Sekilas Peternakan

Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Morfologi Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis)

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) merupakan burung terkecil dari bangsa kuntul-kuntulan (sekitar 50 cm). Burung ini suka mencari makanan di daerah area persawahan yang baru dibajak atau ditanami. Bentuk tubuhnya lebih ramping dari pada Blekok sawah (Ardeola speciosa), meskipun tidak seramping kuntul-kuntul yang lebih besar. Seluruh bulunya berwarna putih, tetapi selama musim kawin bulu-bulu pada kepala, leher, punggung dan dada berwarna kuning (Biodiversitas Indonesia, 2012). Gambar Kuntul Kerbau sebagai berikut:



Burung Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil bila dibandingkan dengan jenis kuntul lain. Panjang tubuh berkisar ± 50 cm, leher lebih pendek, kepala berbentuk bulat dan kelihatan lebih tebal, paruh lebih pendek dari pada jenis kuntul lainnya, sekitar 8,5-10 cm. Paruh dan tungkai kaki berwarna kuning. Pada musim berbiak bulu pada kepala, leher, punggung dan dada berwarna jingga atau merah karat sedang di luar musim tersebut seluruh bulu berwarna putih. Jenis hewan yang menjadi mangsanya sebagian besar adalah serangga dan hewan-hewan yang berukuran kecil seperti moluska, crustasea, amfibia dan reptilia. Hasil penelitian Hamidi menunjukkan bahwa makanan utama Bubulcus ibis terdiri atas serangga, katak, tikus, orong-orong dan udang (Elfidasari, 2008).

Habitat burung banyak terdapat pada mangrove, rawa, padang rumput dan persawahan. Kebiasaannya berkumpul mencari makan di padang rumput, persawahan serta bersarang secara koloni. Penyebarannya di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (Ayat, 2011).

Sumber Artikel (Klik Here)


Perilaku Burung Liar

Perilaku adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Perilaku dapat terjadi sebagai akibat suatu rangsangan dari luar (Suhara, 2010). Perilaku harian organisme merupakan faktor yang berasal dari hewan itu sendiri. Setiap hewan memiliki karakter perilaku harian yang berbeda sesuai anatomi dan morfologi tubuh yang dimilikinya (Jumilawaty, 2006).

Tingkah laku hewan merupakan suatu kondisi penyesuaian hewan terhadap lingkungannya, dan pada banyak kasus merupakan hasil seleksi alam seperti terbentuknya struktur fisik. Setiap hewan akan belajar tingkah lakunya sendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan tertentu. Satwa liar yang didomestikasi akan mengalami perubahan tingkah laku yaitu berkurangnya sifat liar, sifat mengeram, sifat terbang dan agresif, musim kawin yang lebih panjang dan kehilangan sifat berpasangan (Craig, 1981).

Menurut Stanley dan Andrykovitch (1984), tingkah laku pada tingkat adaptasi ditentukan oleh kemampuan belajar hewan untuk menyesuaikan tingkah lakunya terhadap suatu lingkungan yang baru, tingkah laku maupun kemampuan belajar hewan ditentukan oleh sepasang atau lebih gen sehingga terdapat variasi tingkah laku individu dalam satu spesies meskipun secara umum relatif sama dan tingkah laku tersebut dapat diwariskan pada turunannya yaitu berupa tingkah laku dasar.

Tingkah laku dasar hewan merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir (innate behavior), antara lain gerakan menjauh atau mendekat dari stimulus, perubahan pola tingkah laku dengan adanya kondisi lingkungan yang berubah dan tingkah laku akibat mekanisme fisiologis seperti tingkah laku jantan dan betina saat estrus. Pola tingkah laku harian hewan dalam hal ini Bubulcus ibis merupakan suatu aktivitas (perilaku) yang biasa dilakukan dalam keseharianya mulai pergi dari sarang, aktivitas di habitatnya (mencari makan, istirahat, interaksi dengan spesies lain pada habitat yang sama), atau aktivitas lainya, sampai pada waktu kembali ke sarang lagi. Tiga aspek utama yang menjadi perilaku keseharianya adalah perilaku individu, perilaku sosial dan perilaku makan sebagai berikut :

2.2.1 Perilaku Individu
Sebagian besar perilaku ditunjukkan untuk kelangsungan hidup burung itu sendiri, meliputi perilaku pemeliharaan, berhubungan dengan perawatan dan kenyamanan tubuh, serta perilaku yang berhubungan dengan pemeliharaan habitat, tempat istirahat dan makan. Perilaku pemeliharaan berhubungan dengan perawatan bulu, kulit dan bagian-bagian lain terutama yang digunakan untuk terbang atau untuk insulator. Menurut Simmons (1964) dalam Petingill (1969) perilaku perawatan ini meliputi preening (menelisik bulu), head-scratching (menggaruk), sunning (berjemur).

