Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Manure Ayam

Kotoran ayam merupakan jenis pupuk organik yang berasal dari bahanbahan organik, pupuk ini biasanya digunakan sebagai pupuk dasar yaitu dicampurkan ke tanah pada saat masa tanam, meskipun hanya menyediakan unsur-unsur dalam jumlah sedikit tetapi pupuk ini sangat baik untuk memperbaiki sifat tanah menjadi gembur dan dapat ditembus akar dengan mudah serta dapat menyimpan udara atau air yang cukup. Kandungan unsur-unsur yang diperlukan tanaman yang terdapat pada kotoran ayam yaitu; N = 1,0 ; P2O5= 0,80 dan = 0,40 (Intan, 1983).

Di dalam kotoran ternak terdapat zat-zat yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan tanaman. Kandungan hara dalam kotoran ternak yang penting untuk tanaman antara lain unsur nitrogen (N), phospor (P), dan kalium (K). Ketiga unsur ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Unsur nitrogen(N) berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama batang tanaman. Unsur phospor (P) bagi tanaman lebih banyak berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar, khususnya akar tanaman muda. Unsur kalium (K) berperan dalam membentuk protein dan karbohidrat bagi tanaman.(Setiawan, 1996).

Tabel 2. Jenis dan kandungan hara pada beberapa kotoran ternak
Ternak dan Bentuk Kotoran
Nitrogen (%)
Fosfor (%)
Kalium (%)
Air
(%)
Kuda-padat
0,55
0,30
0,40
75
Kuda-cair
1,40
0,02
1,60
90
Kerbau-padat
0,60
0,30
0,34
85
Kerbau-cair
1,00
0,15
1,50
92
Sapi-padat
0,40
0,20
0,10
85
Sapi-cair
1,00
0,50
1,50
92
Kambing-padat
0,60
0,30
0,17
60
Kambing-cair
1,50
0,13
1,80
85
Domba-padat
0,75
0,50
0,45
60
Domba-cair
1,35
0,05
2,10
85
Babi-padat
0,95
0,35
0,40
80
Babi-cair
0,40
0,10
0,45
87
Ayam-padat dan cair
1,00
0,80
0,40
55
Sumber : Affandi (2008)


Pemanfaatan Kotoran Ternak Sebagai Pupuk Dalam Budidaya Tanaman Bayam (Amaranthus sp)

Kotoran ternak adalah salah satu limbah kegiatan peternakan yang memiliki andil dalam pencemaran lingkungan karena sering menimbulkan masalah lingkungan yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat disekitar peternakan. Gangguan itu berupa bau yang tidak sedap yang ditimbulkan oleh gas yang berasal dari kotoran ternak, terutama gas Amoniak (NH3) dan gas Hidrogen (H2S). Penanganan limbah ternak baik padat, cair maupun gas, seperti kotoran dan urin maupun sisa pakan dibuang ke lingkungan, sehingga jika tidak dilakukan penanganan secara baik maka akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan udara, tanah dan air serta penyebaran penyakit menular (Deptan 2009).

Olehnya, sangat diperlukan usaha untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan peternakan tersebut salah satunya dengan melakukan penanganan yang baik terhadap limbah yang dihasilkan. Kotoran ternak memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi berbagai produk yang masih bermanfaat bagi kehidupan manusia sehingga bernilai ekonomi tinggi. Kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk kandang dan biogas, bahkan untuk bahan makanan ternak dan ikan (Ayoola dan Makinde 2008; Sihombing 2006; Setiawan 2008). Potensi kotoran ternak sapi potong, ayam broiler dan babi cukup tinggi untuk diolah lanjut menjadi pupuk kandang, yaitu mencapai 4,6 %, 6,6 %, dan 5,1 % dari bobot hidup/hari (Taiganides 1977).

Dewasa ini, pupuk buatan (anorganik) semakin meningkat harganya dan seringkali langka di pasaran. Hal ini cukup menyulitkan petani untuk meningkatkan produksi tanaman secara maksimal, terutama tanaman sayuran. Di lain pihak, semakin disadari bahwa pupuk buatan memang mampu melipatgandakan hasil panen, namun senyawa kimianya berdampak negatif terhadap pencemaran lingkungan bahkan berpotensi membahayakan keselamatan manusia dan ternak (Adediran et al. 2003; Agbede dan Adekiya 2012; Adeniyan dan Ojeniyi 2005).

Pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk kandang merupakan proses daur ulang limbah peternakan dengan penerapan teknologi yang mudah diaplikasikan di lapangan. Sistem pembuatan pupuk kandang secara konvensional yang telah banyak digunakan secara luas untuk memproduksi pupuk kandang terdiri atas sistem windrow, aerated static pile dan in vessel (Setiawan 2012). Sistem windrow merupakan proses yang paling sederhana dan paling murah karena memanfaatkan sirkulasi udara secara alami, meskipun aplikasinya memerlukan areal lahan yang cukup luas. Penelitian ini mengaplikasikan sistem windrow mengingat sangat cocok untuk diterapkan di wilayah pedesaan, dibandingkan dengan 2 sistem lainnya yang membutuhkan wadah dekomposisi yang spesifik serta memerlukan sistem pengaturan udara yang khusus.

Pupuk kandang bermanfaat sebagai penyedia unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung (Adenawoola dan Adejoro 2005; Agbede dan Ojeniyi 2009). Pupuk kandang mampu meningkatkan kandungan unsur hara tersedia dalam tanah. Bahan organik yang terkandung dalam pupuk kandang merupakan sumber karbon untuk pertumbuhan mikroba sehingga aktivitas mikroba akan meningkat dan berdampak positif terhadap proses mineralisasi unsur hara sehingga ketersediaan unsur hara bagi tanaman lebih meningkat. Pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bisa optimal (Adediran et al. 2003; Awodun et al. 2007). Pupuk kandang juga menyebabkan porositas tanah menjadi besar sehingga memudahkan akar menembus dan berkembang selanjutnya memperbesar penyerapan hara dan air. Selain itu juga berperan memperbaiki sifat fisik tanah yang menyebabkan pertumbuhan akar menjadi lebih baik, dapat mengubah permeabilitas, peredaran udara dalam tanah, dan akar tanaman lebih dalam dan luas, menyerap unsur hara yang diperlukan untuk meningkatkan hasil tanaman.

Kotoran cacing (kascing) merupakan limbah peternakan cacing tanah yang berpotensi tinggi meningkatkan kesuburan tanah dan membantu proses penghancuran limbah organik, karena mampu menahan air, membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman, serta mampu memperbaiki struktur tanah (Mashur 2001). Kascing juga mampu memacu pertumbuhan tanaman yang meliputi akar, ranting, dan daun dengan kandungan alami berbagai hormon dan
enzim (Tomatti et al. 1988).


Pemanfaatan limbah pertanian memungkinkan terwujudnya prinsip zero waste (tidak dihasilkan limbah), added value (limbah menjadi bahan bernilai guna), dan zero cost (bahan baku berupa limbah) dalam kerangka sustainable agriculture (Adediran et al. 2003). Pengolahan limbah kotoran ternak menjadi pupuk kandang sebagai sumber unsur hara alami yang dipadukan dengan limbah kotoran cacing tanah (kascing) sebagai sumber unsur hara dan hormon pertumbuhan alami merupakan salah satu upaya untuk mengurangi eksistensi limbah peternakan menuju sustainable agriculture. Bayam merupakan jenis sayuran yang digemari dan banyak dikonsumsi masyarakat karena harganya relatif murah dan terjangkau. Bayam adalah jenis sayuran hijau dengan kandungan protein, mineral, kalsium, zat besi, dan vitamin yang tinggi. Pada akarnya dapat dijadikan obat untuk anti piretik, diuretic, anti toksik, obat diare, menyembuhkan bengkak, dan membersihkan darah (Sudiono et al. 2004). Olehnya, peningkatan produktivitas dan kualitas bayam adalah penting untuk meningkatkan hasil budidaya di pihak petani sayuran dan sumber gizi bagi masyarakat luas.

Manur Ayam Petelur

Manur merupakan produk sisa yang masih banyak mengandung komponen zat makanan yang dalam saluran pencernaan belum sempat dicerna atau diserap serta ditambah sisa dari hasil metabolisme. Manur ayam memiliki ciri khas bila dibandingkan dengan manur ternak lain karena feses ayam bercampur dengan urinnya. hal ini disebabkan saluran pembuangan atau saluran eksresi pada ayam terletak dalam satu muara yaitu kloaka (Muller, 1980). Biro Pusat Statistik (2002) melaporkan bahwa populasi ayam petelur mengalami peningkatan sebesar 8% dari tahun 2001 ke 2002, dan produksi manur per ekor per hari sebanyak 120 gram. Sekitar 100.000 ayam petelur yang berada dalam kandang baterai memproduksi manur sekitar 12 ton perhari (Boushy dan Van der Poel, 1997).

