekstur, kadar bahan organik dan kematangannya merupakan penyebab berbedanya tingginya kadar air pada masing-masing kondisi kapasitas lapang, titik layu permanen dan air tersedia. Hal ini dikarenakan kandungan air pada saat kapasitas lapang dan titik layu permanen berbeda pada setiap tanah yang memiliki tekstur berbeda. Pada tanah pasir nilai titik layu permanen maupun kapasitas lapang berada pada nilai terendah. Nilai-nilai itu semakin meningkat dengan semakin tingginya kadar debu, liat dan bahan organik tanah (Islami dan Utomo, 2011).

Kadar air tanah dipengaruhi oleh kadar bahan organik tanah dan kedalaman solum, makin tinggi kadar bahan organik tanah akan makin tinggi kadar air, serta makin dalam kedalaman solum tanah maka kadar air juga semakin tinggi (Hanafiah, 2007).      

Sumber Artikel (Klik Here)

Cekaman Kekeringan


Cekaman kekeringan adalah kondisi perubahan lingkungan yang kekurangan air yang akan menurunkan atau merugikan pertumbuhan atau perkembangan tumbuhan. Cekaman kekeringan mempengaruhi semua aspek pertumbuhan dan metabolisme tanaman termasuk integritas membran, kandungan pigmen, keseimbangan osmotik, aktivitas fotosintesis (Anjum et al., 2011; Bhardwaj dan Yadav, 2012), penurunan potensial air protoplasma (Mundre, 2002), penurunan pertumbuhan (Suhartono et al., 2008), dan penurunan diameter batang (Belitz dan Sams, 2007). Jika kebutuhan air tidak dipenuhi maka pertumbuhan tanaman akan terhambat, karena air berfungsi melarutkan unsur hara dan membantu proses metabolisme dalam tanaman (Wayah et al., 2014).

Kebutuhan air pada tanaman dapat dipenuhi melalui tanah dengan jalan penyerapan oleh akar. Besarnya air yang diserap akar tanaman sangat tergantung pada kadar air dalam tanah ditentukan oleh pF ( Kemampuan partikel tanah memegang air), dan kemampuan akar untuk menyerapnya (Jumin, 2008). Cara adaptasi tanaman terhadap kekeringan bervariasi tergantung jenis tumbuhan dan tahap-tahap perkembangan tumbuhan (Anjum et al., 2011).

Respon adaptasi tanaman terhadap cekaman kekeringan dapat berupa respon jangka panjang, seperti perubahan pertumbuhan, dan perubahan biokimiawi. Perubahan pertumbuhan meliputi penurunan pertumbuhan batang dan daun, sedangkan perubahan biokimia dapat berupa akumulasi senyawa organik kompatibel yang berfungsi menjaga keseimbangan osmolit dalam tubuh tumbuhan (Arve et al., 2011). Salah satu senyawa organik kompatibel yang sering diamukulasi oleh tanaman ketika berada pada kondisi kekeringan yaitu prolin (Farooq et al., 2009). Peranan prolin adalah sebagai penampung nitrogen dari berbagai senyawa nitrogen yang berasal dari kerusakan protein, sebagai senyawa pelindung untuk mengurangi pengaruh kerusakan cekaman air di sel (Universitas Gajah Mada, 2016).


Pakan dan Habitat Harimau


Habitat merupakan suatu kawasan yang terdiri dari beberapa kawasan, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup dan berkembangbiaknya satwaliar. Habitat mempunyai fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung. Habitat yang baik bagi satu jenis satwaliar belum tentu sesuai untuk jenis lainnya, karena setiap satwaliar menghendaki kondisi habitat yang berbeda-beda (Alikodra 2002).

Harimau dapat ditemukan di berbagai tipe habitat asal tersedia makanan berupa satwa mangsa yang cukup, terdapat sumber air yang selalu tersedia, dan adanya cover sebagai pelindung dari sinar matahari. Harimau dapat hidup dengan ketinggian antara 0 – 2000 meter di atas permukaan laut (Borner 1978) dengan habitat favorit berupa hutan bersungai, hutan rawa, dan padang rumput (Santiapilai & Ramono 1985).

Kucing besar merupakan karnivora yang cenderung memangsa beberapa jenis mangsa dengan rata-rata 4 jenis satwa mangsa (Kitchener 1991). Beberapa jenis kucing besar merupakan karnivora yang oportunis dalam preferensi satwa mangsa yang dimakannya, dan ukuran maksimum mangsanya berhubungan dengan ukuran tubuhnya. Jumlah pakan yang dimakan kucing besar kurang lebih seperlima dari massa tubuhnya (Schaller 1976).

Untuk memenuhi kebutuhan makannya, harimau berburu 3–6 hari sekali tergantung ukuran mangsanya. Seekor harimau betina dapat membunuh seekor kijang seberat 20 kg tiap dua atau tiga hari sekali atau seekor sambar seberat 200 kg setiap beberapa minggu. Biasanya seekor harimau membutuhkan sekitar 5-6 kg daging per hari sehingga harimau biasanya tidak langsung menghabiskan mangsanya, hanya sekitar 70% mangsa yang dimakan saat itu juga (Seidensticker et al. 1999). Sisa makanan biasanya disimpan dengan cara menutupinya dengan daun-daunan dan ranting untuk dimakan kembali serta agar mangsanya tidak tercium dan dimakan oleh satwa pemangsa lainnya (Hutabarat 2005).

Besarnya jumlah kebutuhan harimau akan mangsa tergantung dari apakah harimau tersebut mencari makan untuk dirinya sendiri atau harimau betina yang harus memberi makan anaknya (Mountfort 1973, diacu dalam Hutabarat 2005). Harimau sumatera merupakan satwa karnivora yang biasanya memangsa babi hutan (Sus scrofa), rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), pelanduk napu (Tragulus napu), tapir (Tapirus indicus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), landak (Hystrix brachyura) dan trenggiling (Manis javanica). Harimau kadang-kadang memangsa kijang dan kambing hutan pada kawasan dengan ketingian lebih dari 600 m dpl. Selain itu juga memangsa jenis-jenis reptil seperti kura-kura, ular dan biawak serta berbagai jenis burung, ikan dan kodok. Hewan peliharaan seperti kambing, domba, sapi dan ayam juga menjadi incaran harimau (Griffith 1997; McDougal 1979; Seidensticker 1986; Lekagul & McNeely 1977). Akan tetapi komposisi jenis pakan terbesar yang dimangsa harimau adalah mamalia khususnya hewan ungulata (Kitchener 1991). Harimau dapat bergerak mengunjungi setiap bagian teritorialnya setiap 10 hari sambil mengikuti hewan mangsanya yang secara terus-menerus bergerak aktif ketika harimau aktif bergerak mengejar mangsanya tersebut (Jackson 1990).

