Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Jenis kerbau perah

Ada 10 jenis kerbau perah yang terbagi menjadi 3 tipe. Pengelompokan dalam tipe ini berdasarkan kepada tempat asal kerbau diternakkan. Ketiga tipe kerbau perah tersebut adalah sebagai berikut  :
  1. Western type atau tipe India utara. Tergolong tipe ini adalah :
  • Kerbau Jaffarabadi
    Kerbau ini merupakan jenis kerbau yang banyak diternakkan di daerah Gujarat India. Kerbau jantan beratnya sekitar 500 kg. Kerbau betina memiliki berat sekitar 45 kg. Ciri lain adalah kepala yang besar dan lebar, serta memiliki tanduk tipis menggantung ke leher dengan ujung melengkung. Kerbau ini menghasilkan susu 2.250-3.000 kg selama masa laktasi sekitar 10 bulan.
  • Kerbau Surati
    Kerbau ini terdapat di distrik Surati negara bagian Gujarat. Kerbau jantan beratnya sekitar 500 kg. Kerbau betina memiliki berat 450 kg.  Susu dihasilkan bisa mencapai 2.500-3000 kg selama masa laktasi 10 bulan.
  • Kerbau Mehsana
    Kerbau ini merupakan hasil persilangan antara sapi murrah dan kerbau surati. Kerbau jantan beratnya sekitar 560 kg dan betina 430 kg. Sebagai penghasil susu, kerbau perah ini sangat populer di daerah Maharastra dan Gujarat.
  1. Northern type atau tipe India utara. Tergolong dalam kelompok ini adalah :
  • Kerbau Murrah (Dehli)
    Kerbau ini diternak di daerah Uttar Pradesh, Dehli, Haryana dan Punjab. Kerbau jantan beratnya sekitar 565 kg dan betina 430 kg. Kerbau ini mampu menghasilkan susu 2.500-3.500 kg per masa laktasi (10 bulan). Di Indonesia kerbau ini banyak diternak oleh orang keturunan India di Medan, Sumatera Utara dan dikenal dengan nama Sapi Murrah.
  • Kerbau Kundhi
    Kerbau kundhi banyak terdapat di lembah sungai Indus, Pakistan. Bentuknya hampir mirip sapi murrah. Kerbau betina diperah susunya dan kerbau jantan dipakai untuk ternak pekerja.
  • Kerbau Nili dan Ravi
    Kerbau Nili terdapat di daerah Ferozepor dan Amritzar di negara bagian Punjab, India dan di Pakistan. Bentuk badan kerbau Nili lebih panjang dari sapi murrah. Berat kerbau jantan sekitar 590 kg dan betina 450 kg. Susu yang dihasilkan 10-12 kg per hari dengan masa laktasi sekitar 25 hari. Berat kerbau ravi jantan sekitar 680 kg dan betina 630 kg. Susu yang dihasilkan rata-rata 2000 kg per masa laktasi (10 bulan).
  1. South, central dan eastern atau tipe India bagian selatan, tengah dan timur. Tergolong dalam kelompok ternak tipe ini adalah :
  • Kerbau Nagpuri
    Kerbau perah ini banyak diternak di Nagpur, Maharashtra, Andhra Pradesh dan Mahya Pradesh. Kerbau ini bertanduk melengkung panjang sekali. Susu dihasilkan rendah, hanya 900-1.200 kg selama laktasi.
  • Kerbau Parlakimadi
    Kerbau ini banyak terdapat di distrik Ganyam dan Vishakhapatnam daerah Oissa (pantai timur india). Susu dihasilkan rendah yaitu sebesar 750-900 kg selama laktasi.
  • Kerbau Thwada
    Kerbau ini terdapat di dataran tinggi Nilgiri, India Selatan. Kerbau toda bertanduk panjang melengkung dan banyak dipakai untuk keperluan upacara keagamaan. Hasil susu rendah sekitar 5-7.5 kg per hari.

Nili Ravi
Kerbau ini termasuk kerbau sungai tipe perah yang banyak ditemukan di Lahore, Sheikhupura, Faisalabad, Sahiwal, Multan dan Bahawal Nagar di provinsi Punjab.Kerbau ini berwarna hitam dan memiliki berat dewasa rata-rata 800kg pada jantan dan 525kg pada betina.Kerbau ini bertanduk pendek melingkar dan kadang dijumpai warna putih pada dahi,kaki atau ekor.Hasil susu rata-rata pada 305 hari adalah 1950kg.