Menelisik bulu merupakan perawatan bulu yang terpenting, dilakukan dengan paruh, digerakkan atau digigit-gigit hingga keujung dan gerakan ini khas untuk masing-masing jenis. Kaki burung dapat menggaruk bagian kepala, biasanya untukmembersihkan bagian kepala yang tidak dapat tersentuh oleh paruh. Burung berjemur menunjukkan reaksi terhadap sinar matahari dengan mengembangkan bulu-bulu kepela, leher, punggung dan bagian ekornya. Terkadang diikuti dengan membuka mulut. Menurut pettingill (1996), untuk menjaga kenyamanan burung biasanya melakukan pengaturan bulu dengan menggerakkan atau menggoyangkan tubuh, mengangkat, merentangkan, mengepak-ngepak sayap dan kemudian mengembalikannya pada posisi semula. Perengangan meliputi: menganga, menggerak-gerakan mandibula; istirahat meliputi: berdiri dengan satu-dua kaki atau duduk, bulu relaks, kepala tergolek dileher dan terkadang mengambil posisi sedang tidur. Pada saat tidur burung menarik dan menekuk kepalanya sehingga terlihat seperti bersandar ada bagian punggung dan paruh disembunyikannya di balik scapular.

2.2.2 Perilaku Sosial
Perilaku sosial (Social behaviour), yang didefinisikan secara luas, adalah setiap jenis interaksi antara dua hewan atau lebih, umumnya dari spesies yang sama. Meskipun sebagian besar spesies yang bereproduksi secara seksual harus bersosialisasi pada siklus hidup mereka dengan tujuan untuk bereproduksi, beberapa spesies menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam hubungan yang dekat dengan spesies sejenisnya. Interaksi sosial telah lama menjadi suatu fokus penelitian bagi peneliti yang mempelajari perilaku. Penyerangan, percumbuan, kerjasama, dan bahkan manipulasi merupakan bagian dari keseluruhan perilaku sosial. Perilaku sosial memiliki keuntungan dan biaya bagi anggota spesies yang berinteraksi secara ekstensif (Campbell dkk, 2002).

Menurut Mardiastuti (1992), pola ini berkaitan dengan habitat yang mendukungnya dan senantiasa berubah-ubah sesuai dengan musim berkembang biak, selain itu faktor angin juga dapat mempengaruhi perubahan penyebaran burung tersebut. Menurut Campbell dkk., (2002), interaksi sosial bisa berhubungan dengan hal yang sifatnya kompetitif, seperti: Perilaku Agonistik (agonistik behavior), merupakan suatu perlawan yang melibatkan perilaku yang mengancam maupun menentukan pesaing mana yang mendapatkan beberapa sumberdaya seperti makan atau pasangan kawin. Kadang-kadang kompetisi tersebut melibatkan pengujian kekuatan.

2.2.3 Perilaku Makan
Perilaku makan adalah penampakan tingkah laku dalam kaitanya dengan aktivitas makan. Aktivitas makan itu sendiri merupakan bagian dari aktivitas harian. Pada burung umumnya aktivitas tersebut dilakukan pada pagi hari hingga sore hari, kecuali pada beberapa jenis burung malam ’nocturnal’ (Hailman, 1985). Selanjutnya menurut Hailman (1985), bahwa perilaku makan pada makhluk hidup mencakup semua proses konsumsi bahan makanan yang bermanfaat dalam bentuk padat atau cair. Perilaku makan binatang bervariasi baik lamanya makan maupun frekuensi tingkah laku pada saat makan. Suratmo dalam Elfidasari (1979), menyatakan bahwa Perilaku makan dari tiap-tiap spesies hewan memiliki cara-cara yang spesifik. Faktor yang mempengaruhi berbedanya cara makan antara lain morfologi hewan yang mencari makan, rangsangan dari makanan itu sendiri dan faktor dari dalam tubuh hewan yang akan memberikan urutan gerak tubuh pada hewan tersebut.

Menurut Rusila (2003), jenis-jenis burung yang mencari makan di bawah permukaan air, akan memburu mangsa mereka dengan menggunakan ujung paruhnya yang sensitif, oleh karena itu mereka memiliki ukuran mata yang lebih kecil karena tidak terlalu membutuhkannya untuk melihat mangsa. Mereka biasanya mencari mangsa dalam kelompok yang cukup besar yang memungkinkan memperoleh manfaat, karena mangsa yang terganggu akan lebih mudah ditemukan. Beberapa jenis burung memiliki ukuran kaki yang lebih panjang yang memungkinkan mereka berjalan diperairan dangkal atau lumpur halus, sementara yang memiliki kaki pendek hanya dapat mencari makan pada substrat lumpur yang lebih keras, hal ini menunjukkan evolusi terhadap makanan.