Tidak seperti keluarga kucing yang lain, harimau sangat menyukai air dan dapat berenang (Lekagul & McNeely 1977). Bahkan harimau sumatera biasa menyeberangi sungai untuk menjangkau habitat lainnya yang masih dalam teritorinya (Sriyanto 2003). Harimau merupakan satwa yang tidak tahan terhadap 9 sinar matahari. pada cuaca panas ia lebih suka beristirahat dekat sumber air, bahkan bila cuaca sangat panas ia berendam di air sampai batas leher. Harimau memang sering dijumpai sedang duduk berendam atau berdiri sebagai cara untuk menyejukkan badan (McDougal 1979). Harimau cenderung membawa mangsanya ke dekat sumber air dan memakannya di sana karena saat makan hariamau berhenti beberapa saat untuk minum dan kembali melanjutkan makannya (Grzimek 1975).






Sejarah Penyebaran dan Populasi Harimau

Sumatera adalah satu-satunya pulau di Indonesia yang masih memiliki populasi harimau liar. Di Bali dan Jawa, harimau telah mengalami kepunahan pada abad ke-20. Harimau yang tercatat secara pasti untuk terakhir kalinya, yaitu di Pulau Bali pada akhir tahun 1930-an, sedangkan harimau jawa terakhir ditemukan saat penelitian tahun 1976. Setelah itu tidak ada catatan lain yang mengkonfirmasikan hal tersebut dengan begitu, populasi harimau di Sumatera menjadi populasi terakhir yang ada di Indonesia. Pulau Sumatera terpisahkan dari benua Asia pada 600-12.000 tahun lalu ketika ketinggian air laut meningkat, tetapi pulau ini memperoleh banyak bagian fauna yang hampir sama dengan Semenanjung Malaysia, termasuk harimau. Telah beribu-ribu tahun lamanya Sumatera terpisahkan dengan Harimau Benua Asia (Seidensticker 1986).


Dibandingkan dengan waktu silam, saat ini jumlah Harimau Sumatera yang hidup secara liar sudah jauh lebih sedikit. Pada awal abad 20, pemerintah kolonial Belanda sering melaporkan harimau sebagai pengganggu, yang seringkali dengan berani mendatangi pemukiman penduduk di perkebunan (Treep 1973, diacu dalam Shepherd & Magnus 2004).

Borner (1978) memperkirakan ada 1000 Harimau Sumatera; sepuluh tahun kemudian, Santiapillai & Ramono (1985) merasa bahwa populasi seharusnya dihitung dalam hitungan ratusan dan bukan ribuan. Tetapi saat ini, Harimau Sumatera tercatat sebagai “critically endangered” atau mendekati kepunahan oleh World Conservation Union (Persatuan Konservasi Dunia), yang berarti bahwa spesies ini menghadapi resiko sangat tinggi terhadap kepunahannya di alam (Nowell & Jackson 1996). Pada saat konferensi internasional tahun 1992 dilakukan upaya penghitungan populasi harimau kembali melalui Analisa Kelayakan Populasi dan Habitat Harimau Sumatera. Berdasarkan kesepakatan bersama pada seminar tersebut, setidaknya kurang dari 400 harimau yang tinggal di enam tempat kawasan hutan lindung di Sumatera. Sekitar 100 harimau lainnya yang tinggal diluar hutan lindung, kemungkinan tidak akan bertahan lama (Tilson et al. 1994).

Sumber Artikel (Klik Here)

Jejak Harimau di Pulau Sumatera


Harimau sumatera termasuk dalam kategori satwa langka yang perlu dilindungi keberadaannya. IUCN (The International Union for Conservation of Nature and natural Resources) memasukannya ke dalam status critically endangered sejak 1994 yang ketika itu, dugaan populasi di seluruh pulau Sumatera berjumlah sekitar 400 ekor di dalam kawasan konservasi dan 100 ekor di luar kawasan konservasi (Tilson et al. 1994).


Selain itu, harimau sumatera merupakan satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 dan juga termasuk dalam Apendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild flora and Fauna) yang artinya satwa ini dilarang untuk diperdagangkan dalam bentuk apapun. Kenyataannya, status tersebut alihalih meningkatkan jumlah harimau sumatera di alam, jumlahnya tiap tahun justru makin menurun karena maraknya perburuan. Di Taman Nasional Bukit Tigapuluh saja tercatat sebanyak 305 ekor harimau telah dibunuh dalam rentang tahun 1972 – 2003 (Shepherd & Magnus 2004).

Perburuan terhadap harimau pada umumnya dilatarbelakangi oleh mahalnya harga bagian tubuh harimau. Selembar kulit harimau utuh pada tahun 1980an bisa dihargai hingga USD 3.000,- (Santiapillai & Ramono 1985). Namun bukan hanya perburuan saja yang menyebabkan penurunan populasi harimau sumatera. Deforestasi dan degradasi hutan merupakan ancaman yang sangat signifikan terhadap keberadaan harimau sumatera.

Selain itu, konflik harimau sumatera dengan manusia juga turut menyumbang angka laju penurunan populasi harimau sumatera (Dephut 2007) Harimau merupakan mamalia besar yang membutuhkan daerah jelajah yang luas di alam untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Paling tidak dibutuhkan minimal 15 km2 untuk harimau betina dan 50 km2 untuk harimau jantan (McDougal 1979). Maka dari itu, satwa ini sangat rentan terhadap perubahan luasan habitat yang tersedia akibat deforestasi. Hutan menjadi terfragmentasi sehingga membatasi ruang gerak harimau untuk mempertahankan kelestariannya. Di Sumatera, harimau hanya mampu hidup di kantong-kantong  habitat yang terpisah di sepanjang pulau. Perkiraan populasi harimau sumatera adalah sekitar 400 – 500 ekor yang hidup terpisah di berbagai kawasan. Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan kantong terbesar dengan perkiraan populasi antara 186 – 350 ekor. Sisanya tersebar di berbagai kawasan konservasi maupun hutan masyarakat di seluruh Sumatera (Dephut 2007).