Surti
Surti adalah salah satu jenis kerbau sungai tipe perah yang berhabitat di barat daya Gujarat,India.Kerbau ini berwarna hitam ataupun cokelat.Bentuk tanduk tumbuh kebawah lalu mengarah keatas pada ujungnya.Berat rata-rata sekitar 450kg-800kg.Hasil rata-rata susu per 305hari adalah 1400kg.

Bhadawari
Kerbau ini merupakan kerbau tipe perah yang berasal dari Agra,India.Tubuh kerbau ini berwarna abu-abu dengan rambut berwarna tembaga.Bentuk tanduk pendek melengkung ke bawah lalu kembali ke atas.Berat badannya 400kg-700kg dan hasil rata-rata susunya per305hari adalah 1100kg.







Pandharpuri
Kerbau pandharpuri merupakan kerbau tipe perah yang berasal dari Solapur,Kolhapur dan Sangli,India.Bertanduk panjang dan tubuh berwarna hitam.Berat rata-rata kerbau ini 470kg-600kg.Hasol susu rata-rata per 305 hari adalah 1400kg.



Kerbau Murrah 
Kerbau murrah adalah salah satu jenis dari kerbau sungai yang berasal dari negara India.Kerbau ini berwarna hitam legam dan bertanduk pendek spital dan kadang dijumpai warna putih pada kepala kaki dan ujung ekor.Berat Kerbau jantan berkisar antara 400kg-800kg dengan berat rata-rata 550kg dan betina 450kg.Kerbau ini terkenal dengan susunya sehingga dipergunakan sebagai kerbau perah.India dan Pakistan adalah Pemuncak Pengekspor SusuKerbau di dunia.Di Italia susu dari kerbau murrah banyak digunakan untuk bahan baku Keju Mozzarella sebagai campuran makanan seperti Pizza.Rata rata hasil susu dalam 305 hari adalah 2000kg.


Susu Kerbau

Susu merupakan hasil sekresi kelenjar ambing (mamae) yang berasal dari pemerahan pada mamalia dan mengandung lemak, protein, laktosa serta berbagai jenis vitamin (Susilorini, 2006). Susu mengandung berbagai macam nutrisi penting seperti protein, lemak, karbohidrat, vitamin B, vitamin A dan vitamin D. Selain itu, susu juga merupakan sumber mineral dan kalsium (Varnam dan Sutherland, 1994). Mineral yang terdapat dalam air susu adalah Ca, P, Na, Zn, Mg, Cl, Fe, S, dan mineral essensial lainnya (Rahman et al., 1991).

Susu kerbau lebih banyak mengandung lemak dan protein dibandingkan susu sapi. Rasa susu kerbau lebih pekat karena mengandung lebih 16 % bahan kering (total solid) dibandingkan susu sapi yang hanya 12-14 %. Kadar lemak susu kerbau 50-60% lebih banyak dari susu sapi (6-8% vs 3-5%). Protein susu kerbau lebih banyak mengandung kasein, sedikit lebih albumin, dan globulin dari susu sapi (Sudono,1999).

Bahan-bahan dasar yang terdapat didalam susu kerbau antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Dari bahan dasar tersebut dapat dikembangkan bermacam-macam produk olahan susu yang mendasarkan pada ciri dan sifat bahan dasar tersebut. Selain hasil utama susu kerbau perah mempunyai hasil samping lainnya yakni gudel (keturunannya), kotoran dan daging setelah masa kehidupan produktifnya terlampaui (Mudgal, 1999).

Secara umum, komposisi susu kerbau sama dengan susu sapi dan ruminan lainnya, yakni air, protein, lemak, vitamin dan mineral, hanya saja dengan proporsi yang berbeda-beda. Susu kerbau umumnya lebih kaya lemak daripada susu sapi, sedangkan komponen gizi lainnya relatif sama. Meskipun demikian, susu kerbau memiliki ciri khas seperti ketiadaan karoten, sehingga membuat warna susu lebih putih daripada susu sapi (Murti, 2002).

Susu kerbau jauh lebih banyak mengandung lemak susu (butterfat) dari pada susu sapi, dimana kandungan lemaknya biasanya sampai 15 % dibawah kondisi pengelolahan yang baik. Susu kerbau dipakai untuk membuat makanan yang sama dengan makanan yang dibuat dari sapi seperti yogurht, manisan, ice cream dan berbagai tipe keju (Wiliamson dan Payne, 1993). Susu kerbau dapat diminum orang yang alergi minum susu sapi dan baik untuk orang yang mengalami gangguan sistem pencernaan.


