Informasi Dunia Peternakan, Perikanan, Kehutanan, dan Konservasi

Seri Budidaya : Budidaya Ternak Itik

Seri Budidaya Ternak Itik, dapat didownload disini, seri budidaya ini diantaranya membahas sejarah singkat itik, sentra peternakan itik, jenis itik, manfaat, persyaratn lokasi itik, pedoman teknis budidaya (penyiapan saran dan peralatan, pembibitan, pemeliharaan, hama dan penyakit yang mungkin akan terjadi oleh itik dll yang berkaitan dengan itik

Seri Budidaya : Budidaya Ternak Ayam Petelur

Seri Budidaya Ternak Ayam Petelur, dapat didownload disini, seri budidaya ini diantaranya membahas sejarah singkat Ayam Petelur, sentra peternakan Ayam Petelur, jenis Ayam Petelur, manfaat, persyaratn lokasi Ayam Petelur, pedoman teknis budidaya (penyiapan saran dan peralatan, pembibitan, pemeliharaan, hama dan penyakit yang mungkin akan terjadi oleh Ayam Petelur dll yang berkaitan dengan Ayam Petelur

Jenis dan Karakteristik Itik

Itik termasuk ke dalam kelompok unggas air (water fowl) dan masuk ke dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, dan family Anatidae (Achmanu 1997). Menurut Suharno dan Setiawan (1999) itik merupakan unggas air yang memiliki ciri-ciri kaki relatif lebih pendek dibandingkan tubuhnya dan jarinya dihubungkan dengan selaput renang; paruhnya ditutupi oleh selaput halus yang sensitif; bulu berbentuk cekung, tebal ke arah tubuh, dan berminyak; itik dewasa memiliki lapisan lemak di bawah kulit; daging itik tergolong daging gelap (dark meat); dan tulang dada itik datar seperti sampan. Suharno dan Setiawan (1999) menambahkan bahwa itik bersifat omnivorous (pemakan segala) yaitu memakan bahan dari tumbuhan dan hewan seperti biji-bijian, rumput-rumputan, ikan, bekicot, dan keong.

Menurut Simanjuntak (2005) itik yang banyak diternakan di Indonesia adalah spesies Anas domesticus. Data dari FAO (Food and Agriculture Organization) dalam Domestic Animal Diversity Information Sistem antara lain mencatat Indonesia sedikitnya memiliki 15 jenis itik. Kelima belas itik tersebut secara morfologis dapat dibedakan berdasarkan wilayah atau daerah tempat berkembangbiaknya itik tersebut sehingga muncul julukan itik alabio, itik bali,
itik cirebon, itik tasik malaya, itik tangerang, itik magelang, itik tegal, itik mojosari, itik medan, itik lombok, itik porsea dari Sumatera Utara, dan itik begagan dari Sumatera Selatan (Simanjuntak 2005).

Menurut Windhyarti (1999) itik berdasarkan tipenya dibagi menjadi tiga yaitu tipe pedaging, tipe petelur, dan tipe hias (ornamental). Itik yang termasuk tipe pedaging misalnya itik muscovy (Anas moscata, pato, dan itik manila), itik peking, dan itik rouen. Itik yang termasuk tipe ornamental contohnya adalah itik blue swedis. Itik petelur contohnya adalah indian runner (Anas javanica) yang terdiri dari itik karawang, itik mojosari, itik tegal, itik magelang, itik bali, itik alabio, itik khaki Campbell, itik CV 2000-INA, serta beberapa itik unggul lain yang merupakan hasil persilangan oleh para pakar di BPT Ciawi-Bogor yang diantaranya adalah itik BPT-AK, itik BPT-KA, itik BPT-KAT, dan itik BPT-AT.

Sumber :
Achmanu. 1997. Ilmu Ternak Itik. Karangan lmiah. Malang: Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya.
Simanjuntak L. 2005. Tiktok Unggas Pedaging Renadh Lemak. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Suharno B, Setiawan T. 1999. Beternak Itik Petelur di Kandang Baterei. Jakarta: Penebar Swadaya.
Windhyarti S S. 2003. Beternak Itik Tanpa Air. Edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.


Ciri-Ciri dan Deskripsi Puyuh

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, dan berkaki pendek. Puyuh yang dipelihara di Indonesia umumnya adalah spesies Coturnix-coturnix japonica yang memiliki panjang badan sekitar 19 cm, berbadan bulat, berekor pendek, paruh pendek dan kuat, serta berjari kaki empat dan berwarna kekuning-kuningan dangan susunan tiga jari menghadap ke depan dan satu jari menghadap ke belakang (Nugroho dan Mayun, 1986). Gambar puyuh (Coturnixcoturnix japonica) dapat dilihat pada Gambar.

Menurut Nugroho dan Mayun (1986) dan Pappas (2002), klasifikasi puyuh adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Galiformes
Famili : Phasianidae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix japonica

Menurut Listiyowati dan Roospitasari (2009), berbagai macam jenis puyuh tersebar di seluruh dunia, namun tidak semua puyuh tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penghasil pangan. Indonesia memiliki beberapa jenis puyuh yang dikenal  serta dipelihara untuk diambil telur dan dagingnya. Bagi peternak yang menghendaki produksi telur atau pedaging, akan memilih puyuh yang lazim untuk diternakkan seperti spesies Coturnix-coturnix japonica.

Menurut Suripta dan Astuti (2007), spesies ini merupakan salah satu produsen protein hewani yang sangat potensial. Murtidjo (1996) menyatakan bahwa kandungan protein dan lemak pada telur puyuh cukup baik jika dibandingkan dengan telur unggas lainnya. Kandungan protein yang tinggi serta kadar lemak yang rendah pada telur puyuh sangat baik untuk kesehatan manusia.