Jumlah dan komposisi manur yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh umur, jenis dan makanan (Malone, 1992). Tabbu dan Hariono (1993) memperkirakan bahwa jumlah manur ayam yang dihasilkan per ekor ayam per hari adalah 0,15 kg dengan komposisi 1,7% nitrogen (N); 0,16 % pospor (P) dan 0,58% kalium (K). Perkiraan produksi dan komposisi buangan segar ternak ayam dapat dilihat pada Tabel.

Muller (1980) berpendapat bahwa manur ayam biasanya mengandung protein kasar 30% dengan kisaran antara 18-40% dan jumlah tersebut 37-45% merupakan protein murni, 28-55% asam urat, 8-15% amonia, 3-10% urea dan nitrogen lainnya. keberadaan asam urat dalam manur unggas dapat menjadi indikator kualitas protein dalam pakan. Kadar asam urat yang rendah dalam manur menunjukkan tingginya tingkat pemanfaatan nitrogen dalam tubuh (Miles dan Featherson, 1976).


Sumber :

Biro Pusat Statistik. 2002. Statistik Peternakan. Biro Pusat Statistik, Jakarta.
Boushy, A. R. Y. E. dan A. F. B. Van der Poel. 1997. Poultry Feed from Waste. Chapman and Hall. London. Weinheim. New York.
Malone, G. W. 1992. Nutrient enrichment in integrated broiler production system. Poult. Sci. 71: 1117-1122.
Miles R. D. dan W. R. Featherson. 1976. Uric acid excretion by the chick as an indicator of dietary protein quality. Poult. Sci. 55: 98-102.
Muller, Z. O.1980. Feed from Animal Waste: State of Knowledge. Food and Agriculture Organization of The United Nation. Rome.

Tabbu, C. R. dan B. Hariono. 1993. Pencemaran lingkungan oleh limbah peternakan dan cara mengatasinya. Ayam Sehat.18: 7-9.

Kadar Amonia Manur

Amonia merupakan gas alkali, tidak berwarna, mempunyai daya iritasi yang tinggi, bersifat toksik dan dihasilkan selama proses dekomposisi bahan organik, atau dari reduksi substansi nitrogen oleh bakteri. Amonia dapat larut dalam air dan dapat terserap oleh partikel debu, litter serta oleh mukosa membran pada mata dan saluran pernafasan (Sujono et al.,. 2001). Sumber utama amonia adalah asam urat. Esminger (1992) menyatakan bahwa sebanyak 80% urin berbentuk asam urat dan menurut Muller (1980), kandungan asam urat dari urin ayam dapat mencapai 28-55%. Meskipun demikian, kandungan asam urat pada urin masih dipengruhi oleh faktor lain, diantaranya adalah jenis unggas, nutrisi dan daya dekomposisi dari bakteri di manur. perbandingan antara nitrogen dari feses dengan dari urin pada manur ayam adalah 25:75.

Pembentukan dan pelepasan amonia dalam manur ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : tipe litter, tata laksana, kelembaban litter, pH litter, suhu kandang, kepadatan kandang, musim dan pengaturan ventilasi kandang (Indarsih, 2001). Kadar amonia dalam konsentrasi tinggi akan mengganggu pekerja kandang, menyebabkan iritasi mata, dan mempengaruhi ayam itu sendiri. Kadar amonia yang tinggi secara terus menerus akan mengurangi aktivitas silia pada saluran pernafasan ayam. Pada ayam petelur, konsentrasi 30 ppm menimbulkan kerugian karena mempengaruhi produksi dan kesehatan ayam. Sementara itu, pada konsentrasi 50 ppm menimbulkan bahaya yang serius, khususnya mempengaruhi pertumbuhan. Secara praktis, konsentrasi amonia dalam kandang harus kurang dari 25 ppm (North dan Bell, 1990).

Sumber :
Ensminger, M. E. 1992. Poultry Science (Animal Agricultural Series). 3rd Ed. Interstate Publishers, Inc. Danville. Illionins.
Indarsih, B. 2001. Ammonia dan kesehatan ayam. Ilmiah Popular. Poultry Indonesia Edisi November: 47-48.
North, M. O. and Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th Ed. Chapman and Hall. New York.
Sujono, Widarti dan Ramziah. 2001. Pengaruh pemberian feed additive joster HE (High Efficiency) terhadap kadar amonia ekskreta dan retensi nitrogen pada ayam pedaging. Jurnal Protein. 16: 971-976.