Kerbau, Peran dan Fungsi di Masyarakat

Kerbau merupakan ternak ruminansia yang termasuk kedalam famili Bovidae, genus Bubalus. Menurut Hardjosubroto dan Astuti (1993), populasi kerbau yang ada di seluruh dunia saat ini berasal dari daerah India yang merupakan hasil domestikasi dari kerbau liar (Bubalus arnee). Beberapa tipe kerbau liar masih dapat ditemukan, antara lain Anoa (Bubalus depressicornis) terdapat di daerah Sulawesi, kerbau Mindoro (Bubalus mindoronensis) terdapat di Filiphina, Bubalus caffer yang terdapat di Afrika Timur dan Barat Daya dan kerbau merah terdapat di daerah Tsad, Niger, Kongo dan Maroko Selatan.

Kerbau yang didomestikasi sekarang secara umum dibagi menjadi dua yaitu kerbau rawa atau Swamp buffalo yang berkembang di Asia Tenggara: Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Philipina, Malaysia, dan Indonesia; dan kerbau sungai atau River buffalo yang berkembang di Eropa, Mesir, Aserbajar, Bulgaria, Italia, Afganistan, Pakistan, dan India (Siregar et al., 1996). Kerbau mempunyai beberapa fungsi, diantaranya sebagai ternak perah, penghasil daging dan tenaga kerja. Kerbau dapat memanfaatkan hijauan yang berkualitas rendah dan tahan terhadap musim kering yang panjang. Selain itu kapasitasnya sebagai tenaga kerja merupakan potensi bagi petani peternak kerbau, disamping dagingnya yang memiliki nilai cukup tinggi (Rajhan dan Pathak, 1979).

Kerbau akan hidup dengan baik pada suhu berkisar 15,5-21 0C dengan curah hujan 500-2000 mm per tahun. Kerbau akan mengalami stres pada suhu diatas 24 0C (Fahimuddin, 1975). Untuk mempertahankan kelangsungan hidup akibat lingkungan panas, kerbau melakukan adaptasi fisiologis melalui perubahan tingkah laku seperti berkubang atau berbaring ditempat yang dingin (Joseph, 1996).

Kerbau secara utamanya, digolongkan menjadi dua tipe, yaitu: kerbau rawa atau Swamp buffalo dan kerbau sungai atau River bufallo. Kerbau rawa biasa hidup pada habitat daerah rawa yang tempat berkubangnya di lumpur, sedangkan kerbau sungai menetap di daerah basah dan lebih suka berenang di sungai atau kolam. Kerbau rawa umumnya tipe kerbau pengasil daging, sedangkan kerbau sungai tipe kerbau penghasil susu (Fahimuddin, 1975).

Kerbau di Kabupaten Pasaman semuanya merupakan kerbau rawa. Dinas Peternakan Sumatera Barat (2008) menginformasikan jumlah populasi kerbau rawa di Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2008 sebanyak 197.335 ekor terdiri dari kerbau jantan sebanyak 71.408 ekor dan kerbau betina sebanyak 125.927 ekor. Populasi kerbau dari yang terbanyak berurutan terdapat di kabupaten Padang Pariaman 40.302 ekor, Pesisir Selatan 28.920 ekor, Limapuluh Kota 21. 922 ekor, Tanah Datar 20.729 ekor, Agam 17.104 ekor, Solok 11.489 ekor dan Pasaman 2.757 ekor. Sisanya dalam jumlah kecil di beberapa kabupaten lainnya di Sumatera Barat.

Ternak kerbau biasanya terdapat di daerah pedesaan yang masih banyak lahan pertanian, karena kerbau digunakan sebagai tenaga untuk mengolah lahan pertanian. Kotoran yang dihasilkan kerbau dapat dijadikan pupuk untuk menyuburkan lahan. Chantalakhana dan Skunmum (2002) menyatakan di daerah pedesaan, pemanfatan ternak kerbau yang utama adalah sebagai alat transportasi dan sumber tenaga untuk mengolah tanah, sedangkan daging dan susu merupakan produk sampingan atau produk kedua, ternak kerbau juga di gunakan untuk upacara adat, rekreasi atau pertandingan olah raga dan sebagainya.