Sumber Artikel (Klik Here)

Habitat Burung Air

Habitat adalah kawasan yang terdiri atas berbagai komponen fisik biotik maupun abiotik yang merupakan kesatuan dan digunakan sebagai tempat hidup, dan berkembang biak bagi makhluk hidup (Alikodra, 1990). Habitat merupakan tempat dengan setiap unit kehidupan yang berada didalamnya dan mampu melakukan aktivitas hidup dan mengalami interaksi dengan lingkungannya. Ini disebabkan karena hewan mempunyai kemampuan hidup, tumbuh dan berkembang pada kondisi lingkungan yang sesuai (Alikodra, 1990).

Menurut Rusila (2003), selama periode tidak berbiak, burung air berkumpul dalam jumlah besar disuatu lokasi tertentu. Hal ini akan menciptakan terjadinya kompetisi untuk memperoleh makanan, wilayah mencari makan dan wilayah bertengger yang aman. Sebagian besar diantara wilayah tempat mereka mencari makan adalah berupa wilayah pasang surut, sehingga burung air hanya bisa mencari makan pada saat tertentu saja yaitu pada saat air surut. Kondisi tersebut tentu saja akan menimbulkan tantangan lain bagi burung air untuk mencari makan. Untuk mengatasi berbagai halangan tersebut sangatlah penting bagi mereka untuk menerapkan mekanisme strategi makan yang efisien.

Salah satu jenis lingkungan yang memiliki lingkungan yang produktif adalah bakau dan sekitarnya. Kawasan ini merupakan daerah peralihan antara lingkungan teresterial dan lautan. Umumnya ditumbuhi oleh jenis vegetasi yang khas berupa tumbuhan yang relatif toleran terhadap perubahan salinitas, karena adanya pengaruh dari pasang surut air laut. Sebagian besar jenis kuntul menghuni daerah tropis dan subtropis. Biasanya mereka menjadikan daerah perairan atau lahan basah dan sekitarnya sebagai habitat. Seluruh aktivitas hidupnya bergantung pada keberadaan daerah tersebut. Hal ini berkaitan dengan fungsi daerah tersebut sebagai penunjang aktivitas hidup yang menyediakan tenggeran dan makanan yang melimpah bagi makhluk hidup di sekitarnya (Davies et al, 1996 ).

Diluar faktor-faktor tersebut, beberapa hal lainnya juga dapat menjadi pembatas bagi mereka. Diantaranya keberadaan makanan mereka sendiri akan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alam, misalnya ketinggian pasang surut dan suhu yang akan sangat mempengaruhi penyebaran vertikal dari pakan mereka. Dengan demikian, setiap jenis burung pantai harus memiliki perilaku makan yang efisien sehingga dapat mencari dan memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup dalam waktu yang terbatas (Rusila, 2003 ).

Lingkungan yang dianggap sesuai sebagai habitat bagi burung yaitu habitat yang dapat menyediakan makanan, tempat berlindung maupun tempat berbiak yang sesuai bagi burung (McKilligan, 2005). Menurut Howes et al., 2003, secara umum burung air dalam kehidupannya banyak bergantung kepada keberadaan pantai atau lahan basahn. Lahan basah yang merupakan habitat penting bagi burung pantai serta tegakan tumbuhan yang ada di atasnya baik sebagai tempat untuk mencari makan maupun beristirahat. Meskipun banyak diantara mereka yang berbiak jauh di daerah daratan yang bukan merupakan daerah pantai atau lahan basah.

Lahan basah sebagai ekosistem yang kompleks memiliki berbagai fungsi ekologis yang sangat penting seperti fungsi pengatur hidrologis, penghasil sumberdaya alam hayati dan habitat dari berbagai jenis satwa liar dan tumbuhan. Kekhasan kawasan tersebut menyebabkan adanya pemanfaatan oleh burung-burung air yang hanya dapat tinggal pada kawasan tertentu atau cocok dengan kebutuhannya. Keberadaan lahan basah sebagai habitat burung air telah dirumuskan dalam konvensi Internasional Ramsar sebagai suatu kepentingan internasional (Sibuea, 1997).


Klasifikasi Burung Kuntul

Burung kuntul termasuk ordo Ciconiiformes dan famili Ardeidae (Mackinnon, 1993).
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Aves
Ordo : Ciconiiformes
Famili : Ardeidae
Genus : Bubulcus
Species : Bubulcus ibis


Ordo Ciconiiformes termasuk didalamnya spesies B. Ibis, Ardea cinerea, E. alba, E. garzetta, Mycteria cinera, dan beberapa jenis lain, memiliki ukuran tubuh yang relative besar, kaki yang panjang, paruh yang panjang, dan dengan kepakan sayap yang lambat. Menurut Rukmi (2002), sebagian besar burung pada ordo Ciconiiformes terlihat sangat berbeda dibandingkan burung lain yang hidup di air atau dekat air karena kakinya yang panjang. Ciconiiformes tidak dapat menggunakan kakinya untuk berlari dengan cepat, gaya berjalannya cenderung lambat tetapi teratur.