Kadar Air Manur Ayam

Ayam dewasa pada lingkungan dan jumlah konsumsi ransum yang normal akan menghasilkan manur dengan kadar air 75-80% (North dan Bell, 1990; El Boushy dan Van Der Poel, 1994). Menurut Leeson dan Summers (2001) manur ayam broiler mengandung kadar air 60-70% sedangkan manur ayam petelur mengandung kadar air sampai 80% dan ayam petelur yang berproduksi tinggi mengandung feses dengan kadar air feses 75-77%. Kadar air dalam manur ayam dipengaruhi oleh konsumsi air minum (Leeson et al., 1995). Suhu lingkungan yang tinggi dapat meningkatkan jumlah air yang dikonsumsi maupun yang dikeluarkan. Pada suhu 21oC ayam akan minum dua kg air untuk setiap kg pakan yang dikonsumsi, dan 60-65% air yang dikonsumsi akan terdapat pada feses. Pada suhu tinggi, jumlah air yang dikonsumsi maupun yang dikeluarkan akan meningkat tajam (North dan Bell, 1990). Menurut Technical Bulletin USA (2004), konsumsi air minum pada ayam akan meningkat sekitar 7% setiap kenaikan suhu 1 sampai 21 oC.

North dan Bell (1990) menyatakan bahwa ayam yang memiliki bobot badan yang lebih kecil mempunyai kadar air manur yang lebih rendah dibandingkan dengan ayam yang memiliki bobot badan yang lebih besar. Seratus ekor ayam dengan rata-rata bobot badan 0,5 kg akan memiliki kadar air dalam manur sebesar 7,2 kg sedangkan seratus ekor ayam dengan rata-rata bobot badan 1,4 kg akan memiliki kadar air dalam manur sebesar 10,5 kg.

Kelebihan mineral atau kelebihan air dalam ransum dibandingkan dengan kebutuhan nutrisi akan meningkatkan konsumsi air dan menyebabkan feses menjadi basah (Technical Bulletin USA, 2004). Kadar protein ransum mempengaruhi konsumsi air minum pada ayam. semakin tinggi level protein yang dikonsumsi maka konsumsi ransum semakin meningkat (Leeson dan Summers, 2001). Tingginya kadar protein ransum dapat menghasilkan nitrogen berlebih yang tidak disimpan dalam tubuh sehingga untuk menjaga keseimbangan nitrogen dalam tubuh maka kelebihan tersebut harus dibuang dalam bentuk asam urat melalui urin sehingga memerlukan air minum yang lebih banyak.

Keberadaan serat kasar dalam ransum juga mempengaruhi kadar air dalam manur. Leeson dan Summers (2001) menyatakan bahwa semakin tinggi kadar serat kasar dalam ransum maka akan semakin tinggi konsumsi air minum dan berpengaruh terhadap pertumbuhan yang menjadi lambat serta memiliki eksreta yang sangat basah. Serat kasar yang tidak dicerna bersifat menyerap air dan laksatif sehingga laju pergerakan digesta dan sisanya menjadi lancar (Amrullah, 2003).

Meningkatnya kadar air pada kandang terutama di litter akan menyebabkan permasalahan. Masalah ini timbul karena adanya kadar air yang terdapat pada litter akan menyebabkan proses pemecahan asam urat menjadi amonia oleh bakteri ureolitik akan dipercepat oleh adanya air dalam manur. Pada umumnya peternak ayam mengalami permasalahan, terutama pada manur di litter yang basah. Kejadian ini biasanya terjadi pada ayam petelur yang sedang berproduksi tinggi dan terjadi pada lingkungan atau iklim yang panas sehingga secara alami ayam akan minum lebih banyak air. Meningkatnya kadar air di manur akan mempengaruhi kesehatan ayam di kandang. Selain itu permasalahan dari manur yang basah berkaitan dengan penanganan secara mekanis, bau yang ditimbulkan dan penanganan lalat (Leeson et al., 1995).


SSumber :

Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan ke-1. Lembaga Satu Gunungbudi. Bogor.
Leeson, S. dan J. D. Summers. 2001. Nutrition of The Chicken. 4th Ed. University Books, Canada.
Leeson, S., G. Diaz dan J. D. Summer. 1995. Poultry Metabolic Disorders and Mycotoxins. Published by University Books. Guelph. Ontario. Canada.
North, M. O. and Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual. 4th Ed. Chapman and Hall. New York.


Back To Top