Pesatnya pertumbuhan populasi manusia dan pembangunan ekonomi di dalam dan sekitar habitat harimau sumatera mengakibatkan meningkatnya potensi konflik antara harimau dan manusia. Antara tahun 1978 – 1997, tercatat sebanyak 146 orang meninggal dunia, 30 luka-luka dan 870 ekor ternak terbunuh akibat konflik antara manusia dan harimau sumatera (Nyhus & Tilson 2004). Di sisi lain, hasil kajian TRAFFIC pada tahun 2002 mengungkapkan setidaknya 35 ekor harimau terbunuh selama konflik dalam kurun waktu 1998 – 2002 (Dephut 2007). Data terbaru Sumatran Tiger Conservation Forum menambah panjang daftar korban konflik dengan 57 orang meninggal, 81 luka-luka, 326 ekor ternak terbunuh, dan 69 ekor harimau yang menjadi korban baik dibunuh maupun dipindahkan ke pusat konservasi eksitu (Priatna et al. 2012)


Produk Pertanian, Petani dan Konsumen


Permintaan pasar akan produk pertanian yang sehat terus meningkat. Sebagian masyarakat mulai menyadari pentingnya arti kesehatan terutama bagi mereka yang ekonominya tergolong cukup dan mapan. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan produk-produk pertanian organik yang diyakini lebih sehat karena bebas bahan kimia berbahaya. Salah satu contohnya adalah permintaan terhadap beras organik. Permintaan pasar terhadap beras organik tetap tinggi walaupun harganya relatif mahal (Rp 8.000 – Rp 13.000 per kg) dibandingkan beras biasa (Rp 4.500 & Rp 6.000 per kg). Beras organik adalah beras yang berasal dari padi yang dibudidayakan tanpa menggunakan bahan kimia sintetik, seperti pupuk kimia dan pestisida (Natural Nusantara 2009).

Masalah serangga hama tanaman akan selalu menyertai dalam proses produksi pertanian sehingga teknologi pengendalian hama tanaman di lapangan memang sangat diperlukan. Sementara itu tuntutan konsumen sekarang ini yang memberikan perhatian lebih pada kesehatan tubuh dan lingkungan yang menuntut lebih banyak akan produk pertanian yang aman untuk dikonsumsi dan aman juga pada saat diproduksi di lapangan sehingga tidak mengganggu kesehatan lingkungan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang komprehensif sehingga dapat mempertemukan kedua kepentingan tersebut, yaitu antara produsen (pelaku agribisnis) dalam pengendalian serangga hama tanaman dan konsumen dalam hal mendapatkan produk pertanian yang aman untuk dikonsumsi. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan insektisida nabati yang mempunyai sifat relatif aman bagi manusia dan lingkungan. Untuk mendapatkan insektisida yang efektif, efisien dan aman maka perlu studi yang komprehensif dan terarah sehingga akan dihasilkan formulasi yang siap pakai oleh pelaku agribisnis (Dadang dan Prijono 2008).

Sumber Artikel (Klik Here)

Potensi P. retrofractum (Cabe Jawa) dan A. squamosa (Srikaya) sebagai Insektisida Nabati


Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl., Piperaceae)
Cabe jawa merupakan tumbuhan asli Indonesia. Cabe jawa biasa ditanam di pekarangan, ladang atau tumbuh liar di tempat-tempat yang tanahnya tidak lembab dan berpasir seperti di dekat pantai atau di hutan hingga ketinggian 600 m dpl. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 10 m. Cabe jawa termasuk tanaman tahunan, mempunyai batang percabangan liar yang dimulai dari pangkalnya yang keras dan menyerupai kayu, tumbuh memanjat, melilit, atau melata dengan akar lekatnya. Daun tunggal, bertangkai, bentuknya bulat telur sampai lonjong, pangkal membulat, ujung runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, permukaan bawah berbintik-bintik, panjang 8,5-30 cm, lebar 3-13 cm dan berwarna hijau. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak atau sedikit merunduk, bulir jantan lebih panjang dari bulir betina. Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm dan bertangkai panjang. Buah muda berwarna hijau, keras dan pedas kemudian warna berturut-turut berubah menjadi kuning gading dan akhirnya menjadi merah, lunak dan manis ketika buah sudah masak. Biji bulat pipih, keras dan berwarna cokelat kehitaman. Cara perbanyakan tanaman ini adalah dengan biji atau stek batang (Anonim 2008).

Cabe jawa, cabe jamu, lada panjang, atau cabe saja (P. retrofractum syn. P. longum) adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau famili Piperaceae (Wikipedia 2008). Cabe jawa tersebar di seluruh nusantara dan tumbuh pada ketinggian di bawah 600 m dpl atau pada tanah miskin hara dan sangat kering misalnya di pantai. Namun, cabe jawa juga dapat tumbuh di hutan yang daunnya gugur secara berkala. Tumbuhan ini tidak dibudidayakan karena dapat tumbuh liar dan dapat diperbanyak dengan stek. Pertumbuhannya dibantu dengan penyangga supaya dapat tumbuh tegak. Jika dipangkas tingginya dapat mencapai 5 kaki dan jika tidak dipangkas tanaman akan tumbuh tinggi dan tidak berbunga. Tanaman dewasa berbunga dan berbuah sepanjang tahun dan tiap beberapa hari menghasilkan 30-40 buah (Heyne 1987).

Srikaya (Annona squamosa Linn., Piperaceae)
Tumbuhan ini merupakan perdu tegak, tinggi 2-3 m, banyak ditanam di kebun-kebun terutama di Jawa Timur dan Madura karena buahnya harum dan rasanya enak. Akar tumbuhan ini beracun. Daunnya yang dimemarkan sangat berpotensi sebagai bahan untuk mempercepat pecahnya bagian yang membengkak. Buah hanya dihasilkan pada musim hujan. Biji memiliki kulit yang keras dan mengandung 45% minyak yang tidak mengering dan berwarna kuning. Di India dan Indonesia, biji tumbuhan ini digiling menjadi tepung untuk membunuh kutu kepala (Heyne 1987).

Potensi
Buah cabe jawa sangat berpotensi untuk dijadikan bahan insektisida nabati. Salah satu kandungan buah cabe jawa adalah piperine yang mempunyai daya antiperetik, analgesik, antiinflamasi dan menekan susunan syaraf pusat. Selain terdapat pada buah, piperine juga terdapat pada bagian akar (Sentra Informasi Iptek 2009). Cabe jawa mengandung piperine yang mempunyai rasa pedas. Piperine yang dimurnikan sangat berpotensi menekan kemunculan imago Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) dengan ED50 sebesar 50 ppm (Trakoontivakorn et al. 2005).

Srikaya (A. squamosa) merupakan salah satu jenis tanaman yang mempunyai peluang untuk digunakan sebagai bahan insektisida nabati. Biji srikaya mengandung 42-45% lemak, resin dan senyawa kimia annonain yang terdiri atas squamosin dan asimisin yang bekerja sebagai racun perut dan racun kontak terhadap serangga serta bersifat sebagai insektisida, repelent dan antifeedant (Kardinan 2002). Akar dan kulit kayu tanaman srikaya mengandung flavonoid, borneol, kamphor, terpene, dan alkaloid anonain. Di samping itu, akarnya juga mengandung saponin, tanin, dan polifenol. Biji srikaya mengandung minyak, resin, dan bahan beracun yang bersifat iritan. Buahnya mengandung asam amino, gula buah, dan mucilago. Sedangkan buah yang masih muda mengandung tanin. Kandungan biji srikaya berkhasiat memacu enzim pencernaan, abortivum, anthelmintik dan pembunuh serangga (insektisida). Kulit kayu berkhasiat sebagai astringen dan tonikum. Buah muda dan biji juga berkhasiat sebagai antiparasit (Anonim 2009).