The Viability Immunoglobulin G Anti Escherichia coli originated from microencapsulated bovine colostrum

M. ALRAFKI. The Viability Immunoglobulin G Anti Escherichia coli originated from microencapsulated bovine colostrum. Supervised by SRI MURTINI and ANITA ESFANDIARI.

Colostral immunoglobulin G has potential for developed because has contains substances resistant to specific pathogens. The objective of this experiment was to evaluate the viability of microencapsulated IgG anti Escherichia coli during storage for 8 weeks at 4 oC. The microcapsules were made with the different ratio between IgG and alginate i.e. 20:80 (P1), 30:70 (P2), 40:60 (P3) respectively. The microcapsules were stored at 4 oC and observed for 8 weeks. The IgG consentration were analyzed using indirect Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Results of the experiment indicated that no significant changes on the concentration of IgG on P1 and P2 microcapsules (p >0.05) up to 4 weeks of storage, while changes were documented on P3 microcapsules at week 4 of storage. In conclusion, microcapsules with the ratio of IgG colostrums and alginate 20:80 and 30:70 better if compare to of those with ratio 40:60 stored within 4 weeks at 4 oC.

Keywords: alginate, bovine colostrum, chitosan, IgG, microcapsules.


Effects of Pens Humidity Level on The Occurance of Subclinical Mastitis and Bovine Tuberculosis in Dairy Cattle at Bogor.

PUTRI FURQONI AMALIA KHAMARANI. Effects of Pens Humidity Level on The Occurance of Subclinical Mastitis and Bovine Tuberculosis in Dairy Cattle at Bogor. Supervised by MIRNAWATI BACHRUM SUDARWANTO and MAZDANI ULFAH DAULAY.

Climate is essentials for livestock production and animals health. Poor humidity level will affect thermoregulatory responses of animals, which would make animals more susceptible to diseases. Subclinical mastitis is an inflammation of the mammary gland without visible sign of the disease, but can reduce milk production and quality. Bovine Tuberculosis is a chronic disease caused by Mycobacterium tuberculosis complex, able to infect practically most of mammalian species. The aim of this study is to determine the influence of pens humidity level to subclinical mastitis and bovine tuberculosis incidences on cattle. This research took place at Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) and Kebon Pedes Bogor. One hundred eighty five (185) milk samples from forty seven (47) cattle were used for subclinical mastitis test in normal lactation, and forty seven (47) cattle samples were used for tuberculin test. The result showed that there was no association (p > 0.05) between humidity level to both subclinical mastitis and tuberculosis incidence in Bogor. Risk factors of both variable, humidity level towards subclinical mastitis (SK 95% 0.82–3.15) and humidity level towards tuberculosis (SK 95% 0.55–3.15) was insignificant.

Key words: bovine tuberculosis, humidity, subclinical mastitis.


Antibacterial Activity of N-hexane Extract of Attacus atlas Imago againsts Staphylococcus aureus and Escherichia coli

MUHAMAD ALIF NA. Antibacterial Activity of N-hexane Extract of Attacus atlas Imago againsts Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Supervised by USAMAH AFIFF and DAMIANA RITA EKASTUTI.

Antibacterial was a substance that can be used to inhibit the growth of bacterias or to kill them. Antibacterial could be taken directly from the nature or could be produced in semisintetic form or modificated from biosintetic molecules. The aim of the research was to find out the potency of antibacterial activity of n-hexane extract of Attacus atlas imago againsts Staphylococcus aureus and Escherichia coli.. The extraction of sample was done by maseration method using incubator shaker for 72 hours in 37 temperature with 125 rpm speed. Then the filtrat was evaporated using rotary evaporator in 60 temperature and 0.045 mPa pressure during 27 minutes. Test of antibacterial activity was done by using well difusion method and compared by positive control (antibiotic ciprofloxacin) and negative control (n-hexane). The result showed the inhibitory zone of extract with the diameter of 6.00 mm on isolate of Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Based on the result of the test known that n-hexane extract of Attacus atlas imago has no antibacterial activity on Staphylococcus aureus and Escherichia coli.

Key words: antibacterial, Attacus atlas, extract, imago, n-hexane


Strongyle Infection in Beef Cattle in the Ronggo Village, Jaken Sub District of Pati Regency

DINDA SEPTIANA BORU TAMPUBOLON. strongyle Infection in Beef Cattle in the Ronggo Village, Jaken Sub District of Pati Regency Supervised by ETIH SUDARNIKA and YUSUF RIDWAN.