Ciri-ciri puyuh jantan dewasa terlihat dari bulu bagian leher dan dadanya yang berwarna cokelat muda. Puyuh jantan mulai berkicau pada umur 5-6 minggu. Selama musim kawin normal, puyuh jantan akan berkicau setiap malam. Puyuh betina memiliki warna tubuh mirip puyuh jantan, kecuali bulu pada leher dan dada bagian atas yang berwarna cokelat terang serta terdapat totol-totol cokelat tua Bentuk badannya kebanyakan lebih besar daripada puyuh jantan. Telur puyuh mumnya berwarna cokelat tua, biru, putih dengan bintik-bintik hitam, cokelat, dan biru (Listiyowati dan Roospitasari, 2009).

Sumber :


Listiyowati E. & K. Roospitasari. 2009. Tata Laksana Budidaya Puyuh Secara Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nugroho & Mayun. 1986. Beternak Burung Puyuh. Eka Offset, Semarang.
Suripta, H. & P. Astuti. 2007. Pengaruh penggunaan minyak ikan lemuru dan minyak sawit dalam ransum terhadap rasio asam lemak omega-3 dan omega-6 dalam telur burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica). Journal Indonesian Tropical Animal Agriculture, Vol. 32: 22-27.


Angsa

Angsa merupakan salah satu dari unggas domestikasi dan telah dipelihara di seluruh dunia selama berabad-abad. Dalam taksonomi, angsa digolongkan kedalam:

Ordo : Anserformes
Famili : Anatidae
Genus : Anser
Spesies : Anser cygnoides

Angsa merupakan salah satu jenis unggas yang memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah pertumbuhannya cepat, memiliki efisiensi pakan yang tinggi dengan konversi pakan yang rendah, serta memiliki daya tahan terhadap penyakit yang tinggi dibandingkan dengan jenis unggas yang lainnya. Selain memiliki kelebihan yang telah dijelaskan di atas, angsa pun memiliki kelemahan yaitu 1) siklus reproduksi yang lambat, 2) reproduksi tergantung pada musim, serta 3) perilaku kawin secara monogami (Yuwanta, 1999).

Meskipun angsa termasuk kedalam kelompok unggas, namun perilaku makannya lebih mirip ruminansia daripada unggas. Paruh dan lidahnya memudahkannya untuk merumput (Nowland dan Bolla, 2005). Buckland dan Guy (1999) menjelaskan bahwa angsa termasuk
unggas yang memiliki intelegensia yang cukup tinggi. Angsa dikenal memiliki daya ingat yang baik dan tidak akan lupa pada seseorang, hewan atau situasi tertentu sehingga sangat baik dijadikan sebagai hewan penjaga. Angsa dapat hidup dengan harmonis dan tidak memiliki sifat kanibalisme. Angsa dapat kembali ke rumah walaupun pergi sejauh 5 km atau lebih. Angsa dapat hidup pada berbagai kondisi lingkungan, mulai dari yang panas sampai yang dingin. Hanya saja ketika angsa baru dilahirkan sampai umur 1 minggu angsa harus dijaga dari suhu udara yang dingin. Angsa yang belum didomestikasi hidup hanya dengan satu pasangan tetapi angsa yang telah didomestikasi dapat dipasangkan dengan 4-5 ekor betina.

Bangsa angsa yang telah dibudidayakan adalah chinese geese. Chinese geese merupakan salah satu bangsa angsa yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan Indonesia (Yuwanta, 1999). Chinese geese berasal dari daerah sekitar Cina, Siberia dan India. Angsa ini dikembangkan dari swan goose (Bartlett, 1995). Angsa jenis ini merupakan angsa jenis sedang berwarna terang, dengan berat antara 8-12lbs (4-6 kg), serta dapat dijadikan sebagai penghasil telur yang baik (Ashton and Ashton, 2005).

Buckland dan Guy (1999) menjelaskan bahwa ada dua varietas angsa chinese, yaitu white chinese geese dan brown chinese geese, namun white chinese geese yang lebih popular. White chinese geese memiliki shank, paruh dan knob yang berwarna orange sedangkan brown chinese geese memiliki shank orange namun paruh dan knobnya berwarna hitam atau hijau sangat tua. Knob dapat dijadikan sebagai identifikasi jenis kelamin ketika usia 6-8 minggu, dan tidak mungkin sebelum itu. Knob pada jantan lebih besar daripada knob pada betina. Chinese geese memiliki bobot yang relatif lebih kecil apabila dibandingkan dengan angsa bangsa lain. Angsa chinese memiliki produksi telur yang tinggi, yaitu mencapai 100 butir telur selama 5 minggu masa bertelur sedangkan bangsa angsa yang lain produksinya hanya mencapai 40-60 butir telur. Telur angsa chinese memiliki bobot yang ringan apabila dibandingkan dengan bangsa angsa yang lain. Bobot telur angsa chinese rata-rata 120 g/butir sedangkan bangsa angsa yang lain bobot telurnya dapat mencapai 140-210 g/butir.

Sumber :
Ashton, C. dan M. Ashton. 2005. Chinese Geese - one of the most popular breeds of domestication goose. http://www.ashtonwaterfowl.net.
Bartlett, T. 1995. Ducks and Geese “A Guide to Management”. The Crowood Press. Marlborough.
Buckland, R. dan G. Guy. 1999. Goose production systems. http://www.fao.com.
Nowland, W. dan G. Bolla. 2005. Agfact A5.0.2 - Part E, 6th edtion. New South Wales Department of Primary Industries. New South Wales. http://www.agric.nsw.gov.au.
Yuwanta, T. 1999. Goose production in Indonesia and Asia. http://www.fao.com.


Back To Top