Menurut Ekawati (2008), ekstrak tanaman P. retrofractum memberikan efek dalam menghambat aktivitas peneluran Sitophilus zeamais (Coleoptera: Curculionidae) yang baik pada perlakuan ekstrak metanol pada semua konsentrasi untuk metode tanpa pilihan dan pada konsentrasi 5% untuk metode pilihan, serta pada konsentrasi 0,5%, 1%, dan 5% pada perlakuan ekstrak heksana dengan metode tanpa pilihan dan pilihan. Serbuk tanaman P. retrofractum dapat menghambat aktivitas peneluran S. zeamais pada semua perbandingan dengan nilai rata-rata aktivitas penghambatan peneluran sebesar 100% dengan metode tanpa pilihan dan metode pilihan. Tiga ekstrak, P. retrofractum, A. squamosa dan A. odorata memberikan tingkat efektifitas yang tinggi baik terhadap C. pavonana maupun P. xylostella dengan memberikan nilai LC95 lebih rendah pada konsentrasi ekstrak 0,1% dengan menggunakan metode residu pada daun. Sementara itu dengan metode perlakuan setempat hanya ekstrak A. squamosa yang memberikan efektivitas tinggi. Untuk pengujian kompatibilitas dua estrak dari tiga ekstrak yaitu P. retrofractum, A. squamosa dan A. odorata, menunjukkan bahwa campuran ekstrak P. retrofractum dengan A. squamosa dan A. odorata dengan A. squamosa menunjukkan efek sinergis untuk semua perbandingan, sedang campuran A. odorata dengan P. retrofractum menunjukkan pengaruh sinergis hanya pada perbandingan 1:1 terhadap C. pavonana. Pengujian terhadap larva P. xylostella menghasilkan satu ekstrak yang bersifat sinergis untuk semua tingkat LC (lethal concentrations) yaitu campuran ekstrak A. odorata dengan A. squamosa pada perbandingan 1:1, namun demikian terdapat dua ekstrak campuran yaitu campuran ekstrak P. retrofractum dengan A. squamosa pada perbandingan 1:1 dan 2:1 yang memberikan nilai LC rendah (Dadang et al. 2007).

Ekstrak biji srikaya berpengaruh nyata pada pembentukan pupa dan imago hama krop kubis. Peningkatan konsentrasi ekstrak menyebabkan berkurangnya pembentukan pupa dan imago. Perlakuan terhadap larva menyebabkan larva yang hidup menjadi lemah pada instar akhir dan fase prapupa sehingga menyebabkan larva gagal mengalami pupasi, demikian juga dengan imagonya (Herminanto et al. 2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji srikaya memperlihatkan perbedaan mortalitas larva Aedes aegypti pada semua dosis setelah 12 jam pengamatan, dosis terendah 400 ppm dengan mortalitas 34% dan dosis tertinggi 800 ppm dengan mortalitas 89% (Adam et al. 2005).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji lada dan srikaya efektif mengendalikan Callosobruchus spp. pada semua aras dosis yang diujikan. Bubuk biji lada pada dosis 0,5%, 1%, dan 2% serta biji srikaya pada dosis 0,5% dan 2% mampu mempertahankan viabilitas benih kedelai tetap baik setelah disimpan selama 70 hari, sedangkan bubuk biji srikaya dosis 1% tidak sebaik dosis lainnya (Dinarto dan Astriani 2006). Campuran ekstrak tanaman P. retrofractum dan A. squamosa pada konsentrasi (PA 3:7 0,05%, PA 3:7 0,1%, PA 1:1 0,05%, PA 1:1 0,1%) menunjukkan kematian larva C. Pavonana< 50% pada 1 hari setelah perlakuan (HSP). Pada 3 HSP terjadi peningkatan kematian larva yang mencapai 100% kecuali pada perlakuan ekstrak PA 1:1 0,05% yang menunjukkan kematian larva sebesar 89,74%. Selama 10 hari pemaparan baik penyemprotan maupun pengolesan pada tanaman brokoli pada semua konsentrasi tidak menunjukkan adanya gejala fitotoksik. Hal ini menunjukkan bahwa campuran ekstrak P. retrofractum dan A. squamosa hingga konsentrasi 0,1% aman untuk diaplikasikan (Isnaeni 2006).


Pestisida Nabati

Pestisida nabati dikenal juga dengan pestisida alami. Pestisida nabati berbahan aktif senyawa metabolit sekunder tumbuhan baik tunggal maupun majemuk yang bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Selain itu, pestisida nabati juga bisa berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) dan pembunuh. Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas (Anonim 2008). Insektisida nabati atau insektisida botani (botanical insecticide) adalah insektisida yang berbahan aktif senyawa dari tumbuhan atau tanaman (Dadang 2007).

Penggunaan insektisida atau pestisida nabati lebih menguntungkan karena terbuat dari bahan alami atau nabati yang bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan diniliai relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, karena residu mudah hilang. Selain itu, pestisida nabati juga memiliki tingkat selektivitas yang tinggi sehingga dapat mengurangi resiko bahaya pada organisme bukan sasaran (Anonim 2008). Di Indonesia terdapat banyak jenis tumbuhan sebagai bahan pestisida nabati. Bahan dasar pestisida alami ini bisa didapatkan pada beberapa jenis tanaman. Zat yang terkandung di masing-masing tanaman memiliki fungsi berbeda ketika berperan sebagai pestisida (Anonim 2008).

Pestisida nabati bersifat “hit and run” (pukul dan lari), yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka residunya akan cepat hilang di alam. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (Kardinan 2002).

Sumber Artikel (Klik Here)

Pestisida Sintetik, Manfaat dan Dampaknya


Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama dan patogen penyeebab penyakit tanaman yang mencakup serangga, tungau, gulma, cendawan, bakteri, virus, nematoda, siput, tikus, burung dan organisme lain yang dianggap merugikan dan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh secara optimal (Biotis 2009).