Helminthiosis is a major constraints of beef cattle industry. Helminthiosis causes great economic loss to beef cattle industry by way of retarded growth, low production and increase susceptibilty of animal to other infections. One type of nematode worms that can infect and cause a loss in beef cattle is a group of strongyle. The purpose of this study was to determine the prevalence, intensity of strongyle infection and risk factors for the infection in beef cattle in the Ronggo Village, Jaken Sub District of Pati Regency. This study used cross-sectional study to collected 200 samples of cattle feces and interviewing 90 farmers. The risk factors associated with farm management obtained by interview through structured questionnaires with farmers. Fecal samples were examined with a modified Mcmaster method and floatation solution technique to determine the number of eggs per gram of feces (EPG) and detect the presence and The data was analyzed by Chi-square, Mann-Whitney and Kruskal-Wallis. The results showed that 103 samples of beef cattle positive with strongyle infection with a prevalence rate of 51.5% (confidence interval (CI) 95%; 44.6%-58.4%). The number of strongyle eggs per gram of feces was 178 (CI 95%; 141-215) which was in category of light infection. Based on age categories, management criterion of feeding grass method and the last deworming showed a significantly different effect on the prevalence of strongyle infection (p<0 .05="" o:p="">

Keywords: Intensity infection, helminthiasis, prevalence, risk factor, strongyle.


Callosity at Dairy Cow Teat Based on Quarter Position and the Effect on the Somatic Cell Counts

NOOR IHSAN ANZARY BAHTIAR. Callosity at Dairy Cow Teat Based on Quarter Position and the Effect on the Somatic Cell Counts. Supervised by HERWIN PISESTYANI.

Callosity is the a thickened area of the skin as a result of continous pressure to protect the skin form trauma. Assessment of callosity was used to evaluate each quarter of the teats. The purpose of this study was evaluate teats condition according to the callosity. The callosity was analyzed to find out its relationship with somatic cells count. About 348 sample quarter were obtained from 87 dairies which were in normal lactation. The method used in the assessment of teat was the assesment of callosity method by Neijenhuis et al. (2000), while somatic cell were counted lusing breed method. Right back quartire have rough ring and very rough ring condition found highest compared to outer quartire (p<0 .05="" affected="" anatomy="" and="" be="" between="" by="" callosity="" can="" cell="" cells="" conclusions="" condition="" corelation="" count="" counts.="" counts="" does="" effected="" end.="" fresh="" however="" in="" influence="" it="" key="" milk.="" milk="" no="" not="" on="" positions="" somatic="" teat="" teats="" the="" there="" was="" words:="" yet=""><0 .05="" affected="" and="" be="" between="" by="" callosity="" can="" cell="" cells="" conclusions="" condition="" corelation="" count="" counts.="" counts="" does="" effected="" end.="" fresh="" however="" in="" influence="" it="" milk.="" milk="" no="" not="" o:p="" on="" positions="" somatic="" teat="" teats="" the="" there="" was="" yet="">

Key words: callosity, somatic cell counts, teat anatomy




Infection of Blood Parasites on Dairy Catle in Kawasan Usaha Ternak (KUNAK) Cibungbulang, Bogor

MURSALIM KALMAN. Infection of Blood Parasites on Dairy Catle in Kawasan Usaha Ternak (KUNAK) Cibungbulang, Bogor. Supervised by UMI CAHYANINGSIH and ELOK BUDI RETNANI.

Cases of disease caused by blood parasites were generally chronic but in some cases there is also acute. The economic loses caused by blood parasites disease may include stunted growth, weight loss, decreased reproduction, reduced of milk production, and abortion. This study aim determined the presence of blood parasites and parasitemia levels in dairy cattle in Cattle Trade Area Cibungbulang, Bogor. There are 100 blood samples from dairy cattle in this study that consisting of 21 samples fromthe group aged ≤ 2 years and 79 samples from the group aged >2 years. Variables observed were the persentage of infected animal and infection rate with the percentage of parasitaemia.The result are from 100 samples, 69 samples are infected (69%). There are 3 types of blood parasites found in this study namely Babesia sp., Anaplasma sp., and Theileria sp.. Highest infecetion rate was Theileria sp. (50%), then Anaplasma sp. (15%) and the lowest Babesia sp. (4%).The percentage of parasitaemia at various age levels have the same value that is <1 as="" classified="" is="" mild="" o:p="" parasitaemia.="" which="">

Key Words: blood parasites, Infection rate, the persentage of parasitemia


Kandungan Nutrisi Indigofera zollingeriana.

Leguminosa pohon Indigofera sp. dapatdigunakan sebagai pakan basal ternak kambing pengganti rumput.Taraf penggunaan Indigofera sp.sebagai pakan basal berkisar antara 25-75% dari total BK pakan (Simanihuruk & Sirait 2009).

Pemanfaatan pelet Indigofera sp. Sebagai pengganti konsentrat padataraf 40% dari total ransum yang diberikan pada kambing Saanen dan PE dapat memperbaiki efisiensi pemanfaatan nutrien menjadi produk susu. Hal ini dapat dilihat dari jumlah konsumsi pakan harian,peningkatan nilai kecernaan pakan, serta peningkatan produksi susu harian kambing PE laktasi ke-2 dan kambing Saanen laktasi ke-3 (Apdini, 2011).

