Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Fermentasi

Fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme baik aerob maupun anaerob yang mampu mengubah senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa sederhana sehingga keberhasilan fermentasi tergantung pada aktivitas mikroorganisme, sementara setiap mikroorganisme masing-masing memiliki syarat hidup seperti pH tertentu, suhu tertentu dan sebagainya. Produk fermentasi selain menghasilkan bio-massa dapat meningkatkan atau menurunkan komponen kimia tertentu, tergantung kemampuan biokatalisnya (Rosningsih, 2000).

Proses fermentasi mikroorganisme memperoleh sejumlah energi untuk pertumbuhannya dengan jalan merombak bahan yang memberikan zat-zat hara atau mineral bagi mikroorganisme seperti hidrat arang, protein, vitamin dan lain-lain. Proses fermentasi makanan dapat dilakukan melalui kultur media padat atau semi padat dan media cair, sedangkan kultur terendam dilakukan dengan menggunakan media cair dalam bioeraktor atau fermentor (Adams and Moss, 1995).

Melalui fermentasi terjadi pemecahan substrat oleh enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana. Selama proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkan enzim juga dihasilkan ekstraseluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga terjadi peningkatan kadar protein (Winarno, 1983).


Teknologi Pengolahan Pakan Berbentuk Pelet

Peletmerupakan jenis pakan berbentuk padat yang terdiri atas campuran dari berbagai jenis bahan pakan. Beberapa komponen penyusun pelet khusus kelinci ini diantaranya ampas tahu, bekatul, jagung, biji-bijian atau kacang-kacangan dan pakan hijauan. Karena kandungan gizinya yang cukup lengkap, peletdapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi kelinci. Penggunaan pakan pelet juga lebih praktis dan dapat membuat kandang tetap terjaga kebersihannya (Priyatna, 2011).

Pelet adalah ransum yang dibuat dengan menggiling bahan baku yang kemudian dipadatkan menggunakan die dengan bentuk, diameter, panjang dan derajat kekerasan yang berbeda. (Pond et al., 1995). McEllhiney (1994), menyatakan bahwa pelet merupakan hasil proses pengolahan bahan baku ransum secara mekanik yang didukung oleh faktor kadar air, panas dan tekanan.

Kualitas pelet dapat diukur dengan mengetahui kekerasan pelet (hardness) dan daya tahan pelet dipengaruhi oleh penambahan panas yang mempengaruhi sifat fisik dan kimia bahan pakan (Thomas dan Van der Poel, 1997).




Teknologi Pakan Berbentuk Pelet

Ransum bentuk pelet dapat meningkatkan konsumsi pakan ternak, mengurangi jumlah pakan yang terbuang, membuat pakan lebih homogen, dapat memusnahkan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan, memperpanjang penyimpanan, mempermudah pengangkutan dan menjamin keseimbangan zat nutrisi pakan yang terkandung dalam komposisi pakan (Suryanagara, 2006).

Proses pembuatan pelet dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1) pengolahan pendahuluan meliputi pencacahan, pengeringan, dan penggilingan, 2) pembuatan pelet meliputi pencetakan, pendinginan, dan pengeringan, dan 3) perlakuan akhir meliputi sortasi, pengepakan dan penggudangan. Tujuan pembuatan pakan dalam bentuk pelet adalah untuk meringkas volume bahan, sehingga mudah dalam proses pemindahan, dan menurunkan biaya pengangkutan (Tjokroadikoesoemo, 1986).


Metode Pengeringan

Pengeringan matahari
Metode pengeringan ini dengan menggunakan sinar matahari secara langsung sebagai energi panas. Pengeringan dengan metode ini memerlukan tempat pengeringan yang luas, waktu pengeringan yang lama dan waktu pengeringan bahan yang dikeringkan tergantung pada cuaca. Pada kondisi optimum energi surya atau matahari yang mencapai permukaan bumi besarnya 6-8 KW-jam/m2 /hari untuk daerah sekitar khatulistiwa. Sekitar 30% radiasi yang mencapai atmosfir dipantulkan kembali keangkasa, 47% diserap menjadi panas oleh atmosfir, tanah dan air tetapi sebagian besar energi yang diserap ini dipantulkan lagi keatmosfir (Stout, 1979).

Dari jumlah energi yang tersedia diperkirakan bahwa potensi yang jatuh di wilayah Indonesia besarnya 0,5 x 106 kJ/m2 x 1,9 x 1012 m2 = 0,9 x 10 18 kJ/ tahun (Kamaruddin, 1991). Pengeringan dengan cara menjemur dibawah sinar matahari mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pengeringan buatan karena penjemuran mudah dilakukan dan murah serta sinar matahari mampu menembus kedalam sel secara merata (Taib et al., 1988). Penjemuran adalah penurunan kadar air suatu bahan untuk memperoleh tingkat kadar air yang seimbang dengan kelembaban nisbi atmosfer.

Pengeringan Rak
Pengering rak yang disebut juga pengering kabinet termasuk alat pengering tipe curah dengan pemanasan langsung. Bentuk alat pengering ini adalah persegi dan didalamnya berisi rak-rak yang digunakan sebagai tempat produk yang dikeringkan. Sistem pengeringan disebut juga “ tray dryer” karena menggunakan talam atau rak penampung sebagai penyangga bahan yang akan dikeringkan dengan udara panas dalam ruang tertutup. Pengeringan ini terdiri dari struktur rangka dimana dinding, atap dan alas diisolasi untuk mencegah kehilangan panas, dilengkapi dengan kipas angin internal untuk menggerakkan medium pengering biasanya udara melalui sistem pemanas dan mendistribusikannya secara merata melalui satu atau beberapa rak berisi bahan yang dikeringkan dalam ruang pengering (Taib, et al., 1988).

Pengeringan

Pengeringan adalah proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah yang relatif kecil dari bahan dengan menggunakan energi panas. Pengeringan dapat diartikan sebagai usaha memindahkan atau mengurangi air dari suatu bahan pangan. Kebanyakan pengeringan dilakukan dengan proses penguapan air yang terkandung dalam makanan, dan untuk melakukannya maka panas latent penguapan harus tersedia.

Terdapat dua faktor pengendali proses yang penting ikut serta dalam unit operasi pengeringan, yaitu: 1. Transfer panas untuk menyediakan kebutuhan panas latent penguapan. 2. Aliran air atau gerakan air dan uap air melalui bahan pangan yang kemudian mengalir melalui bahan pangan yang kemudian keluar mengakibatkan pemisahan air dari bahan pangan. (Earle,1983)

Perubahan mutu bahan pangan selama pengeringan dapat secra fisik, kimia maupun gizinya. Menurut Okos et al., (1992) perubahan kimia meliputi reaksi browning, oksidasi lipid, penurunan warna. Perubahn fisik meliputi rehidrasi, shrinkage (penyusutan berat volume bahan), penurunan solubilitas, perubahan tekstur, penurunan atau kehilangan aroma. Perubahan nilai gizi meliputi kehilangan vitamin, penurunan protein dan ketahanan mikroba. Nilai biologis suatu bahan pangan kering tergantung pada metode pengeringan. Pemanasan yang terlalu lama pada suhu tingggi dapat mengakibatkan protein menjadi kurang berguna. Perlakuan suhu rendah terhadap protein dapat menaikan daya cerna protein dibandingkan bahan aslinya (Desrosier, 1988).

Sumber Artikel (Klik Here)



Back To Top