Menurut Tarumingkeng (1977), pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya. Pestisida berasal dari kata Pest yang berarti hama dan cide yang berarti membunuh. Aplikasi pestisida di lapangan digunakan bersama-sama dengan bahan lain misalnya minyak untuk melarutkan, air untuk mengencerkan, tepung untuk mempermudah dalam pengenceran atau penyebaran dan penyemprotan, bubuk yang dicampur sebagai pengencer (dalam formulasi dust), atraktan (misalnya bahan feromon) untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk penambah daya racun, dsb. Penggolongan pestisida didasarkan pada sasaran, asal dan sifat kimia. Berdasarkan sasaran pestisida digolongkan menjadi insektisida (racun serangga), fungisida (racun cendawan), herbisida (racun gulma), akarisida (racun tungau), rodentisida (racun tikus), nematisida (racun nematoda), dst. Sedangkan berdasarkan asal dan sifat kimianya digolongkan menjadi pestisida sintetik anorganik dan organik, serta pestisida hasil alam seperti nikotin, piretrin dan rotenon, sedangkan untuk jenis racunnya dibedakan atas racun sistemik dan racun kontak.

Penggunaan pestisida dalam pengendalian akan memberikan hasil yang lebih cepat terutama untuk pengendalian-pengendalian yang bersifat kuratif (penyembuhan). Penggunaan pestisida juga bersifat fleksibel, mudah beradaptasi dalam segala hal dan situasi karena tersedia dalam berbagai bentuk formulasi dan  mudah didapatkan di kios-kios pestisida atau toko-toko pertanian, penggunaannya lebih praktis, dan lebih ekonomis dibandingkan dengan pengendalian lain. Hal inilah yang menyebabkan petani lebih memilih pestisida sintetik dibandingkan dengan jenis pengendalian lainnya. Penggunaan pestisida terbanyak adalah dalam bidang pertanian, bahkan hampir 85% pestisida yang beredar di dunia ini digunakan untuk bidang pertanian (Dadang 2007).

Menurut Girsang (2006) pestisida adalah bahan beracun yang termasuk pencemar bagi lingkungan dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Cara aplikasinya yang tidak bijaksana dapat menyebabkan degradasi lingkungan berupa kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh sifatnya yang beracun dan persistensinya yang cukup lama bahkan untuk beberapa jenis pestisida dapat mencapai puluhan tahun. Pencemaran pestisida dapat terjadi melalui angin, aliran air dan terbawa melalui tubuh organisme yang dikenainya. Sebagai contoh pestisida yang diaplikasikan di sawah beririgasi atau kebun akan ikut terbawa aliran air ke sungai dan akhirnya ke laut jika terjadi hujan. Sedangkan sisa pestisida yang tidak terbawa akan mengendap di tanah dan sebagian terdapat pada tanaman yang diaplikasi pestisida sebagai residu dan akan membahayakan bagi organisme yang memakannya. Makhluk hidup pada ekosistem perairan yang ada di sawah, sungai dan laut seperti ikan dan makhluk hidup aquatik lainnya dapat teracuni oleh pestisida yang terbawa aliran air dan akhirnya dapat meracuni organisme yang memakannya dengan kadar racun yang terus terakumulasi sehingga kadar racun pada organisme yang terdapat pada aras tropi yang lebih tinggi pada rantai makanan akan semakin meningkat.

Beberapa hasil monitoring menunjukkan bahwa hampir di setiap tempat di lingkungan sekitar kita seperti dii dalam tanah, air minum, air sungai, air sumur, dan udara ditemukan residu pestisida. Kondisi seperti ini secara tidak langsung dapat membahayakan organisme bukan sasaran dan dapat menurunkan kualitas lingkungan. Menurut Coutney et al. (1973) dalam Saenong (2008), pencemaran perairan oleh pestisida bersumber dari aliran air di daerah pertanian terutama selama musim hujan. Kadar pestisida yang tinggi dapat membunuh makhluk hidup yang ada di dalam air. Namun, ada pula pestisida-pestisida yang persistensinya tinggi seperti golongan organoklorin meskipun dengan kosentrasi rendah dapat masuk dalam rantai makanan dan mengalami proses peningkatan kadar (biological magnification) sampai pada derajat yang mematikan. Perlakuan paraquat pada dosis 1,0 ppm selama 4 jam dapat menurunkan produktivitas fitoplankton sebesar 53%, perlakuan diquat dengan dosis yang sama dalam selang waktu 48 jam menurunkan produktivitas 45%, sedangkan perlakuan diuran dengan dosis 1,0 ppm dalam selang waktu 4 jam menurunkan produktivitas sampai 87% (Pimentel 1974 dalam Saenong 2008).


Crocidolomia pavonana Zeller (Lepidoptera: Pyralidae)


Crocidolomia binotalis, ulat krop kubis besar umum terdapat pada tanaman crucifera yang dibudidayakan maupun yang liar, dapat ditemukan di Afrika Selatan, Asia Tenggara, Australia dan pulau-pulau di Pasifik. Di jawa, ditemukan di dataran rendah sampai daerah perbukitan atau sedang. Hama menyerang berbagai jenis tanaman brassicae/kubis-kubisan termasuk sawi, vetsai, lobak, radish dan nasturtium liar. Larva muda hidup secara gregarious dan memakan bagian bawah daun kubis. Mereka menghindari cahaya. Kemungkinan daun yang terserang akan habis secara keseluruhan, terutama daun muda; titik tumbuh juga diserang. Pewarnaan larva sangat beragam, tapi umumnya berwarna hijau dengan warna bagian dorsal pucat dan pita hitam di bagian lateral, lempengan kitin mengandung rambut.

Warna lateral dan ventral adalah kekuningan. Mereka tumbuh sampai ukuran sekitar 18 mm, dan berpupa di tanah yang dangkal dibungkus dengan lapisan tipis yang dilindungi partikel tanah. Ngengat bersifat nokturnal dan tidak tertarik cahaya. Telur diletakkan di kumpulan yang tumpang tindih berukuran 3x5 mm di bagian bawah daun. Betina hidup selama 16-24 hari dan memproduksi 11-18 kumpulan yang terdiri dari 30- 80 telur. Di Bogor, perkembangan penuh selesai dalam 22-30 hari. Spesies ini merupakan hama tanaman kubis yang paling umum dan paling merusak di Jawa. Akibat dari serangan ini menyebabkan kerusakan yang serius pada pertanaman, tapi biasanya kubis bisa melakukan pertumbuhan tambahan, tapi kemudian tidak membentuk krop. Larva biasanya dikembangbiakkan di laboratorium karena mereka cocok untuk pengujian insektisida (Kalshoven 1981).


Maruca testulalis Geyer (Lepidoptera: Pyralidae)


Maruca testulalis adalah jenis hama pada tanaman kacang-kacangan seperti kacang tunggak, kacang panjang, kacang hijau dan kedelai. Nama umumnya penggerek polong, penggerek polong buncis, penggerek polong kedelai, ngengat kacang dan penggerek polong kacang-kacangan. Ia memakan pucuk bunga, bunga dan polong muda. Dalam beberapa kasus instar-instar muda memakan mahkota bunga dan batang muda (Wikipedia 2009).