Pemeliharaan kerbau untuk membajak sawah merupakan sebuah budaya masyarakat yang telah lama dilakukan dan diwariskan secara turun-temurun di Provinsi Banten. Menurut para petani, membajak sawah dengan menggunakan kerbau lebih baik daripada menggunakan traktor. Alasan petani adalah tanah tidak padat, lebih mudah diolah dan biaya lebih murah. Hasil penelitian di daerah Banten menunjukkan bahwa salah satu tujuan petani memelihara kerbau adalah untuk mengelola lahan pertanian, peternak tidak hanya menggunakan kerbaunya untuk membajak sawahnya sendiri tetapi juga disewakan sehingga akan mendapatkan penghasilan dari jasa penyewaan (Santosa, 2007)




Daftar Pustaka



Kerbau Rawa (Swamp Buffalo)

Fahimuddin (1975) menyatakan bahwa kerbau rawa (swamp buffalo) terdapat di daerah yang berawa-rawa atau di daerah yang banyak terdapat rawa-rawa seperti di Muangthai, Malaysia, Indonesia dan Filipina. Cockrill (1974) menjelaskan bahwa kerbau rawa (swamp buffalo) banyak terdapat di Cina, Thailand, Malaysia, Indonesi dan Filipina. Kerbau rawa memiliki ciri-ciri dahi rata, muka pendek dengan muzzel yang lebar. Lehernya panjang dan memiliki badan yang padat. Kaki pendek dan langsing. Tinggi pundak kerbau rawa betina berkisar 120-127 sedangkan jantan 129-133 cm.

Kerbau Rawa Jantan
Kerbau rawa memiliki warna mulai dari putih atau albinoid, belang, abu-abu terang sampai abu-abu gelap. Warna kulit kerbau rawa umumnya adalah keabu-abuan. Tanduk, kuku dan rambut biasanya memiliki warna yang sama seperti kulit tetapi cenderung gelap, atau biasa dideskripsikan sebagai abu-abu gelap (Cockrill, 1974). Tanduk kerbau rawa panjang, di Sumba kerbau rawa bertanduk besar dan sangat panjang yang bisa mencapai 2 meter. Kerbau ini memiliki variasi warna belang yang terdiri dari belang hitam besar, belang merah, belang hitam merah di punggung dan belang-belang kecil (Dwiyanto dan Subandrio, 1995). Di Sulawesi Tenggara terdapat kerbau rawa yang berwarna totol-totol/belang hitam putih, sehingga dikenal sebagai kerbau belang (Amano, et al., 1981)



Daftar Pustaka

Amano, T. M. Katsumata dan S. Suzuki. 1981. Morphological and Genetical Survey of Water Buffaloes in Indonesia. Dalam: Grant-in-Aid for Overseas Scientific Survey (Editor). Phylogeny of Indonesia Native Livestock. Part II. The research Group of Overseas Scientific Survey.
Cockrill, W.R. 1974. Observations on Skin Colour and Hair Patterns. Dalam : Cockrill, W.R. (Editor). 1974. The Husbandry and Health of the Domestic Buffalo. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Roma, Italy.
Dwiyanto, K. dan Subandrio. 1995. Reproduktivitas ternak kerbau dan kemungkinan pengembangannya: ditinjau dari segi reproduksi dan pemuliaan. Agribisnis di Sumatera Utara melalui penciptaan model produksi ternak yang berkelanjutan. 1995. Prosiding seminar sehari strategi dan komunikasi hasil penelitian peternakan. Sub Balai Penelitian Ternak Sei Putih. PT. Tamarona, Medan.
Fahimuddin, M. 1975. Domestic Water Buffalo. Oxford and IBH Publishing Co., New Delhi.


Kerbau Murrah

Kerbau Murrah merupakan kerbau sungai yang paling penting di India dan beberapa negara lainnya. Kerbau Murrah terdapat juga di Indonesia yang dipelihara di Sumatera Utara oleh orang-orang keturunan Sikh, India. Bangsa kerbau Murrah berasal dari India di Negara Bagian Uttar, Pradesh, Haryana, Punyab dan Delhi (Fahimuddin, 1975). Kerbau Murrah termasuk kerbau yang paling efisien dalam menghasilkan susu. Produksi susunya diperoleh sebanyak 1800 kg per laktasi dengan kadar lemak 7-8%, sedangkan lama laktasi 9-10 bulan (International Relations National Research Council, 1981)

Kerbau Murrah memiliki kulit yang umumnya berwarna hitam. Memiliki tanda putih pada kepala dan kaki. Warna lainnya yang ditemukan adalah coklat (Crockill, 1974). Tanduk kerbau Murrah pendek dan berbentuk keriting atau spiral. Sebagian kerbau Murrah memiliki tanduk yang berbentuk lurus (Crockill, 1974; Ranjhan dan Pathak, 1979).