Kandungan serat kasar tertinggi dicapai pada kombinasi perlakuan cekaman kekeringan berat (25% KL) dan pemangkasan 120 hari, yaitu sebesar 29,35% dan terendah dicapai pada kombinasi perlakuan kontrol (100% KL) dan pemangkasan 60 hari yaitu sebesar 18,18% (Herdiawan, 2013).
Akbarillah et al. (2010) melaporkan bahwa penggunaan daun Indigofera segar 15% menurunkan konsumsi pakan, produksi telur, berat telur dan menaikkan konversipakan. Penggunaan Indigofera segar 10% masih baik pengaruhnya terhadap produksi telur, berat telur danperbaikan warna yolk.

Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak ether juga mengandung wax (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen oleh karena itu praksi ether juga menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994).
Hassen et al. (2007) menyatakan bahwa Indigofera memiliki palatabilitas yang rendah pada musim hujan, tetapi akan meningkat setelah akhir musim kering ketika tajuk kedua siap untuk dipanen.

Kandungan nutrisi tanaman sangat dipengaruhi oleh tingkat kesuburan media tanam dan beberapa factor daya dukung lingkungan biotik. Kandungan NDF, Ca, P, Mg, Zn, Mn, dan PK cenderung mengalami peningkatan selama musim semi dan mengalami penurunan selama musim gugur. Hasil penelitian menunjukkan indikasi bahwa spesies I. zollingeriana mengandung Ca, Mg, Zn dan Mn yang sangat diperlukan oleh ternak ruminansia untuk produksi daging, wool dan susu (Herdiawan, 2013).

Agustina (2004), bahwa komponen utama berbagai senyawa didalam tubuh tanaman yaitu: asam amino, amida, protein, klorofil, dan alkaloid 40-45% protoplasma tersusun dari senyawa yang mengandung N. Pemberian pupuk yang diperkaya fermentasi urin sangat menunjang kandungan N sehingga mampu meningkatkan persentase lemak kasar.


Sumber Artikel (Klik Here)

Deskripsi Tanaman Indigofera

Spesies I. zollingeriana kemungkinan berasal dari daratan Asia, tetapi kini tersebar di seluruh wilayah tropis lain seperti Indonesia, dengan tujuan untuk konservarsi hutan., tanaman pelindung,pembuatan tarum alami dan pupuk hijau (green manure) pada lahan pertanian (Wilson and Rowe, 2008).

Indigofera Sp merupakan tanaman dari kelompok kacangan (family : Fabaceae) dengan genus Indigofera dan memiliki 700 spesies yang tersebar di Benua Afrika, Asia dan Amerika Utara. Sekitar tahun 1900 Indigofera sp dibawa ke Indonesia, oleh kolonial Eropa serta terus berkembang secara luas (Tjelele, 2006).

Leguminosa pohon Indigofera sp. memiliki pertumbuhan yang relative cepat. Hasil pengamatan tinggi tanaman setelah umur 7 bulan adalah 418 cm. Batang bawah dan tengah berwarna hijau muda keabu-abuan, sedang batang bagian atas berwarna hijau muda. Rataan lingkar batang bawah, tengah dan atas masing-masing adalah 13,85; 9,26 dan 3,47 cm. Daun Indigofera sp. Merupakan daun polifaliate (satu tangkai daun terdiri atas beberapa helai) dan berbentuk lonjong memanjang. Jumlah daun percabang bervariasi antara 11 hingga 21 daun.Warna daun hijau muda sampai hijau tua umur tanaman, semakin hijau warna daunnya (Sirait et al, 2011).

Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium. Indigofera Sp mengandung pigmen indigo, yang sangat penting untuk pertanian komersial pada daerah tropik dan sub tropik, selanjutnya dapat digunakan sebagai hijauan pakan ternak dan suplemen kualitas tinggi untuk ternak ruminansia (Haude, 1997). Leguminosa Indigofera sp, cukup potensial dimanfaatkan sebagai pakan kambing karena menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan produksi yang tinggi (51 ton segar/ha/panen) serta nilai nutrisi yang tinggi (protein kasar 24,17% dan energy bruto 4,038 Kkal/kg) (Sirait et al, 2011).

Leguminosa pohon Indigofera sp. berpotensi untuk digunakan sebagai pakan basal pengganti rumput pada ternak kambing. Taraf penggunaan Indigofera sp. sebagai pakan basal berkisar antara 25 – 75% dari total bahan kering pakan (Simanuhuruk dan Sirait, 2009).
Budidaya I. zollingeriana sangat mudah karena dapat dilakukan secara generatif dengan biji dan vegetative melalui stek batang. Tanaman dapat menghasilkan biji setiap saat, tidak seperti halnya pada jenis leguminosa pohon lain yang umumnya hanya berbunga dan berbuah satu musim sekali yaitu ada musim kemarau. Penanaman dapat dilakukan secara monokultur, tanaman sela (intercropping), tanaman campuran dengan tanaman pangan (alley cropping)

Sumber Artikel (Klik Here)



Hijauan

Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah bangsa rumput (graminae), leguminosa dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lainseperti daun nangka, aur, daun waru, dan lain sebagainya. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu hijauan segar dan hijauan kering.
1. Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar, lguminosa segar dan silase.
2. Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering.

Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan penting, sebab hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Khususnya di Indonesia, bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar (AAK, 1983).

Legum merupakan jenis hijauan yang bijinya berkeping dua. Pada umumnya legum mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan graminae. Pemanfaatan legum sebagai hijauan pakan tidak boleh diremehkan karena ia mampu menyuplai kebutuhan protein ternak. Selain itu, tanaman legum juga banyak memeiliki manfaat lain yaitu sebagai penyubur tanah, sebagai penyuplai nitrogen bagi rumput, dan sebagai tanaman vegetasi pencegah erosi (Hasan, 2012).


MOD-71

MOD-71 merupakan bioaktivator berbentuk cairan yang mengandung isolat asli alam Indonesia, seperti Azotobacter, Bacillus, Nitromonas, Nitrobacter, Pseudomonas, Chytophaga, Sporocytophaga, Micrococcus, Actinomycetes, Streptomyces, sedangkan dari jenis fungi adalah Trichoderma, Aspergillus Gliocladium dan Penicilium (Utomo, 2009).

Sejumlah kajian mengindikasikan bahwa Azotobacter merupakan rizobakteri yang selalu terdapat di tanaman serealia seperti jagung dan gandum (Hindersah and Simarmata, 2004) serta sayuran. Azotobacter merupakan bakteri penambat nitrogen aerobik non-simbiotik yang mampu menambat nitrogen dalam jumlah yang cukup tinggi, bervariasi + 2-15 mg nitrogen/gram sumber karbon yang digunakan, meskipun hasil yang lebih tinggi seringkali dilaporkan (Subba Rao, 1982).

Selain berfungsi dalam proses fermentasi dan dekomposisi bahan organik, MOD juga bermanfaat dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, menyehatkan tanaman, meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi (Suprat et, al., 2011).


Manure Ayam

Kotoran ayam merupakan jenis pupuk organik yang berasal dari bahanbahan organik, pupuk ini biasanya digunakan sebagai pupuk dasar yaitu dicampurkan ke tanah pada saat masa tanam, meskipun hanya menyediakan unsur-unsur dalam jumlah sedikit tetapi pupuk ini sangat baik untuk memperbaiki sifat tanah menjadi gembur dan dapat ditembus akar dengan mudah serta dapat menyimpan udara atau air yang cukup. Kandungan unsur-unsur yang diperlukan tanaman yang terdapat pada kotoran ayam yaitu; N = 1,0 ; P2O5= 0,80 dan = 0,40 (Intan, 1983).

Di dalam kotoran ternak terdapat zat-zat yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman. Kandungan hara dalam kotoran ternak yang penting untuk tanaman antara lain unsur nitrogen (N), phospor (P), dan kalium (K). Ketiga unsur ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Unsur nitrogen(N) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama batang tanaman. Unsur phospor (P) bagi tanaman lebih banyak berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar tanaman muda. Unsur kalium (K) berperan dalam membentuk protein dan karbohidrat bagi tanaman.(Setiawan, 1996).

Tabel 2. Jenis dan kandungan hara pada beberapa kotoran ternak
Ternak dan Bentuk Kotoran
Nitrogen (%)
Fosfor (%)
Kalium (%)
Air
(%)
Kuda-padat
0,55
0,30
0,40
75
Kuda-cair
1,40
0,02
1,60
90
Kerbau-padat
0,60
0,30
0,34
85
Kerbau-cair
1,00
0,15
1,50
92
Sapi-padat
0,40
0,20
0,10
85
Sapi-cair
1,00
0,50
1,50
92
Kambing-padat
0,60
0,30
0,17
60
Kambing-cair
1,50
0,13
1,80
85
Domba-padat
0,75
0,50
0,45
60
Domba-cair
1,35
0,05
2,10
85
Babi-padat
0,95
0,35
0,40
80
Babi-cair
0,40
0,10
0,45
87
Ayam-padat dan cair
1,00
0,80
0,40
55
Sumber : Affandi (2008)


Proses Mekanisme Penyerapan Unsur Hara

Tanaman dapat menyerap unsur hara melalui akar atau melalui daun. Unsur C dan O diambil tanaman dari udara sebagai melaui stomata daun dalam proses fotosintesis. Unsur H diambil dari air tanah (H2O) oleh akar tanaman. Dalam jumlah sedikit air juga diserap tanaman melalui daun. Penelitian dengan unsur radioaktif menunjukkan bahwa hanya unsur H dari air yang digunakan tanaman, sedang oksigen dalam air tersebut dibebaskan sebagai gas (Donahue et.al., 1977).