Maruca testulalis merupakan hama utama pada tanaman kacang hijau. Hama ini menyerang bunga, kecambah, dan polong dari beberapa leguminosa budidaya maupun liar. Serangga ini menyebar di seluruh daerah tropis. Di jawa dan Sumatera, kedelai dan kacang-kacangan, Canavallia, Crotalaria, Tephrosia, Pueraria, Cajanus, Derris, Sesbania, Caesalpinia dll dilaporkan sebagai tanaman inang. Larva muda memiliki preferensi terhadap opening flower (bunga yang mekar). Mereka juga memakan kuncup bunga dan polong muda dan makan daun dan tunas. Bagian yang terserang terjalin menjadi satu oleh benang sutera. Larva berwarna hijau muda dengan kepala berwarna coklat atau gelap, cervic berbentuk perisai dan rambut papilla, dan mampu tumbuh mencapai 16 mm. Pupa ditemukan di tanah pada kokon yang terbuat dari benang sutera. Bunga dan kecambah terserang layu namun tetap menggantung karena jaring sutera. Secara umum kerusakan yang diakibatkan merupakan kerusakan minor (Kalshoven 1981). Kehilangan hasil di daerah tropik dan sub tropik mencapai lebih dari 60% akibat serangan hama ini (Macfoy et al. 1983). Hama penggerek polong Maruca tetulalis merupakan hama utama tanaman kacang hijau. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini mencapai antara 13–59% pada musim kemarau (Balitkabi 2008).


Helicoverpa armigera Hubner (Lepidotera: Noctuidae)

Larva yang baru menetas berwarna terang dengan bintik-bintik gelap kecil dan kepalanya berwarna gelap. Setelah larva berkembang, warnanya akan semakin gelap dan bintik-bintik gelap akan semakin jelas terlihat. Larva berukuran sedang mempunyai garis dengan warna beragam di sepanjang tubuh, pigmen gelap berbentuk pelana di segmen keempat dan bagian belakang kepala, dan kaki berwarna gelap. Larva yang berukuran besar mempunyai rambut-rambut putih di sekeliling kepalanya. Imagonya berupa ngengat berwarna coklat kusam mengkilat dengan tanda gelap dan panjangnya 35 mm. Pada bagian tanda gelap terdapat bagian berwarna terang atau pucat di bagian sayap belakang. Telur berdiameter 0,5 mm dan menetas dalam 2-5 hari. Hama ini menyerang semua jenis tanaman pertanian tetapi hanya sedikit yang menyerang gandum dan barley. Serangannya yang sangat luas pada berbagai jenis tanaman inilah yang menyebabkannya menjadi hama dalam sistem pertanian yang luas tidak hanya pada tanaman yang spesifik saja. Larva memakan daun tetapi biasanya menyebabkan kerusakan yang lebih parah ketika larva memakan bagian pucuk, ruas batang, bunga, biji dan atau buah. Kerusakan ini termasuk kehilangan hasil secara langsung dan menurunkan kualitas (DEEDI 2007).

Ulat (larva H. armigera) dicirikan dengan warna hijau pucat, kadangkadang titik-titik hitam, dan pola garis-garis gelap tipis di sepanjang tubuh, garisgaris semakin gelap pada segmen kedua dan ketiga. Pada instar akhir, garis-garis gelap menjadi tidak terlalu mencolok dan titik-titik hitam di kelilingi area berwarna merah. Spesies ini mempunyai variasi warna yang beragam, seperti lebih terang atau lebih gelap pada larva dan imagonya. Karakteristik dari spesies ini adalah bentuk tubuhnya akan berubah jika diganggu. Dia akan pergi dan menjatuhkan diri dan menggulung tubuhnya menjadi spiral. Ketika larva telah berkembang penuh yaitu berukuran 4 cm, larva akan berpupa dalam kokon di bawah permukaan tanah. Imagonya yang berupa ngengat akan keluar setelah ± 3 minggu. Sayap depan berwarna coklat dengan tanda gelap mengkilat di masingmasing sayap. Sayap belakang berwarna kuning mengkilat dikelilingi bagian gelap dan terang. Ngengat dewasanya sangat mirip dengan H. punctigera, tetapi untuk H. armigera dicirikan dengan larvanya mempunyai rambut-rambut putih pada protoraks, larva tidak mempunyai segi tiga gelap pada abdomen ruas pertama dan ngengatnya mempunyai tanda pucat yang dikelilingi bagian hitam di sayap belakang (Evans dan Crossley 2009).

H. armigera merupakan salah satu hama utama yang menyerang jagung disetiap daerah sentra maupun pengembangan. Hama ini dikenal pula dengan ulat penggerek tongkol (Baco dan Tandiabang 1988 dalam Sarwono et al. 2003). Ambang kendali H. armigera pada tanaman kedelai adalah apabila terdapat 2 ekor per rumpun pada umur 45 hari setelah tanam atau intensitas serangan mencapai lebih dari 2% (Marwoto et al. 2001).

SumberArtikel (Klik Here)

Kebutuhan dan Produksi Sayuran di Indonesia

Menurut Direktur Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka Ditjen Hortikultura konsumsi sayuran penduduk Indonesia masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) yaitu baru mencapai 73 kg/kapita/tahun, sedangkan standar kecukupan untuk sehat sebesar 91,25 kg/kapita/tahun. Sementara itu konsumsi sayuran penduduk Indonesia menurut data Departemen Pertanian (Deptan) pada tahun 2005 sebesar 35,30 kg/kapita/tahun, tahun 2006 sebesar 34,06 kg/kapita/tahun, tahun 2007 meningkat sebesar 40,90 kg/kapita/tahun dan tahun 2008 mengalami penurunan kembali menjadi 37,59 kg/kapita/tahun (Anonim 2009).

Berkaitan dengan hal tersebut, Deptan telah mencanangkan program “Gema Sayuran” di tingkat propinsi di seluruh wilayah Indonesia. Program ini telah dilakukan sejak tahun 2006 di Aceh Besar, tahun 2009 di NTB dan tahun 2010 akan dilakukan di Pekanbaru, Riau. Tujuan program ini adalah untuk memasyarakatkan konsumsi sayuran guna meningkatkan gizi keluarga/masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa, memperbaiki pandangan masyarakat terhadap sayuran produk petani Indonesia, membangun rasa bangga mengkonsumsi produk pertanian Indonesia, mendorong peningkatan produk sayuran Indonesia, meningkatkan hidup sehat bergizi dengan pangan, vitamin, mineral, serat dan antioksidan yang cukup, serta mendorong pengembangan keanekaragaman produk sayuran (Anonim 2009).