Ranjhan dan Pathak, (1979) mendeskripsikan kerbau Murrah memiliki kepala relatif kecil jika dibandingkan dengan badannya yang besar. Kepala dari kerbau Murrah betina memiliki ukuran yang kecil, jelas, rapi dan mengkilap; sebaliknya kepala dari kerbau jantan besar, lebar dengan bantalan pendek dan berambut tebal. Muka jelas tanpa tanda putih seperti pada kebanyakan hewan. Lubang hidung luas dan terpisah. Mata aktif dan bersinar, terutama pada betina dan sedikit menyusut pada jantan. Mason (1974a) menyebutkan bobot badan kerbau jantan dewasa adalah 450-800 kg dan betina adalah 350-700 kg. Fahimuddin (1975) menyatakan tinggi pundak kerbau Murrah jantan dewasa 142 cm dan betina dewasa 132 cm. Telinga kecil, tipis dan tergantung. Tanduk pendek melingkar keatas dan belakang. Kerbau jantan lehernya panjang dan masif, sedangkan pada kerbau betina lehernya ramping. Dada lebar, kaki pendek, lurus dan kuat dengan kuku besar dan berwarna hitam. Bentuk badan kerbau Murrah betina seperti baji seperti pada sapi perah betina.

Ambing kerbau betina besar, bentuknya baik serta memiliki pembuluh balik (vena) yang menonjol. Puting ambing bentuknya simetris dan panjang serta jaraknya baik. Ekor panjang dan ramping sampai mencapai persendian tarsus (pergelangan kaki) dan biasanya ujung rambut berwarna putih. Kulit umumnya berwarna hitam, tipis, lunak dan mudah dilipat dengan rambut sedikit pada kerbau yang telah dewasa (Mason, 1974a)

Kerbau Murrah di Philipina
Hasil penelitian Puslitbang Peternakan (2006) pada pengamatan 170 ekor kerbau Murrah di Sumatera Utara, menunjukkan bahwa bentuk tanduk 82% melingkar ke atas, 6% mengarah ke bawah dan 11% kombinasi antara kerbau Murrah dan kerbau rawa. Bobot badan umur 2,5-4 tahun kerbau betina mencapai 407 kg dan jantan mencapai 507 kg.  Umur pertama beranak sekitar 3,5 tahun dan selang beranak sekitar 1,5 tahun. Kerbau persilangan (F1) yang diamati padaumumnya berwarna hitam dan berbulu panjang. Bobot badan kerbau silangan (F1) lebih tinggi daripada kerbau Rawa dan hampir sama dengan kerbau Murrah.

Kerbau Murrah jantan memiliki ukuran panjang bad badan 151 cm, tinggi pundak 142 cm, lingkar perut 223 cm, panjang muka 53 cm, lebar muka 27 cm dan panjang telinga 28 cm. Sedangkan pada betina panjang badan 149 cm, tinggi pundak 133 cm, lingkar perut 220 cm, panjang muka 51 cm, lebar muka 21 cm dan panjang telinga 28 cm (Cockrill, 1974).



Daftar Pustaka

Cockrill, W.R. 1974. Observations on Skin Colour and Hair Patterns. Dalam : Cockrill, W.R. (Editor). 1974. The Husbandry and Health of the Domestic Buffalo. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Roma, Italy.
Fahimuddin, M. 1975. Domestic Water Buffalo. Oxford and IBH Publishing Co., New Delhi.
International Relations National Research Council. 1981. The Water Buffalo: New Prospect for an Underutilized Animal. National Academy Press, Washington, D.C.
Mason, I.L. 1974a. Species, Types and Breeds. Dalam: Cockrill, W.R. (Editor). 1974. The Husbandry and Health of the Domestic Buffalo. Food anf Agriculture Organization of the United Nations, Roma, Italy.
Pathak, N.N. and S. K. Ranjhan. 1979. Management and Feeding of Buffaloes. Vikas Publishing House PVT LTD., New Delhi, Bombay, Bangalore, Calcutta, Kanpur.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2006. Studi karakterisasi kerbau sungai, kerbau lumpur dan persilangannya di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Badan penelitian dan pengembangan Peternakan Departemen Pertanian, Bogor. http://www.deptan.com. [13 Maret 2007].
Back To Top