Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Karakteristik Ayam Lokal Indonesia

Ayam digolongkan ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, subfilum Vertebrata, kelas Aves, super order Carinatae, ordo Galliformes dan spesies Gallus gallus (Scanes et al., 2004). Ayam merupakan hasil domestikasi selama beberapa periode. Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa nenek moyang ayam yang menyebar di seluruh dunia berasal dari empat jenis ayam liar yaitu ayam Hutan Merah (Gallus gallus), ayam Hutan Sri Lanka (Gallus lafayetti), ayam Hutan Abu-abu atau ayam Sonnerat (Gallus sonnerati) dan ayam Hutan Hijau (Gallus varius). Nenek moyang ayam yang utama adalah ayam Hutan Merah (Gallus gallus).

Ayam asli Indonesia yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia ternyata memiliki beberapa rumpun dengan karakteristik morfologis yang berbeda dan khas. Sejauh ini telah diidentifikasi sebanyak 31 rumpun ayam lokal yaitu Kampung, Pelung, Sentul, Wareng, Lamba, Ciparage, Banten, Nagrak, Rintit/Walik, Sien, Kedu Hitam, Kedu Putih, Cemani, Sedayu, Olagan, Nusa Penida, Merawang atau Merawas, Sumatra, Belenggek, Melayu, Nunukan, Tolaki, Maleo, Jepun, Ayunai, Tukung, Bangkok, Burgo, Bekisar, Cangehgar/Cukir/Alas dan Kasintu (Nataamijaya, 2000). Ayam lokal Indonesia selain dipelihara sebagai ayam pedaging dan petelur juga merupakan hewan kesayangan yang bermanfaat sebagai penghias halaman, aduan, keperluan ritual atau sebagai pemberi kepuasan melalui suara kokok yang merdu. Informasi dasar yang meliputi ciri spesifik, asal usul, performa dan produktivitas diperlukan sebagai sumber daya genetik ternak ayam lokal lebih dikenal dan lebih dikembangkan secara berkelanjutan (Sulandari et al., 2007).

Mansjoer (1985) menyatakan bahwa karakteristik kuantitatif ayam Kampung pada pemeliharaan tradisional antara lain produksi telur sebesar 11 butir per periode bertelur, rataan umur pada saat bertelur pertama 6,4 bulan, rataan bobot telur 41,6 g, daya tetas telur sebesar 84,6% dengan jumlah telur yang ditetaskan 58,6% serta jarak antara periode bertelur sekitar tiga bulan. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ayam Kampung bertelur pertama pada umur 250 hari, rataan produksi telur 95 butir per tahun pada pemeliharaan ekstensif dan 151 butir pada pemeliharaan intensif dengan rata-rata bobot telur 43 g.

Bobot badan pada ayam Kampung jantan dewasa dapat mencapai berat tiga kilogram dan ayam betina mencapai dua kilogram (Hardjosubroto, 1994). Sartika et al. (1999) melaporkan, bahwa populasi ayam Kampung yang telah diseleksi mempunyai rataan bobot induk saat bertelur sebesar 1.615 g dan populasi kontrol sebesar 1.621 g.



Daftar Pustaka

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Mansjoer, S. S. 2003. Karakteristik ayam Buras. Semiloka Perunggasan Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. Bogor.

Nataamijaya, A. G. 2000. The native chicken of Indonesia. Bulletin Plasma Nutfah VI (1):1-6.

Sartika, T., B. Gunawan, dan Murtiyeni. 1999. Seleksi generasi pertama untuk mengurangi sifat mengeram dan meningkatkan produksi telur ayam lokal. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor

Scanes, C. G., G. Brant and M. E. Ensminger. 2004. Poultry Science. Pearson Education Inc., New Jersey.

Sulandari, S., M. S. A.. Zein., S. Paryanti, T. Sartika, M. Astuti, T. Widjastuti, E. Sudjana, S. Darana, I. Setiawan dan D. Garnida. 2007. Sumberdaya genetik ayam lokal. Keanekaragaman sumberdaya hayati ayam lokal Indonesia : manfaat dan potensi. Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta

Wiliamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisis Ketiga. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.


Labels: Ayam Kampung, Plasma Nutfah, Ternak Potensial

Thanks for reading Karakteristik Ayam Lokal Indonesia. Please share...!

0 Comment for "Karakteristik Ayam Lokal Indonesia"

Back To Top