Selain konsumsi, produksi sayuran dalam negeri juga masih rendah. Berdasarkan data produksi sayuran Ditjen Hortikultura bahwa produksi sayuran (di luar jamur) pada 2008, baru mencapai 8,72 juta ton. Jumlah tersebut menurun sebesar 1,43% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan produk sayuran pasar dalam negeri masih didominasi oleh produk sayuran dari luar negeri dan menyebabkan Indonesia masih harus mengimpor kekurangannya seperti pada tahun 2006, Indonesia mengimpor lebih dari 16 jenis sayuran sebanyak 550.437,6 ton dan pada tahun 2007 volumenya meningkat menjadi 782.734,8 ton (Iriana dan Suhendar 2009).

Contoh lain dari penurunan produksi komoditas hortikultura adalah produksi bawang merah pada tahun 2004 sebesar 757 ribu ton. Jumlah tersebut menurun sebesar 0,7% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya walaupun luas panen pada tahun tersebut meningkat sebesar 1,3%. Penurunan produksi ini disebabkan oleh penurunan produktivitas bawang merah pada tahun 2004 yang diakibatkan oleh tingginya curah hujan yang dapat meningkatkan serangan hama dan patogen tanaman. Berlawanan dengan bawang merah, produksi bawang daun pada tahun 2003 mencapai 345,7 ribu ton atau meningkat sebesar 9,7% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Namun, luas panen bawang daun pada tahun 2003 menurun sebesar 7,5% dibandingkan tahun sebelumnya (Deptan 2009).

Produksi beberapa jenis tanaman sayuran mengalami fluktuasi. Produksi bawang merah, bawang putih, dan wortel pada 1998, masing-masing mengalami kenaikan 17%, 4%, dan 29% dibandingkan 1997. Pada jenis tanaman yang sama, yang mengalami penurunan adalah hasil kentang, tomat dan kubis, masing-masing 13%, 9%, dan 7% (Portal Indonesia 2007). Neraca perdagangan komoditas hortikultura secara total pada tahun 2003 dan 2004 sudah mencapai defisit masing-masing sebesar USD 105,4 juta dan USD 163,7 juta. Defisit neraca perdagangan hortikultura tersebut disebabkan oleh defisit pada komoditas buah-buahan dan sayuran. Pada tahun 2003 defisit neraca perdagangan buah-buahan dan sayuran masing-masing mencapai USD 63,5 juta dan USD 55,7 juta sedangkan pada tahun 2004 masing-masing meningkat mencapai USD 101,8 juta dan USD 76,7 juta (Deptan 2009).

Penurunan produksi sayuran juga mengakibatkan menurunnya pasokan rata-rata sayuran di pasar. Contohnya pasokan cabai di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta pada bulan Maret minggu ke-4 menurun sekitar 10,9% dibandingkan dengan minggu ke-2. Pada minggu ke-1 bulan April pasokan mengalami sedikit kenaikan dibandingkan minggu ke-4 Maret, namun pada minggu ke-2 pasokan cabai mulai mengalami penurunan sekitar 9,4% dibandingkan minggu ke-1 bulan April. Sementara untuk komoditas bawang merah, pasokan bulan Maret minggu ke-4 mengalami penurunan sekitar 24% dibandingkan minggu ke-2. Pada minggu ke-1 April pasokan bawang mengalami sedikit kenaikan dibandingkan minggu ke- 4 Maret. Pada Bulan April minggu ke-2 mengalami penurunan sekitar 19% dibandingkan minggu ke-1 April (Dirjen Horti 2008).

Berdasarkan informasi di atas, kebutuhan terhadap sayuran diperkirakan akan semakin meningkat sehingga upaya peningkatan produktivitas sayuran harus terus ditingkatkan. Namun, upaya peningkatan produktivitas sering dihadapkan pada berbagai kendala sehingga dapat menghambat upaya peningkatan bahkan terjadi penurunan produksi dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Berbagai kendala tersebut diantaranya adalah penyempitan lahan pertanian dan peningkatan perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dipicu oleh perubahan iklim. Kerugian sering diderita petani pada saat musim hujan. Para petani sayuran mengeluhkan anjloknya harga beragam jenis sayuran yang disebabkan banyak komoditas sayuran yang cepat busuk akibat tergenang air hujan dan memicu munculnya hama dan patogen penyebab penyakit yang menyerang tanaman (Rukmorini 2009).

Hal serupa juga di alami oleh petani sayuran di Kawasan Lereng Gunung Merbabu dan Andong wilayah Kabupaten Magelang. Produksi sayuran menyusut sekitar 25-35% akibat meningkatnya curah hujan yang dapat meningkatkan serangan hama dan patogen sehingga tanaman tidak dapat tumbuh secara maksimal. Hal ini menyababkan petani menderita kerugian yang sangat besar. Contohnya adalah produksi tomat hanya sebesar 7,5 kuintal. Padahal pada kondisi normal produksinya dapat mencapai satu ton. Beberapa komoditas sayuran yang mengalami penurunan produksi adalah tomat yang sekitar 25%, kubis dan lombok sekitar 30% dan sawi putih sekitar 35% (Wawasan Digital 2009).

Sumber Artikel (Klik Here)

Pengapuran Tanaman Cabai

Tanah di daerah yang basah bersifat masam karena pencucian kationkation (Ca2+, Mg2+, Na+ , K+ ) oleh air hujan kemudian digantikan oleh ion-ion H+ , Al3+, dan Al(OH)+ . Sebagian besar tanah yang menerima curah hujan lebih besar atau sama dengan 500 mm/tahun cenderung bersifat asam contohnya tanah ultisol. Tanah ultisol merupakan tanah dengan pencucian tinggi dan memiliki subsoil berupa liat. Selain itu penyebab tanah masam antara lain pelepasan H+ oleh akar tanaman, pelepasan asam organik selama proses dekomposisi (Gardiner dan Miller, 2004).

Teknik budidaya tanaman, untuk tanah-tanah yang bersifat masam membutuhkan pengapuran untuk meningkatkan pH terutama. Baik pemupukan maupun pengapuran untuk jenis tanah tersebut dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang optimum (Gardiner dan Miller, 2004). Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari tanah masam (pH<6 kemasaman="" memudahkan="" mencapai="" mendekati="" netral="" ph="7)." tanah="" unsur-="" untuk="" yang=""> unsur hara di dalam tanah terserap tanaman. Selain itu, penyakit-penyakit terbawa tanah akan lebih terkendalikan. Pengapuran juga akan menambah unsur hara kalsium yang diperlukan untuk pembentukan dinding sel tanaman (Prajnanta, 2004).