Nitrogen adalah unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting di dalam sel, termasuk protein, DNA dan RNA. Tanaman harus mengekstraksi kebutuhan nitrogennya dari dalam tanah. Sumber nitrogen yang terdapat dalamtanah, makin lama makin tidak mencukupi kebutuhan tanaman, sehingga perludiberikan pupuk sintetik yang merupakan sumber nitrogen untuk mempertinggiproduksi.Keinginan menaikkan produksi tanaman untuk mencukupi kebutuhanpangan, berakibat diperlukannya pupuk dalam jumlah yang banyak (Dewi, 2007).

Bakteri penambat nitrogen yang terdapat didalam akar kacang-kacangan adalah jenis bakteri Rhizobium. Bakteri ini masuk melalui rambut-rambut akar dan menetap dalam akar tersebut dan membentuk bintil pada akar yang bersifat khas pada kacang–kacangan. Belum diketahui sepenuhnya bagaimana rhizobium masuk melalui rambut–rambut akar, terus ke dalam badan akar dan selanjutnya membentuk bintil–bintil akar (Dewi, 2007).

Asosiasi simbiotik antara legum-Rhizobium membentuk organ nodul pada akar yang berperan sebagai symbiotic nitrogen fixation (SNF). Pada SNF terdapat bakteroid yang sangat sensitif terhadap gangguan metabolik dan lingkungan seperti, cekaman kekeringan suhu, salinitas, logam berat dan nitrat tanah. Pembentukan nodul akar dikontrol oleh sinyal molekul bakteri ekstraseluler yaitu faktor nod yang akan dikenali oleh tanaman inang. Komunikasi awal antara legum-Rhizobium terjadi karena adanya pertukaran sinyal yaitu sinyal flavonoid spesifik yang diproduksi tanaman legum dan respon balik dari Rhizobium dengan memproduksi sinyal baru berupa lipo-chitooligosaccharide (LCO: sinyal Nod). Tipe nodulasi yang terbentuk bersifat spesifik tergantung dari tanaman inang (Sugiyarto, 2009).

Flavonoid yang dikeluarkan sel-sel akar mengaktifkan gen nod pada bakteri sehingga menginduksi pembentukan nodul pada akar. Berdasarkan studi secara in vitro, flavonoid berperan sebagai induser pada ekspresi gen nod (gen nod berkaitan dengan biosintesis sinyal Nod pada Rhizobium dan berperan sebagai chemo-attractant untuk menghimpun Rhizobium yang kompatibel pada permukaan akar. Selama nodulasi, flavonoid mempunyai peran ganda, yaitu sebagai molekul sinyal pada daerah rhizosfer untuk menghimpun Rhizobium yang sesuai, dan menginduksi biosintesis sinyal Nod (Subramanian dkk, 2007).

Kesuksesan nodulasi terjadi pada kondisi terbatasnya nitrogen. Walaupun pada kondisi optimal, kebanyakan jalur infeksi terjadi pada lapisan sel hipodermal akar dan jumlah nodul yang terbentuk dibatasi oleh tanaman itu sendiri. Beberapa kondisi lingkungan merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan dan aktivitas tanaman untuk memfiksasi N2. Pada simbiosis legum-Rhizobium, proses fiksasi nitrogen sanagt berhubungan dengan fisiologi tanaman inang. Tipikal cekaman lingkungan yang biasa dihadapi oleh nodul legum dan partner rizobiumnya adalah kekeringan, salinitas, suhu, logam berat, hilangnya fotosintat dan nitar tanah (Sugiyarto, 2009).
Unsur hara kalium (K) kegunaan utamanya untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Pemberian unsur ini akan memperkuat tanaman sehingga daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. Selain itu kalium juga membuat tanaman tahan terhadap kekeringan dan penyakit (Donahue et al., 1997).

Beberapa kelompok bakteri yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan  produksi tanaman adalah : (a) Rhizobium (bakteri penambat N2 yang bersimbiosis  dengan kacang – kacangan, (b) Azotobakter, Azospirillum (bakteri penambat N2 yang tidak bersimbiosis dengan tanaman, (c) Bacillus subtilis, B. polymixa (bakteri penghasil senyawa yang dapat melarutkan fosfat tanah), (d) Clostridium dan (e) Pseudomonas fluorescens dan P. putia (Dewi, 2007).

Peranan unsur N dalam tanaman yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai bahan dasar protein dan pembentukan klorofil karena itu N mempunyai fungsi membuat bagian-bagian tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butir-butir hijau dan yang terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah anakan, menambah ukuran daun dan menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam tanah) (Dobermann and Fairhust, 2000).


Back To Top