Unsur-unsur kapur yang biasa digunakan adalah kalsium dan magnesium karbonat, oksida, hidroksida, dan silikat. Jenis kapur yang paling banyak digunakan adalah kalsium karbonat dan kalsium karbonat ditambah dengan magnesium (dolomit). Dolomit (CaMg(CO3)2) merupakan jenis kapur yang kandungan magnesiumnya tinggi. Rata-rata komposisi yang terkandung dalam dolomit adalah 51% CaCO3, 34% MgCO3, 15% tanah dan campuran lainnya (Gardiner dan Miller, 2004).

 Sebagian besar tanaman tidak dapat mencapai hasil yang optimum pada tanah yang sangat masam karena kerugian yang dapat ditimbulkan oleh tanah masam antara lain: keracunan aluminium, mengurangi aktivitas mikroorganisme, keracunan mangan, keracunan besi, kekurangan kalsium, kekurangan magnesium, kekurangan Nitrogen, fosfor, dan sulfur yang disebabkan oleh lambatnya dekomposisi bahan organik, dan lain-lain (Gardiner dan Miller, 2004).

Selain itu tanah asam memperngaruhi keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman. Tanaman yang tumbuh di media masam akan menghasilkan perakaran yang sedikit dan pendek (Sari dan Mattjik, 2004). Pengaruh kapur terhadap sifat fisik tanah sangat erat hubungannya dengan sifat biologi tanah. Agregasi zarah tanah yang semakin baik akibat pengaruh kapur akan mempengaruhi aerasi dan perkolasi di dalam tanah sehingga aktivitas biologi tanah semakin baik. Keadaan ini menyebabkan proses pelapukan bahan organik lebih cepat sehingga asam-asam organik banyak dihasilkan yang kemudian mengikat Al-dd (Wahyudin, 2006).


Komposisi Media Tanam


Media tanam berfungsi sebagai tempat melekatnya akar, penyedia air dan unsur hara, penyedia oksigen bagi berlangsungnya proses fisiologi akar serta kehidupan dan aktvitas mikroba tanah (Mardani, 2005). Purwanto (2006) menambahkan ada 5 persyaratan media tanam yang baik yaitu mampu mengikat dan menyimpan air dan hara dengan baik, memiliki aerasi dan drainase yang baik, tidak menjadi sumber penyakit, cukup porous (memiliki banyak rongga) sehingga mampu menyimpan oksigen yang diperlukan untuk proses respirasi (pernapasan), dan tahan lama.

Fungsi media tanam sebagai media tumbuh bibit tanaman adalah tempat akar untuk berpenetrasi yang dipengaruhi oleh pori-pori yang terbentuk di antara partikel-partikel tanah (tekstur dan struktur). Kerapatan porositas tanah menentukan kemudahan air untuk bersirkulasi dengan udara (drainase dan aerasi) (Hanafiah, 2005). Media tanam harus memiliki kelembaban yang cukup, memiliki porositas dan aerasi yang baik, bebas dari benih gulma, nematoda, dan patogen lainnya, dan mampu menyediakan nutrisi yang cukup bagi tanaman (Hartmann dan Kester, 1978)

Tekstur tanah menunjukkan komposisi pertikel tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi relatif antara fraksi pasir, debu, dan liat (Hanafiah, 2005). Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro (lebih porous), tanah yang didominasi debu akan banyak mempunyai pori-pori meso (agak porous), sedangkan yang didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro (tidak porous). Makin porous tanah maka akan mudah akar untuk berpenetrasi, serta semakin mudah air dan udara untuk bersirkulasi (Hanafiah, 2005).

Ada beberapa jenis media tanam yang dapat digunakan dalam pembibitan tanaman antara lain tanah, arang sekam, pasir, dan pupuk kandang. Tanah yang dijumpai di sekitar lokasi penanaman adalah latosol (komunikasi pribadi dengan Prof. Dr. Ir. Didi Ardi Suriadikarta, M.Sc. staf Balai Penelitian Tanah bagian pedologi, 2010). Latosol merupakan tanah dengan tekstur liat dan berstruktur remah hingga gumpal. Selain itu tanah latosol memiliki kandungan bahan organik yang rendah (Soepraptohardjo, 1961).

Oleh karena itu penggunaan tanah tersebut sebagai media tanam harus dicampur dengan media lain seperti pasir, arang sekam atau pupuk kandang. Arang sekam atau sekam bakar dibuat dari sekam padi yang dibakar. Arang sekam padi ini bersifat mudah mengikat air, tidak cepat lapuk, tidak cepat menggumpal, tidak mudah ditumbuhi fungi dan bakteri, dapat menyerap senyawa toksik atau racun dan melepaskannya kembali pada saat penyiraman serta merupakan sumber kalium bagi tanaman (Purwanto, 2006).

Melati et al.(2008) menyatakan bahwa abu sekam diduga mengandung unsur K yang relatif tinggi. Selain itu abu sekam juga diduga mengandung silikat yang berperan sebagai unsur hara mikro yang meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit melalui pengerasan jaringan. Abu sekam dapat diberikan sebagai kombinasi dengan pupuk organik lain untuk menekan intensitas serangan hama. Pasir tidak mengandung unsur hara dan kapasitas menahan airnya sangat rendah sehingga penggunaannya sebagai media tanam harus dicampur dengan bahan organik (Hartmann dan Kester, 1978). Bahan organik yang biasa digunakan sebagai campuran media tanam antara lain kompos atau pupuk kandang. Pasir tidak memberikan hara yang cukup bagi tanaman. Kandungan unsur hara pada pasir terutama unsur N, P, K sangat rendah sampai sedang, selain itu daya pegang airnya sangat rendah yang menyebabkan pertumbuhan terhambat. Tanaman karuk (Piper sarmentosum) pada media dengan penambahan pupuk kandang sapi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan yang ditambah pasir dan arang sekam (Fetiandreny, 2007).

Penggunaan bahan organik adalah untuk menyediakan hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Selain itu, kelebihan penggunaan bahan organik antara lain meningkatkan kemampuan tanah untuk menyimpan air, meningkatkan ketersediaan air untuk tanah berpasir, dan memperbaiki aerasi tanah melalui perbaikan tekstur tanah. Hasil penelitian Fetiandreny (2007) menunjukkan bahwa penambahan pupuk kandang sapi dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, dan jumlah sulur tanah. Perlakuan media yang ditambah pupuk kandang sapi berpengaruh terbaik pada semua komponen pertumbuhan dan produksi vegetatif (tajuk dan akar) karuk. Hal ini diduga karena cukupnya bahan organik dan unsur hara essensial dalam pupuk kandang.


Back To Top